Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Harga diri


__ADS_3

Rayyan yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di ruang rawat itu pun segera melangkahkan kaki nya cepat untuk mendekati Andre dan,


"PLAK!!"


Dengan sangat kasar Rayyan menepis tangan Andre, Maysa yang melihat nya pun terkejut dengan perlakuan kasar Rayyan, setiap kali bertemu Andre.


"Mas?" Panggil Maysa yang berusaha mengalihkan pandangan Rayyan.


"Iya sayang kau butuh apa?" Sahut Rayyan dengan mendekat ke arah Maysa dan sedikit menggeser tubuh Andre sampai dokter tampan itu berjalan mundur dua langkah.


"Em... May pingin jalan-jalan ke taman belakang klinik" Ucap Maysa, Rayyan tersenyum mendengar nya.


"Iya sayang" Dengan mengelus kepala Maysa Rayyan mengiyakan nya.


Andre dengan sigap menyiapkan kursi roda untuk duduk Maysa, namun Maysa menolak nya dengan halus.


"Maaf dok saya mau jalan-jalan, supaya otot kaki saya kembali kuat" Tanpa mengurangi senyuman di wajah nya Maysa menolak kursi roda yang di siapkan oleh Andre.


"Tapi kaki mu masih lemah May" Ucap Andre yang mengkhawatirkan kondisi Maysa.


"Dokter Andre tenang saja, Maysa hanya akan berjalan beberapa langkah di taman belakang, dan selebih nya serahkan saja pada saya" Ucap Rayyan yang langsung menggendong Maysa ala bridal style, "Aaaak!" Teriak Maysa yang terkejut dan refleks tangan nya langsung memeluk leher Rayyan.


"Mas!" Maysa memanggil Rayyan dengan pandangan yang sebenar nya ingin marah karena sudah membuat nya terkejut.


"Sssttt dosa melototi suami" Ucap Rayyan dengan menyentuh hidung Maysa menggunakan hidung nya.


Melihat adegan perbucinan itu pun membuat Andre memalingkan wajah nya dan keluar dari ruang rawat Maysa.


Tanpa memperdulikan perasaan Andre, sepasang kekasih itu pun berjalan menunju taman belakang klinik.


"Awas, hati-hati" Rayyan menurunkan Maysa di sebuah kursi taman, Maysa duduk berdampingan dengan Rayyan, kepala nya ia sandarkan di pundak suami tampan nya itu.


"Mas?" Panggil nya dengan lembut, Rayyan sedikit menoleh kearah Maysa.


"Hem? apa sayang?" Sahut Rayyan dengan mengelus pucuk kepala yang bersandar di pundak nya itu kemudian sekilas mengecup nya.


"Barusan mas cemburu?" Cetus Maysa tiba-tiba, yang membuat Rayyan memerah pipi nya.


Karena tak kunjung mendengar jawaban dari Rayyan Maysa pun mendongakkan kepala nya untuk melihat suami nya kenapa mendadak diam saja.


"Mas?" Panggil Maysa dengan memiringkan kepala nya supaya dapat melihat wajah Rayyan yang tengah berpaling.


Terlihat Rayyan menghela nafas dan memandang ke arah Maysa, dibelai nya wajah istri yang ada di hadapan nya kini, yang selalu membuat nya rindu jika berjauhan barang sebentar saja.


"Mas... "


"Iya mas cemburu, mas nggak suka ada laki-laki lain yang memberikan perhatian lebih pada mu" Sela Rayyan dengan memandang wajah Maysa secara intens.


"Mas? kamu ini ganteng lo, kok ngga PD sih?" Tanya Maysa.


"Apa? PD? maksud kamu mas malu-malu gitu? nggak mas nggak malu-malu" Ucap Rayyan dengan percaya diri penuh.


"Lah itu tanda nya mas masih cemburu" Jelas Maysa dengan senyuman.


"Lah apa hubungan nya?" Tanya Rayyan tak memahami ucapan Maysa.


"Yaaaa... kata Dylan cemburu itu hanya untuk orang-orang yang kurang percaya diri hehe... " Jelas Maysa.


"Laki-laki lain lagi?" Dengan mengangkat satu alis nya Rayyan bertanya.

