
Ustadz Rayyan?" Panggil Nur lirih, Rayyan pun menoleh ke arah nya, Nur perlahan berjalan mendekat, mata nya berkedip pelan beberapa kali ketika ia melihat Maysa yang terbaring lemah dengan banyak alat yang menempel pada tubuh nya.
"May?" Lirih Nur dengan mata yang menahan banyak nya bulir yang ingin berselancar di pipi mulus nya.
"Mau apa kau datang kemari?" Tanya Rayyan dengan nada dingin seperti biasa nya.
Bukan nya menjawab pertanyaan dari Rayyan Nur kini mendekati Maysa dan berkata.
"May! Selemah ini kah kau?!" Teriak Nur di samping tubuh Maysa yang terbujur lemah tak berdaya.
"Aku telah melepaskan! mengikhlaskan ustadz idaman ku menikah dengan mu, apakah hanya akan kau tinggalkan seperti ini?! Bangun May! jambak aku, dorong aku May! seperti dulu kau mempertahankan ustadz Rayyan! Bangun... Maaaaayyy!!" Akhir nya setelah mengeluarkan kata-kata itu Nur pun mengeluarkan bulir bening yang sejak tadi ia pertahankan.
"Maysa! jika kau tidak segera bangun maka bukan salah ku jika aku akan kembali merayu suami mu!" Ucap Nur dengan air mata yang mengalir deras.
"CUKUP NUR!" Iko pun masuk kedalam ruang ICU dan menarik tangan Nur dengan kasar, dibawa nya istri nya itu keluar dari dalam ruang ICU.
Rayyan tak merespon sedikit pun kejadian di depan nya itu ia hanya memandang sepasang kekasih yang baru saja keluar dari ruang ICU itu dan kembali memandang istri nya yang tak kunjung sadar itu.
Namun baru saja ia memandang wajah pucat Maysa, di sana Rayyan melihat bulir bening mengalir dari ujung mata Maysa.
"May? kau mendengar suara Nur?" Tanya Rayyan dengan mengelus surai hitam yang tergerai itu.
Jari telunjuk Maysa yang di belai oleh tangan Kanan Rayyan juga menunjukkan pergerakan.
Tak mau meninggalkan istri nya Rayyan hanya menelfon Fasha agar dia memanggil dokter untuk segera memeriksa Maysa.
Tak lama kemudian Zulfa masuk ke dalam ruang ICU dan memeriksa keadaan Maysa.
Nur yang masih kena omelan dari Iko pun belum pergi dari depan ruang ICU.
"Fa ada apa?" Tanya Nur setelah ia melihat Fasha menutup panggilan dan juga setelah melihat dokter Zulfa masuk ke dalam ruang ICU.
"Maysa menunjukkan tanda-tanda kesadaran nya" Ucap Fasha dengan tangan yang mendekap di dada nya.
"Alhamdulillah, semoga May segera sadar dan aku bisa minta maaf langsung kepada nya" Batin Nur dengan air mata yang lolos di pipi nya dan segera pula di seka oleh nya.
"Jadi?" Tanya Iko dengan merangkul bahu Nur.
"Iya aku hanya menyuruh nya bangun kalau tidak bangun aku ancam saja dia kalau suami nya akan ku goda" Bisik Nur di samping telinga Iko.
"Dasar kau, awas saja kalau kau sampai merayu laki-laki lain!" Ancam Iko dengan mencubit hidung Nur.
"Aduh sakit!" Keluh Nur dengan menarik tangan Iko yang bertengger di hidung nya.
Di dalam ruang ICU...
__ADS_1
Zulfa selesai memeriksa keadaan Maysa, namun putri nya itu belum juga membuka mata.
"Haaaaaahhhh... " Zulfa menghela nafas, sedangkan Rayyan masih dengan tatapan penuh harap melihat Maysa yang masih memejamkan mata nya.
"Ray coba kau bawa baby Maira ke sini, belum pernah kau temukan dengan umi nya kan" Ucap Zulfa.
"Iya bun" Rayyan pun segera melangkahkan kaki nya meninggalkan ruang ICU.
"Bagaimana keadaan Maysa ustadz?" Baru saja Rayyan keluar dari ruang ICU, Nur segera mendekati Rayyan dan bertanya bagaimana keadaan Maysa.
"Sudah lebih baik" Ucap Rayyan, kemudian ia berjalan menuju ruang inap, di sana ada Abah dan Ummi yang tengah menimang-nimang cucu mereka.
"Assalamu'allaikum" Ucap Rayyan ketika sampai di depan pintu.
"Waalaikumussalam" Sahut Ummi dan Abah bersamaan.
"Masuk lah nak, ada apa? apakah ada perubahan pada kondisi Maysa?" Tanya Ummi yang tengah memangku cucu pertama nya itu.
"Bunda Zulfa minta agar baby Maira di bawa untuk menemui Maysa" Ucap Rayyan, Ummi dan Abah pun saling pandang, mungkin dalam hati mereka bertanya ada apa.
