
Hari berganti gilksa mengantarkan Reza ke bandara, sesuai dengan rencana Reza ingin kembali ke Surabaya mengurus surat2 dan melamar gilksa.
"Gimana ini, aku balik sendiri terus kamu yang aku lamar ga ikut pulang?" Reza terlihat malas.
"ada hal yang aku harus selesaikan, dan tentang permintaanmu untuk aku melanjutkan kontrak kerja liputan TV, aku sudah ada jawaban za, aku sudah memikirkannya sangat Matang dan keputusanku tolong jangan dibantah!" gilksa menarik nafas panjang.
"gilksa pliss!! acara itu bagus untuk kita, ayolah aku akan berusaha jadi imam yang baik buat kamu buat anak kita?" perkataan reza mengagetkan gilksa.
"maksudku anakmu sudah pasti akan jadi anaku kan?"
Entah mengapa gilksa senang mendengar perkataan reza, menjadi imam yang baik semoga saja Reza bisa membuka hatinya, harap gilksa.
"kamu bisa gak sih dengerin dulu ga ngomong terus!" gilksa melipat kedua tangannya didada kesal.
"oke sayang gimana apa keputusan kamu, baik aku akan berusaha menerima meskipun gak sesuai sama mauku!!" kali ini Reza mempersilahkan gilksa menjawab.
"aku akan batalkan??" jawab gilksa membuat Reza melotot.
"gilksa pliss??" Reza mencoba membuat gilksa berubah pikiran.
"Reza oke jawaban sudah jelas aku akan batalkan!!! batalkan pembatalan kontrak yang sudah aku ajukan!!" kali ini gilska menahan senyumnya.
"jadi kamu terima tawaran itu!" Reza meyakinkan pendengarannya, gilksa tertawa dan Reza langsung memeluknya dengan erat.
"ya ampun sayang, oke oke!! aku seneng banget kita bisa diliput terkenal terus kita akan bahagia selamanya" Reza tertawa sangat gembira tapi ada kata2 yang coba dicerna gilksa.
"tunggu.. bahagia selamanya?? apa maksud kamu, kamu udah jatuh cinta sama aku!!" kali ini gilksa mencoba mencubit perut Reza.
"oh gak, sory hmm bukan jangan salah paham ya?? oke lebih baik aku berangkat kamu jaga diri baik2 Minggu depan lho kita nikah, aku akan siapkan semuanya dalam 3 hari agar om dan Tante kamu datang ke pernikahan kita??" Reza memegang kedua pundak gilksa dan menatap lekat.
"siap, kamu juga jaga diri ya za, dan terimakasih untuk semuanya, terimakasih udah selalu ada buat aku" Setelah berpamitan, Reza berjalan mulai masuk bandara.
Ada sedikit sedih harus berpisah sementara waktu dengan Reza, Reza yang dulu jutek, dingin ,galak sekarang sifatnya benar2 berubah. mungkin jika seseorang merasa nyaman dan bertemu orang yang tepat memang bisa berubah atau entahlah, batin gilska.
***
Sementara ditempat lain rasya menunggu kedatangan gilksa bahkan sudah siap diapartmen sejak jam 10 pagi. Ada kecemasan yang dirasakannya. Jika gilksa menerimanya lalu bagaimana cara mengatakan kepada Eldira bahwa dia akan meninggalkannya..
Apapun itu Rasya tidak ingin kehilangan kesempatan kedua untuk memperjuangkan cintanya. Aku belum menikah harusnya aku berhak menentukan arah hidupku, batin Rasya.
__ADS_1
Terdengar bel berbunyi Rasya segera membukanya, seperti dugaannya gilska berdiri didepan sana. Gilska yang biasanya datang langsung memeluknya dengan kehangatan tidak ada lagi.
"ayo masuk aku sudah menunggumu!" Rasya mempersilahkan gilska duduk.
