
Sepanjang perjalanan gilska kembali menguraikan air matanya menatap kedepan, Reza ingin menghiburnya tapi tak tahu harus mengatakan apa.
"Tuhan pasti punya rencana, kapannpun kamu butuh kamu hubungi aja aku" Reza menawarkan diri untuk membantu gilska, Tapi gilska masih terdiam.
"Aku masih menerima tawaran kamu kok jadi pacar pura2 kamu?" pertanyaan lanjutan Reza keluar begitu saja.
"entahlah za, aku tidak ingin melibatkan kamu dalam masalah yang aku hadapi, lupakan saja permintaan konyolku, ada nyawa diprut aku za, bagaimana hidupku setelah ini aku tak tahu" dengan lirih gilska meyakinkan Reza untuk tak perlu mencampuri kehidupannya lagi.
"semua orang punya masa lalu dan masa depan gilska, kamu pasti bisa melanjutkan hidup kamu" Reza masih berusaha menguatkan gilska.
"seseorang yang ingin aku lupakan sudah bersama wanita lain za, aku memilih untuk melanjutkan hidupku tanpa menyakiti hati wanita lain, meski kami saling mencintai, disaat aku sudah mulai terbiasa tanpanya disaat aku sudah tak ingin memikirkannya, disaat semua aku rasa sudah baik2 saja, kenapa harus seperti ini???" gilska mengingat kembali kenangannya bersama Rasya dan betapa sulitnya mengubur rasa cintanya.
"dia berhak tau gilska, ayah dari anakmu berhak tau?" Reza berkata dengan sangat hati2.
"aku berharap ini hanya mimpi, aku berharap semua tidak nyata cubit tanganku za!" nada gilska sedikit meninggi.
"tenang gilska, tenanglah sebentar lagi kita sampai sudah kita bahas nanti aja ya" kini Reza konsentrasi menyetir.
Reza merasa dia tak bisa membiarkan gilska menghadapi masalahnya seorang diri, Reza tau jika gilska sudah tak memiliki orangtua, tak seperti dirinya yang orangtuanya masih lengkap, pada siapa gilska harus mencurahkan isi hatinya, jika dibiarkan sendiri Reza juga takut terjadi sesuatu pada gilska perempuan jika perasaannya kacau pasti akan berbahaya pikirnya.
Mobil Reza sudah sampai di apartemen yang dia janjikan pada gilska. Tapi kali ini gilska berjalan sendiri tanpa dipapah.
"aku bisa sendiri za, it's ok!" kata gilska keluar dari mobil, Reza yang berniat membantunya mengurungkan niatnya.
"aku anter kamu sampai atas, aku ambil barang kamu dibagasi dulu ya?" Reza membuka bagasi dan mengangkat tas kecil yang jelas terisi baju2 gilska untuk beberapa hari kedepan.
Setelah mengangkat tas, Reza dan gilska berjalan beriringan masuk kedalam apartemen.
sesampainya didepan pintu apartemen milik Reza Reza segera membuka pintu dan mempersilakan gilska masuk.
"semoga kamu nyaman disini, oh ya kamu bilang tadi kamu lapar kan? aku pesankan makan aku temani kamu makan baru kamu istrahat" perintah Reza sambil meletakan tas gilska ke dalam lemari yang ada.
"ga usah za, aku gak mau makan!" dengan pelan gilska duduk dikursi.
__ADS_1
"aku buatkan kamu teh hangat, tolong jangan menolak gilska!" kali ini Reza menuangkan air hangat dan teh untuk gilska.
Gilska diam tak menjawab tapi kembali menangis, ingin memukul perut tapi diurungkan niatnya justru dia mengelus perutnya.
"ini kamu minum dulu agar lebih tenang" Reza menyodorkan cangkir teh hangat dan diterima gilska.
Gilska meminum dengan pelan teh yang dibuatkan Reza.
"aku udah pesenin kamu makan, setelah kamu makan baru aku akan pulang" Reza masih tak menyurutkan niatnya menemani gilska makan.
"aku peduli dengan dia, aku harap kamu mengerti ya?" ucap Reza menunjuk kearah perut gilska.
