
Satu jam berlalu gilska juga selesai makan.
"kamu beneran gakpapa ketemu rasya?" tanya reza tak nyaman.
"gak masalah, kamu?" gilska justru melemparkan pertanyaan kepada suaminya.
"ya kita lihat aja seperti apa wajahnya, anaknya itu! Yang tak mungkin dia akui, dasar orang Tua tak berguna" ucap reza kesal
"papa reza, itu anak kamu, bukan anak yang lainnya" gilska mulai tersulut.
"maaf sayang bukan begitu, untuk apa menyembunyikan kebohongan"
Tok...tok
"permisi!" sapa eldira dibalik pintu.
gilska dan reza saling menatap, kemudian reza membukakan pintu kamar.
"hallo ra, silakan" ucap reza selepas pintu terbuka.
"hai, maaf aku gak bawa hadiah, congratulation gilska" ucap eldira langsung menyapa ramah dan cipika cipiki pada gilska
"makasih ya ra" jawab gilska dengan sedikit senyum
"selamat untuk kalian" ucap rasya bersalaman.
"gimana perasaan kamu happy banget pasti ya?" dira duduk disamping ranjang gilska.
"alhamdulillah seneng banget"
"mana babynya, masih dirawat ya?" tanya dira penasaran
"iya, sebentar lagi diantar kesini lagi, tapi kalau pengen lihat boleh kok, papa reza kamu minta sus anterin ke kamar lagi ya?" pinta gilska memandang suaminya.
Tak sengaja rasya beradu pandang setelab gilska meminta suaminya, sedikit kaku dan tak nyaman, bagaimanapun juga Anak pertamanya lahir, dan dia tidak punya nyali untuk mengakuinya. Jujur dalam hatinya juga ingin melihat baby yang dilahirkan gilska.
"ya, baiklah" jawab reza sambil menekan tombol untuk meminta suster mengantarkan kembali babynya.
"eh udah dikasih nama belum?" tanya eldira sangat antusias.
"sudah tapi masih rahasia" jawab gilska melirik reza.
"nanti kalau udah pulang aku mau main, soalnya belum bawain hadiah" jawab eldira sedikit memaksa.
"mungkin rasya ada saran nama?" tanya reza membuat rasya tergelagap.
Sementara eldira yang kaget dengan pertanyaan reza akirnya tersenyum.
"oh aku tidak pandai mencari nama" jawab rasya.
"aku akan memberikan nama terbaik untuk Anaku, dan aku akan pastikan menjadi ayah yang terbaik untuk dia" reza menatap tajam rasya.
Memunculkan tanya dibenak rasya, apa maksud reza dengan tatapannya.
"ya pasti kalian akan berusaha jadi orang tua terbaik, aku kebetulan tadi ada jadwal periksa promil, doain juga bisa nyusul seperti kalian ya?" eldira mengenggam tangan gilska .
__ADS_1
"aku doakan semoga segera hamil" jawab gilska.
Entah kenapa eldira mulai nyaman berteman dengan gilska apalagi setelah tau gilska bahagia dengan rumah tangganya.
"permisi ini babynya" ucap suster mengantarkan buah hati gilska.
"sini sus aku gendongnya" jawab gilska.
Sementara Eldira tersenyum bahagia melihat anak dalam gendongan gilska, rasya hanya curi2 pandang. Keringat dingin mengucur di keningnya. Anaku batin rasya menarik nafas dalam2.
"masyaAllah ganteng banget" eldira lagi2 bahagia melihat anak gilska
"hai baby, nanti kalau kamu udah balik ke rumah, tante bakalan main kerumah kamu ya" dira mengelus pipi sang baby.
"rasya boleh lho kalau mau gendong, pasti kamu pengen lihat juga kan, ga usah sungkan" lagi2 reza membuat rasya tak enak hati
"abang mau gendong?" tanya eldira menatap suaminya.
"gak berani aku ra" jawab rasnya panik.
"yaudah aku gak akan memaksa, kalau anak sendiri pasti nanti antusias" jawab reza kecewa.
"bukan za, pasti bang rasya ga ada pengalaman" bela eldira.
"gilska, reza, sekali lagi selamat ya! Aku sama bang rasya pamit dulu, nanti kalau sampai rumah kabarin ya, tadi reza udah kirim nomer kamu ke aku" eldira mulai berdiri dan bersalaman.
"terimakasih ra, perempuan sebaik kamu pantas bahagia, semoga segera dapat momongan" jawab reza mengandung banyak arti.
"terimakasih za" ucap eldira sebelum menggandeng rasya dan berlalu meninggalkan gilska dan reza.
***
"abang mau makan?" tanya dira selepas ganti baju
"ra, kamu sayang kan sama aku?" tanya rasya tiba2
"kok gitu ngomongnya, kalau gak sayang mana mau aku nikah sama abang" jawab eldira menenangkan suaminya
"aku takut mengecewakan kamu" rasya memandang istrinya.
