
Putratra duduk di ruang tamu rumah Sinta sambil menunggu kedatangan Daffa. saat menunggu Daffa datang, justru Citra dan Sinta menghampirinya.
Sinta mengajak para sahabatnya untuk makan bersama. di ruang makan. di meja makan Putra menggoyang kan kaki Sinta, dia berbicara dengan bahasa tubuhnya menanyakan apa yang membuat Citra memangis hingga sembab matanya.
Sinta mengangkat bahunya, seperti mengatakan tidak tau.
Citra yang tidak berselera untuk makan hanya mengaduk aduk makanannya saja.
"kenapa cuma di aduk aduk, ayo makan, atau lo pengen makanan yang lain. biar di buatin sama bibi.
" gue ga selera makan sin. gue ke kamar duluan ya. Citra pergi meninggalkan meja makan, rasanya benar-benar tidak berselera untuk makan. Citra terbayang bayang suasana makan malam bersama Daffa. saat Citra masuk me dalam kamar.
bel rumah Sinta berbuyi. bibi dengan segera membukakan pintu. sedang berdiri pria bertubuh tegap di depan pintu rumah Sinta. yang tak lain adalah Daffa. setelah memastikan kepada bibi keberadaan Citra. Daffa di minta masuk ke dalam. dan bertemu dengan Sinta dan putra. Daffa yang bertujuan untuk membawa pulang istrinya mendapat penolakan dari Sinta. Sinta meminta Daffa untuk tidak membawa Citra malam ini.
Biarin Citra tidur di sini malam ini aja. besok dia akan pulang ke rumah ibunya.
"Sinta saya mohon. ini urusan rumah tangga saya. biarkan kita menyelesaikan ini.
"saya tidak ingin masalah ini berlarut lama. saya memang salah. tapi saya memiliki alasan untuk itu..
"ya tapi apa alasan lo, ga perduliin Citra. apa lo gak tau semalaman dia nungguin lo pulang. sampai Citra tidur di sofa padahal dia lagi hamil.
"dimana perasaan lo.
__ADS_1
"kemana lo semalam,
"pergi sama selingkuhan lo hah. Sinta menyudutkan Daffa.
Daffa bingung harus menjawab apa. karena tidak mungkin dirinya berterus-terang pada Sinta. apa yang terjadi malam itu.
"Apa lo tau, dia sampai ga makan karena nungguin suaminya yang lagi selingkuh.
"kalo lo emang ga punya perasaan apa apa harusnya lo jangan nikahin dia. jangan kasih harapan palsu. jangan bersikap seperti dewa tapi malah menghancurkannya.
Daffa sudah sangat geram dengan tuduhan tuduhan yang di berikan Sinta.
"cukup Sinta ini masalah saya dan Citra kamu tidak perlu ikut campur. terlihat Daffa sedang menahan emosinya yang mau meledak.
"Jelas ini urusan gue. lo udah nyakitin perasaan temen gue.
"Citra ayo pulang. Daffa menghampiri Citra meraih tangannya meminta Citra untuk ikut dengannya pulang.
"Mas malam ini aku ingin menginap di sini.
"Citra,,,,
"aku masih suami kamu. kamu harus mengikuti apa yang aku katakan. nada bicara Daffa sudah tidak selembut biasanya membuat Citra semakin merasa tidak mengenali suaminya lagi.
__ADS_1
Putra ikut menimpali. dan membujuk Citra untuk ikut pulang bersama suaminya.
" Citra. gue gak tau ada apa antara kalian tapi memang seharusnya seorang istri mengikuti suaminya.
"Gua harap lo bisa bersikap dewasa, dalam menyikapi masalah.
"kamu tunggu sebentar mas. aku ambil barang barangku dulu. Citra kembali ke kamar Sinta. saat sampai di kamar Citra kembali menangis Sinta ikut menyusul ke kamarnya.
"Citra, lo yakin mau ikut pulang sama Daffa?
"iya. Maaf ya jadi buat ribut di rumah lo.
"kalo itu keputusan lo. sebagai sahabat gua akan selalu dukung keputusan lo. nanti kalo ada apa-apa hubungin gue ya pinta Sinta,
"Makasih ya selalu ada saat aku butuh. kalian emang sahabat terbaik.
"Uhh cini cini peluk Sikap manja Sinta keluar jadinya.
Sinta mengapit tangan Citra, mereka menuruni anak tangga beriringan.
Daffa seperti kehilangan kesabarannya, segera mengambil tangan Citra dari sahabatnya.
" Sinta terimakasih sudah menjaga Citra dengan baik. maaf jadi merepotkan kalian, tutur Daffa pada kedua sahabat istrinya itu.
__ADS_1
"Oke gak masalah, gua cuma minta lo, jaga Citra dengan baik, bahagiain dia, sahut Sinta dengan wajah ketus nya.
"Yaudah kalian cepat pulang. ini udah malem, kasih Citra, pasti dia lelah. putra ikut menimpali.