Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Kontraksi


__ADS_3

Mulai tergerak oleh hasrat dan nafsu Iko sedikit membuka p**a mulus itu namun ia terkejut setelah melihat darah yang ada di sana.


"Ini darah kan?" Gumam Iko lirih, saat di periksanya lebih dalam tiba-tiba Nur terbangun.


"Sssshhh aduuuuhh" Lirih Nur mengeluh dan Iko segera menghentikan kegiatan nya dibawah sana, "Apakah sangat sakit?" Tanya Iko yang beralih memandang Nur.


"He'em, masih terasa sedikit perih" Sahut Nur dengan balik memandang Iko.


"Pantas saja sampai berdarah" Ucap Iko dengan raut wajah yang merasa bersalah.


"Sudahlah memang itu darah... ekhem... itu" Ucap Nur dengan pipi yang memerah.


"Maksud kamu? pembukaan segel?" Tanya Iko dengan senyuman yang mengembang.


"Ya iyalah, kau pikir apa lagi?!" Cetus Nur yang berusaha bangun dari tidur nya.


Iko yang mengetahui istri nya kesusahan pun segera menggendong tubuh Nur dan di bawa nya ke dalam kamar mandi.


"Aku masih bisa jalan sendiri Iko!" Ucap Nur ketika dengan tiba-tiba Iko langsung mengangkat tubuh nya.


"Sudahlah anggap saja ini permintaan maaf ku karena terlalu kasar semalam" Ucap Iko yang masih kekeh menggendong Nur. Hanya menatap sekilas wajah suami nya Nur mau tak mau harus berpegangan pada bahu Iko yang kekar.


...****************...


Lima bulan kemudian...


Di pondok...


Terlihat Maysa tengah duduk di atas ranjang, ya setelah pulang dari klinik Maysa tinggal di pondok dengan alasan di pondok banyak orang jika terjadi sesuatu.


Calon ibu muda itu tengah mengelus perut yang yang sudah membesar, ya kandungan Maysa kini sudah memasuki bulan ke sembilan, tinggal menghitung hari lagi malaikat kecil penyempurna rumah tangga Maysa dan Rayyan pun akan segera muncul.


CEKLEK!!


Terdengar suara pintu terbuka tak lama kemudian terlihat lah Rayyan yang berjalan ke arah Maysa.


"Kok belun tidur? ini sudah jam sembilan malam loh" Ucap Rayyan ketika sudah sampai di samping Maysa.


"Em belum bisa tidur mas, kayak nya... baby nya... kangen deh sama... Abi nya" Ucap Maysa dengan pipi yang bersemu merah


Rayyan yang memahami isyarat dari istri nya itu pun tersenyum dan mengelus perut besar milik Maysa.


"Baby kangen ya sama Abi? minta di tengokin Abi ya nak ya?" Ucap Rayyan dengan masih mengelus pelan perut Maysa, terasa bayi yang ada di dalam kandungan Maysa menendang setelah mendengar ucapan Rayyan barusan.


"Aaahh" Maysa terkejut setelah merasakan tendangan yang lumayan keras itu.


"Wah dia menendang dengan sangat keras" Ucap Rayyan yang kembali mengelus perut Maysa.


Maysa dengan senyuman yang menghiasi wajah nya mengalungkan kedua tangan nya di leher Rayyan.


Rayyan yang awal nya melihat perut Maysa pun langsung mendongakkan kepala nya dan menatap lekat wajah wanita yang akan segera menjadi ibu dari anak-anak nya itu.

__ADS_1


Dengan perlahan Rayyan mencium kening Maysa, namun Maysa segera mendorong dada Rayyan.


"Hemp!!" Satu tangan Maysa menutup mulut nya dan satu tangan nya lagi menahan dada Rayyan.


"Kenapa sayang? kamu mual lagi?" Tanya Rayyan dengan memegangi perut Maysa, namun bukan nya menjawab Maysa malah berlari ke kamar mandi.


"HUEGH... HUEGH... HUEGH!!!" Rayyan segera menyusul istri nya setelah mendengar suara Masa yang tengah mengeluarkan isi perut nya.


"Haaahh haaahh haaahhh... aduuuhh mas perut ku keram" Ucap Maysa dengan nafas yang ter engah-engah.


"Kita keluar dulu ya?" Ucap Rayyan yang segera menggendong Maysa.


Fasha yang tak sengaja lewat di depan ruangan Rayyan pun segera masuk kedalam ruangan karena mendengar suara Rayyan yang terdengar panik.


"Bagaimana? apa sudah lebih baik?" Tanya Rayyan yang sangat mengkhawatirkan kondisi istri nya saat itu.


"He'em sudah lebih baik" Lirih Maysa dengan menganggukkan kepala nya.


"Ada apa kak? Maysa baik-baik saja kan?" Tanya Fasha yang saat itu sudah melangkahkan kaki nya memasuki kamar Rayyan dan Maysa.


"Sudah lebih baik Fa" Ucap Maysa dengan suara lirih nya.


"Tapi tadi... "


"Iya Maysa tadi sempat muntah-muntah lagi" Rayyan memotong pembicaraan Fasha.


"Setelah sekian lama? eh tunggu-tunggu, bukan kah seharus nya sudah tidak mual lagi ya?" Tanya Fasha, namun belum sempat kedua nya menjawab perut Maysa kembali keram lagi.


