
Setelah mengatakan jika diri nya haus Maysa kembali meneguk minuman itu sampai habis. Rayyan tersenyum melihat kelakuan istri nya itu.
"Kamu benar-benar haus?" Tanya Rayyan tanpa melepas pandangan nya terhadap Maysa.
"He'em" Sahut Maysa sambil menyesap minuman yang di rebut nya dari Rayyan.
Ustadz tampan yang tak lagi lajang itu kini mengelus pucuk kepala Maysa, dari kejauhan tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memandang nya dengan geram dengan benci dengan rencana jahat yang selalu saja ia rangkai untuk memisahkan mereka berdua.
Acara makan malam itu pun berlanjut dengan sangat meriah. Maysa merasa kan mata nga yang sangat berat padahal waktu baru menunjuk kan pukul 21.30WIB, Maysa terlihat tengah memijit kening nya beberapa kali.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Rayyan yang khawatir dengan kondisi Maysa.
"He'em" Dengan memijit kening nya Maysa menyahuti pertanyaan Rayyan, ya walau pun mata nya mulai terpejam.
"Eh mas ini, aku kayak nya balik duluan ke kamar ya, ngantuk banget ini, mas kalau masih mau di luar nggak papa, aku bisa sendiri kok" Ucap Maysa yang mulai beranjak dari duduk nya.
"Aku antar ya?" Ucap Rayyan yang langsung melingkarkan tangan nya di pinggang Maysa.
"Iya mas" Tanpa tersenyum Maysa mengiyakan permintaan Rayyan yang ingin mengantar nya.
"Woi pengantin baru! baru jam segini juga udah mau main kuda-kuda an aja!" Teriak Haidar yang sengaja menggoda Rayyan dan Maysa, namun kedua nya hanya menoleh sekilas tanpa menjawab apa pun.
"Ustadz Haidar? memang nya kak Rayyan punya kuda-kudaan ya?" Tanya Fasha dengan kepolosan nya.
"Hah? nggak itu... anu... em... " Haidar bingung hendak memberi alasan yang seperti apa, ia pun takut jika ketahuan berbohong di hadapan Fasha, yang memang sangat sulit di curi perhatian nya itu.
"Perasaan di ruangan kak Rayyan nggak ada kuda-kuda an deh, ustadz Haidar mulai ngelantur ni" Ucap Fasha yang langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.
Di dalam kamar Maysa langsung melepas hijab nya dan mengganti pakaian nya dengan yang lebih santai untuk dikenakan untuk tidur.
Rayyan yang memperhatikan istri nya dengan susah payah ia menelan saliva nya, Rayyan berjalan mendekati Maysa dan memeluk nya dari belakang.
Tangan kekar itu perlahan membelai perut ramping yang saat ini terpampang tak tertutupi sehelai kain pun.
"Maaaasss" Ucap Maysa manja
__ADS_1
"Hem iya sayang?" Bisik Rayyan tepat di belakang telinga Maysa yang mampu membuat gadis itu meremang dan detak jantung nya terpacu lebih cepat dari biasa nya.
"Jangan gitu lah, May ngantuk" Maysa segera mengenakan baju santai nya dan naik keatas ranjang, tak sampai lima menit dengkuran halus pun sudah terdengar di telinga Rayyan.
"Kamu lelah atau kamu ingin membalas ku karena kemarin aku yang tertidur saat menunggu mu?" Ucap Rayyan seraya mengelus surai panjang milik Maysa yang tergerai.
Karena memang sudah cukup malam Rayyan pun ikut membaringkan tubuh nya di belakang Maysa yang saat itu tidur dengan posisi miring.
Baru saja Rayyan hendak mengejar Maysa menuju alam mimpi pintu ruangan nya diketok oleh seseorang.
TOK TOK TOK...
"Assalamu'allaikum?" Tak lama kemudian terdengar suara orang mengucap salam.
Rayyan langsung membuka mata nya dan kembali ke posisi duduk.
"Astagfirullah, siapa malam-malam begini?!" Dengan mengacak rambut nya Rayyan berjalan menuju pintu utama ruangan nya.
"Ceklek!" Suara pintu terbuka dan Rayyan mendapati Zainudin lah yang ada di balik pintu itu, dengan ekspresi datar dan sedikit dibumbui dengan emosi Rayyan bertanya.
"Ah hehehe... maaf ustadz kalau saya menganggu waktu istirahat ustadz" Ucap Zainudin dengan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Hemm" Sahut Rayyan masih dengan tatapan dingin nya.
