Menantang Cinta

Menantang Cinta
diluar dugaan


__ADS_3

sementara Eldira sedang merasakan kebahagiaannya gilska justru meringis kesakitan karena perutnya sedikit sakit, Reza yang mengamatinya mendekat kearahnya.


"kenapa kamu pucat?sakit!" tanya Reza.


"perut aku sakit banget kaya kram gitu apa karena belum sarapan ya?" gilska justru balik bertanya pada Reza.


"kamu makan siang saja dulu, sebentar lagi kita ada meeting jangan pucat begitu" Reza seakan tak peduli dengan gilska.


Reza meninggalkan gilska dan masuk kedalam ruangannya, gilska menurut apa yang dikatakan Reza, berjalan menuju kantin setidaknya mengisi dengan roti atau makanan ringan mungkin saja perutnya asam lambung.


"aduh..." belum juga sampai dikantin gilska memegang perutnya yang semakin sakit.


"mbak kenapa?" tanya salah seorang pegawai yang melihat gilska akan terjatuh.


"mbak bisa minta tolong panggilkan pak Reza, sepertinya aku harus ke rumahsakit mbak?" gilska meminta orang yang menolongnya keruangan Reza.


"ya mbak aku panggilkan, sini aku bantu mbak dulu duduk ya?" tanyaanya sambil memapah lengan gilska.


"mbak tahan ya, aku keruangan pak Reza dulu"Setelah membantu gilska mendudukan dikursi, wanita itu menuju keruangan Reza.


***


Beberapa menit berlalu tampak Reza datang dengan wajah yang sama sekali tak kawatir.


"za, kamu harus tolong aku! perut aku sakit banget!" gilska seakan tak tahan.


"terus meeting kita gimana?" Reza masih berdiri mematung.


"kamu lihat aku sakit kan, tolong dijadwal ulang kamu harus temeni aku za, kamu pacar pura2 aku kan?" tanya gilska masih memegang perutnya.


"tapi kan aku belum bilang sama Tante dan om kamu?"


"mau berdebat sampai kapan?sakit ini!" kali ini Reza kasihan melihat wajah gilska yang semakin pucat.


"sini aku gendong kamu!" Reza dengan cepat menggendong gilska, sebenarnya ingin menolak tapi tak ada pilihan lain perutnya terlalu sakit jika masih harus menolak.

__ADS_1


Reza menggendong gilska ke arah lift dan segera memencet untuk turun ke basemen.


"aduh za!" ringik gilska.


"kamu tahan sebentar ya" sesampainya dilantai paling bawah Reza segera menuju mobilnya.


Reza masih menggendong gilska dengan sabar dia buka pintu mobil dan mendudukan gilska dikursi depan sekalian memasangkan silbelt.


Segera Reza menginjak gas dan melajukan mobil dengan cepat, mencari rumahsakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit Reza segera menggendong gilska ke UGD.


"silakan tunggu diluar ya pak?" ucap salah seorang suster.


"iya" Ucap Reza mendadak panik.


Saking paniknya Reza sampai lupa mengabari pak sandi om gilska. Beberapa menit berlalu dan Reza dipersilakan keruangan.


Dengan cepat Reza segera masuk, gilska sudah terlihat membaik.


"gimana dok?" ucap Reza.


"kandungan?? gilska kamu hamil?" tanya Reza masih kaget dengan berita yang dia dengar apalagi setau Reza jelas gilska tak punya kekasih apalagi menikah.


"Reza Reza aku mohon jangan kasih tau om atau Tante Reza, jujur aku juga tidak tau!" kini air mata gilska mengalir deras kebingungan tak tahu harus melakukan apa.


"baik gilska tapi apa rencana kamu sekarang?"


"entahlah, tolong jaga dulu rahasia ini nanti akan aku pikirkan apa yang harus aku lakukan" gilska hanya mampu mengingit jemarinya shock dengan berita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


"ibu gilska resepnya sudah saya buatkan nanti tinggal ditebus saja, tidak perlu rawat inap tapi tolong dijaga ya jangan sampai kelelahan agar tidak kram, permisi" ucapan dokter semakin membuat air mata gilska tak berhenti.