"udah dibuka kan hasil periksa tadi, abang sama aku sama2 sehat, jadi ga ada yang perlu dikawatirkan, abang sehat! Pasti bisa kasih dira keturunan" jawa dira menghibur suaminya, padahal yang dikawatirkan rasya bukan itu. Justru rasya sudah memiliki putra.
"kamu beneran mau jenguk anaknya gilska atau cuman basa basi?" tanya rasya
"beneran dong, masa basa basi, dira udah gak ada rasa cemburu sama sekali kok sama gilska, lihat dia tadi ketara banget lo kalau cinta sama suaminya, aku malah mau temenan sama dia, biar bisa sering kesana terus lihat babynya sambil latihan punya anak" jawab eldira dengan senyum merekah
"kenapa bisa begitu, kamu gak lagi salah makan? Kenapa gak sama sisi aja main kemana daripada kerumah gilska temenan sama dia?" tanya rasya tak begitu menyukai ide istrinya.
"sisi udah bikin aku kecewa, masih pengen jaga jarak dulu, tadi abang lihat anaknya gilska ga? Ganteng banget, malahan ni ya ada miripnya sama abang, jangan2 pas hamil masih kesel sama abang?" canda eldira sambil terbahak.
"kamu ini bercanda melulu, nanti kalau papanya marah gimana? Gak lihat reza senewen terus!" jawab rasya agar terlihat tak ada apa2.
"ya juga ya, mungkin ya reza ga suka karena tau kalau abang mantannya gilska, ntar kalau aku suka main kesana sendiri aja, biar reza welcome" jawab dira merangkul suaminya manja.
"kamu semangat ya sayang, pasti sebentar lagi kamu dikasih kesempatan hamil,amin" rasya mencium kening eldira.
__ADS_1
"aminn"jawab eldira.
***
Di sebuah cafe adam ingin melamar gisel, mereka berusaha memperbaiki hubungan.
Gisel yang sempat tergoda dengan argha sudah berusaha setia. Gisel merasa sudah bukan waktunya bersenang2 meskipun cinta untuk argha masih melekat dihatinya.
"cincin ini buat kamu, mau menikah sama aku?" tanya adam sambil membuka wadah cincin.
"mau" jawab gisel cepat tanpa menyiakan kesempatan.
"aku bahagia banget malam ini" adam menatap lekat permpuan dihadapannya.
Gisel membalas dengan senyuman hangat.
"hai, boleh gabung?" tanya argha mengagetkan keduannya.
Bukannya menolak, tapi sebenarnya adam ingin menghabiskan malam berdua dengan gisel.
"boleh" jawab adam tak punya pilihan
"ada acara apa?" tanya argha langsung duduk tanla dipersilahkan.
"aku lamar gisel" jawab adam
"keren!! Dam jangan buru2 menikah, nikmati ajalah hidup, kamu kalau mau sama dia ga usah nikah juga mau kok" perkataan argha membuat adam menoleh
"apa maksud kamu?" tanya adam sinis
"pake ajalah, bukankah begitu gisel?" tanya argha kini menatap gisel.
Dengan refleks gisel menampar pipi argha.
"gha! Jaga mulut kamu!!" mata gisel memerah.
Setelah menampar argha hatinya terasa sakit, apakah argha mencintainya atau hanya ingin membuat hidupnya hancur.
Argha menerima tamparan itu dan tersenyum.
"maaf gisel, maaf adam! aku tidak bermaksud begitu, aku baru saja ditinggal orang yang aku cintai dam, yang aku pikir hidup hanya bersenang2 nyatanya aku hancur, aku menyesal atas perkataanku dam, melihatmu melamar gisel aku hanya cemburu dengan keberuntunganmu" jawaban argha justru membuat adam memeluknya, kemarahan yang sempat merasukinya sirna.
"kamu boleh curhat bahkan sampai pagi, meskipun aku menikah, aku akan temeni kamu argha, so please!! Lepasin wanita yang bikin kamu hancur" adam menguatkan argha.
"iya, aku akan lepaskan dia, aku permisi lanjutkan pertunangan kalian, maaf gisel" ucap argha lalu menjauh.
Entah mengapa air mata keluar dari pelupuk mata gisel, sekuat tenaga ditahannya tapi tak bisa, ternyata kebersamaannya selama ini dengan argha menorehkan cerita begitu dalam.
"gisel, kenapa kamu menangis?" tanya adam.
"aku gak biasa nampar orang ,maaf dam" jawab gisel mengusap air matanya
"kata2 argha memang keterlaluan, tapi kamu maafkan dia ya?"
"iya, aku akan melupakan kejadian tadi" jawab gisel.
__ADS_1
Gisel dan adam menyelesaikan makan malam mereka.