
Fatimah jalan beriringan dengan anak bungsunya.
menyambut kedatangan besan. silahkan duduk bu Ani. pak Bambang. mereka saling bersalaman. dan duduk menempati posisi masing masing.
Chiko segera mengambil tempat Dia duduk berhadapan dengan Daffa. karena Chiko sudah baligh dan cukup umur. jadi dia yang akan menjadi wali nikah kaka perempuannya.
setelah semua siap. Fatimah meminta Sinta membawa Cita ke tempat prosesi ijab kabul di langsungkan.
Dengan Berjalan pelan dan di bantu Sinta, Cita memasuki tempat acara pernikahannya berlangsung. hanya beberapa kerabat yang hadir. karena mereka memang belum memiliki persiapan yang matang..
tamu yang hadir di buat terpukau dengan penampilan Citra. ia terlihat sangat anggun dan cantik, di balut kebaya pilihan ibu mertuanya. Ani menggenggam tangan Fatimah.
"anakmu sungguh cantik sepertimu. Fatimah tersenyum dan menimpali
"Anak bu Ani juga terlihat sangat tampan.
" iya, mereka memang pasangan yang serasi.
Chiko memasrahkan ijab kabulnya kepada penghulu.
selang beberapa menit Ijab kobul di ucapkan dengan lantang dan satu kali tarikan nafas di lakukan Daffa. tak berapa lama para sakit mengucapkan kata Sahhhhhh,..........
Citra segera mencium tangan suaminya. sedangkan Daffa hanya menyentuh kepala istrinya dengan tangan saja.
__ADS_1
mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri sekarang.
Daffa memberikan sebuah mas kawin uang tunai dua puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat.
mereka di minta bertukar cincin kawin. terdengar tepuk tangan dari para tamu undangan yang hadir.
"Ayo foto. ucap seorang fotografer.
pertama Citra foto dengan kedua mertuanya. di lanjut dengan adik dan ibunya. kemudian foto khusus untuk mereka berdua. karena mereka sangat kaku sampai membuat fotografer mengulang beberapa kali. untuk hasil foto yang bagus. di lanjut Sinta dan putra yang meminta berfoto dengan pengantin.
-------
Tamu undangan satu persatu meninggalkan rumah Citra. hingga kini tinggal keluarga saja yang berada di sana. karena sudah larut dan lelah. Ani dan bambang berpamitan untuk kembali ke hotel mereka menginap.
Malam ini Daffa tidur di rumah Citra.
Dengan di bantu oleh Daffa, Citra mengemas barang barang nya tidak memerlukan waktu yang lama.setelah selesai packing.sudah hampir tengah malam.
Keduanya terlihat canggung. sampai akhirnya Daffa meminta Citra untuk tidur.
"Tidurlah ini sudah larut,
'tidak baik untuk kesehatan kalian.
__ADS_1
Citra memandang ragu pada Daffa. apa aku akan berbagai ranjang dengannya, gumam Citra, namun sepertinya Daffa mengatahui kegundahan hati istrinya.
"Kamu tidur di tempat tidur. aku akan tidur di sini ucapannya menunjuk ke sebuah kursi.
Bagaimana dia akan tidur di kursi belajarku itu tidak akan nyaman untuknya. karena melihat kursi kayu di depan meja. ahirnya Citra memutuskan untuk berbagai tempat tidur saja.
"Naiklah. di sana tidak nyaman untuk tidur.
"aku juga tidak memiliki selimut lagi di kamar ini.
"apa kamu yakin?
Hemmm Citra haya bergumam.
Daffa pun merebahkan tubuhnya di samping Citra. Citra segera berpaling memunggungi Daffa.
dug dug dug kenapa aku berdebar seperti ini si. apa dia mendengar Detak jantungku...
Daffa juga merasa hal yang sama dengan Citra. lampu kamar sengaja di matikan oleh Daffa. Akan sangat canggung suasananya jika wajah mereka terlihat oleh pasangan nya dalm kegelisahan masing-masing.
dalam kegelapan mereka hanyut dengan pikiran dan perasaan masing masing.
lagi lagi Daffa maupun Citra menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di sana di lihatnya baru pukul dua dini hari. menunggu fajar hari itu terasa amat lama waktu berjalan bagi kedua pasangan yang baru saja menikah itu.
__ADS_1
mungkin untuk pasangan pengantin baru yang menikah karena saling mencintai, malam pertama adalah hal yang sangat di nanti nantikan. tapi tidak untuk kedua pasangan ini.
sepanjang malam merka terjaga. perasaan gelisah karena baru pertama kali tidur dengan pasangannya tapi sangat asing. karena mereka belum cukup mengenalan satu sama lain.