
Seminggu berlalu...
Gilska sangat bahagia bisa menempati rumah barunya, setelah kemarin sempat mengadakan tasyakuran keluarga atas rumah barunya.
"makasih ya za, ini rumah kamu tapi ikut bahagia akhirnya bisa menempati rumah ini!" ucap gilska sambil mengembangkan senyum.
"ini rumah kita bukan cuma aku, pernikahan kita sah menurut agama dan negara, pembelian apapun setelah menikah milik bersama" Reza merangkul gilska.
"ya, aku seneng banget bisa tinggal dirumah sendiri apalagi sekarang punya suami seperti kamu za"
"ya dong, kalau butuh apapun kabarin aku, gilska aku capek banget kita ke kamar yuk" ajak Reza masih merangkul istrinya
"za, kita satu kamar?" tanya gilska.
"ayo kamu ikut aku sini!" Reza menarik tangan gilska menuju kamar utama
"sekarang kamu duduk dulu" ucap Reza mendudukkan gilska diatas kasur.
Gilska sedikit kebingungan menatap Reza, dan tak mengerti apa maksud Reza yang tak menjawab pertanyaannya tadi.
"sekarang kamu dengerin aku" Reza ikut duduk disamping gilska.
"oke, aku dengerin kamu, kamu mau ngomong apa?" ucap gilska tak sabar mendengar penjelasan Reza.
"kamu istriku gilska, itu kenyataan dan itu sah secara agama dan negara aku ulangi lagi ya, jadi aku akan bertanggung jawab penuh selama kamu jadi istriku apapun yang kamu butuhkan, dan kamu sebagai istri wajib melayani aku sebagai suami kamu, mengerti!!!" ucapan Reza sedikit membuat gilska kecewa.
Jika Reza mengatakan bertanggung jawab selama menjadi suami apakah Reza akan mengakhiri pernikahan ini.
"melayani seperti apa za?" tanya gilska lirih.
"masakin aku, bawain bekal sarapan, siapin baju kerja siapin air pas aku pulang kerja, anter aku sampe depan pas mau berangkat kerja, seluruh keperluanku kamu yang siapin masa harus dijelaskan gilska" kali ini Reza merebahkan badannya.
"oke, aku siapin makan malam dulu ya?" gilska beranjak.
"hei, nanti aja kita makan diluar kamu pijitin aku ya sebentar aja sini!" permintaan Reza tak dapat ditolak, hati gilska masih tak tenang karena menurutnya hati Reza belum ada untuknya.
"za boleh aku tanya?" gilksa mulai memijat punggung suaminya.
"apa?"
"kamu masih berhubungan sama Rena?"
"kenapa kamu tanya begitu, kan aku udah putus?" Reza menjawab dengan cepat.
__ADS_1
"ada kemungkinan balik ga za?" gilska mencoba memberanikan diri bertanya lagi.
"gak ada, udah aku tutup masalalu ku dia ga pantes jadi masa depanku" kali ini gilksa tersenyum mendengar jawaban Reza.
"za, nanti kalau aku udah tau jenis kelamin anak yang aku kandung aku mau kamu yang kasih nama ya?" gilksa mengalihkan pembicaraan
Reza seketika duduk dan menghadap ke gilska membuat gilska kaget.
"za kamu bikin aku kaget aja"
"gilska ini anak kita bukan cuma anak kamu, tapi semoga cowok ya biar bisa mainan sama aku" ucap Reza berbinar.
gilska mengangguk mendengar ucapan Reza jika saja pernikahan ini untuk selamanya, gilksa akan berusaha membuat Reza mencintainya.
"besok aku mulai shooting, kamu ikut scene pas berangkat kerja" kali ini gilska ikut berbinar
"tunggu kita jangan panggil nama, aneh nanti kalau orang2 denger apalagi disiaran tv, kamu panggil aku Ayah aja ya aku panggil kamu Bubun kata lain dari bunda biar lucu" Reza tertawa.
