
"Mungkin lebih baik kau jauhi dia May, agar kau tidak jadi lelet seperti sekarang ini!" Ucap Andre yang beralih memandang Maysa.
"Tapi dia suami saya dok, mana bisa saya menjauhi nya?" Tegas Maysa karena mulai melihat Andre yang sedikit kelewatan.
"Apa? Suami?" Tanya Andre tak percaya, ia pun menggeleng pelan dengan senyum masam nya dan melangkahkan kaki nya meninggalkan Maysa dan Rayyan.
"Sayang kau berhati-hati lah dengan dia, seperti nya dia... "
"Apa? suka sama aku?" Serobot Maysa dengan cekikikan.
"Astagfirullah mas, istri mu ini begitu bar-bar dan jauh dari kata anggun, mana mungkin bisa disukai sembarangan orang" Kilah Maysa yang berusaha meyakinkan dan menenangkan suami nya.
"Tapi Yang, cara dia melihat mu itu saja sudah beda lo" Rayyan menyampaikan kecurigaan yang sedari tadi ia rasakan.
"Ya dia memang begitu, sedari aku masih kecil dia super protektif kaya dia itu takut aku kenapa-kenapa, tapi nggak papa, mas tenang saja, semua masih di batas normal kok" Ucap Maysa dengan melempar senyum manis nya.
Rayyan pun mengelus pelan pucuk kepala Maysa sebelum pergi meninggalkan nya.
Setelah kejadian pagi itu Andre sedikit menjaga jarak dengan Maysa, entah kecewa yang ia rasa, atau entah tidak mau berurusan dengan istri orang.
Sudah hampir satu bulan lama nya Andre selalu mendiamkan Maysa jika tidak ada hal penting ia selalu memilih menjauhi nya.
Seperti Siang ini, Maysa ada mata kuliah pagi dan siang nya selepas ngampus ia langsung menuju klinik.
"Siang dok" Sapa ramah Maysa ketika berpapasan dengan Andre yang tengah berjalan dari arah yang berlawanan.
"Hem" Hanya itu yang Maysa dengar, "Dingin banget" Gumam Maysa, namun yang ia lihat Andre berjalan terus saja tanpa menoleh sedikit pun pada nya.
"Apa bener ya yang di bilang Mas Rayyan, kalau ternyata dokter Andre suka sama aku?" Gumam Maysa dengan PD nya.
Tak mau ambil pusing Maysa pun melakukan tugas nya hari itu dengan tenang dan tidak mau memikirkan pikiran-pikiran yang tidak penting.
Sampai satu hari itu ia lewati dengan lancar walau pun dengan sikap dingin partner kerja nya.
Pagi ini Maysa membuka mata nya namun tak mendapati Rayyan di samping nya, "Mas?" Panggil nya, ia mencari Rayyan di seluruh ruangan yang ada di kamar nya.
Pada akhir nya Maysa pun memutuskan untuk turun ke dapur, ia membuka lemari es dan meraih beberapa potong daging untuk dimasak nya.
__ADS_1
Baru saja Maysa menutup pintu lemari es di hadapan nya itu tiba-tiba ia merasa hidung nya mengendus sesuatu yang sangat mengusik kenyamanan perut nya, "Ekhemp" Maysa berdehem dengan menutup hidung juga mulut nya menggunakan telapak tangan nya.
Setelah beberapa saat hidung wanita itu mulai terbiasa, namun tidak lagi saat ia memotong bawang merah, tak dapat di tahan lagi bau yang sangat mengganggu menurut Maysa itu, ia pun segera berlari secepat mungkin menuju wastafel yang ada di lantai bawah itu dan,
"HOEG!! HOEEEEGG!! HOEGH!" Sejenak Maysa menarik nafas dan kemudian kembali ia memuntahkan semua isi perut nya pagi itu.
Rayyan yang baru saja pulang dari Joging terkejut ketika ia baru saja membuka pintu rumah nya dan mendengar suara Maysa yang tengah muntah-muntah.
"May?" Lirih Rayyan yang segera berlari mendekati Maysa yang sedang berdiri di depan wastafel.
"Ada apa sayang? kamu kenapa?" Dengan raut wajah yang menunjuk kan kepanikan Rayyan segera memijit pelan tengkuk istri nya itu.
"Hemmmmm" Maysa hanya menggeleng dan tak mampu berkata banyak, setelah habis semua isi perut Maysa, ia limbung hampir ambruk karena tubuh nya lemas.
Namun dengan sigap Rayyan segera menopang tubuh mungil istri nya itu, dan di gendong nya tubuh Maysa ke sofa dan untuk sementara ditidurkan nya Maysa di sofa empuk itu.
