Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Harus Senang atau kah Sedih?


__ADS_3

"Ada apa bunda? Apa yang terjadi dengan Maysa?" Tanya Rayyan bahkan sebelum ia meletakkan bokong nya di atas kursi.


"Tadi dokter Andre menemukan Maysa pingsan di mushola" Jelas Zulfa.


"Apa? pingsan?" Rayyan bertanya dengan mengerutkan kening nya dan menatap penuh penyesalan ke arah Maysa yang tengah berbaring dengan tatapan sayu dan wajah pucat, bagaimana tidak menyesal? ya Rayyan menyesal karena tidak bisa menjaga Maysa, dan tidak tegas ketika ia malah mengijinkan istri nya itu untuk pergi bekerja.


Rayyan berjalan kearah Maysa ia duduk di tepi ranjang tepat di samping Maysa, di tatap nya wanita yang telah berhasil mengisi dan mewarnai hari-hari nya itu kini tengah terkulai lemah dan wajah yang biasa nya ceria kini terdiam dengan tatapan sayu yang memilu, dan lihatlah bibir yang biasa nya merah merekah menggoda ini terlihat pucat dan sedikit membiru.


"Sayang" Dibelai nya tangan Maysa yang biasa nya bersemangat itu kini sedikit terasa dingin dan lemah.


"Hey ekspresi apa ini? mana senyum mu mas? mungkin aku hanya masuk angin sedikit, tenang lah" Ucap Maysa dengan suara yang pelan jauh sekali dari diri nya yang selalu bersemangat.


"Bagaimana mas mau tersenyum? sedangkan keadaan mu seperti ini" Tak terasa bulir bening meluncur di pipi Rayyan, Maysa pun mengusap pipi Rayyan dengan telapak tangan nya.


"Jangan cengeng dong, masa pak ustadz ku imam kehidupan ku cengeng sih?" Ucap Maysa, Rayyan pun meraih tangan Maysa yang menempel di pipi nya dan di kecup nya tangan istri nya itu.


Andre yang melihat pemandangan yang sungguh membuat nya iri itu pun segera memalingkan wajah nya.


"Tadi pagi kondisi Maysa apakah sudah seperti ini Ray?" Tanya Zulfa.


"Pagi tadi dia sempat muntah-muntah bun, maaf kan Rayyan yang tidak bisa menahan Maysa agar tetap istirahat di rumah" Ucap Rayyan dengan menunduk kan pandangan nya, sungguh ia sangat merasa bersalah.


"Muntah di pagi hari?" Tanya Zulfa.


Zulfa dan Andre pun saling tatap dan mungkin apa yang mereka pikirkan sama...


"Jangan-jangan Maysa mengalami Morning Sickness??" Ucap Zulfa dan Andre bersamaan.


"Apa?" Ucap Rayyan dan Maysa bersamaan karena Rayyan yang asing dengan kata-kata itu sedangkan Maysa yang tidak begitu mendengar dengan jelas apa yang di kata kan bunda dan rekan nya itu.


"Ekhem... begini, jadi Morning Sickness itu biasa di alami oleh seseorang yang sedang hamil muda, ya tidak semua, tapi sebagian besar pasti mengalami nya" Jelas Zulfa.

__ADS_1


"Jadi?" Tanya Rayyan yang meminta kelanjutan penjelasan dari ibu mertua nya itu.


"Jadi ya mungkin Maysa sedang mengalami nya, toh kalian sudah lama menikah" Ucap Zulfa.


"Jadi kemungkinan May hamil bun?" Tanya Maysa dengan sangat antusias.


"Kemungkinan, tapi ya lebih jelas nya lagi, kita chek saja dulu" Ucap Zulfa yang mencari alat tes kehamilan di dalam laci meja nya.


Rayyan kini tak henti-henti nya mengembangkan senyuman, namun di hati nya masih mengganjal perasaan tak tega jika melihat istri nya yang lemah seperti sekarang ini.


"Ayo kita cek dulu!" Ajak Zulfa, Rayyan pun membantu Maysa berjalan menuju toilet untuk mengambil sampel urine untuk di tes.


Sambil menunggu hasil nya Maysa memegangi perut nya yang mulai berbunyi.