"maaf sya, kamu dengar kan kemarin kalau aku akan menikah Minggu depan, aku memang harus berbicara sama kamu ada hal penting yang harus aku sampaikan sudah kuputuskan semalaman, tapi gak disini, kita ke cafe depan bisa!" gilska tetap berdiri didepan pintu.
Rasya sedikit kaget dengan apa yang dikatakan gilska, seolah tak ada celah lagi untuknya tak ada lagi kesempatan untuk memperjuangkannya.
"oke, ayoo!" dengan terpaksa Rasya keluar mengikuti apa yang dikatakan gilska.
Berjalan beriringan tanpa suara, Rasya yang kecewa tak mampu bertanya apapun pada gilska, perkataan gilksa akan rencana pernikahan sudah sangat menyakitkan baginya.
***
Silakan duduk, rasya mempersilahkan gilksa ketika sampai dicafe dekat apartemennya.
Gilska meletakan tasnya dimeja dan tersenyum manis melihat mantan kekasihnya, mungkin saat ini Rasya masih ada dihatinya dan cinta untuk Rasya juga masih besar, tapi bagi gilska semua hanya masa lalu, yang harus dikubur.
"mungkin ada yang ingin kamu katakan terlebih dahulu sya?" tanya gilska.
"apakah kamu masih mencintai aku?" tanya Rasya serius.
"kamu sendiri kan yang bilang pernikahan tanpa cinta ga ada artinya, dan sekarang?" Rasya mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Reza membuatku nyaman berada didekatnya, dia sangat menyayangi aku, kamu pasti juga bisa merasakannya kan saat kemarin bertemu dengan dia, tapi mungkin yang membuatku yakin, aku sudah mulai jatuh cinta padanya" gilska melambaikan tangannya memanggil waiters dan memesan minuman untuknya dan Rasya
Rasya masih tak bisa menerima apa yang dikatakan gilska.
"gilska, pernikahan untuk selamanya!!" rasya sangat kesal melihat gilska yang tak perduli dengan perasaanya.
"kalau aku memilihmu apa yang akan kamu lakukan saat ini sya? mengatakan kepada semua orang, memutuskan pertunanganmu? membatalkan persiapan pernikahanmu yang mungkin sudah lebih dari 50%? mengecewakan mama dan papamu? merusak silaturahmi keluargamu dan Eldira? apa yang akan kamu lakukan?" tantang gilska.
"aku bisa melakukan semua untuk kamu, aku akan memperjuangan sedikit kesempatan ini, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi gilksa, aku minta maaf saat kamu datang ke Indonesia aku tidak segera memutuskan Eldira, aku minta maaf, tolong!!! batalkan pernikahan kamu gilska?" Rasya memohon.
"semua terlambat, akan banyak orang yang akan kecewa, mungkin jika saat itu hanya membatalkan pertunangan dengan Eldira aku bisa terima tapi sekarang lain cerita, kamu sudah melibatkan keluarga, apalagi sekarang kalian juga sudah mempersiapkan pernikahan, semua sudah terlambat Rasya, waktu sudah berlalu dan kesempatan sudah tidak ada lagi!"
"sekali, kasih kesempatan sekali lagi gilska, aku janji akan aku tepati akan aku perjuangan, ini sangat menyiksaku gilska?? plisss !!"
"Rasya aku harus menikah mengertilah?"gilska merasa tak nyaman
__ADS_1
"oke apa yang membuatmu harus menikah secepat ini, karena aku akan menikah!! untuk membalasku atau apa???" Rasya mencoba memahami gilska meskipun sakit.
"aku harus menikah karena aku sedang hamil!" jawaban gilska membuat Rasya menatapnya tajam.
"hamil!!! ohh... lelaki itu sudah bisa membuat kamu hamil, aku gak menyangka kamu semudah itu" pernyataan gilska semakin membuat Rasya terluka.
