Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Maaf


__ADS_3

Rayyan begitu tersentak kaget mendengar ucapan yang keluar begitu saja dari mulu Maysa.


"May? bisa kamu jelaskan? apa maksud dari ucapan mu barusan?" Rayyan menatap tajam kearah Maysa.


"Ya saya hanya manusia biasa yang mudah sekali terbakar emosi, dan saya paling tidak suka jika ada yang mengganggu sesuatu yang sudah di paten kan untuk saya?" Ucap Maysa yang akhir nya berani mengatakan unek-unek yang ada di dalam hati nya.


"Kak? kakak main serong?" Fasha yang mendengar ucapan Maysa barusan pun salah paham.


"May kamu cemburu karena sore tadi saya bicara sama Nur?" Rayyan yang merasa menemukan titik permasalahan pun langsung bertanya.


"Terus apakah saya harus jawab iya saya cemburu baru ustadz paham?!" Ucap Maysa dengan posisi berdiri.


"Pahami sedikit posisi saya! saya sudah berkali-kali di dibodohi oleh dia, tapi kamu... " Maysa tak sanggup berkata karena menurut nya itu sungguh memalukan dan menyakitkan.


"Aku menunggu mu sekitar dua jam lebih di sana di depan sekolah, tapi ternyata kamu... " Sambung Maysa dengan bulir bening yang berhasil lolos satu demi satu meluncur di pipi nya, kemudian gadis itu menggeleng kan kepala nya dan segera keluar dari ruangan Abah.


"Maaf semua nya, saya permisi, Assalamu'allaikum" Dengan suara yang bergetar akibat menahan tangis Maysa berlari keluar.


"Kak! Jelaskan! kenapa kakak tidak menjemput nya siang tadi?" Fasha dengan nada yang cukup tinggi berbicara kepada kakak nya.


"Ada apa ini kenapa kau berteriak kepada kakak mu nak?" Ucap Abah yang baru saja kembali kedalam ruangan, semua yang ada di sana pun mendadak terdiam ketika Abah bertanya.


"Ada apa? Loh kemana Maysa?" Tanya Abah yang mendapati bahwa Maysa tidak lagi duduk di samping Fasha.


"Maysa, seperti nya dia kecewa dengan ustadz Rayyan" Ucap Zainudin dengan suara lirih nya.


Abah mengalihkan pandangan nya ke pada Rayyan, putra sulung nya itu masih menunduk kan kepala nya.


"Kau apa kan dia?" Tanya Abah kepada Rayyan, namun belum sempat Rayyan menjawab Abah sudah berkata lagi.


"Dengan se enak nya kamu menyentuh anak gadis orang dan sekarang kamu menyakiti nya?" Dengan suara yang cukup tinggi Abah menegur Rayyan.


"Tapi saya tidak menyentuh nya Abah!" Sangkal Rayyan.


"Kamu pernah memeluk nya kan? itu apa nama nya kalau bukan menyentuh?!" Dengan amarah yang hampir saja meluap Abah berkata, Fasha pun segera berdiri dan mengelus punggung ayah nya itu, dan di ajak nya untuk duduk.

__ADS_1


"Astagfirullah, istigfar bah, Abah jangan marah-marah, nanti masalah Maysa biar Fasha sama kak Rayyan yang urus" Sambil menuntun Abah untuk duduk di sofa.


"Iya ajari kakak mu itu untuk menggunakan perasaan nya dengan benar!" Ucap Abah yang sudah duduk di sofa.


Maysa yang berlari keluar pun bingung hendak kemana, gadis itu akhir nya berjalan menuju masjid di sana ia duduk di teras masjid dengan menahan tangis, namun bulir bening itu tetap saja dapat lolos dan meluncur melewati pipi nya.


Tak jauh dari masjid Rahma melihat Maysa yang tengah duduk sendirian, gadis itu pun mendekati Maysa dengan membawa coklat batangan ditangan nya.


"Assalamu'allaikum" Rahma tak mau lancang atau pun menumbuhkan rasa curiga di hati Maysa, maka nya gadis itu datang dengan mengucap salam juga tak lupa senyum yang ceria melekat pada wajah nya.


"Waalaikumussalam" Dengan suara serak khas orang menangis Maysa menjawab salam dari Rahma tanpa melihat nya sedikit pun.


"Hey kau ini kenapa May? maaf jika aku salah lihat, tapi kamu terlihat sedikit kacau!" Ucap Rahma sambil duduk di samping Maysa.


"Memang nya kelihatan banget ya?" Tanya Maysa yang mengusap mata dan juga pipi nya.


