Mencintai Sahabat Kekasihku

Mencintai Sahabat Kekasihku
Bab 53 Chiko &Citra


__ADS_3

Pagi hari di hari minggu, Daffa dan Citra pergi meninggalkan puncak untuk kembali ke kota, karena pekerjaan Daffa sudah selesai di sana.


Citra masih mengalirkan air matanya, ia terus terisak karena saat ia berpamitan dengan sumi, nampak wanita paruh baya itu tidak mau di tinggalkan olehnya. meski Citra berjanji akan mengunjunginya lagi. tapi sumi begitu nampak tidak ingin berpisah dengan citra.


Kedekatan antara citra dan sumi terjalin dengan erat. Daffa memperhatikan Citra yang terus mengeluarkan air matanya. entah kenapa merasa hatinya teriris, ia tidak ingin melihat Citra menangis begitu sedih. ingin rasanya memeluk tubuh mungil itu dan mengatakan kita akan kembali lagi ke sini nanti. tapi ia juga tidak bisa menjanjikan Citra akan hal itu. kapan mereka akan kembali kesana. entahlah....


sekitar pukul sebelas siang, Citra dan Daffa sudah sampai di kediaman ibu Fatimah.


Dengan tergesa-gesa Citra membuka pintu mobilnya dan berlari kecil menuju rumahnya.


Beberapa kali Citra mengucapkan salam. sampai akhirnya muncul Fatimah dari dalam rumah.


Citra dengan segera mencium tangan ibunya dan memeluk tubuh yang sudah tak lagi muda itu.


"Masuklah kalian pasti lelah ibu akan buatkan teh untuk kalian.


"iya bu. bak seorang putri Citra hanya duduk manis menantikan teh buatan ibunya.


padahal di luar rumah Daffa masih di sibukkan dengan beberapa koper dan juga banyaknya oleh-oleh yang merka beli untuk kerabat dekat mereka.


saat Daffa membawa dua koper bersamaan ke dalam rumah. Citra hanya tersenyum manis. tidak ada niatan untuk membantu suaminya itu.

__ADS_1


beberapa kali Daffa keluar masuk rumah untuk membawa barang barang mereka.


setelah semua barang berhasil di bawa masuk. Daffa mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Citra duduk. tak lama kemudian Fatimah datang dengan membawa dua gelas teh manis dingin.


"silahkan nak Daffa di minum teh nya.


"iya bu terimakasih, Daffa meraih gelas teh itu dengan sekali tegukan air itu lenyap di minumnya.


Hari itu Daffa sengaja membawa Citra ke rumah ibunya, karena apartemen Daffa setelah di tinggal dua bulan tanpa ada yang mengurus pasti di sana kotor dan berdebu. untuk beberapa hari Daffa berencana tinggal di sana sebelum rumahnya di bersihkan.


Dengan cekatan Citra membantu ibunya memasak untuk makan siang mereka. di dapur sambil memasak Citra banyak menceritakan apa saja yang di lakukannya selama di puncak,


"Bersyukurlah nak. kamu masih muda sudah di anugerahi calon bayi yang sehat, karena di luar sana banyak wanita yang ingin memiliki anak tapi tidak di beri kepercayaan oleh Allah.


"Iya bu, Citra juga berpikir sama seperti ibu. Citra memelukmu Fatimah, karena merasa perkataan ibunya memang benar.


Citra menyiapkan masakan yang sudah di masaknya di atas meja, setelah semua tersaji, Fatimah menyuruh Citra memanggil suami dan adiknya chiko.


Chiko yang setiap hari libur hanya menghabiskan waktu di kamarnya untuk bermain game online atau untuk bermalas-malasan saja. mendengar suara Citra memanggilnya, dengan segera bangkit dan membuka pintu kamarnya, saat di lihat ternyata benar kaka perempuannya telah pulang, betapa bahagianya chiko, dengan berhambur memeluk Citra.


"kaka kapan pulang, kok ga bilang sih kalo udah mau pulang. kan chiko mau minta di bawain oleh-oleh khas puncak.

__ADS_1


"hemmm kamu itu baik sama kakak kalo ada maunya aja ya, ledek Citra dengan senyuman mengembang karena ia juga merasa senang bertemu dengan adiknya yang ia rindukan selama di puncak.


hehee chiko tertawa kecil dan menarik tangan kakanya.


"dimana oleh-oleh untuk aku kak kata chiko sambil mencari cari apa yang di bawakan kakanya untuk dia.


"kaka lupa ga beli apa apa untuk kamu, Citra berkata dengan memasang wajah polos. sebenarnya dia hanya berguru dengan adiknya karena sebetulnya Citra sudah membelikan beberapa kudapan yang enak untuk adik kesayangannya itu.


Chiko yang mendengar Citra tidak menawarkan apapun untuknya segera pergi dari kamar kakanya menuju dapur dengan wajah yang tak bersahabat.


di meja dapur nampak beberapa menu makanan yang nikmat, juga ada beberapa kudapan khas puncak yang di bawakan kakanya sudah tersaji rapih di sana. senyum mengembang di tunjukkan oleh chiko. tanpa banyak berkata dia langsung melahap hidangan di meja makan tersebut.


"Oya dek, kaka juga beli manisan buah lo, tapi sudah kaka simpan di kulkas biar lebih dingin. kalo kamu mau bisa ambil sendiri di sana.


Baru selesai bicara chiko sudah hilang dari kursinya untuk mengambil apa yang kakanya katakan. meski chiko terlihat kurus tapi porsi makannya bisa dua kali lipat dari porsi normal.


"Anak itu perutnya seperti karung, tidak tau malu dia, baru selesai makan, mendengar ada makanan lain langsung di lahap nya juga. ucap Fatimah melihat tingkah anak lelakinya.


"wajar saja bu, karena dia dalam masa pertumbuhan, Daffa menimpali.


Citra hanya tersenyum melihatnya

__ADS_1


__ADS_2