
Pagi ini Rasya memutuskan untuk ambil cuti kerja, dia memilih mengasingkan diri tanpa Eldira dan tanpa gilska, apa yang dikatakan gilska kemarin malam membuatnya berfikir, pantaskan gilska dan dirinya bersatu seperti sedia kala, melanjutkan mimpi yang pernah terencana sebelumnya, sulit untuk membohongi hatinya bahwa cintanya masih sangat besar untuk gilska, tapi menghancurkan harapan Eldira bukanlah keinginannya. Eldira tidak pantas untuk disakiti apalagi harapannya juga sangat besar, kedua ponsel Rasya sengaja ia matikan.
****
(kok gak angkat telpon aku bang) pesan singkat Eldira tidak dijawab oleh rasya, pagi tadi ponsel Rasya masih menyambung tapi tidak diangkat dan kali ini Eldira mencoba menelpon ponselnya tidak dapat dihubungi terkesan seperti dimatikan, atau memang tidak ada batrei.
Karena sedikit panik Eldira mampir ke rumah Tante Nonik, untuk segera mencari tau kenapa kekasih hatinya tidak menjawab teleponnya, terlebih kemarin malam Rasya tidak menuruti keinginannya kerumah Tante Nonik padahal Rasya bilang gilska nekat mau datang kerumah.
"pagi Tante" sapa Eldira lembut mencium tangan Tante Nonik tanda salam.
"Eldira sayang, kok ga bilang mau mampir, mau berangkat ke kantor ya? ayo sarapan sama-sama.
"Eldira sudah sarapan Tante, bang Rasya ada?" tanya Eldira.
"Rasya keluar kota, apa ga pamit sama kamu? tadi pagi banget dia berangkat katanya mendadak!" jawaban Tante Nonik membuat hati Eldira serasa teriris.
"Keluar kota tanpa menghubungi aku" batin Eldira matanya sedikit memerah berusaha menahan air mata, Eldira berfikir apa arti dirinya selama ini bagi rasya, dan apakah hubungannya perlu ditinjau kembali, apa kurang selama ini perhatiannya untuk Rasya, dan apakah salah hubungannya dengan Rasya, dan apakah Rasya pergi bersama gilska, Eldira sangat kalut.
"Tante kemarin malam ada yang kesini ga?" selidik Eldira.
"kesini?? maksudnya??" Tante Nonik sedikit bingung.
"ya tamu mungkin?" Eldira masih berusaha mengkroscek pikirannya.
"oh gak, ga ada tamu sama sekali, kenapa ?" Tante Nonik masih bingung dengan pertanyaan Eldira.
"ya udah Tante Dira pamit dulu ya?" Eldira merasa tidak ada yang perlu ditanyakan lagi ke Tante Nonik.
__ADS_1
"Lho.. buru-buru amat, yaudah kamu hati-hati ya" jawab Tante Nonik dan Eldira segera meninggalkan rumah calon suaminya itu
***
Diperjalanan ke kantor Eldira akhirnya tak kuasa menahan tangis, hubungan macam apa ini pikirnya, orang yang sangat dia cintai kini bahkan Eldira belum tau apakah Rasya juga mencintainya. Sementara Delon cintanya begitu besar untuk Eldira, haruskah Eldira menimang apa yang harus ia putuskan berjalan kedepan bersama Rasya, atau kembali bersama Delon yang selalu mengutamakannya. Sikap Rasya sangat bertolak belakang dengan sikap Delon, sementara hati Eldira sangat berharap kepada Rasya. Masih coba dipencetnya beberapa kali no ponsel rasya tetap saja tidak bisa dihubungi. dan yang paling ditakutkan bagaimana jika Rasya pergi bersama gilska. Masih sesenggukan sambil menyetir mobilnya Eldira menepi dan berhenti sesaat, kedua tangannya menutup kepala kesetir mobil dengan sedikit berteriak masih terisak. " apa aku terlalu bodoh? apa aku terburu-buru mengambil keputusan, kenapa sakit ya Tuhan???" ucapnya. Yang ada dibenaknya hanyalah rencana pernikahan dengan Rasya dan juga masa depan bersama Rasya, tapi bahkan hanya sebentar ponsel Rasya tidak dapat dihubungi dadanya menjadi sesak, karena Eldira tidak yakin dengan apa yang dirasakan Rasya, Eldira tidak yakin perasaan Rasya terhadap dirinya sama, apalagi Rasya masih bisa menemui mantan kekasihnya secara terang-terangan.
Masih dengan isakan Eldira melanjutkan perjalanannya tapi kali ini Eldira memutuskan berbalik arah kembali kerumah, mana mungkin dia datang ke kantor dalam keadaan sembab, apalagi pikirannya masih kalut.