Entah kenapa tiba2 Reza mengenggam erat jemari gilska seakan paham apa yang dirasakan gilska, menurutnya gilska butuh kekuatan untuk saat ini.


"aku akan membantumu gilska, tenanglah kamu tidak sendiri, akan aku tebus resep kamu tunggu sebentar disini, nanti aku akan mengantarkan kamu pulang !" tak seperti biasanya Reza nampak bersahabat.


Reza keluar ruangan, pikiran gilska tak karuan, apa yang akan dia lakukan mengandung tanpa menikah, lalu bagaimana dengan anak yang dia kandung, gilska tau betul siapa ayah bayinya? orang yang ingin dilupakan gilska, haruskah gilska meminta pertanggungjawaban mampukah dia mematahkan hati wanita lain, kenapa disaat gilska ingin menata kehidupan barunya dan meninggalkan masalalunya justru cobaan ini harus dia alami. Gilska belum bisa memutuskan apapun saat ini masih sangat terkejut dengan apa yang dia alami, dengan lembut dia mengelus perutnya, ada nyawa disana. Buah cintanya dimasa lalu.

__ADS_1


"kita bisa pulang sekarang, aku antar kamu ya?" Reza selesai menebus obat dan berusaha memapah gilska.


"Reza bisakah kamu antar aku ke hotel, aku akan bilang sama om ada keperluan mendadak dijakarta agar tak kawatir atau mencariku, aku butuh waktu untuk sendiri, bolehkah aku cuti untuk beberapa hari?" tanya gilska sambil berkaca2.


"ayo aku bantu kamu jalan, kamu tidak usah kawatir aku ACC cuti kamu, kamu tenangin diri kamu dulu, kalau butuh apa2 kamu bisa hubungi aku" Reza memapah gilska kembali kemobil.


Setelah sampai parkiran Reza dengan sabar membantu gilska untuk duduk. Dan segera melajukan mobilnya kembali.


"kamu tinggal di apartemen aku aja gilska, selama kamu mau, aku ada apartemen kosong yang sebenarnya ingin aku jual cuman masih belum ada peminat, kondisinya siap pakai daripada harus tinggal dihotel"


"Reza, kamu anter aku kerumah om sandi ya, aku harus bawa beberapa baju untuk beberapa hari, aku rasa aku harus berpamitan sebentar agar tak membuat Tante kawatir"


"oke!" Reza kini mengarah kerumah om sandy


"makasih Reza untuk bantuannya" ucap gilska tak bertenaga.


"udah ga usah dipikirkan, kamu tenangin diri dulu" banyak pertanyaan dibenak Reza, tapi dia tau kapak harus bertanya dan kapan harus diam.


Reza yakin suatu hari pasti gilska akan menceritakan semuanya, apalagi hanya Reza yang tau kondisi gilska.


Beberapa menit setelah sampai dirumah om sandy.


"za, kamu tunggu dimobil aja, gausah turun aku sendiri aja yang ijin sama Tanteku!" gilska tertatih keluar mobil.


"tapi kamu??" sepertinya gilska tak menghiraukan Reza tetap keluar mobil dan memaksa untuk kuat.


Reza menuruti apa kata gilska menunggunya dimobil. Entah kenapa perasaan Reza pada gilska justru iba, karena melihat tangis penyesalan yang daritadi diamati Reza.


Gilska keluar rumah omnya dengan wajah yang tak menangis seperti saat dirumah sakit.


"ayo za kamu anter aku ke apartemen yang kamu tawarkan tadi" gilska kembali masuk ke dalam mobil.


"kamu udah ijin sama Tante kamu?" tanya Reza sebelum menyalakan mesin mobil.


"udah, aku bilang ada beberapa kontrak yang masih harus aku akiri saat dijakarta, bisa kita jalan sekarang" jawab gilska lebih tegar dari sebelumnya.

__ADS_1


"oke" Reza menghidupkan mesin mobil dan membawa gilska ke apartemen yang ia janjikan.


__ADS_2