Menantang Cinta

Menantang Cinta
tawaran baru


__ADS_3

Seakan sadar hatinya terkoneksi dengan Rasya yang masih merindukannya. Gilska membuka layar ponselnya, ada beberapa photo mereka yang masih rapi belum terhapus. namun berbeda dengan Rasya yang menyesal harus memulai cinta baru terlalu cepat, gilska justru lebih ikhlas jika hubungannya dengan Rasya memang harus kandas.


"aku yakin Eldira orang yang baik, kamu pasti akan bahagia bersama orang yang mencintaimu Rasya!" gilska menutup layar ponselnya.


"gilska!!" teriak Tante meta didepan kamar.


Gilska beranjak turun dari kasur empuknya dan membuka pintu kamarnya.


"ada yang nyari diluar, kamu ada janji lagi sama Reza!" Tante meta menahan senyum.


"gak tan, apa Reza diluar!" gilska keluar kamar dan menunggu jawaban dari tantenya.


"iya ada didepan lagi ngobrol sama om kamu?"


"ngobrol sama om, mungkin lagi ada urusan sama om Tan, gilska gak ada janji kok sama Reza?"


"udah ayo sana, udah ditunggu juga!" Tante meta menarik pergelangan tangan gilska.


"iya Tante sabar" gilska mengikuti langkah tantenya.


Tak lama sampai diruang tamu mereka berempat saling pandang, om Shandy hanya tersenyum melihat tingkah gilska dan istrinya.


"maaf om, Tante meta maksain gilska" jawab gilska sedikit kikuk.


"ini Reza mau ajak jalan kamu, syukurlah kalau sekarang kamu udah ada teman gilska, ya udah kamu ganti baju sana?" perintah om sandy yang sepertinya sulit untuk gilska tolak.


"iya kan, Tante bilang juga apa sama ganti baju kasian Reza udah nunggu daritadi!" seakan dapat angin segar suaminya Tante meta semakin menjadi.


"oke Tan, sebentar ya" gilska menjawab sambil menatap wajah Reza yang terlihat dingin.


dengan sedikit terpaksa gilska kembali ke kamar untuk berganti pakaian, menuruti apa kata Tantenya daripada harus membuat Tante meta kecewa. Selang beberapa menit gilska kembali ke ruang tamu, dengan riasan sederhana dan rambut terurai, Reza sempat menatap gilska dengan berbeda tapi pandangannya dialihkan ketika gilska menyadari tatapan Reza padanya.


"cepet sekali kamu ganti bajunya, gak sabar ya mau jalan lagi sama Reza, lama juga gak papa kok Tante percaya sama Reza kamu hati-hati ya?" Tante meta terlihat senang gilska menurut apa yang dikatakannya.


"Pak sandi ijin pamit dulu ya ajak gilska" ucap Reza hormat.


"ya za, kamu jaga ya ponakan saya!" om sandi menepuk lengan Reza dan Reza mengangguk.


Selepas berpamitan gilska dan Reza berjalan keluar tidak beriringan, gilska dibelakang Reza berjalan dengan langkah pelan.


"dasar lelet! jangan sok ngartis deh?" Reza kembali berteriak membuat gilska tersentak.


"kamu ya bilangnya sepakat berdamai masih aja suaranya gak enak didenger sama kuping, tau sopan santun kan, lupa ya aku ini ponakan om sandi lho! awas ya kamu, tau gitu aku gak jadi ikut" gilska menghentikan langkahnya kesal dengan sikap Reza yang lagi2 tak bersahabat.


"ngacem, yaudah ayo cepetan ini udah ditunggu sama Rena" kali ini nada bicara Reza diperhalus.


"Rena!!! aduh ogah banget ya aku bantuin hubungan kamu sama Rena lagi, no!!!" kali ini gilska semakin tak bergerak.