Rayyan segera berlari menuju dapur untuk mengambilkan segelas air minum, dan segera dia berikan kepada Maysa, dengan telaten Rayyan membantu Maysa untuk minum.
"Perut nya masih sakit sayang?" Tanya Rayyan.
"Hem lumayan" Sahut Maysa lemas.
"Emmm nggak usah mas, udah baikan kok" Tolak Maysa, yang merasa sudah enakan.
"Tapi kamu masih pucat sayang!" Ucap Rayyan.
"Istirahat dulu ya, tidak usah ke klinik dulu ya!" Sambung Rayyan berusaha membujuk nya.
Namun Maysa bimbang, mengingat partner kerja nya yang sifat nya berubah menjadi dingin, mana mau dia menerima alasan dari Maysa, tetapi disisi lain ini adalah perintah dari suami nya, tak mau juga ia menjadi istri durhaka, sudah cukup dulu ia membohongi suami nya itu dan tidak mau lagi.
Setelah Maysa terdiam cukup lama, dan Rayyan melihat kebimbangan yang tersirat di wajah ayu istri nya itu, akhir nya Rayyan mengalah.
"Ya sudah jangan terlalu di pikirkan toh di klinik ada bunda" Ucap Rayyan dengan menarik tubuh Maysa ke dalam pelukan nya.
"Maksud mas?" Tanya Maysa yang mendongakkan kepala nya untuk melihat wajah suami nya.
"Iya kamu berangkat ke klinik saja, nanti kalau ada apa-apa kan ada bunda di sana, tapi tetap berhati-hatilah" Rayyan memberikan wejangan kepada istri tercinta nya itu.
__ADS_1
"Benarkah? emmm makasih mas ku sayang" Ucap Maysa dengan mengeratkan pelukan nya dan sekilas mengecup pipi Rayyan sebelum ia pergi untuk bersiap-siap.
Seperti hari-hari sebelum nya, Rayyan mengurus urusan pondok dan Maysa membantu Zulfa untuk mengurus klinik milik keluarga nya itu.
Hari ini lumayan ramai pasien yang mengunjungi klinik, mulai dari anak-anak sakit sampai ibu-ibu yang pasang alat kontrasepsi pencegah kehamilan.
Sore itu Maysa ijin kepada bunda nya untuk melaksanakan sholat ashar di mushola klinik, Maysa menjalankan ibadah sholat ashar dengan lancar, ia terlihat tengah melipat mukenah yang baru saja dikenakan nya.
Namun begitu ia berdiri dari duduk nya tiba-tiba ia merasa pandangan nya mulai buram dan menjadi gelap.
"BRUK!"
Tubuh Maysa limbung dan ambruk, wanita cantik itu pingsan tak sadarkan diri.
"Maysa?" Lirih Andre yang tidak sengaja melihat Maysa yang terbaring di mushola, kala itu Andre akan keluar dari mushola dan iseng mata nya melirik kearah Maysa terbaring.
Awal nya ia berusaha tidak perduli namun saat ia sudah selesai menggunakan sepatu nya dan di lihat nya lagi Maysa yang sama sekali tidak bergerak membuat nya curiga.
Andre pun memutuskan untuk mendekati Maysa yang masih tak sadarkan diri, digoncangkan nya tubuh Maysa namun Maysa tak sedikit pun merespon.
Andre semakin dilanda kepanikan ia pun segera menggendong Maysa dan dibawa nya ke ruangan Zulfa.
"Dokter Zulfa, dokter Zulfa!" Teriak Andre setelah sampai di ambang pintu ruangan Zulfa.
"Loh ada apa ini? kenapa Maysa? apa yang terjadi?" Begitu banyak pertanyaan yang muncul begitu saja dari mulut Zulfa yang sangat panik karena mendapati putri bungsu nya tak sadarkan diri.
Zulfa memeriksa Maysa dan setelah nya ia segera menghubungi Rayyan agar cepat ke klinik untuk menjemput istri nya yang kurang sehat.
Rayyan tiba di klinik dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran, ia segera menuju ruangan dimana Maysa dirawat.
"Assalamu'allaikum" Ucap Rayyan ketika memasuki ruangan Zulfa.
"Waalaikumussalam" Ucap semua orang yang ada di dalam ruangan Zulfa, termasuk Maysa dengan suara lemah nya, karena ia baru saja sadar dari pingsan nya.
"Ada apa bunda? Apa yang terjadi dengan Maysa?" Tanya Rayyan bahkan sebelum ia meletakkan bokong nya di atas kursi.
"Tadi dokter Andre menemukan Maysa pingsan di mushola" Jelas Zulfa.
__ADS_1
"Apa? pingsan?...
bersambung...