
Setelah selesai sholat subuh para santri dan juga para ustadz kembali beraktifitas, sedangkan Rayyan masih membantu beberapa santri untuk membersihkan masjid.
"Maaf ustadz bisa bicara sebentar" Ucap Maysa yang berdiri dibelakang Rayyan, Rayyan pun segera membalikan tubuh nya untuk menghadap kearah Maysa.
"Eh May, ada apa?" Tanya Rayyan
"Hafalan nya... "
"Oh iya, nanti di ruangan saya ya, kamu duluan saja, saya selesaikan dulu menggulung karpet ini, nanti saya nyusul" Ucap Rayyan yang langsung di setujui oleh Maysa.
"iya, jadi saya tunggu di ruangan pak ustadz ya? " Dengan sedikit tergagap Maysa mengiyakan.
"iya" sahut Rayyan dengan senyum yang menghiasi wajah nya dan itu malah membuat Maysa salah tingkah sampai-sampai gadis itu menabrak pintu masjid "DUBRAK!"
"Awas hati-hati" Teriak Rayyan namun Maysa sudah terlanjur menabrak pintu masjid
"Aduuuuuuhh!" Maysa mengaduh dengan memegangi kening nya. Rayyan segera mendekati nya dan menangkup kepala Maysa,
"coba lihat? sakit banget ya?" Rayyan yang kelewat perhatian nya pun membuat Maysa lagi-lagi terpaku dan sejenak melupakan rasa sakit di dahi nya.
"Ditanya kok malah bengong!" Ucap Rayyan segera menarik Maysa keluar dari dalam masjid.
Mereka berjalan dengan tangan Rayyan yang menggenggam tangan Maysa dengan erat, Maysa berjalan dengan pikiran yang berbunga-bunga karena mendapatkan perhatian dari si ustadz tampan idola nya.
Sesampai nya di ruangan Rayyan, Maysa duduk di sofa sedangkan Rayyan terlihat tengah membuka laci dan mengeluarkan kotak P3K dari dalam laci itu, Rayyan segera membawa kotak P3K kesamping Maysa dan juga mengobati memar yang ada di kening Maysa.
"Sakit? kalau sakit bilang ya! saya akan lebih berhati-hati" Ucap Rayyan dengan mengompres luka memar di kening Maysa, gadis itu seperti tak merasakan sakit sedikit pun, mata nya menatap ke wajah teduh Rayyan yang tidak seperti biasa nya.
"Apa karena kita akan menikah? pak Ustadz jadi perhatian begini?" Maysa bertanya tetapi dengan nada yang sangat lirih. Rayyan membereskan kotak P3K kemudian menutup pintu ruangan nya dan kembali duduk di samping Maysa.
"Apakah baru hari ini saya seperti ini pada mu?" Dengan menatap wajah Maysa Rayyan bertanya.
"eh... tidak juga sih, tapi biasa nya ustadz sering marah-marah kalau sedang bersama saya" Jelas Maysa dengan hati-hati.
"Itu karena saya... " Rayyan menghela nafas dan mengalihkan pandangan nya, kemudian ia melihat lagi wajah Maysa yang masih sabar menunggu penjelasan dari Rayyan.
__ADS_1
"Saya cemburu, entah sejak kapan tapi saya tidak suka setiap melihat mu bersama dengan laki-laki lain" Akhir nya Rayyan mengatakan apa yang ia rasa kan selama ini.
"Cemburu?" Dengan Heran Maysa bertanya.
"Iya, maaf ya jika saya selalu marah-marah" Ucap Rayyan dengan meraih kedua tangan Maysa dan menggenggam nya lembut, Maysa hanya dapat menuruti nya, gadis itu masih bingung dengan segala pikiran yang ada dalam otak kecil nya.
"May? untuk keputusan pernikahan kita" Rayyan menghentikan sejenak ucapan nya, dan itu membuat Maysa menatap lekat laki-laki dihadapan nya itu seolah menunggu kelanjutan nya, namun Rayyan malah menunduk kan wajah nya.
"Pak ustadz tidak menyetujui nya? kenapa diam? saya bisa menerima apa pun itu, kata kan lah" Dengan memiringkan kepala nya supaya dapat melihat wajah Rayyan yang menunduk, Maysa bertanya dengan nada yang pelan. Terdengar Rayyan menghela nafas dan kemudian memandang kearah Maysa.
"Jujur saja, didalam hati saya, saya sangat senang dengan... keputusan yang diusulkan oleh Fasha dan di setujui oleh Abah itu" Dengan wajah yang memerah Rayyan memalingkan pandangan nya namun Maysa menahan nya dengan membelai pipi Rayyan agar dia kembali menatap Maysa.
"Lalu?" Tanya Maysa yang masih menunggu kelanjutan curahan hati Rayyan.
"Saya takut jika kesenangan ini hanya saya yang merasakan nya, jujur saya takut di tolak May" Jelas Rayyan.
"Memang nya siapa yang akan menolak mu?" Tanya Maysa.
"Jadi?" Rayyan bertanya dengan berharap Maysa menjawab bahwa dia tidak akan menolak nya.