"Ya sudah ayo, biar Ummi saja yang menggendong baby Maira" Ucap Ummi yang segera berdiri, mereka bersama-sama melangkahkan kaki nya menuju ruang ICU.
Karena memasuki ruang ICU harus steril dan juga dibatasi jumlah pengunjung nya, akhir nya hanya Rayyan yang masuk dengan menggendong baby Maira.
Sesampai nya Rayyan di samping ranjang Maysa, Zulfa segera mengambil alih untuk menggendong baby Maira.
Rayyan hanya menganggukkan kepala nya dan membiarkan putri kecil nya itu di gendong oleh nenek nya.
"Sebentar saja ya sayang" Ucap Zulfa yang melepas kain bedong yang melilit tubuh baby Maira.
"Oeeekk... oeeekkk... oeeeekkk... "
Baby Maira pun menangis sangat kencang, mungkin karena ia merasa kedinginan dan juga haus.
"Kau siap kan botol susu nya Ray" Perintah Zulfa yang langsung di kerjakan oleh Rayyan.
Saat Rayyan keluar dari ruang ICU Ummi sudah siap dengan botol susu kecil yang sudah berisi susu formula untuk bayi yang berumur 0-6 bulan.
"Dia haus Ray, berikan susu ini pada nya" Ucap Ummi yang mendengar suara baby Maira menangis.
"Iya Ummi" Sahut Rayyan yang langsung meraih botol susu dari tangan Ummi.
Rayyan segera kembali masuk ke dalam ruang ICU.
"Ini bun susu nya" Ucap Rayyan sambil berjalan mendekati Zulfa.
__ADS_1
"Sebentar... tangisan baby Maira membuahkan hasil, lihat lah" Ucap Zulfa dengan tangan yang masih menggendong baby Maira.
Rayyan melihat Maysa menggerakkan kembali jari-jari nya dan perlahan membuka mata nya.
"Coba kamu gendong dulu putri mu" Zulfa menyodorkan baby Maira kepada Rayyan, dan dengan cekatan Rayyan segera meraih kemudian digendong nya baby Maira di pelukan nya.
Sementara Zulfa memeriksa keadaan Maysa, Rayyan tengah membenahi kain bedong yang tadi di lepas oleh Zulfa.
Setelah rapi Rayyan memberikan susu formula untuk putri kecil nya itu, masih dengan menimang-nimang bayi kecil itu, Rayyan terus memperhatikan Maysa dari jarak sedikit jauh.
Zulfa selesai mengecek tekanan darah, detak jantung, selang infus dan lain sebagai nya.
"May? kau dengar suara bunda nak?" Tanya Zulfa karena Maysa sudah membuka mata nya namun belum mengeluarkan suara nya sedikit pun.
"Assalamu'allaikum Maysa?" Zulfa mengucap salam di telinga kanan Maysa.
"Waalaikumussalam" Lirih Maysa menjawab salam dari bunda nya, sungguh itu telah menjadi kebahagiaan tersendiri dari Rayyan, karena mendapati istri tercinta nya telah sadar dari koma.
"May kau dengar bunda nak? lihat bunda di sini" Ucap Zulfa dengan menepuk dada nya pelan, Maysa perlahan mengarahkan mata nya untuk melihat Zulfa.
"Dokter? Zulfa?" Ucap Maysa dengan suara lemah nya.
Rayyan segera melangkahkan kaki nya mendekati Maysa.
"Baby Maysa mana bun?" Tanya Maysa dengan suara lirih nya.
"Ini sayang baby Maira dia sedang minum susu, dia cantik kaya kamu" Ucap Zulfa dengan memandang ke arah bayi yang tengah digendong oleh Rayyan, kemudian Zulfa mengelus kepala Maysa.
"Kamu kalah mas" Lirih Maysa dengan senyum tipis namun mana memandang ke arah Rayyan.
"Iya dia mirip seperti mu, cantik" Ucap Rayyan yang sekilas melihat ke arah Maysa dan kembali memandang baby Maira yang sedang asik meminum susu formula dari botol nya.
Diluar ruang ICU semua orang tengah berharap-harap cemas, beberapa kali mereka melihat ke arah pintu ICU yang tak kunjung terbuka.
"Kok lama sekali Rayyan tidak keluar-keluar ya?" Ummi dengan langkah kaki mondar mandir di depan pintu ICU, memasang tampang khawatir.
"Apa jangan-jangan... "
"Nggak boleh su'udzon Ummi" Fasha memotong pembicaraan Ummi sambil menepuk pundak nya.
"Tapi... " Dengan raut wajah khawatir Ummi melihat wajah Fasha.
"Serahkan semua kepada Allah, semua yang terjadi atas kehendak nya" Ucap Fasha, Ummi pun mengangguk dan duduk di bangku yang tersedia di sana.
Tak lama kemudian Rayyan pun keluar dari ruang ICU.
__ADS_1
"Loh kok kamu sendiri? dimana baby Maira?...
bersambung...