Rasya merasa dirinya tak ada bedanya dengan lelaki lain, yang tak cukup berarti bagi gilska. Tidak ada wanita lain meskipun Eldira yang pernah tidur dengannya, hanya gilska satu2 nya wanita yang pernah tidur dengannya tapi gilska ??? menghianatinya dengan tidur dengan lelaki lain. Rasya sangat geram.
"untuk itu aku bertemu dengan kamu sya, aku sudah berfikir semalaman dan akan menjadi sebuah keegoisan jika aku tidak memberitahumu" jawab gilksa sambil meneteskan air mata, jemarinya sedikit bergetar.
"oke aku akan mengikhaskan kamu gilksa, karena jawaban kamu sudah cukup buat aku menilai seperti apa kamu!" Rasya berdiri dan merapikan jasnya, bahkan tak menyentuh minuman yang tersaji, Rasya mulai melangkah meninggalkan gilksa.
"kamu ayah dari anak yang aku kandung sya?" gilksa mencoba mengatur nafasnya dan kembali menangis, dia tak menyangka kata itu terlontar dari mulutnya.
Rasya menghentikan langkahnya dan kembali berbalik melihat gilksa yang menahan tangis meski buliran air mata sudah menetes dan membasahi pipinya.
"gilksa... apa aku tidak salah dengar, gilska !!" Rasya mencoba memeluk gilksa yang masih duduk di sudut sofa.
Gilksa hanya terdiam melihat Rasya yang nampak bingung.
"kenapa kamu gak bilang sama aku? kita lalui ini bersama ya, aku janji, kamu batalin ya pernikahan kamu?" Rasya melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan gilksa.
Gilksa hanya menggeleng masih tak bersuara.
"gilksa kamu gak boleh egois!! aku juga berhak membahagiakan anak aku, gilksa aku minta maaf aku membiarkan kamu melewati masalah kamu seorang diri, sekarang ada aku, kamu batalkan ya pernikahan kamu?"
Rasya sangat merasa bersalah sudah menuduh gilksa dan membiarkan orang yang dicintainya melewati masa sulitnya tanpa kehadirannya namun berbeda dengan gilksa..
Dibenak gilksa mengingat Reza yang ada disampingnya melewati kesedihan, apalagi Reza selama ini membuatnya nyaman dan merasa tenang, gilska juga tak ingin merusak kebahagiaan wanita lain apalagi sebelumnya penghianatannya menghasilkan benih yang dikandungnya.
"maaf Rasya akulah yang lebih berhak memutuskan, aku akan tetap menikah, jika memang kamu ingin aku beri kesempatan kedua, baik!! berhentilah mengungkit masa lalu kita, biarkanlah aku bahagia dengan masa depanku tolong kita sepakat ya!!!" gilksa menjawab dengan terbata.
"tapi gilksa!!"
"tolong Rasya, tolong!! aku sudah mulai mencintai Reza, tolong!! dia orang yang ingin aku nikahi bukan kamu!" gilska meyakinkan Rasya.
"tapi dia bukan ayahnya gilksa anak kita akan bahagia jika dilahirkan dengan orang tua yang lengkap!" Rasya masih berusaha mempertahankan gilska dan tak ingin melepaskan gilska.
"cukup sya, aku rasa semuanya sudah jelas, jika kamu masih ingin melihatku bahagia tolong, hargai keputusanku jika tidak aku pastikan rasa sayangku untukmu akan berubah jadi benci, permisi!!" gilska berdiri dan meninggalkan Rasya.
__ADS_1
Rasya menunduk dan memegang kepalanya yang tiba2 terasa pusing. Dia benar2 kehilangan gilska membayangkan gilska menikah pasti sangat menyakitkan. Air matanya menetes karena membayangkan jika saja dia tidak mengecewakan gilska, jika bayi itu lahir pasti bisa memanggilnya dengan sebutan ayah, Rasya mengepalkan tangannya. Waktu tak akan bisa diputar kembali.