
Sesuai dengan rencana Eldira dia bersiap mendatangi rumah gilska, Eldira merasa ada yang perlu dia luruskan, Eldira ingin membuang seluruh keraguannya. lebih baik dibicarakan secara dewasa agar jelas dan hatinya lebih lega.
"kamu yakin Ra, Rasya gak tau Lo ini kamu Dateng kesini?" sisi terlihat gusar dengan keputusan Eldira.
"udah gak papa yakin aja, makasih ya kamu kemarin udah cari tau alamatnya lewat Tante Artha?" Eldira menghentikan mobilnya tepat di alamat yang dia dapatkan.
"terserah deh, aku dimobil aja!" sisi diam memaku.
"ya udah aku turun dulu ya, kamu ga usah kawatir sisi percaya sama aku!" Eldira akirnya turun dari mobil meninggalkan sisi.
Rumah yang lumayan besar, sayang pagernya terkunci dengan rapat, beberapa kali Eldira memencet bel tak ada jawaban dari dalam, terlihat sepi gumamnya.
"maaf cari siapa ya?" ada ibu-ibu yang mendapati Eldira tak mendapat jawaban dari dalam rumah.
"saya mau cari gilska Bu pemilik rumah ini, tapi pagarnya terkunci" Eldira menjelaskan tujuannya.
"oh gilska, dia udah pindah kemarin udah pamitan juga sama tetangga sini, kalau lebih jelasnya ke rumah pak bagus aja soalnya masalah rumah dan kontrakan ke pak bagus" ibu ibu itu menjelaskan apa yang dia tau.
"pindah kemana ya Bu?" Eldira kembali bertanya.
"kurang tau ya mau pindah kemana, tapi keluar kota sih pastinya atau kalau gak, mungkin balik keluar negri soalnya saya denger kemarin agak terburu-buru karena tiket penerbangan udah siap, Ratih aja juga ikut kok !"
"Ratih itu siapa ya Bu? ada informasi yang lain mungkin, saya mau ngajuin kerjasama sih sama gilska?" tanya Eldira berbohong.
"Ratih asistenya, kalau kerjaan kemarin sempat bilang mau mundur dari dunia modeling, gak mau nanya ke pak bagus aja mungkin"
"ga usah Bu terimakasih ya informasinya, saya pamit aja nanti saya cari tau nomer managernya aja" Eldira menganggukan kepalanya sebagai ucapan terimakasih dan si ibu tersenyum lantas kembali melanjutkan jalannya.
__ADS_1
Eldira bergedas kembali ke mobil, dilihatnya sisi yang sudah manyun karena menunggunya.
"gimana Ra? ga ada ya?" ucap sisi yang melihat Eldira kembali sebelum masuk kedalam rumah gilska.
"iya katanya kemarin habis pindah, menurut kamu bang Rasya tau gak gilska pindah atau menurut kamu dia mencari tempat yang lebih aman gitu?" Eldira tak yakin gilska pergi tanpa Rasya tau.
"pindah kemana informasinya?" sisi ikut penasaran.
"kata ibu tadi sih bisa jadi keluar kota atau keluar negri gitu!" Eldira memegang setir mobilnya.
"ya udah kamu tunggu aja beberapa hari kedepan kalau Rasya sering-sering keluar kota Brati tau kalau gak Brati ya memang mungkin gilska pergi jauh, toh mereka sudah ga ada hubungan kan!" sisi meninggi.
"kok kamu gitu sih si!"
"ya kamunya juga curiga, udah deh Ra kalau emang ga nglihat sendiri udah ga usah cari tau bikin capek hati tau ga, gak guna juga, kecurigaan kamu itu malah akan jadi bumerang buat kamu!" sisi seakan tak sependapat dengan apa yang dilakukan Eldira.
Eldira sendiri tidak sepenuhnya menceritakan dengan detail hubungannya dengan Rasya, Eldira ingin menjaga nama calon suaminya itu, entah sekarang Eldira lega atau malah tambah kawatir karena gilska pergi.
****
Ditempat lain gilska sudah mulai kerja diperusahaan omnya sejak pagi tadi, Pengalaman pertama selama hidupnya menjadi seorang karyawan. Hampir seluruh teman dikantornya menatapnya tanpa henti karena kecantikan gilska tak perempuan tak juga lelaki semua mengaguminya.
"kamu gakpapa kan gilska sementara jadi sekertaris Reza?" tanya om sandi kepada gilska.
"gak papa kok om ga masalah buat aku, lagipula udah tinggal dirumah om, dapet kerjaan pula, aku bersyukur banget kok" gilska tersenyum menjawab pertanyaan omnya.
"ya tapi kan beda jauh dengan pendapatan kamu sebelumnya, apa yang bikin kamu banting setir gilska?" Om sandy melihat gilska tak sering dan bersemangat seperti sediakala.
__ADS_1
"menikmati hidupku om, aku ingin menikmati waktu dengan nyaman, mama pergi dengan cepat dan dulu aku lebih sering disibukan dengan pekerjaan yang sangat menyita waktu" gilska meyakinkan om nya bahwa keputusannya bekerja sudah tepat.
"oke semoga kamu nyaman dengan pekerjaan baru kamu" ucap om sandi dan gilska keluar ruangan Dirut. itu.
Gilska kembali ke ruangannya, setelah berbincang sebentar dengan om nya, dan ruangan gilska ada didepan ruangan pak Reza manager barunya.
"gilska tolong kerjaan ini semua!" pak Reza menyerahkan beberapa file yang bahkan gilska tidak tau mengerjakan mulai dari mana.
"maaf pak boleh saya mengerjakan diruangan bapak?" tanya gilska ragu.
"modus kamu? gak saya gak tertarik sama kamu?" pak Reza terlihat sinis, hanya Reza yang tak begitu peduli dengan kecantikan gilska.
"saya mau tanya tentang kerjaan saya supaya tidak salah bukan modus, kamu ya?" gilska sedikit tak terima.
"oke kamu masuk ruangan saya, kalau kamu bertanya tulis saja di note akan saya jawab dengan note juga!" Reza berbalik masuk keruanganya kembali membuat gilska mendengus kesal.
Dengan terpaksa gilska masuk keruangan Reza, mau bagaimana lagi toh dia masih belum begitu paham dengan pekerjaan barunya.
"maaf pak apa tidak ada training khusus gitu?" tanya gilska memberanikan diri.
"ada ke rumahku saja nanti kamu sore, aku training mau?" ucap Reza masih sinis.
"beneran selepas kantor?" gilska pikir ucapan bosnya serius.
"gak ada, gini aja besok seharian kamu ketempat Susi tu, belajar kamu disana setelah itu aku gamau tau ya harus bisa kerjain apa yang aku suruh, lagi pula pak Sandy ngapain sih ngasih aku sekretaris ga guna kaya kamu, cantik doang ga cukup tapi kerja itu pake otak, dan aku lebih suka cewek berotak daripada modal cantik!" Reza membuat gilska semakin kesal.
"aku gak butuh kamu sukai, nanti aku bisa bilang kok sama om sandy pindah devisi aja sekalian biar ga kerja sama orang seperti anda!" kali ini gilska meninggalkan ruangan Reza dan membawa beberapa pekerjaannya.
__ADS_1
Gilska lebih memilih keruangan om nya untuk mengerjakan tugasnya daripada mendengar ocehan managernya.
AYO GUYS BERIKAN KOMENTAR KALIAN, JANGAN LUPA KASIH DUKUNGANNYA YA...😉😉😉