"Mas?" Lirih nya kepada Rayyan yang ada di samping nya.


"Hem? apa sayang?" Ucap Rayyan dengan mendekatkan telinga nya ke bibir Maysa.


"Lapar?" Tanya Rayyan dan hanya diangguki oleh Maysa.


"Ya sudah mas cari makan sebentar ya, kamu baik-baik disini" Ucap Rayyan dengan mengelus pucuk kepala Maysa dan mengecup nya sekilas.


Rayyan dengan semangat melangkah kan kaki nya menuju kantin yang ada di depan klinik, ia memesan dua mangkuk soto panas yang satu tanpa bawang goreng kesukaan nya sendiri dan yang satu nya lagi lengkap untuk istri nya, yang dia tau Maysa bukan lah tipe wanita yang pilih-pilih masalah makanan, berbeda dengan diri nya.


Setelah siap dua mangkuk soto itu di bawa nya kembali masuk ke dalam ruangan Maysa, baru saja Rayyan melangkahkan kaki nya melewati ambang pintu, dari jarak kurang lebih lima meter itu Maysa sudah dapat mencium aroma yang menutut nya sangat mengusik ketenangan perutnya.


"Hemp!" Maysa menutup mulut nya dengan satu tangan, "Apa yang kau bawa mas?" Tanya Maysa dengan tangan yang masih stay menutup indera penciuman nya itu.


"Ini soto sayang, kamu kan biasa nya suka soto" Tanpa pikir panjang Rayyan mendekati Maysa dan memberikan satu mangkuk soto yang berbumbu lengkap itu.


"Hemp! jauh jauh - jauh jauh! aku mau yang itu saja yang di sana!" Maysa menunjuk satu mangkuk soto yang diletakkan Rayyan di atas meja.

__ADS_1


"Tapi itu nggak ada bawang goreng nya sayang" Jelas Rayyan.


"Pokok nya aku mau yang itu!" Ucap Maysa, mau tak mau Rayyan pun mengalah dan memberikan semangkuk soto yang sudah ia khusus kan untuk diri nya itu.


"Aaaaaakk!" Maysa membuka mulut nya minta di suapi oleh Rayyan, sungguh Maysa mendadak berubah menjadi sangat manja dari biasa nya.


Rayyan dengan sangat telaten dan sabar menyuapi istri nya itu, setelah makan dari tangan suami nya Maysa pun terlihat segar kembali.


"May hasil nya garis dua" Ucap Zulfa dengan tangan menenteng alat tes kehamilan yang sudah membuahkan hasil.


"Garis dua? berati May beneran hamil dong bun?" Tanya Maysa dengan menatap kearah bunda nya berdiri.


"Iya sayang, tapi di usia mu yang masih terlalu muda ini masih beresiko untuk melahirkan" Zulfa menyampaikan berita buruk itu dengan suara yang lemah.


"Apa? jadi harus gimana bunda?" Rayyan segera meletakkan mangkuk soto yang ada di tangannya ke atas meja.


"Ya kalau mau kalian tunda dulu kehamilan ini..."


"No bunda No! nggak! May nggak akan menggugurkan janji yang tidak tau apa-apa ini!" Maysa sedikit berteriak demi mempertahankan janin nya yang belum lama menempati rahim nya.


"Sayang, dengerin bunda dulu ya, kamu nggak boleh berteriak sama bunda May!" Ucap Rayyan sambil memeluk tubuh Maysa guna menenangkan nya.


"Tapi May nggak mau kalau sampai kehilangan calon baby ini mas!" Ucap Maysa dengan menahan bulir bening yang sudah stay di dalam sudut mata nya itu.


"Nggak sayang, kita bisa mempertahankan nya namun kau harus selalu dalam pengawasan" Jelas Zulfa yang membuat Maysa sedikit lega.


"Ray ini tugas mu untuk menghindarkan Maysa dari gangguan Baby blues, kau harus selalu ada di samping nya.


" Insya'Allah bun, Rayyan akan jaga Maysa dengan sepenuh hati" Sahut Rayyan, Andre yang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Rayyan segera berjalan meninggalkan ruangan itu...


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2