
"Heeeeenggg!!!"
"Oeeekkk... oeeekkk... oeeekkk" Bayi merah masih berlumur darah itu keluar dari jalan nya tanpa operasi Caesar.
Andre segera menggendong bayi itu dan segera di berikan kepada Rayyan untuk di adzani nya.
"Alhamdulillah" Ucap Maysa melemah.
"May-may! sadar May kau jangan menutup mata mu! May! Maysa! Ku mohon May kau harus bertahan" Ucap Andre dengan menepuk-nepuk pipi Maysa, kemudian ia mengecek denyut nadi Maysa juga nafas Maysa.
"Astaghfirullah, May kau harus bertahan May!" Tanpa ragu-ragu Andre segera memasang selang oksigen pada hidung Maysa dan juga memasang selang infus di punggung tangan kiri Maysa.
"Ayo May kau harus bertahan demi putri mu!" Ucap Andre dengan tangan yang sibuk memasang selang infus.
Di luar ruangan bersalin Ummi, Abah, Fasha, Rahma dan juga Wahyu terlihat mengucapkan sukur setelah mendengar suara tangisan bayi.
Tak lama kemudian Rayyan membuka pintu ruang bersalin itu dan keluar sambil menggendong bayi cantik yang belum mengenakan baju juga masih berlumuran darah.
"Alhamdulillah cucu nenek cantik sekali" Ummi segera meraih bayi kecil itu dan dibersihkan nya menggunakan tisyu dan juga kapas yang lembut.
"Rayyan tinggal kedalam dulu Ummi" Ucap Rayyan berpamitan, sedangkan Ummi hanya menganggukkan kepala nya.
Yang diluar tengah sibuk mengurus bayi, sedangkan yang di dalam Andre tengah gemetar dengan berusaha menyadarkan Maysa yang tak kunjung sadar.
"Bagaimana keadaan Maysa dok?" Tanya Rayyan yang baru saja kembali masuk.
"Dia tidak sadarkan diri, dan pendarahan nya tidak mau berhenti, karena jalan lahir nya sobek dan harus di jahit" Jelas Andre dengan mengacak rambut nya frustasi.
Tak lama kemudian masuk lah Zulfa kedalam ruang bersalin itu.
"Ada apa ini dok? kenapa anda terlihat sangar kacau?" Dengan perasaan yang sudah tidak menentu Zulfa bertanya kepada Andre yang terlihat sangat kacau malam itu.
"May... Maysa, Maysa ti... tidak sadarkan diri dok" Ucap Andre terbata dan juga dengan suara yang lirih.
"Dia melahirkan normal?" Tanya Zulfa dengan berusaha membuat hati nya kuat dan tegar menghadapi kondisi putri bungsu nya itu.
"Iya dok, sudah saya peringatkan berkali-kali tapi Maysa sangat keras kepala, juga air ketuban sudah tidak ada" Jelas Andre.
Zulfa memeriksa keadaan Maysa dengan tetap mendengarkan penjelasan dari Andre.
"Monitor-monitor! bawa monitor kesini!" Ucap Zulfa, Andre pun segera mencari monitor yang ada di ruangan sebelah dan membawa nya ke ruang bersalin tempat dimana Maysa tidak sadarkan diri.
Dengan berbagai cara Zulfa mengurus Maysa, sedang Rayyan untuk sementara di minta untuk keluar dari ruangan itu, namun Andre tetap bertahan demi membantu Zulfa.
__ADS_1
Rayyan di luar ruangan bermondar mandir ria dengan memasang tampang wajah yang penuh akan ke khawatiran.
"Sabar ustadz" Ucap Wahyu berusaha menenangkan Rayyan.
"Sabar kau bilang? didalam sana istri ku sedang berjuang melawan maut, dan disini aku tidak bisa membantu nya sedikit pun" Dengan mengacak rambut nya Rayyan merasa frustasi dengan masalah yang di hadapi nya malam itu.
"Ray ingat nak, Allah tidak akan menguji makhluk nya diluar batas kemampuan nya" Ucap Abah dengan menepuk pundak Rayyan.
"Tapi Abah, sungguh apa guna Rayyan jika Maysa di dalam sana sedang berjuang seorang diri? Rayyan gagal melindungi nya Abah" Seketika tangis Rayyan pecah di dalam pelukan sang ayah yang senantiasa selalu memberikan dukungan terhadap nya.
"Ya sudah, kita ke mushola dulu, kita sholat, kita dukung Maysa kita bantu Maysa dengan do'a semoga Allah senantiasa selalu melindungi Maysa" Ucap Abah, mereka bertiga pun segera berjalan menuju mushola.
Di dalam ruangan Zulfa sudah melakukan segala cara untuk Maysa, namun apalah daya hingga dini hari pukul 03.30 WIB Maysa tak kunjung membuka mata nya.
Kini Maysa dipindahkan di ruang ICU, Rayyan dengan setia menemani Maysa, ia duduk di samping ranjang pasien.