"baik suami aku, bapak Reza" gilksa ikut tertawa
"yaudah kamu ganti baju ya, kita makan malam diluar aja" ajak Reza
"kamu gak ganti baju sekalian, aku siapin ya bajunya za?" tanya gilska.
"Bun panggilnya ayah jangan lupa ya besok udah shooting Lo!" Reza mengingatkan gilska.
"kamu mau kemana?" tanya Reza.
"mau ganti baju ke kamar mandi, kamu juga cepetan ganti aku udah laper juga za buruan!" jawab gilksa sambil membawa baju ganti untuk dirinya
"kamu gak mau ganti baju disini sama aku, kan kita udah menikah?" Reza sedikit tersenyum.
"kamu jangan genit ya, ayo buruan nanti aku selesai kamu juga harus udah siap, jangan lama2" kali ini gilska masuk ke dalam kamar mandi
Reza mengambil baju dan segera mengganti pakaiannya.
****
Ditempat lain Eldira sedang bermalas-malasan sambil menonton tv.
"hai Ra?" suara yang membuatnya membulatkan mata
"kak Argha? nyari siapa?" tanya Dira sedikit malas, padahal mama dan papa sedang tak ada dirumah.
__ADS_1
"nyari kamulah" Argha duduk disamping edlira membuat Eldira tak nyaman.
"ada masalah apa nyari aku?" tanya Dira sedikit meninggi
"masalah jadi saksi, udah aman kan kamu?" tanya Argha serasa mengada-ada pertanyaan
"ya aman kan memang kita ga ada hubungan apa2 sama masalah itu, kenapa ditanyain?" Dira terlihat tak begitu suka dengan obrolannya dengan Argha.
"kamu biasanya sopan, sekarang kok judes banget, pasti gara2 laki kamu kan? dasar semua cewek sama aja! " ucap Argha sambil berjalan kearah belakang.
"kakak mau apa?"
"kebelakang, mau tidur di kamar tamu, boleh kan?"
"kak maaf, udah tanya mama belum kalau kakak mau nginep disini!"
"udahlah Dira, aku males denger ocehan kamu, kamu nonton tv aja sendiri aku mau tidur, lagian aku ada janji kok sama Adam, jadi ga usah sok penting" Argha berlalu.
Eldira tak mau menanggapi lebih lanjut makhluk bernama Argha yang semakin aneh dikenalnya.
Bel rumah berbunyi Eldira tak menyuruh Mak Ijah tapi beranjak sendiri membukakan pintu rumah
"Abang" Dira memeluk Rasya yang baru pulang dari luar kota.
"kangen ga?" tanya Rasya
"banget dong, kan tiga hari ga ketemu, Abang tadi jam berapa sampe Jakarta" tanya Dira melepaskan pelukannya.
"tadi jam3 udah sampe, pulang mandi beres2 langsung kesini, kamu sama siapa dirumah sepi amat?" tanya Rasya sambil berjalan masuk.
"mama sama papa ga ada bang, Abang mau minum apa?" tanya Dira mengandeng Rasya menuju ruang tv.
Sebelum sampai mata Rasya terlihat sinis menangkap sosok Argha krluar dari dalam rumah.
"Dira, bosen banget disini aku keluar dulu, makasih Lo tadi dah temeni aku" Argha berjalan didepan keduanya tanpa mempedulikan Rasya yang berdiri menatapnya dengan tatapan sinis
Argha bahkan keluar rumah tanpa berpamitan.
"ngapain dia disini Ra?"
"Dira juga ga tau tadi barusan kok kesininya katanya mau tidur sini janjian sama kak Adam tapi gatau kok keluar, Dira juga bingung"
"tu cowok ga bener Ra? aku gak suka sama dia?" Rasya sedikit berteriak
__ADS_1
"Abang udah biarin aja, Kita keluar aja yuk makan malam, Dira ganti baju dulu ya, tunggu" Eldira menyuruh Rasya duduk dan menunggunya.
Rasya terlihat kesal dengan sikap Argha yang tak sopan, pasti lelaki itu punya niat yang tidak baik terhadap Eldira. pikirnya dalam hati.