
Maysa terlihat tengah berdiri didepan cermin, gadis itu memandang bayangan diri nya yang ada di dalam cermin, tiba-tiba saja terlintas dibenak Maysa wajah Rayyan yang tengah tersenyum.
"Astagfirullah, kok jadi kaya orang bucin gini sih" Gadis itu bergumam sambil memegang kedua pipi nya dengan tangan kanan dan kiri nya.
"Tapi ngomong-ngomong... " Sejenak Maysa terdiam dan jari jemari lentik nya mulai meraba bibir nya.
"lembut dan empuk" Pikiran Maysa tengah traveling ke adegan pagi setelah subuh di ruangan Rayyan barusan.
"Astagfirullah kok aku jadi kaya omes gini sih" Dengan menepuk kening nya Maysa segera menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang sempat memenuhi rongga-rongga otak nya.
Setelah selesai dengan ritual pagi nya Maysa segera meninggalkan kamar nya untuk berangkat ke sekolah.
"Eh masih jam enam ya, nggak nyuci sih jadi nya ya masih pagi, tapi nggak papa lah sambil jalan-jalan juga ini" Ucap Maysa dengan terus berjalan melewati lorong-lorong kamar santriwati.
Entah hari ini hari apa? yang jelas hati Maysa sangat berbunga-bunga, dengan senyuman yang selalu mengembang menghiasi wajah nya.
"May?" Panggil Rayyan yang melihat Maysa lewat di depan ruangan nya, Maysa yang merasa nama nya dipanggil pun berhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah ruangan Rayyan, dan benar saja di sana Maysa melihat Rayyan yang sudah rapi, gadis itu mengerutkan alis nya melihat calon suami nya pagi-pagi sekali sudah rapi.
"Pak ustadz mau kemana?" Tanya Maysa yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Mau tau aja apa mau tau banget?" Tanya Rayyan dengan nada yang menggoda ketika diri nya sudah berdiri di samping Maysa.
"Iiiihh mulai genit ya? cubit nih" Ancam Maysa yang langsung disusul dengan cubitan di pinggang Rayyan
"Aduh, aduh, aduh... sakit, sakit... sudah, sudah, sudah" Rayyan meminta ampun supaya Maysa menyudahi cubitan nya di pinggang nya,
"Ya makanya jangan gitu ih" Ucap Maysa yang melepaskan cubitan nya.
__ADS_1
"Ya sudah saya minta maaf, senyum dong jangan cemberut" Goda Rayyan dengan memiringkan kepala nya supaya sejajar tinggi nya dengan tinggi Maysa yang hanya sepundak nya.
Maysa pun tersenyum malu-malu, entah kemana pergi nya sifat jahil yang biasa nya menggoda ustadz idaman nya itu, kini malah berganti dengan malu-malu seperti seorang gadis yang tengah dimabuk cinta.
"Nah gitu kan lebih enak dipandang, mau berangkat sekolah?" Tanya Rayyan yang di jawab anggukan kepala oleh Maysa.
"Saya antar kan ya?" Ucap Rayyan menawarkan tumpangan kepada Maysa.
"Boleh" Sahut Maysa dengan wajah yang masih tertunduk.
Mereka akhir nya berjalan menuju garasi mobil namun ketika sampai di depan masjid Rayyan menghentikan langkah nya,
"Tunggu disini ya!" Pinta nya dan Maysa hanya mengangguk kan kepala nya dengan senyuman yang mengembang menghiasi wajah nya. Rayyan berjalan memasuki garasi mobil.
Nur and the genk yang sedari tadi mengamati Maysa dan Rayyan berjalan bersama, hingga mendapati Maysa berdiri sendiri di depan masjid, mereka segera mendekati Maysa yang saat itu tengah sendiri "PLAK!"
"Nur, nyebut Nur sadar, Astagfirullah!" Teriak Rahma yang menahan Nur agar tidak melakukan lebih dari menampar Maysa.