"dira kenapa balik kerumah?" ucap mama ketika melihat putrinya kembali pulang.
"ada yang ketinggalan ya?" sambung mama, secara cepat Eldira memeluk mamanya, sekuat tenaga berusaha menyembunyikan tangisnya.
"peluk Dira ya ma?" ucapnya pelan, sang mama mengangguk dan dipeluknya putri kesayangannya hampir sepuluh menit, akirnya Eldira melepaskan pelukan mamanya.
"kenapa kamu?" tanya mama sambil mengusap rambut Dira pelan.
"kenapa kamu ngomong gitu sih sayang, ya panteslah!! anak mama itu wajib dapetin yang terbaik" kata-kata mama membuat Eldira sedikit bersemangat.
"Dira cuma bingung aja ma! apakah memilih bang Rasya sudah keputusan terbaik buat Dira atau bukan, menurut mama gimana bang Rasya ma?" tanya Dira.
"kalau mama itu terserah sama Dira aja, mau pilih siapapun yang terpenting Dira bahagia, tapi Dira yang namanya pasangan itu Tergantung jodoh masing-masing kalau misalnya selama Dira merencanakan niat baik Allah lancarkan, berarti itu sudah jodohnya, sebaliknya berencana sebaik apapun jika bukan jodohnya pasti akan ada aja rintangannya, kalau Dira sama Rasya yang mana?" tanya mama membuat Dira menghela nafas panjang agar mama tidak curiga.
"belum tau ma, Dira sampai sekarang masih beradaptasi dengan sikap bang Rasya, tapi mama doakan lancar ya ma!" ucapnya kembali memeluk sang mama.
"pasti sayang, kalau Dira ada masalah pikirkan dengan tenang, intinya sesuatu yang dipersiapkan Tuhan untukmu akan tetap menjadi milikmu tapi sesuatu yang bukan untuk kamu, dia akan menjauh darimu sayang" dengan erat Dira semakin memeluk mamanya.
***
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, Eldira masih saja termenung dikamar. Ponsel Rasya aktif dari sejam yang lalu, sementara ada keterangan online, tapi sayangnya pesan singkat Eldira diabaikan. Hatinya kembali bergemuruh air matanya yang tadi sudah kering kini basah kembali. Eldira mencoba memencet nomor Rasya ada keterangan berdering tapi tidak terangkat panggilan telponnya, berulang Kali Eldira menelpon tetap saja tidak diangkat. " apa mau kamu bang? jangan-jangan gilska bersamanya" gumam Eldira lirih hanya terdengar oleh dinding kamarnya.
"Hallo gadis kecilku apa kabar kamu?" suara yang lama tak terdengar membuat Eldira mendongak.
"kakak!!!!" ucapnya berteriak dan berlari memeluk kakak kesayangannya. Sambil berpelukan sang kakak memutarkan tubuh adik kesayangannya.
"kok ga bilang Dira kalau kakak mau pulang?" ucapnya menangis, saking rindunya.
"namanya bukan kejutan dong kalau kakak bilang mau pulang!" kak Adam tersenyum mengecup kening Eldira .
"oke, kejutannya berhasil" ucap Eldira.
"kenapa nangis!! denger kabar dari mama kamu mau menikah ya? udah siapin pelangkah apa buat Kaka?" kak Adam menjatuhkan badannya ke kasur Eldira.
"gatau, Eldira gatau jadi nikah apa gak?" dengan lamban Eldira mengikuti kakaknya ke kasur.
"Lo... gimana ini, kamu putus ya sama Delon? kenapa Ra? ada masalah apa, cerita aja, kakak udah kerja di Indonesia sekarang, pengajuan pindah kakak udah disetujui!"
"wah ini Brati bukan liburan, Brati kakak beneran tinggal di Indonesia sekarang!" wajah Eldira yang tadinya sedih jadi sumringah.
"gimana tadi ceritanya? kenapa putus sama Delon?" kak Adam sedikit melotot.
"nanti ajalah Dira cerita, sekarang temeni Dira jalan aja yuk kak?" ucap Dira sambil menarik tangan kak Adam
"gak ganti baju kamunya?" tanya Adam menatap adiknya yang menggunakan piyama.
"ganti dong! udah kakak ijin dulu ke mama, habis ganti baju Dira keluar ya!" Dira menodrong kakaknya keluar pintu kamar.
__ADS_1
Setidaknya kehadiran kakak sepupu yang kedekatannya melebihi kakak kandungnya sendiri mampu menghibur hati Eldira yang sedang terluka, Kaka Adam adalah anak dari kakak pertama mama Eldira yang sudah diasuh sedari bayi oleh mama Eldira.