
Pagi harinya setelah semua orang bersarapan bersama. Sinta berpamitan untuk pulang begitu juga putra. setelah sahabatnya pulang. Giliran Daffa yang membawa Citra pulang ke apartemennya.
Sudah beberapa hari ini, Daffa kembali beraktivitas seperti biasanya untuk pergi ke rumah sakit tempat dia bekerja. sementara Citra hanya berdiam diri di dalam apartemen untuk menunggu suaminya pulang. di sela waktu senggangnya Citra merajut sebuah sweater untuk bayinya kelak.
saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. terlihat pintu apartemen terbuka. terlihat Daffa yang baru pulang dari rumah sakit segera menghampiri Citra.
Citra mencium tangan suaminya itu.
Kamu masak apa hari ini. Daffa bertanya rasanya hari ini Daffa begitu lapar dan ingin segera mengisi perutnya.
"Aku masak soto ayam, dan membuat perkedel mas. apa mas mau makan sekarang.
"Iya aku sangat lapar jawab Daffa.
Citra segera meninggalkan rajutantannya di atas meja dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Citra menyusun dua piring berisi nasi dan mangkuk berisi soto ayam yang ia masak tadi, juga tersaji perkedel dan kerupuk juga ada sama di atas meja itu. Daffa segera menyantap masakan Citra dengan sangat lahap.
setelah kembali ke apartemen Daffa lebih memilih untuk tidur di sofa, dan membiarkan Citra tidur di kamar sendiri. ia takut jika tidur bersama Citra akan terjadi hal yang tidak di inginkan. apa lagi saat ini Citra sedang hamil.
Pagi ini Daffa berangkat ke rumah sakit untuk bekerja. namun sore harinya, Daffa bertemu dengan Andini di depan apotek rumah sakit. Andini memang rutin ke rumah sakit untuk menebus obat untuk mamahnya yang memiliki kondisi fisik yang lemah semenjak melahirkan Agam anaknya.
__ADS_1
jam kerja Daffa sudah selesai hari itu. saat akan pulang Daffa melihat Andini yang sedang menunggu taxi tanpa berpikir lagi Daffa menawarkan diri untuk mengatakan Andini pulang.
Di perjalanan Andini memberanikan diri untuk bertanya. siapa wanita yang di nikahi orang laki-laki yang dicintainya itu.
"Kak apa aku boleh menanyakan sesuatu..
"boleh, Daffa segera menjawab tanpa berpikir lagi.
"siapa wanita yang kaka nikahi. apa aku mengenalnya?
"ia kamu mengenalnya, wanita yang aku nikahi Citra kekasih almarhum Agam.
"kaka menikah sama wanita itu. tapi bukannya wanita itu hamil.
"iya dia memang sedang hamil Daffa berucap dengan sangat santai.
"Apa itu anak kaka. apa kak Daffa yang meneghamili wanita itu.
"sekalipun itu bukan darah daging ku. tapi aku akan memperlakukan dia seperti anakku sendiri. Andini masih tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dapatkan itu.
__ADS_1
Rasanya begitu kesel. kenapa apa hebatnya wanita itu ucap Andini dalam. hatinya
Setibanya di rumah Andini segera mencari mamahnya Yulia. saat di temukan wanita paruh baya itu sedang duduk di halaman belakang rumahnya. dengan tergesa-gesa Andini mendatangi mamahnya. dan menceritakan tentang Citra yang di nikahi orang Daffa. sedangkan dirinya begitu mencintai Daffa tapi Daffa lebih memilih wanita murahan itu sahut Andini dengan begitu geramnya
apa kelebihannya dia. apa dia begitu memuaskan di atas ranjang Andini berbicara dengan sangat kesal.
melihat putrinya begitu sedih dan marah. Yulia memeluk Andini dengan begitu erat, tiba Andini menangis di pelukan Yulia.
"mah apa kurangnya aku. kenapa kak Daffa tidak pernah melihatmu mah. hiks hiks. aku sangat mencintainya.
"tenanglah nak. kamu harus sabar mamah pasti akan mendapatkan Daffa untukmu. seru Yulia pada anaknya.
terlihat Andini sudah mulai tenang.
"Sayang, mamah punya rencana untuk membuat Daffa mau menikah denganmu. Yulia mengembangkan senyuman licik di wajahnya.
"mah. mamah punya rencana apa? Andini bertanya dengan antusias. Yulia menceritakan semua rencananya pada Andini. Yulia tidak ingin kehilangan Andini seperti kehilangan Agam. karena dirinya tidak merestui hubungan Agam dengan Citra, membuat penyakit Agam memburuk yang merenggy nyawanya.
"Citra kamu lihatlah apa yang akan aku lakukan untuk menghancurkanmu. senyum Yulia menyeringai di wajah cantiknya.
__ADS_1