__ADS_1


"Hehe ya Kalau Dylan mah bukan cuma May yang tau mas, banyak yang tau" Sambil terkekeh Maysa menjelaskan.


"Halah ngeles terus" Ucap Rayyan.


"Mas bantu May jalan yuk, hampir seminggu nggak jalan-jalan kan ini" Ucap Maysa mengalihkan topik pembicaraan.


"He'em ayok!" Rayyan segera memapah Maysa untuk berdiri dengan kaki nya sendiri.


"Kalau nggak kuat ngomong ya?" Dengan raut wajah yang khawatir Rayyan berpesan.


Maysa hanya tersenyum mendengar suami nya sangatlah memperhatikan keselamatan nya.


...****************...


Di dalam rumah yang sangat mewah tepat nya di dapur Nur tengah bergulat dengan sayuran, pisau, panci dan seperangkat alat dapur lain nya.


TAK TAK TAK TAK...


Terdengar suara pisau yang tengah memotong sayuran, dengan cekatan Nur membuat masakan untuk suami yang di anggap nya masih bochil itu, ya memang benar umur Iko lebih muda dua tahun dari Nur, di tengah-tengah ke asik an nya bergulat dengan peralatan dapur sayup-sayup ia mendengar suara wanita tak jauh dari tempat nya berdiri.


Nur menoleh dan berjalan mendekati sumber suara yang berhasil mencuri perhatian nya.


"Ayo lah sayang jangan sok jual mahal lah, kau ini sudah menikah tapi masih perjaka, apa istri mu tidak becus melayani mu?" Suara wanita itu terdengar semakin jelas ketika Nur sampai di ambang pintu dapur.


Dari sana Nur melihat wanita dengan pakaian yang sangat sexy dan sedikit terbuka itu bergelayut manja di lengan suami nya.


Nur begitu geram dan ia berjalan mendekati mereka berdua, "Jauh kan tubuh mu dari suami ku!" Ucap Nur dengan nada yang datar.


Wanita yang tengah bergelayut manja itu pun memandang remeh Nur yang memakai baju panjang lengkap dengan hijab nya.


"Dia siapa Ko?" Tanpa mengalihkan pandangan nya dari Nur, wanita itu mulai berdiri dan bertanya kepada Iko.


"Oo jadi modelan begini? heh pantas saja suami mu mencari ku!" Ucap wanita itu.


"Iko?" Dengan mengerutkan alis nya Nur menatap ke arah Iko demi meminta jawaban.


Iko menatap ke arah Nur dengan tatapan jengah, ia menghela nafas dengan kasar kemudian beralih menatap ke arah wanita yang dibawa nya.


"Kau pulang lah" Ucap Iko.


"Tapi... "


"Gue bilang lo pulang ya pulang!" Sela Iko dengan nada tinggi nya.


"Apa maksud nya ini? bukan kah gue kesini karena istri lo ini nggak bisa melayani lo dengan benar?" Dengan suara lantang nya wanita itu berkata.


"Apa? Iko? kamu?" Nur tidak melanjutkan kata-kata nya ia menutup mata nya dengan satu tangan nya sedangkan tangan satu nya lagi bertengger di pinggang nya.


Berkali-kali Nur menghela nafas, ia tidak habis pikir suami nya akan membocorkan masalah rumah tangga nya kepada wanita yang asal usul nya saja Nur tidak tau.


"Keluar dari rumah Gue!" Ucap Iko kepada wanita yang di bawa nya itu.


"Gue gak habis pikir Ko, lo seplin-plan ini jadi cowo!" Dengan menggelengkan kepala nya wanita itu akhir nya pergi dari rumah Iko.


Setelah wanita asing itu pergi...


"Sayang?" Iko memanggil Nur dengan tangan yang hendak meraih tangan Nur, namun gadis yang bergelar istri itu segera menepis kasar tangan Iko.


"Denger Iko! Jauh kan tangan kotor mu itu dari ku! Jika saja ustadz Rayyan yang ada di posisi mu dia tidak akan meladeni atau pun sekedar melihat wanita bentukan seperti dia!" Cetus Nur dengan menunjuk ke arah Iko kemudian menunjuk ke arah pintu keluar yang baru saja dilewati wanita tadi.