"katanya teman, ayoo sebentar aja! plisss gilska bantuin aku, apa mau kamu sebagai barter?" rayuan Reza kali ini membuatnya mendongak mengedipkan mata.


"oke, kamu gak boleh ketemu sama Rena seminggu setelah aku bantu kamu, deal!!!" gilska mengulurkan tangannya.


"gak bisa gitu dong, apa hubungannya!"

__ADS_1


"oh yaudah gak masalah buat aku!" gilska membalikan tubuhnya seakan kembali menuju rumah.


"oke gilska ga ada kah penawaran lain?" Reza masih berusaha agar gilska membatalkan permintaannya yang tak masuk akal.


"ada!" jawaban gilska membuat Reza tersenyum berharap ada barter yang lebih menguntungkan daripada tak berjumpa Rena selama seminggu.


"karena kamu udah nyuruh aku pura2 jadi pacar kamu didepan pak Anton, sekarang aku mau kamu jadi pacar aku didepan om dan Tante aku!" jawaban gilska tak membuat Reza merasa lega.


"hmmm tetep aja ga ada untungnya buat aku!"


"gimana? setuju ga?" tanya gilska menggoda lagi.


"ya oke!" Reza tak punya pilihan lain. daripada harus membiarkan Rena menunggunya terlalu lama.


"nanti sepulang aku bantuin kamu,kamu harus bilang sama om dan Tante Kalau kamu udah jadi pacar aku, awas ya kalau kamu gamau rahasia kamu ada sama aku!" ancam gilska.


"iya iya dasar bawel! udah ayo masuk mobil!" jawab Reza.


mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil, dan segera melaju kencang menuju rumah Rena.


***


Sesampainya dirumah Rena, mereka sudah ditunggu pemilik rumah.


"hallo Reza dan gilska, kalian pasangan serasi sekali, ayoo silakan kita makan malam ya?" sambut pak Anton ramah.


Entah ini pernikahan paksaan atau bukan Rasanya tidak pantas jika perempuan menghianati suami yang terlihat sangat menyayanginya, batin gilska. Reza dan gilska segera menuju ruang makan mengikuti langkah kaki pak Anton.


Gilska dan Reza duduk berdampingan, dan tatapan Rena terlihat seakan menggoda Reza, entah kenapa gilska tak senang dengan tatapan Rena, walaupun mereka saling mencintai.


"Reza, setelah makan malam kamu dan gilska bisa kan disini sebentar aja, kasihan Rena sendirian dirumah, kalian kan seumuran pasti Rena terhibur jika ada kalian, sekalian nanti kamu pelajari tawaran kerjasama Rena, jangan pulang dulu ya sebelum aku pulang?" permintaan pak Anton dijawab anggukan oleh Reza dan gilska.


Sudah pasti ini maunya Reza dan Rena, batin gilska kesal, tak nyaman dengan posisi seperti obat nyamuk bagi kedua insan yang tak tau diri batinnya.


Mereka menikmati makan malam dan sesekali tertawa karena candaan pak Anton, entah bagaimana detail cerita Rena menikah dengan pak Anton, tapi pria penyayang seperti pak Anton rasanya tak pantas dibohongi. Gilska tetap ingin memutar otak agar Rena bisa berpisah dengan Reza.


Waktu berlalu dengan cepat setelah makan malam pak Anton meninggalkan rumah, dan kesempatan yang sudah pasti ditunggu Rena..


"gilska bisa kamu tunggu diruang tamu aja, aku mau kangen2nan sama Reza!" perintah Rena membuat gilska menarik nafas.


"oke, Reza jangan lupa ya perjanjian kita?" tanya gilska sinis.


"maaf ya kamu tunggu disini gakpapa kan?" Reza seakan tak enak hati meninggalkan gilska sendirian diruang tamu.


"oke aku tunggu kalian disini"


"kami hanya ingin bernyanyi bersama kok diruang tengah gak mungkin aneh2 lagian ada banyak pembantu disini kamu jangan mikir kejauhan ya?" Reza berusaha menenangkan gilska yang seakan mengeluarkan sungutnya.


