
Terdengar suara decitan rem mobil di halaman luas rumah Andini.
"Andini kita sudah sampai ayo turun. Andini berjalan pelan dengan di bantu oleh Daffa, seorang pelayan yang membukakan pintu menanyakan perihal yang terjadi pada majikannya itu.
"tuan nona Andini kenapa.
"Bi Andini sakit, tolong bibi bawakan air hangat ke kamar Andini. iya tuan pelayanan itu berlari kecil ke dapur, sedangkan Daffa membawa Andini ke dalam kamarnya.
"Andin istirahatlah,
''kak Andini menarik pergelangan tangan Daffa.
"ada apa lagi Andin?
"tolong kaka jangan pergi dulu. aku takut sakitku akan tambah parah dan di sini tidak ada yang mengurusku.
" memangnya tane Yulia kemana?
"mamah sama papah lagi pergi ke acara pernikahan anak sahabatnya.
" Yaudah kamu istirahat dulu aku akan menunggu di bawah samapai tante dan om pulang. tak lama seorang pelayanan membawakan air hangat dan di berikan pada Andini. sedangkan Daffa berlalu dari kamar Andini.
Daffa duduk di sebuah sofa panjang sambil menonton televisi, ia mengeluarkan ponselnya, bermaksud menghubungi Cinta. saat di keluarkan ponsel itu dari saku celananya. terlihat layar ponselnya yang gelap Daffa beberapa kali mencoba menghidupkan kembali ponselnya tapi tidak bisa karena ponselnya kehabisan batrai.
"Kenapa di saat seperti ini batrai ponselku habis sii. sial decahnya.
__ADS_1
"pasti Citra di rumah sangat khawatir menungguku pulang apa lagi ini sudah jam sembilan malam. aku akan meminjam charger Andini. Daffa bangkit dari duduknya. Tiba-tiba seorang pelayan datang dengan segelas kopi yang harum. membuat Daffa mengurungkan niatnya. dan terlebih dahulu menikmati kopinya setelah beberapa kali menengkuk kopinya Daffa berjalan ke kamar Andini untuk meminjam charger. karena Daffa merasa sangat gelisah membiarkan istrinya menunggu di rumah tanpa mendapat kabar kenapa suaminya pulang terlambat.
Saat Daffa masuk ke dalam kamar Andini yang pintunya memang tidak tertutup rapat. tiba tiba Daffa merasa kepalanya sangat pusing. samapai membuatnya terduduk di lantai.
"kenapa kepalaku rasanya pusing sekali ucapnya dalam hati. Rasanya mata ini begitu berat terbuka rasa pusing itu membuat Daffa enggan membuka matanya dia terus memegang kepalanya. sampai akhirnya Daffa benar-benar terjatuh dan tak sadarkan diri di lantai.
Pagi harinya Cinta membuka matanya. ini sudah siang.
" kenapa aku bisa bangun kesiangan seperti ini sih. aku harus menyiapkan makanan untuk sarapan Citra bangkit dari tidurnya.
"Tunggu, kenapa aku tidur di sofa semalaman. apa mas Daffa tidak membangunkanku.
"Aku menunggunya sepanjang malam, sampai aku tertidur di sini. bahkan kemarin dia tidak membalas satupun pesanku. terakhir ponselnya tidak bisa di hubungi.
"Apa karena aku tertidur di sofa, jadi mas Daffa tidur di kamar pikir Citra. Citra segera melangkah kan kakinya.
"mungkin mas Daffa sudah berangkat kerja pagi tadi. karena aku tertidur larut malam, aku tidur sangat pulas, jadi saat mas Daffa pulang dan kembali berangkat kerja aku tidak mengetahuinya. Citra masih mencoba berfikir positif terhadap suaminya.
Citra melangkahkan kakinya ke dapur. di angkatnya tutup saji di atas meja maknya.
terlihat masakan yang di masaknya kemarin sore masih utuh. semalam Citra juga tidak menyentuh makanannya karena berpikir ia akan makan bersama dengan Daffa setelah Daffa pulang bekerja.
Citra terduduk di kursi dengan mulut menganga, dan tangan menutupi mulutnya yang terbuka itu. Citra begitu kaget melihat semua bagian rumahnya masih nampak sama seperti kemarin berarti semalam mas Daffa tidak pulang ke sini ucapnya lirih.
"tapi kemana mas Daffa pergi. ponselnya juga tidak aktif. apa terjadi sesuatu sama mas Daffa di jalan saat dia pulang. Citra begitu kalut memikirkan hal buruk yang bisa saja menimpamu Daffa suaminya.
__ADS_1
"Aku harus mencarimu kemana mas. apa aku menyusul ke rumah sakit untuk mencarinya.
" apa aku menghubungi Bunda terlebih dulu.
saat Citra sedang kalut memikirkan kemana suaminya pergi tiba-tiba pintu apartemen terbuka.
Langkah panjang seorang laki-laki mendekati Citra. laki-laki itu tak lain adalah Daffa yang baru saja pulang dengan keadaan yang sangat kacau.
Terlihat kemeja putih yang di kenakannya sudah sangat kusut, dan beberapa kancingnya terlepas.
rambutnya yang biasanya tersisir rapih sudah berantakan tak karuan. juga hanya memakai sepatu tanpa kaos kaki, entah kemana hilangnya kaos kaki yang kemarin di kenakannya.
"Citra. itulah kata pertama yang di ucapnya.
Citra yang tadi begitu kalut pikirannya memikirkan hal-hal buruk menimpa suaminya. begitu lega setelah melihat Daffa pulang tanpa ada yang terluka sedikitpun Citra reflek memeluk suaminya dengan sangat erat seolah tidak akan membiarkan Daffa pergi lagi dari jangkauannya Citra melihat dengan teliti Daffa tidak terluka sama sekali tapi penampilannya sangat kacau apa yang terjadi kemarin sebenarnya.
Citra dengan tidak sabaran bemburu Daffa dengan banyak pertanyaan.
" mas kemarin kemana aja?
"kenapa gak pulang? handphone mas juga gak aktif.
"apa mas di rampok saat perjalanan pulang. apa mas ada yang terluka.
"Citra a aaku Suara Daffa seperti terjepit di tenggorokan, rasanya sangat sulit menjelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Mas suara Citra membuyarkan lamunannya.
"Citra aku baik baik saja, kata kata Daffa yang terucap hanya itu, dan setelahnya Daffa pergi meninggalkan Citra yang masih mematung di sana.