"Saya sudah mengungkapkan isi hati saya jika saya tidak sedikit pun menentang pernikahan ini, saya menyetujui nya, lalu bagaimana dengan mu May? apakah kau mau menikah dengan ku?" Tanya Rayyan dengan segenap keberanian nya.
"Ya jika pak ustadz sudah menyetujui pernikahan ini, maka saya juga harus menyetujui nya" Dengan sedikit senyum canggung Maysa menyetujui nya.
"Benarkah kau menyetujui nya?" Ucap Rayyan dengan girang namun masih bisa menjaga sikap nya, hanya saja laki-laki dihadapan Maysa itu berkali-kali mengucapkan syukur kepada Nya.
"Dia sama sekali tidak mengatakan cinta pada ku, tapi malah langsung mengajak menikah, urutan nya benar tidak sih? biasa nya kan pernyataan cinta dulu, lalu baru keputusan untuk menikah, tapi kenapa aku tidak bisa menolak nya" Batin Maysa yang diam-diam melihat Rayyan yang sangat bahagia pagi itu.
"Maaf pak ustadz?" Panggil Maysa.
"Tidak, tidak jangan panggil saya begitu jika sedang berdua" Ucap Rayyan yang kembali menghadap ke arah Maysa.
"Lalu? saya panggil apa? Umur kita beda 10 tahun, apa harus saya panggil Om?" Goda Maysa dengan sifat jahil nya.
"Apa? Om? kamu pikir saya setua itu?" Dengan mengerutkan alis nya Rayyan menatap tajam kearah Maysa, Maysa yang melihat nya pun balik menatap Rayyan dan menaik turun kan satu alis nya, tanda gadis itu mengiyakan pertanyaan dari Rayyan.
__ADS_1
"Awas kamu ya!" Ucap Rayyan yang hendak meraih tubuh Maysa namun gadis itu segera bergeser kebelakang guna menghindari tangan Rayyan "May!" Geram Rayyan.
"Apa?" Goda Maysa dengan senyum yang mengejek dan saat gadis itu berdiri berniat untuk pindah dari sofa itu dengan cekatan tangan Rayyan merangkul pinggang ramping itu dan menarik nya, karena tidak menyangka kalau Rayyan akan menarik nya Maysa pun limbung dan terjatuh di pangkuan Rayyan.
"BRUG" Dengan posisi siku Maysa bertumpu di dada Rayyan dan telapak tangan nya berada di pundak Rayyan, Maysa yang takut akan terjatuh masih memejamkan mata nya, sedangkan tangan Rayyan memegang dagu Maysa dan mengangkat wajah nya agar memandang ke atas, dari sana Rayyan dapat melihat dengan detail wajah putih bersih dengan bulu mata lentik, hidung yang sedikit mancung dengan bibir merah muda yang terlihat manis bak buah Cherry.
Di Sana Rayyan perlahan mendekatkan wajah nya, sedangkan Maysa yang merasa adegan ini dejavu perlahan membuka mata nya dan gadis itu tertegun ketika melihat mata Rayyan yang menatap bibir nya dan perlahan semakin mendekat, ia juga merasakan degub jantung Rayyan yang semakin cepat.
Detak jantung Maysa pun semakin cepat juga ketika tiba-tiba adegan yang ada di dalam mimpinya terlintas di otak nya, namun sesegera mungkin gadis itu menepis nya "tidak boleh ini tidak benar" batin nya yang kemudian menyadarkan Rayyan dengan memanggil nya.
"Pak Uss... " Belum selesai Maysa mengucapkan kata ustadz bibir nya terasa menabrak benda empuk dengan lembut, karena terkejut akan sentuhan itu Maysa membelalakkan mata nya, ia lihat mata Rayyan terpejam dengan nafas yang tertahan dan sedikit memburu, dan detak jantung yang kian lama semakin cepat, Maysa yang takut menginginkan lebih pun segera mendorong Rayyan pelan
"Maaf "
"Maaf "
Ucap mereka bersamaan "Bukan bermaksud... " Lagi-lagi kata itu terucap bersamaan, Maysa pun menunduk malu.
"haaaahhh... " Rayyan sejenak menghela nafas
"Hah sudah lah, maaf May, saya juga laki-laki normal yang... " Ucap Rayyan terhenti, dan Maysa memandang nya seolah paham apa yang dikata kan Rayyan.
"Iya saya paham, kalau begitu saya ijin pamit dulu" ucap Maysa yang langsung berdiri dari pangkuan calon suami nya itu.
"Assalamu'allaikum" Ucap Maysa dengan menunduk malu.
"Waalaikumussalam" Jawab Rayyan yang masih duduk di sofa.
Maysa keluar dari ruangan Rayyan dengan senyuman yang menandakan ada sesuatu yang tumbuh didalam hati nya, tapi apa itu? Maysa sendiri bahkan tidak tau, untuk apa diri nya sebahagia itu toh Rayyan tidak menyatakan cinta kepada nya hanya mengajak nya menikah untuk menyetujui keputusan Abah.
Sedangkan Rayyan yang masih stay duduk di sofa merasa tidak rela jika Maysa pergi meninggalkan nya...
bersambung...
Jangan lupa like and coment 🥰🥰🥰
__ADS_1