Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Hari H Rahmat dan Sasya


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, kediaman Moza sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk menata ini dan itu, Zulfa terlihat tengah mengatur sebagian tata letak hiasan yang menurut nya tidak sesuai.


Di dalam kamar Sasya seperti tak percaya, diri nya sebentar lagi akan berprofesi sebagi istri dari seorang ustadz tampan yang dulu pernah ia damba.


"Alhamdulillah, rencana Mu memang yang paling indah ya Allah" Ucapan syukur selalu ia ucapkan karena merasa bahagia.


"Tok-tok-tok" Sasya menoleh ke arah pintu kamar nya yang masih tertutup.


"Siapa?" Teriak Sasya yang segera mengenakan hijab nya.


"Ini May kak, buka pintu nya!" Suara Maysa terdengar dari balik pintu kamar Sasya.


"Iya sebentar" Sasya segera berlari mendekat kearah pintu dan membuka nya.


Setelah pintu terbuka di sana Maysa tidak sendiri, ia bersama dua orang wanita yang membawa koper kecil dan beberapa tas.


"Ini?" Tanya Sasya dengan menunjuk kearah dua orang wanita namun mata nya tertuju pada Maysa.


"Iya kak ini kakak-kakak MUA nya sudah datang" Dengan senyuman nya Maysa mengerti maksud dari pertanyaan sang kakak.


Mereka pun segera masuk kedalam kamar Sasya, dan mulai merias calon mempelai wanita nya secantik mungkin.


Jika di kediaman Moza sedang mempercantik ruangan dan juga calon mempelai wanita, di pondok pesantren Rahmat bersama dengan Rayyan dan juga Haidar tengah mempersiapkan mental calon pengantin pria nya.


Rahmat tengah duduk di kursi, raut wajah Rahmat memang sangat tenang namun siapa sangka jika saat ini jantungnya berdetak sangat kencang.


Visual Rahmat.



"Cie senyum-senyum aja terooooosss!!!" Celetuk Haidar yang memang masih jomblo.


"Kenapa kamu iri? maka nya buruan cari buat yang diseriusin jangan lirik sana lirik sini terus ada berapa coba yang sudah kau lirik hari ini?" Ucap Rahmat dengan senyuman nya yang sedikit mengejek Haidar.


Haidar dengan raut wajah sedikit di tekuk, ia melihat kearah Fasha yang sedang duduk di luar ruangan.


Visual Haidar



Visual Fasha



Rahmat yang mengikuti arah tatapan mata Haidar pun langsung menyenggol lengan Rayyan.


"Awas adik mu sedang dalam pengawasan buaya" Bisik Rahmat, Rahmat dan Rayyan pun sama-sama tertawa.


"Ahahhahaha... Ustadz bisa aja, dia mah bukan buaya" Ucap Rayyan.

__ADS_1


"Terus apa dong?" Tanya Rahmat.


"Kadal gurun! hahhaha... jangan kan Fasha, orang kemarin liat montir cewek di bengkel aja dia nglirik" Cetus Rayyan yang membuat kedua nya tertawa sedangkan Haidar hanya menghela nafas.


"Terus!! buli aja buli terus!!" Ucap Haidar sambil berjalan keluar dari ruangan Rahmat.


"Ustadz Haidar mau kemana?" Tanya Rayyan dengan sedikit berteriak.


"Mau cari bidadari!" Sahut Haidar yang sudah menjauh dari ruangan Rahmat.


Di kediaman Moza...


Sasya tengah duduk dengan gaun yang melekat pada tubuh nya, gadis itu sedikit gugup.


Visual Sasya.



Seorang pengusaha muda cantik dan juga cerdas kini tengah menghela nafas nya berkali-kali, ia mencoba menghilangkan rasa gugup nya namun malah menambah rasa tremor.


"Kakak baik-baik aja?" Tanya Maysa yang berjalan mendekati Sasya.


Belum sempat ia berjalan mendekati kakak nya dari arah belakang Maysa di panggil oleh Zulfa sontak gadis itu menoleh kearah belakang.


Visual Maysa.



"Iya Bun!" Teriak Maysa yang langsung berlari ke luar.


Begitu sampai diluar Maysa melihat Rayyan yang juga mengenakan baju hitam sama seperti diri nya.


Visual Rayyan.



Gadis itu terpana melihat ustadz tampan yang kini berdiri di hadapan nya itu.


"May! jangan diam saja, ayo dipersilahkan masuk" Bisik Zulfa sambil menyenggol siku Maysa.


