Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Bonchap 9


__ADS_3

HAPPY READING MY READERS 🥰🥰🥰


Sasya dengan kandungan yang lemah mulai tidak mampu mengatasi masalah yang ada di dalam perusahaan, ia pun berfikir untuk mengajari Aziz agar putra sulung nya itu dapat membantu nya, karena tidak mungkin jika ia membiarkan Rahmat sendiri yang mengurus perusahaan, kerena selama ini ia mengurus nya berdua, dan saat ini kandungan Sasya mulai bermasalah jika digunakan untuk menempuh perjalanan jauh.


Di dalam kamar...


Saat ini Sasya tengah mengoleskan minyak angin di kaki nya, Rahmat yang baru saja selesai mandi pun berjalan ke arah nya dan duduk tepat di samping istri nya itu.


"Capek ya? sini mas pijitin" Ucap Rahmat dengan tangan yang mulai mengurut dengan pelan kaki istri nya.


"Makasih ya mas" Ucap Sasya dengan senyum yang mengembang.


"Oh iya mas, kalau Aziz mulai kita ajarkan cara mengelola perusaan gimana? biar dia menggantikan posisi ku, aku takut jika ada pertemuan di luar kota lagi seperti minggu lalu bukan nya menyelesaikan pekerjaan aku malah merepotkan yang lain nya" Ucap Sasya dengan menyandarkan punggung nya pada bantal yang ia tata di belakang nya.


"Kamu yakin? nggak mau nunggu Aziz wisuda dulu? tinggal satu semester lagi kan?" Tanya Rahmat.


"Ya coba nanti kita tanya sama Aziz aja mas, dia siap nggak kalau harus bolak-balik, hoaaammm..." Ucap Sasya dengan menguap.


"Ya sudah kita bahas besok lagi saja, tidur yuk!" Ajak Rahmat. Sasya hanya tersenyum dan mulai merebahkan tubuh nya.


Pagi hari Aziz dengan semangat nya tengah bercermin, ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus.


Terlihat pemuda itu meraih gawai tipis nya dan menscroll mencari nama kekasih hati nya yang belum lama ini menjalin hubungan secara tersembunyi.


Tuuuuutttt... tuuuuuuuttt... tuuuuuuttt...


Sambungan telfon ia dengarkan dengan antusias, sungguh ia sangat menunggu suara merdu yang akan menggantikan suara tuuttt tuuutt itu.


📞"Assalamu'allaikum" Akhir nya suara yang Aziz tunggu-tunggu pun terdengar dari balik sambungan telfon sampai pada pendengaran nya.


"Waalaikumussalam, lama sekali?" Ucap Aziz dengan mengulum senyuman nya.


📞"Maaf kak, tadi Ummah tanya-tanya soal hubungan kita" Sahut gadis yang ada di seberang telfon itu.


"Mama tanya-tanya apa? terus gimana?" Tanya Aziz dengan raut wajah yang sejenak kehilangan senyuman nya.


📞"Ummah tanya sama Ira, apa Ira suka sama kak Aziz" Terdengar suara gadis yang tak lain adalah Maira, dengan nada yang pelan.


"Hah? terus-terus kamu jawab apa?" Tanya Aziz dengan degub jantung yang berdetak bersiap menerima apa pun jawaban Maira, sungguh pemuda itu berharap kekasih hati nya menyembunyikan nya namun dalam hati nya ia tak terima jika perasaan nya tak di anggap oleh sang kekasih walau pun itu hanya sebatas sandiwara saja.


📞"Ya Ira jawab apa ada nya, maaf kak tapi Ira nggak mampu berbohong tentang perasaan Ira dan lagi orang tua Ira yang bertanya pada Ira" Jawab Maira.


Sungguh hati Aziz serasa meletup-letup, ia sangat bahagia mendengar sang pujaan hati mengakui hubungan mereka, namun disisi lain ia juga takut bagaimana jika kedua orang tua nya melarang hubungan antar saudara itu.


"Terimakasih sayang, kau sudah mengakui nya" Ucap Aziz dengan rasa nano-nano bercampur aduk dalam hati nya.


📞"Tapi kak, Ira takut kalau orang tua kita tidak setuju, bahkan memisahkan kita" Ucap Maira dengan suara yang sedikit bergetar mungkin gadis itu menahan air mata yang akan segera berselancar di pipi putih nya.


"Nanti kita bicara kan di kampus ya, kakak tutup dulu telfon nya Assalamu'allaikum" Ucap Aziz sebelum memutuskan sambungan telfon nya.