"Kenapa? keram lagi?" Tanya Rayyan yang langsung mengelus pelan perut Maysa yang mengeras.


"Lagi? tadi juga begitu?" Tanya Fasha yang kemudian ikut memegang perut Maysa.


"He'em, begitu lah" Sahut Rayyan tanpa mengalihkan pandangan mata nya dari istri nya, sedangkan Maysa sibuk mengatur nafas nya yang seolah sangat membutuhkan banyak oksigen itu.


"Bagaimana kalau kita bawa ke klinik? atau telfon dokter Zulfa saja, lagian sudah malam ini" Ucap Fasha yang juga ikut mengkhawatirkan kakak ipar nya itu.


"Huft sudah Fa... sudah lebih baik sekarang" Ucap Maysa yang memang perut nya mulai melunak normal sepertu biasa lagi, Rayyan dan Fasha pun juga merasakan kalau ada perubahan dengan tekstur perut Maysa. Mereka bertiga pun sedikit merasa lega.


"Apakah sudah mulai kontraksi?" Batin Fasha namun ia tidak mengucapkan nya.


"Jangan nakal ya sayang" Ucap Rayyan kemudian mengecup perut Maysa.


"Mas perut ku jadi mules nih" Ucap Maysa yang membuat Rayyan merubah ekspresi nya, dia pikir istri nya tengah bercanda.


"Segitu nakal nya, sampai ku cium saja kau membuat umi mu mules-mules hem" Ucap Rayyan dengan tangan nya yang mengelus perut buncit milik Maysa.


"Mas aku serius, bantu aku jalan ke toilet" Ucap Maysa,


"Oh maaf sayang, mas kira... "


"Bercanda disaat-saat seperti ini? mas mas kau ini, yang benar saja!" Ucap Maysa sambil menggelengkan kepala nya, wanita dengan tubuh kurus namun perut yang membesar itu kini tengah di papah oleh Rayyan menuju toilet.

__ADS_1


Di dalam toilet...


"Udah mas sana keluar!" Ucap Maysa.


"Mas tunggu di sini aja deh, mas takut nanti kamu kenapa-kenapa di sini" Kekeh Rayyan tak mau beranjak dari depan Maysa.


"Tapi mas, aku malu" Sahut Maysa yang memang malu jika sampai ia buang air besar di depan suami nya.


"Ya sudah ya sudah, panggil mas kalau ada apa-apa ya, mas di depan pintu" Ucap Rayyan sebelum meninggalkan Maysa sendirian di dalam toilet.


"Iya mas" Sahut Maysa, Rayyan pun berjalan keluar dari dalam toilet.


Setelah menunggu beberapa menit akhir nya Maysa keluar juga dari dalam toilet. Rayyan segera membantu Maysa untuk berjalan menuju ranjang nya.


Di sofa dekat ranjang ada Fasha yang sudah bersama Ummi, "Bagaimana? Fasha bilang perut mu keram lagi dan juga muntah-muntah tadi" Ucap Ummi yang langsung berjalan mendekati Maysa yang baru saja duduk di ranjang nya.


"Iya Ummi tapi ini sudah baikan" Sahut Maysa dengan lirih.


"Ya sudah kau istirahat saja dulu" Ucap Ummi membantu Maysa untuk tiduran, namun baru saja ia berbaring perut besar milik Maysa itu mulai terasa mules-mules dan mengeras.


"Ssshhh Aduh" Rintih Maysa dengan memegangi perut nya, sontak Ummi dan juga Rayyan segera membantu Maysa untuk duduk.


"Aduh terasa kenceng dan keras Ummi kalau duduk" Keluah Maysa mengatakan apa yang ia rasakan kala itu.


"Berdiri saja dulu dan posisi tubuh seperti orang rukuk" Ummi menyarankan dan Maysa pun menuruti nya.


"Sudah lebih baik?" Tanya Rayyan dengan tangan yang masih bertengger di atas gelas.


"Lumayan mas" Ucap Maysa yang mulai berdiri dari rukuk nya.


"Duduk dulu nak" Ucap Ummi, kemudian Maysa menganggukkan kepala nya, ia pun duduk kembali, namun baru saja ia meletakkan bokong nya ia merasa haus dan berniat untuk berdiri meraih minum.


"Mau kemana sayang?" Tanya Rayyan yang melihat Maysa berdiri sambil memegangi perut nya.


"Mau minum" Ucap Maysa, baru satu langkah Maysa melangkahkan kaki nya, "CTHUK!"


Maysa merasa ada yang pecah di perut bagian bawah nya dan tak lama kemudian mengalir air yang lumayan deras melewati kedua kaki Maysa.


"Mas" Ucap Maysa ketika ia merasa basah di bagian paha ke bawah.


"Kamu pipis sayang?" Tanya Rayyan, namun Maysa hanya menggelengkan kepala nya.


"Jangan pindah kemana-mana May!" Ucap Ummi, ia yang melihat warna air itu seperti berwarna kekuningan dan ada bercak darah nya juga langsung paham.


"Fa kau cepat panggil Haidar atau Wahyu untuk menyiapkan mobil, Rayyan kau segera siapkan baju-baju Maysa yang berkancing juga baju-baju calon anak mu, siapkan di dalam tas!" Ucap Ummi memberi perintah.


"Apakah Maysa sudah akan segera melahirkan Ummi?" Tanya Rayyan.


"Iya, cepat air ketuban nya sudah pecah ini...


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2