"Eh... iya bun" Maysa sedikit tersentak karena tiba-tiba saja Zulfa mengagetkan nya dari lamunan.


Semua rombongan pengantin pria pun masuk kedalam rumah, Setelah penghulu dan juga mempelai pria sudah menempati tempat duduk nya masing-masing prosesi ijab qobul pun akan segera dimulai.


"May panggil kakak mu nak" Bisik Zulfa kepada Maysa, Gadis itu pun mengangguk kan kepala nya dan segera berdiri kemudian berjalan menuju kamar Sasya.


Rahmat yang duduk dihadapan pak penghulu merasa sedikit gugup terlihat dari sering nya ustadz tampan itu menghela nafas.


"Tadz! masih ingat kan?" Rayyan menggoda Rahmat yang sedang berusaha menenangkan diri nya.

__ADS_1


"Hem... " Hanya itu yang keluar dari mulut Rahmat, Rayyan cekikikan bersama Haidar melihat ekspresi Rahmat yang begitu tegang.


"Biasa aja Tadz, jangan tegang, masih siang ini, belum malam" Imbuh Haidar yang membuat Rahmat menoleh dan memelototi nya.


Rayyan dan Haidar malah tambah cekikikan.


"Kalian ini, nakal sekali ya!" Ummi yang sedari tadi duduk di belakang dua ustadz yang tengah menjahili calon pengantin pria pun menarik telinga Rayyan dan juga Haidar.


"Adu du du du duh ampun ummi ampun" Rayyan dan Haidar mengaduh serta meminta ampun bersamaan.


"Jangan ganggu calon pengantin nya! bagaimana pun dia adalah saudara kalian juga dan lebih tua dari kalian!" Ucap Ummi sembari melepaskan telinga Haidar dan Rayyan.


"Iya Ummi" Ucap kedua nya patuh dengan tangan yang mengelus-elus telinga yang memerah.


Fasha yang melihat kejadian itu berusaha untuk menahan tawa, dan hasil nya adalah senyum lebar yang sangat menawan.


Tanpa sengaja Haidar melihat kearah Fasha yang kebetulan duduk di samping Ummi, seketika rasa sakit ditelinga langsung reda, mata Fasha yang tidak sengaja beradu pandang dengan mata Haidar membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangan nya dan kemudian menunduk kan kepala nya.


Rahmat yang merasa di bela oleh Ummi pun langsung berbisik ke telinga Rayyan


"Awas saja nanti jika sampai pada giliran mu" Ancam Rahmat yang berhasil membuat ekspresi Rayyan berubah.


"Coba saja! saat itu tiba kan kau sudah punya istri, tidak sendiri lagi, jadi mau ke sana sini tidak sebebas ini" Rayyan kembali tertawa setelah menerima tantangan dari Rahmat.


Percakapan kedua nya pun terhenti ketika dua orang gadis berjalan maju kearah mereka, Maysa menuntun Sasya supaya duduk di samping Moza, gadis itu masih menunduk kan pandangan nya .


Setelah semua nya siap pak penghulu pun bertanya kepada mempelai pria.


"Nak Rahmat sudah siap?"


"Siap" Rahmat menjawab dengan sangat mantap.


"Baik lah kita mulai ya" Pak penghulu mulai membaca do'a sebelum prosesi ijab qobul diucap kan.


Sasya menundukkan kepala nya, gadis itu masih sibuk dengan pemikiran nya sendiri yang tegang, malu, dan juga takut akan malam nanti.


"Kak! yang tenang ya, dengarkan Ayah akan mulai mengikrarkan Ijab qobul nya" Bisik Maysa yang menyadarkan Maysa dari lamunan nya.


"Mari pak Moza bisa dimulai" Pak penghulu pun mempersilahkan Moza untuk menikahkan putri sulung nya.


Moza pun mulai menjabat tangan Rahmat dan memulai nya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Rahmat Az Zikri bin Abdul Karir dengan anak saya yang bernama Sasya Nadzifa binti Ahmad Moza dengan mas kawin nya berupa Seperangkat alat sholat, dibayar tunai.” Ucap Moza dengan lantang yang langsung di sahuti oleh Rahmat  


"Saya terima nikah dan kawinnya Sasya Nadzifa binti Ahmad Moza dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai" Dengan tenang dan satu kali tarik nafas Rahmat berhasil mengucapkan nya dengan lancar.


"Sah?" Tanya pak penghulu.


"SAAAAAAAHHHH!!!!" Teriak semua tamu undangan dari kedua belah pihak....

__ADS_1


malam pertama nya di pending dulu ya guys see you...


__ADS_2