__ADS_1


📞"Iya kak, Waalaikumussalam" Sahut Maira sebelum akhir nya Aziz yang memutus sambungan telfon nya.


Setelah menyelesaikan obrolan di ponsel nya bersama sang kekasih hati Aziz segera turun ke lantai satu.


Di meja makan sudah ada Sasya, Rahmat, Moza dan juga Zulfa yang tengah sarapan bersama.


"Aziz kok belum keluar ya Mas?" Khawatir putra nya kenapa-napa Sasya bertanya kepada Rahmat.


"Biasa anak muda mah begitu, kau tidak ingat bagaimana Maysa dulu?" Sahut Moza yang sekilas mengenang masa muda putri bungsu nya.


"Iya juga sih, tapi hari ini Aziz ada kelas pagi lo yah" Ucap Sasya.


"Nanti juga di keluar, bunda tadi lewat kamar nya, dia sudah bangun kok, dan seperti nya dia sedang berbicara dengan seseorang di telfon" Ucap Zulfa yang memang tadi dia sempat menguping sebentar pembicaraan Aziz dengan Maira saat ia berniat hendak membangunkan cucu nya itu.


"Telfon? pagi-pagi?" Heran Sasya yang membuat Rahmat pun menoleh ke arah nya.


"Sudah bulat dengan keputusan mu semalam? kau dengar kan dia mulai bermain ponsel padahal masih pagi" Ucap Rahmat, Sasya pun balas memandang ke arah suami nya.


"Tentu mas, bahkan aku sendiri yang akan mengajari nya, tapi tidak biasa nya dia memegang ponsel pagi-pagi sekali" Ucap Sasya yang menaruh kecurigaan kepada putra nya.


"Bisa jadi dia memiliki seseorang yang istimewa di hati nya" Ceplos Zulfa.


"Apa? nggak nggak... nggak mungkin! cari duit saja belum bisa kok mau main perasaan" Ucap Sasya yang secara langsung menolak Aziz berpacaran.


"Dia itu sudah besar Sya, tidak dapat lagi kau mengatur perasaan nya, dan sudah seharus nya dia tau identitas asli nya" Ucap Zulfa, yang mengingatkan Sasya kalau Aziz bukan lah putra kandung nya,


"Sya kau tidak boleh egois nak, Aziz berhak tau siapa orang tua kandung nya, dia sudah besar dan sudah seharus nya kau menceritakan kebenaran ini" Jelas Zulfa.


"Tidak bun, sampai kapan pun Aziz itu anak Sasya" Masih dengan kekeh Sasya tidak mau menuruti kata Zulfa.


"Sayang, bagaimana pun kita harus mengatakan kebenaran ini, mas tau kau tidak mau kehilangan Aziz atau pun menyakiti perasaan nya" Ucap Rahmat.


"Tapi mas, kita yang mengurus nya sejak bayi, kalau sampai dia tau kalau kita bukan orang tua kandung nya, dan dia sampai kecewa, bagaimana perasaan nya? aku yang tidak melahirkan nya saja tidak tega mas, sampai hati kalian akan membongkar rahasia ini?"


"Rahasia apa?" Tanya Aziz yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu ruang makan, Sasya pun terlonjak kaget mendengar suara putra kesayangan nya itu.


"Aziz, kau sudah rapi sayang? sini nak kita sarapan dulu" Ucap Sasya dengan menampilkan senyum ke ibuan nya, ia beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri putra tampan nya yang terlihat bingung itu.


"Ayo kita sarapan dulu" Ajak Sasya dengan menggandeng lengan Aziz.


Berjalan dengan lengan yang di gandeng Sasya, Aziz masih memikirkan rahasia apa yang tengah di bicarakan orang-orang dewasa itu.


Sebelum ia sampai di ambang pintu pun samar-samar Aziz mendengar nama nya di sebut-sebut di sela-sela perdebatan orang-orang dewasa itu.


Aziz duduk dengan kursi yang di siapkan oleh Sasya, dengan kasih sayang seperti biasa nya Sasya pun menyiapkan sarapan untuk putra nya itu.


"Cukup Umi, Aziz sudah cukup besar untuk mengambil makanan Aziz sendiri" Ucap Aziz dengan lembut.


"Tidak nak, kau tetap putra Umi" Ucap Sasya yang melenceng dari maksud Aziz, dan itu membuat Aziz bertanya kembali.

__ADS_1


"Iya Umi, Aziz memang putra Umi, memang nya siapa yang bilang kalau Aziz bukan putra Umi?" Tanya nya, Sasya yang mendengar penuturan Aziz pun segera meletakkan piring beserta isi nya di atas meja dan dengan segera memeluk putra kesayangan nya itu.