__ADS_1


"Sayang bukan itu maksud ku..."


"Cukup Iko cukup! kau tega membeberkan masalah rumah tangga kita kepada orang lain, kau pikir aku tidak punya harga diri Iko?" Sela Nur dengan suara gemetar.


"Menikah dengan bocah kecil seumuran mu saja aku sudah menurunkan sedikit harga diri ku Iko!" Mulai lepas kendali Nur tidak mengingat jika Iko paling tidak suka jika Nur menyamakan nya dengan bocah kecil.


"Hah terserahlah!" Bentak Iko yang langsung beranjak dari duduk nya, ia segera pergi meninggalkan Nur yang masih berdiri di tempat.


Sedari siang tadi Iko tidak keluar dari ruang kerja nya, entah apa yang di kerjakan nya di dalam sana.


Malam ini Nur tengah makan di meja makan, bu Asih berjalan mendekati nya.


"Loh non makan sendiri? Tuan Muda dimana?" Tanya bi Asih kepada Nur yang tengah menikmati makanan nya sendiri.


"Em mungkin masih sibuk di ruang kerja nya" Jawab Nur acuh.


Bi Asih mengerti dan langsung menyiapkan satu nampan yang berisi nasi lauk pauk dan juga minuman untuk tuan muda nya.


"Tolong nanti berikan kepada tuan muda setelah nona selesai ya!" Ujar bi Asih.


"Maaf bi, bibi aja gimana?" Ucap Nur yang masih asik dengan makanan nya.


"Non Nur kan tau sendiri kalau bibi yang berikan nanti tidak akan dimakan" Ucap bi Asih.


Nur menghela nafas nya kemudian menganggukkan kepala nya, "Hem iya iya nanti!" Ucap Nur, sungguh ia masih marah dengan apa yang di lakukan suami nya siang tadi.


Setelah selesai makan, Nur mengantar makanan kepada Iko, TOK TOK TOK...


"Masuk" Terdengar sahutan dari dalam ruangan itu, tanpa ragu Nur pun masuk dan meletakkan nampan yang di bawa nya di atas meja.


"Silahkan dimakan tuan" Ucap Nur.


Seketika Iko mengarahkan pandangan nya ke arah dimana Nur berdiri.


Saat Nur berbalik dan hendak melangkah pergi Iko meraih tangan Nur untuk menghentikan nya, Nur pun berhenti dan sedikit menoleh ke arah Iko.


"Ada apa?" Tanya Nur dengan nada yang datar, namun bukan nya menjawab Iko malah melepaskan tangan Nur.


Tanpa Ragu lagi Nur pun meninggalkan ruang kerja Iko.


"Aaaaarrrggghhh bodoh bodoh bodoh! kenapa tidak meminta maaf saja kenapa malah kau lepaskan tangan nya!" Ucap Iko merutuki kebodohan nya.


Tak lama kemudian setelah Iko menghabiskan makanan nya ia pun segera berjalan menuju kamar nya.


CEKLEK!!


Suara pintu kamar di buka oleh Iko, ia sedikit terkejut ketika mendapati kamar nya yang begitu gelap.


"Lihat lah bukan hanya aku saya yang tidak di layani nya, bahkan lamu kamar pun tidak di hidupkan nya" Ucap Iko dengan meraba-raba dinding mencari saklar lampu yang ada.


Namun baru saja ia melangkahkan kaki nya meninggalkan ambang pintu, "BRAK!!" Daun pintu itu menutup dengan sendiri nya.


Iko di buat terkejut dengan suara yang keras itu, namun setelah itu lampu tidur berwarna kuning remang-remang menyala dengan sendiri nya.


Dengan bantuan cahaya remang-remang itu Iko melihat bayangan tubuh wanita yang mulai menari meliuk-liuk dengan baju yang sangat terlihat sexy bersamaan dengan musik yang mulai terdengar.


Wanita itu menggerai rambut nya dan berjalan dengan perlahan mendekati Iko yang masih terpaku karena pemandangan yang belum pernah ia lihat selama ini.


Wanita itu memegang pundak Iko dan berbisik, "Bagaimana? apakah kau siap untuk ku layani?...

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2