"terimakasih za untuk semuanya, situasi yang sulit buat aku, sekali lagi aku mohon jangan ceritakan apapun pada om sandi"
"tenang aja, gak akan kamu pikirkan matang2 apa yang akan kamu lakukan, saran aku terus terang dengan ayahnya?" Reza duduk disamping gilska.
"gak mungkin, dan sepertinya tidak akan aku lakukan, biarkan dia melanjutkan hidupnya, kebodohan yang aku lakukan malam terakhir aku bertemu dengannya sudah cukup menyakiti calon istrinya, apa yang akan terjadi kalau sampai tau calon suaminya menghamili wanita lain"
"gilska, kamu gak sekuat itu jangan menanggungnya sendiri, ini perbuatan kalian berdua, setidaknya kamu berusaha untuk anak kamu, agar tak kehilangan ayahnya" ucapan Reza membuat gilska kembali berurai air mata.
Reza berusaha menenagkannya dengan memeluk gilska.
Ada Bunyi bel pintu Reza melepaskan pelukannya pada gilska dan membuka pintu, dilihatnya pesanan makanan sudah siap.
Dengan cepat Reza membawanya ke gilska.
"kamu makan, terus kamu istrahat aku harus balik ke kantor, supaya om kamu gak curiga, nanti kamu pikir dengan tenang ya?" kali ini gilska berusaha menghentikan tangisnya.
Dengan pelan gilska akirnya mau untuk makan tapi hanya tiga sendok gilska mengisi perutnya dia hentikan.
"kamu balik aja za, aku udah mendingan kok" gilska menyuruh Reza Balik ke kantor.
"beneran, tolong jangan kamu matikan ponsel kamu ya?" Reza mulai kawatir.
__ADS_1
"ya za!" jawab gilska mengangguk.
"nanti sepulang kantor aku kesini lagi!" Reza yang beranjak berdiri ditarik tangannya oleh gilska.
"Reza terimakasih banyak ya, kamu gak usah kesini lagi nanti aku benar2 ingin sendiri!!" ucap gilska lebih tegas.
"kamu jaga diri baik2 ingat ada nyawa dalam perut kamu, tuhan menitipkannya untuk kamu jaga" jawab Reza mengenggam kedua lengan gilska.
Gilska kembali mengangguk dan Reza segera pamit balik ke kantornya.
****
Balik ke Rasya yang merayakan pembukaan cafe didekat kantor Eldira adalah kado kecilnya untuk calon istrinya.
"makasih banyak bang, sumpah aku tadi takut banget kalau Abang pergi ga ada kabar?" Eldira kembali menitikan air mata bahagia.
"kamu seneng kan, maaf ya kalau misalnya aku ceritakan semuanya namanya bukan kejutan dong!" Rasya tertawa lirih memeluk Eldira.
Meski hatinya tak untuk Eldira setidaknya Rasya ingin selalu memberikan yang terbaik dan membahagiakan Eldira untuk menebus penghianatan batinnya yang sampai saat ini masih belum sepenuhnya melupakan masa lalunya.
"Dira gatau lagi meski ngomong apa kaget banget, tapi seneng banget ini aja masih berdetak jantung aku!!"
mereka saling melemparkan senyuman.
"semoga nanti acaranya lancar sampai kepernikahan ya baik2 kalian berdua" mama Eldira yang akirnya naik ke panggung seakan ikut merasakan kebahagiaan Eldira.
"makasih ma, sumpah akting mama bagus banget!" Eldira dan mamanya tertawa bersama dan berpelukan.
"ayo Dira kamu harus merasakan seluruh masakan cafe kamu dong!" Rasya mengajak Eldira menuju meja yang sudah disiapkan berbagai menu andalan cafe.
"rasanya moodboster banget, akan aku makan semuanya!" Eldira berbinar.
"bener ya awas ga?" Rasya menyentil hidungnya.
__ADS_1
"hahaha mana cukup bang perut Dira, ayoo kita icip" Eldira duduk manis siap mencicipi menu yang terhidangkan.
Mereka menikmati makanan dengan gurauan mesra, Hari yang indah untuk Eldira. Kini kebahagiaannya semakin lengkap Eldira merasa Rasya adalah pria yang tepat untuknya, untuk melangkah menuju masa depan sesuai impian dan harapannya.