"Iya nak kau putra Umi" Ucap Sasya dengan memeluk erat Aziz, tanpa ia sadari ada bulir bening yang lolos dari pelupuk mata Sasya, dan bulir bening itu menetes membasahi bahu Aziz.


Perlahan Aziz melepas pelukan sang Umi, dan menatap wajah sendu yang selama ini selalu menyayangi nya itu.


"Umi kok nangis?" Ucap Aziz dengan mengusap air mata yang berhasil membasahi pipi Sasya.


"Hah... tidak nak, mungkin Umi tadi kelilipan" Ucap Sasya asal.


"Umi tidak pandai berbohong, jadi jangan berbohong" Ucap Aziz yang membuat Sasya semakin tersedu dalam tangis nya.


"Tidak nak, Umi pandai berbohong, maaf?" Ucap Sasya dengan menundukkan kepala nya, sungguh saat ini hati nya dilema.


"Maksud Umi?" Tanya Aziz tak mengerti, Sasya terdiam dengan masih menundukkan kepala nya.


"Sya lebih baik jika kau yang mengatakan nya, maka itu tidak akan di anggap kebohongan, beda cerita lagi kalau sampai Aziz mendengar nya dari orang lain nak" Tutur Moza berusaha membuat Sasya agar bisa memberitahukan kebenaran ini.


"Umi? bisa Umi jelaskan? Aziz tidak mengerti sama sekali" Ucap Aziz dengan memiringkan kepala nya berusaha untuk memandang wajah Sasya. Sejenak Sasya menarik nafas nya panjang kemudian menghembuskan nya seolah ia berusaha melepas sesuatu yang berat.


"Begini nak, Umi terlalu sayang pada mu, sehingga Umi lupa untuk mengatakan kejujuran ini, dan sekarang Umi takut, takut kau tak lagi menyayangi Umi, takut kau akan kecewa dengan Umi, takut kau akan meninggalkan Umi, takut kau... "


"Umi, Umi mengurus Aziz dengan penuh kasih sayang, keluarga ini memberikan yang terbaik untuk Aziz, dari segi materi, ilmu, akhlak dan sebagai nya, bahkan Aziz tidak merasa kekurangan, tolong Umi jelaskan, Aziz tidak akan kemana-mana kok, Aziz tetap kesayangan Umi" Sela Aziz dengan menyeka air mata yang mengalir membasahi pipi Sasya.


"Baiklah nak, Sebenar nya kau bukan putra yang terlahir dari rahim Umi, Ibu mu meninggal setelah beberapa hari melahirkan mu dan kami memutuskan untuk merawat mu" Jelas Sasya.


Aziz yang sudah berkata untuk mendengarkan kebenaran itu dengan tenang pun berusaha tetap tenang, ia tidak mau membuat Sasya yang sangat ia sayangi itu kecewa atau pun sakit hati. Sejenak pemuda itu menghela nafas.


"Lalu? Abi?" Tanya Aziz dengan suara bergetar.


"Malam itu Abi menolong Ibu dan Ayah mu yang mengalami kecelakaan nak, namun yang dapat di selamatkan hanya dirimu saja" Jelas Rahmat, Aziz berusaha mengerti setiap situasi dan kondisi kala itu.


"Tapi kenapa kalian tidak pernah mengenalkan ku pada keluarga ku? bukan kah mereka mempunyai saudara dan orang tua?" Tanya Aziz, sungguh pertanyaan tak terduga itu membuat Sasya kembali terisak.


"Hiks... hiks... maafkan Umi sayang, Umi takut mereka membawa mu pergi dari kami, sungguh Umi sangat takut kehilangan mu nak" Ucap Sasya disela-sela isak tangis nya.


Aziz melihat arloji yang melingkar gagah di lengan kiri nya.


"Ya sudah sore nanti kita ke pemakaman ibu dan ayah, sekarang Aziz harus berangkat kuliah" Ucap Aziz dengan berusaha setenang mungkin.


"Loh ini baru jam setengah tujuh nak, bukan kah jam kuliah mu di mulai setengah sembilan?" Tanya Sasya yang memang hafal betul jam kegiatan putra nya itu yang membuat Aziz selalu merasa diperhatikan dan di sayangi.


"Umi memang yang paling ngerti, Aziz mau menjemput Maira Mi" Ucap Aziz dengan sekilas menunjukkan senyum nya.


"Maira?" Teriak ke empat orang dewasa yang ada di ruang makan itu...


Gimana nih? lanjut di restuin nggak?


komentar dan like nya dong sayang-sayang kooh🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2