"Hehehe... ustadz Rayyan diminta Abah untuk sowan ndalem, kata beliau ada hal penting yang akan di bicarakan" Ucap Zainudin.
"Abah? di jam segini?" Tanya Rayyan mengerutkan kedua alis nya.
"Iya ustadz, beliau bilang ada hal penting mengenai bencana yang baru-baru ini terjadi" Zainudin menyampaikan maksud Abah yang mengundang Rayyan malam-malam begini.
"Oh ya sudah ayo kita ke sana" Ucap Rayyan yang langsung berjalan mendahului Zainudin menuju ruangan Abah.
Sesampai nya di ruangan Abah Rayyan mengucap salam dan setelah mendapatkan sahutan dari Abah, putra sulung Abah itu pun masuk ke dalam ruangan dan mulai bertanya namun belum sempat ia melontarkan pertanyaan di sana ia melihat Haidar, dan beberapa santriwan lain sudah ada di dalam ruangan Abah.
"Duduklah dulu nak! " Ucap Abah menepuk sofa yang masih kosong di samping nya.
__ADS_1
Rayyan pun tak menolak dan juga tak banyak tanya ia langsung menempati sofa di samping Abah sedangkan Zainudin yang datang bersama nya ikut duduk di samping Zainal yang kebetulan masih ada yang kosong.
"Maaf Abah ada apa Abah mengumpulkan kami semua malam-malam begini?" Tanya Rayyan setelah duduk dan Abah belum juga memulai pembicaraan nya.
"Begini nak, saudara-saudara kita ada yang terkena bencana alam gempa bumi di kota Y, tidak bisa kah kita menolong nya setelah mendengar berita seperti itu? kalian yang Abah kumpulkan disini, malam ini, besok pagi ba'da Subuh akan Abah kirim ke kota Y sebagai relawan membantu korban bencana gempa bumi" Ucap Abah dengan nada pelan namun semua ustadz, dan juga santriwan yang hadir mendengarkan dengan seksama.
"Siap kah kalian berangkat besok pagi?" Tanya Abah.
"Insya'Allah kami Siap Abah" Jawab mereka serempak.
"Baiklah sekarang sebelum kalian kembali ke kamar kalian masing-masing Abah minta tolong untuk mengumpulkan dan menyiapkan barang-barang yang harus di bawa besok pagi" Ucap Abah
"Siap!" Sahut semua nya, mereka pun langsung mendata dan juga mengumpulkan barang-barang juga bahan pangan tak lupa kotak P3K dan obat-obatan yang tersedia di klinik pondok.
"Ustadz Rayyan besok yakin mau ikut?" Haidar bertanya kepada Rayyan, ya mereka tengah mengemas obat-obatan dari klinik pondok.
"Ikut lah, kalau nggak ikut ngapain saya disini malam ini? mending saya nyiptain gempa sendiri di ruangan saya" Celetuk Rayyan
"Lah emang nya belum sempet ya tadi? kan balik ke kamar lebih awal? saya kira mah sudah bergoyang-goyang dengan kekuatan 7,7 skala liter" Haidar berkata dengan sedikit menggoda Rayyan.
"Enak aja 7,7! bisa ambruk ranjang saya" Kedua nya pun tertawa sambil mengemas obat-obatan.
"Oh iya ustadz Haidar kapan menikah?" Tanya Rayyan yang berhasil membuat Haidar menghentikan kegiatan nya yang menata obat di dalam box obat.
"Kenapa diam?" Tanya Rayyan lagi.
"Ya ustadz tau sendiri, sampai sekarang belum ada yang cocok sama saya, saya masih takut berhubungan dengan perempuan, mereka itu susah di tebak, kadang iya nya mereka itu berarti tidak dan tidak nya mereka itu berarti iya nah lebih sulit nya lagi kalau mereka bilang terserah" Ucap Haidar yang tiba-tiba merubah ekspresi wajah Rayyan.
"Tunggu! memang nya serumit itu ya tadz pemikiran perempuan?" Tanya Rayyan.
"Ya nggak semua sih, tapi lebih banyak iya nya" Sahut Haidar.
"Duh jangan-jangan benar Maysa malam ini balas dendam karena semalam aku tinggal tidur duluan" Gumam Rayyan, Haidar yang mendengar samar-samar suara Rayyan pun langsung bertanya.
"Loh?? jadi semalam kalian juga belum Unboxing?...
__ADS_1
bersambung...