"Sayang, bangun dong, mas rindu" Dengan mata berkaca-kaca Rayyan berkata.
"Sayang, kamu nggak penasaran sama putri kita? dia cantik kaya kamu" Ucap Rayyan dengan menggenggam tangan Maysa, tak ada respond sedikit pun namun Rayyan tak menyerah ia terus saja mengajak Maysa mengobrol sesekali ia ceritakan awal pertama mereka bertemu, sesekali juga Rayyan mengaji di samping Maysa.
...****************...
Tiga hari berlalu...
Pagi hari di rumah Iko...
"BRAK!" Pintu kamar mandi pun rusak ke engsel-engsel nya.
Iko begitu terkejut ketika mendapati Nur yang tergeletak di lantai kamar mandi.
"ASTAGA NUR!!" Teriak Iko dengan berlari mendekati Nur, segera Iko menggendong Nur dan membawa nya keluar dari dalam kamar mandi.
Ketika Iko menggendong Nur ke lantai bawah bi Asih yang melihat nya pun ikut khawatir melihat nona muda nya tak sadarkan diri.
"Nona kenapa tuan muda?" Tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Pingsan! kau tidak lihat" Ketus Iko menjawab nya, bi Asih pun segera terdiam melihat tuan muda nya seperti nya sedang panik.
Iko segera menuju klinik terdekat untuk memeriksakan keadaan Nur.
Pagi itu klinik sedang sepi, Nur segera dibawa ke ruang pemeriksaan, dan di sana ia ditangan ni oleh Andre.
Setelah selesai pemeriksaan Nur Iko dan Andre duduk di kursi yang saling berhadapan dengan pemisah meja di depan kedua nya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Iko yang sangat khawatir.
"Tenang dulu pak, ini kemungkinan istri anda sedang mengandung, dan mungkin usia nya baru menginjak 3minggu" Ucap Andre menjelaskan.
"Apa? mengandung?" Teriak Iko saking bahagia nya sampai membuat Nur tersadar dari pingsan nya.
"Emmmhhh" Terdengar lenguhan Nur ketika wanita itu mulai sadar dari pingsan nya.
"Dok istri saya sadar dok" Ucap Iko sambil berjalan dengan sedikit berlari mendekati Nur yang masih tiduran di ranjang nya.
"Loh Iko? ini dimana?" Tanya Nur dengan mata yang melihat ke seluruh sudut ruangan itu.
"Kita di klinik sayang, kamu tadi pingsan" Ucap Iko dengan nada yang lembut.
"Kok bisa? seingat ku tadi aku mau memberi mu kejutan, tapi... " Nur merogoh saku yang ada di gamis nya namun tidak ada apa-apa di sana.
"Hilang, maaf ya Iko, lagi-lagi aku merepotkan mu" Dengan sedih Nur berkata, namun segera Iko belai kepala Nur dengan lembut.
"Sudah ku temukan kejutan nya sayang" Ucap Iko sambil menoel hidung Nur.
Nur yang masih tidak mengerti pun balik memandang, "Kok udah tau? jangan-jangan kau yang ambil ya? kembalikan!" Dengan memasang wajah yang cemberut Nur meminta balik barang yang dia kira telah di ambil oleh Iko.
"Tidak, ambil apa? aku tau setelah dokter Andre memeriksa mu tadi, kau tengah mengandung calon anak kita, di sini" Ucap Iko menjelaskan dengan tangan yang mengelus perut Nur yang masih rata.
Kedua nya pun tersenyum kemudian saling memeluk, setelah itu Iko dan Nur berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati yang sangat bahagia.
Ketika baru saja Iko dan Nur keluar dari ruang pemeriksaan dari sana ia melihat Fasha yang tengah duduk di depan ruang ICU.
"Iko! sebebtar ya!" Ucap Nur kemudian ia berjalan mendekati Fasha, Iko pun hanya mengekor di belakang Nur tanpa banyak bertanya.
"Fa?" Sapa Nur yang baru saja tiba di samping Fasha yang duduk dengan menundukkan kepala nya, Fasha yang merasa diri nya di panggil pun segera mendongakkan kepala nya.
"Nur?" Lirih nya dengan memandang Nur.
"Siapa yang sakit? Maysa melahirkan kah?" Tanya Nur, namun hanya di jawab anggukkan kepala oleh Fasha, Nur pun melihat pelakat yang bertulisan ICU.
"Lalu? kenapa kau duduk di depan ruang ICU?" Tanya Nur penasaran.
"Iya Nur, Maysa koma sejak semalam setelah melahirkan" Jelas Fasha.
Nur pun segera menerobos masuk kedalam ruang ICU itu, "Nur kau mau apa?" Tanya Fasha mencoba menghentikan Nur yang sudah masuk ke dalam ruang ICU.
Nur yang berhasil masuk kedalam ruang ICU itu mendapati Rayyan yang tengah duduk di samping ranjang dimana Maysa terbaring di sana.
__ADS_1
"Ustadz Rayyan?...
bersambung...