"it's oke, ga masalah buat aku, sana" gilska menjatuhkan badannya disofa.


Seakan tak peduli dengan apa yang dilakukan Rena memeluk manja Reza, lalu menariknya masuk keruang tengah.


***

__ADS_1


Gilska tak mendengar suara mobil masuk kehalaman rasa kantuknya membuatnya ketiduran disofa.


Suara pintu membuatnya mengucek kedua matanya yang berat.


"gilska, maaf ya kamu sampai ketiduran gitu? terimakasih ya sudah menemani Rena, lho renanya mana?" tanya pak Anton.


Gilska yang bangun tidur masih linglung melihat pak Anton dan berusaha memahami perkataannya. Beberapa detik gilska sadar dan sedikit panik.


"eh ada kok Rena tadi ambil minum, ya ambil minum?" jawab gilska bingung.


"sayang udah pulang ya? iya ini aku ambilkan gilska minum, Reza ada diruang kerja kamu sayang, memperlajari tawaran kerjasama" jawab Rena membuat gilska sedikit lega.


"tolong panggilkan Reza ya, udah malam kita harus segera pulang, om aku pasti udah nunggu dirumah?" pinta gilska, Rena mengangguk dan berbalik.


"aku aja yang panggil Reza, kamu disini aja temeni gilska!" pak Anton berjalan masuk.


"thankyu gilska, aku peringatkan ya? jangan ganggu kekasihku?" Rena menatap gilska dari ujung kaki sampai kepala.


"oh pacar aku ya, kekasih kamu itu pacar aku Rena!!" ucap gilska mengambil tasnya disofa.


"jangan sembarangan ya?" Rena naik pitam.


"kalau gak percaya tanya aja sama Reza?" Rena tampak ingin menampar gilska tapi pergelangan tangannya keburu digenggam gilska.


"pacar palsu Rena!!! ga usah panik, kamu emosian ya orangnya? kamu gak percaya sama Reza, harusnya kamu hargai dong! kamu udah nikah aja dia masih cinta kan sama kamu?"


"awas aja kamu!!" Rena menarik tangannya.


"kami pamit dulu ya pak, untuk tawaran kerjasamnya nanti aku pelajari dulu?" Reza berpamitan saat sampai diruang tamu. Rena yang mendengar suara Reza segera mengatur senyum palsunya untuk menyembunyikan kekesalannya pada gilska.


Gilska juga berpamitan pada pak Anton, sementara wajah Rena masih merah karena emosi meski tertutup senyum. Reza tak menyadari kalau kekasihnya sedang marah.


****


Sesampainya didepan rumah om sandy.


"aku gak pamitin gakpapa ya kan udah larut banget?" tanya Reza.


"lah gimana sih, kan kamu udah janji mau bilang kalau kita udah pacaran kok malah ga pamit, tadi aja mau berangkat pamit gimana sekarang larut malah ga pamit?"


"oke ayo!" Reza keluar mobil dan gilska segera membuka pintu mobilnya.


"udah larut pasti pak sandi udah tidur?" Reza berjalan memasuki teras rumah.


Gilska memencet bel rumah, dengan cepat pintu terbuka dan Tante meta masih segar menunggu mereka.


"akirnya pulang juga kemana aja sih sampe larut gini, gilska?" tanya Tante meta sedikit kawatir.


"kerumah Reza Tan, ketemu sama mamanya Reza?" gilska mengarang agar Tante meta tak marah.


"oh bagus dong, udah saling kenal keluarga ya, yaudah besok pagi aja kamu cerita ya sekarang kamu masuk, Tante juga udah mau tidur, Reza makasih ya, kamu boleh pulang!" Tante meta mendorong gilska masuk kedalam rumah.


"ya Bu meta, permisi!" pamit Reza.

__ADS_1


__ADS_2