"Lepaskan aku, aku ingin menghancurkan wajah nya supaya ustadz Rayyan tidak lagi mau memandang nya, LEPAS!" Nur yang berhasil mendorong Rahma sampai jatuh terjungkal berusaha untuk menampar lagi wajah Maysa, namun karena gadis itu menyadari apa yang akan terjadi pada nya, ia langsung menyambar tangan Nur dan di plintir nya hingga Nur berbalik membelakangi nya, Maysa menekan bahu Nur agar Nur mau berlutut.
"Bangun kak! tidur mu sudah terlalu lama, bangun, lihat dan terima kenyataan, ini sudah kehendak takdir, bahkan Abah sendiri yang memilih ku untuk menjadi calon istri nya ustadz Rayyan" Bisik Maysa dengan satu tangan menjambak hijab Nur dan mengarahkan wajah nya hingga kedua nya saling bertatapan.
Tangan Maysa yang satu masih stay menahan Kedua tangan Nur "Gila ini cewek, bar-bar nya minta ampun" Batin ika yang menolong Rahma.
"Maysa! nama mu Maysa kan!" Teriak Laily, namun tak sedikit pun Maysa menggubris teriakan gadis cempreng itu.
Karena Maysa tidak menoleh Laily mendekat dan hendak menjambak hijab Maysa, namun kalah cepat karena Maysa segera mendorong Nur dan berbalik menyerang Laily dengan mencekik nya.
__ADS_1
"Urusan ku dengan nya! kau mau ikut campur? atau kau juga mau aku memelintir leher mu?" Dengan senyum psikopat Maysa berhasil membuat ke empat gadis itu merinding.
Ika yang kasihan dengan Laily akhir nya mencari celah agar teman nya dapat lolos dari cengkeraman Maysa.
"May! ingat May! lo bukan monster! lepaskan May!" Teriak Nando yang tiba-tiba berlari dari arah gerbang mendekati Maysa.
Nando segera membantu Laily, tangan Maysa pun akhir nya lepas dari leher Laily "kalian segera lah pergi dari sini, jangan lagi mengganggu atau pun membangunkan emosi nya, kalau tidak kalian akan babak belur" Ucap Nando yang prihatin dengan Nur and the genk, mereka ber empat pun menuruti kata-kata Nando dan pergi meninggalkan Maysa dengan Nando.
"May! apa yang terjadi? kenapa lo menyerang mereka yang jelas-jelas ketahanan fisik nya saja tidak sebanding dengan mu?!" Tanya Nando, Maysa hanya menggeleng.
"Ok... kalau lo nggak mau jawab pertanyaan gue, nanti sepulang sekolah gua bakal aduin lo ke dokter Zulfa, biar beliau yang turun tangan!" Ancam Nando yang langsung pergi meninggalkan Maysa yang masih mematung.
"loh kok nggak ngikutin gue sih?" Batin Nando yang langsung menoleh kearah Maysa dan saat itu sebuah mobil berhenti di depan nya, dan Maysa masuk kedalam mobil itu.
"Oh pantesan dia nggak ngejar ternyata heh..." Gumam Nando dengan menstarter motor nya dan mulai melaju menuju sekolah.
Didalam mobil Maysa hanya duduk dan diam tanpa ekspresi, sedangkan Rayyan yang merasa Maysa berbeda tidak seperti biasa nya, akhir nya menghadap kearah Maysa.
"May?" Panggil Rayyan namun Maysa terlihat masih asik dengan lamunan nya, Rayyan pun mendekat dengan mencondongkan wajah nya mendekati Maysa karena merasa aneh Maysa pun tersadar dari lamunan nya.
"Tunggu ustadz jangan..." Kata-kata Maysa pun tertahan karena melihat wajah Rayyan dihadapan nya namun tak memandang kearah nya melainkan meraih seat belt yang belum digunakan oleh Maysa.
"Ini jangan lupa dipasang" Ucap Rayyan dengan memasangkan kan nya.
Maysa pun malu bukan kepalang karen pikiran nya yang iya iya saja.
"duuuuuhhh dasar otak!! kok jadi omes gini sih! siapa suruh dia tampan" batin Maysa dengan mengalihkan pandangan nya kearah jendela, sedangkan Rayyan hanya tersenyum melihat Maysa yang tersipu malu dengan pipi nya yang memerah...
__ADS_1
bersambung...