"He'em, cerita saja, aku mau kok dengerin, siapa tau setelah kamu cerita hati mu sedikit lega" Ucap Rahma yang menggeser duduk nya sedikit menghadap kearah Maysa.


"Aku lelah, aku capek, aku... Hah sudah lah" Ucap Maysa sambil menghela nafas dan mengusap wajah nya sedikit kasar.


"Lelah kenapa? kamu marahan sama ustadz Rayyan?" Tanya Rahma.


"Iya tadi sore aku lihat kamu berpapasan dengan ustadz yang tengah berbincang dengan Nur kan? kamu marah gara-gara itu?" Tanya Rahma dengan sabar.


Maysa hanya mengangguk kan kepala nya, gadis itu cukup malu untuk mengakui kalau diri nya cukup terganggu dengan kedekatan Rayyan dan Nur sore tadi.


"Tapi mereka kan nggak ada apa-apa May, kenapa kamu harus marah?" Tanya Rahma, kali ini Maysa menatap kearah Rahma.


"Memang tidak ada apa-apa pada hati ustadz Rayyan namun ada perasaan lebih di hati nya kak Nur!" Sangkal Maysa.


"Sudah lah May, kalau kamu mau marah jangan sama ustadz Rayyan, seharusnya kamu marah nya sama Nur, coba kamu pikir, siapa yang memulai? siapa yang ke gatelan? siapa yang centil? siapa yang caper? siapa May? Ustadz Rayyan atau Nur?" Rahma berusaha membuka pikiran Maysa yang tengah kalut bagai tertutup kabut.


"Jangan seperti ini May, kalau sampai Nur melihat mu hancur dan kacau seperti sekarang ini, dia akan sangat bahagia, dia pikir dia sudah berhasil menggeser posisi mu" Ucap Rahma mencoba untuk menarik Maysa keluar dari lembah kesedihan nya.


Sejenak Maysa memikirkan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Rahma.

__ADS_1


..."Benar juga, lebih baik aku fokus dengan balapan malam nanti saja, masalah kedekatan Ustadz Rayyan dan juga Nur dipikir belakangan aja lah" Batin Maysa....


"Ini aku ada coklat, kata nya makan coklat bisa memperbaiki mood loh" Ucap Rahma sambil menyodorkan coklat yang sedari tadi dipegang nya. Sejenak Maysa melirik kearah coklat yang ada ditangan Rahma.


"Makasih" Maysa akhir nya mau mencomot satu kotak coklat yang sudah terpotong-potong.


"Sama-sama" Ucap Rahma dengan senyuman yang mengembang, ia senang dapat menghibur orang yang dulu pernah dibully nya itu.


Di bengkel Anita sedang menyetel motor Nando yang akan digunakan Maysa nanti


"Masih kurang gimana lagi Nit?" Tanya Halim kepada putri nya itu.


"Kaya ada aja pak yang kurang, coba bapak cek deh" Ucap Anita sambil melihat kerah motor yang belum rapi itu.


"Mau main jam berapa Maysa nanti?" Tanya Halim yang mencoba melihat bagian-bagian motor Nando.


"Kalau jadi ya jam dua pak kaya biasa nya" Ucap Anita sambil menyeruput kopi hitam buatan Halim yang di letak kan di atas meja.


Halim yang melihat kopi nya diminum Anita langsung berkata.


"Kopi bapak! jangan dihabiskan, kalau mau ya bikin sendiri!" Dengan tatapan mata yang kembali fokus pada mesin motor didepan nya Halim berkata.


"Ya ampun pak sama anak sendiri ini, perhitungan amat!" Ucap Anita yang langsung meletakkan kopi hitam itu di tempat semula.


Rayyan keluar dari ruangan Abah bersama Fasha, mereka mencari-cari keberadaan Maysa, mereka berjalan kearah kamar Fasha namun tidak ada siapa-siapa di sana.


"Coba di masjid kak, itu tempat favorit Maysa kalau sedang ingin menenangkan diri" Usul Fasha yang langsung dijawab dengan angguk kan kepala oleh Rayyan, mereka pun tak mau membuang-buang waktu lagi dan langsung berjalan menuju masjid.


Maysa yang masih duduk di teras masjid pun langsung dapat dilihat oleh Fasha dan juga Rayyan.


Rayyan langsung berlari mendekati Maysa dan duduk tepat di depan gadis itu.


"May, Maaf ya kalau saya kurang peka" Ucap Rayyan dengan raut wajah penuh harap untuk dimaafkan.


Maysa hanya menunjukkan senyuman nya dan menganggukkan kepala nya.

__ADS_1


"Arti nya?...


bersambung...


__ADS_2