Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Penjelasan Rahmat


__ADS_3

"Ayah mu ada meeting penting sejak pagi tadi nak, dan Rahmat kata nya tadi dia mau cari sarapan" Ucap Zulfa dengan mengembangkan senyuman nya.


"Mencari sarapan?" Ulang Rayyan, karena ia yakin yang dilihat nya tadi adalah Rahmat tapi di ruang bayi bukan sedang mencari sarapan.


"Iya nak, tadi pamit nya begitu maka nya bunda sendiri di sini jaga in kakak kalian" Ucap Zulfa.


"Tapi tadi saya melihat ustadz Rahmat ada di ruang bayi" Celetuk Rayyan yang membuat kedua wanita yang ada di hadapan nya kini terbelalak.


"Bayi?" Ucap Maysa disela-sela keterkejutan nya.


"Iya nak, mungkin setelah membeli sarapan Rahmat melewati ruang bayi dan ia mampir untuk menghilangkan kesedihan nya" Ucap Zulfa menjelaskan.


"Maksud bunda?" Tanya Maysa yang memang tidak memahami apa yang dimaksud bunda nya.


"Kemarin kakak mu pendarahan itu karena ia keguguran, ternyata Sasya hamil dua minggu dan tidak sengaja dia terpeleset saat mau masuk ke kamar mandi" Jelas Zulfa.


"Jadi kakak keguguran?" Tanya Maysa dengan tangan nya yang menutup mulut nya. Rayyan yang ada di samping Maysa pun segera merangkul pundak istri nya itu untuk menenangkan nya.


"Iya May" Lirih Zulfa sambil mengelus kepala Sasya yang masih terlelap.


"Bukan seperti itu cerita asli nya!" Ucap Moza yang baru saja masuk kedalam ruangan itu dan dengan ucapan nya barusan berhasil membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertanya-tanya.


"Apa maksud ayah?" Tanya Maysa yang dapat menangkap ekspresi yang tersirat di raut wajah ayah nya.


"Semalam sebelum ayah menelfon mu, ayah menguping pembicaraan Rahmat dengan seorang suster dan mereka membicarakan bayi, lalu mereka berjalan memasuki ruang operasi, dan kalian tau? di sana ayah menyaksikan sendiri Rahmat sedang mengadzani bayi merah yang baru saja lahir, dan di samping nya ada seorang wanita yang baru saja melakukan operasi caesar" Jelas Moza dengan sesekali mengusap bulir bening yang tiba-tiba saja menetes.


"Ayah sudah mengatakan nya kepada kakak?" Tanya Maysa yang mulai tersulut emosi nya.


"Tidak nak, ayah tidak sanggup, apa lagi kakak mu baru saja kehilangan, calon bayi nya" Dengan menggelengkan kepala nya Moza menyahuti pertanyaan dari Maysa.


"Ayo mas kita harus menemui kak Rahmat!" Ucap Maysa, namun Rayyan masih menahan nya.


"Sabar May! padamkan dulu api kemarahan yang tersulut dalam hati mu itu, mas tidak mau kau lepas kendali, ingat lah kakak mu kondisi nya sedang seperti apa!" Ucap Rayyan yang langsung membuat Maysa menghela nafas berat nya.


Di ruang rawat sebelah...


Rahmat tengah menggendong bayi yang baru saja ia ambil dari ruang bayi.

__ADS_1


"Janji hanya sebentar ya, nanti suster akan marah jika Aziz terlalu lama keluar dari ruangan nya" Ucap Rahmat dengan menggendong bayi laki-laki yang di bawa nya mendekati seorang wanita yang mana wanita itu adalah Rita istri nya Arjun.


"Iya kak, sebentar saja, aku hanya ingin melihat nya sebentar benar-benar hanya sebentar" Ucap Rita dengan genangan air mata yang membendung memenuhi pelupuk mata nya.


Rahmat menyerahkan baby Aziz kepada Rita dengan hati-hati. Rita memangku baby Aziz dengan senyuman yang mengembang namun mata yang basah seakan ia tak percaya bahwa putra nya lahir tanpa seorang ayah, ya kecelakaan maut yang terjadi semalam berhasil merenggut nyawa Arjun, namun Rita masih selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh Rahmat yang kebetulan lewat jalur itu.


"Kau tampan sekali pangeran nya mama, tampan sekali seperti ayah mu" Dengan bibir yang menyunggingkan senyum namun mata meluncurkan bulir bening yang tak dapat ditahan nya, Rita bergumam dengan sesekali mencium baby Aziz.


Rahmat sedikit menghela nafas karena bagaimana pun Rita adalah istri dari mendiang sahabat nya ya itu almarhum Arjun.


"Sudahlah Rita, jangan menangis, biarkan Arjun tenang di alam sana" Ucap Rahmat.


"Sudah jangan lama-lama nanti aku di cari keluarga ku" Ucap Rahmat dengan mengambil kembali baby Aziz dari pangkuan Rita.


"Oh iya bagaimana keadaan Sasya?" Tanya Rita, ia turut bersedih karena sama-sama kehilangan sosok yang begitu diharapkan keberadaan nya.


"Setelah operasi kuret pagi tadi dia masih tertidur" Sahut Rahmat.


"Semoga Sasya lekas sehat, dan jangan berputus asa, kalian pasangan yang serasi, jadi suatu saat pasti akan mendapat momongan, belum sekarang" Ujar Rita berusaha menghibur Rahmat.


"Iya, kau juga, lekas lah sehat baby Aziz membutuhkan mu" Sahut Rahmat sebelum ia berbalik keluar dari ruangan Rita dan mengembalikan baby Aziz kedalam ruangan bayi dan meletakkan di dalam box nya.


"Tidur yang nyenyak ya sayang" Rahmat terlihat mengelus baby Aziz yang mulai tidur pulas didalam box nya.


Maysa tak sengaja melihat Rahmat yang masih membelai bayi yang ada di dalam box bayi.


"Mas? itu?" Ucap Maysa sambil menunjuk ke dalam ruangan bayi yang berdinding kaca.


"Iya itu Ustadz Rahmat, mari kita tunggu di keluar dari sana!" Ucap Rayyan, mereka pun akhir nya menunggu Rahmat keluar dari dalam ruangan bayi itu.


Setelah baby Aziz tidur dengan tenang dan pulas Rahmat pun melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan itu.


"Ustadz Rahmat!" Panggil Rayyan, mendengar nama nya di panggil Rahmat pun langsung menghentikan langkah nya dan melihat siapa yang baru saja memanggil nya.


"Ustadz Rayyan?" Gumam Rahmat ketika mendapati Rayyan lah yang baru saja memanggil nya.


"Hem... itu bayi siapa?" Tanya Rayyan dengan ekspresi dingin nya.

__ADS_1


"Itu? itu bayi nya Rita dan Arjun" Ucap Rahmat dan ia pun menceritakan kronologi kejadian nya kepada Maysa dan Rayyan, karena ia yakin kalau mereka berdua akan mengerti keadaan nya saat ini.


"Inalillahi wainnailaihi roji'un, jadi kak Arjun meninggal?" Tanya Rayyan yang memang sudah mengenal Arjun.


"Ya begitulah" Dengan mengusap wajah nya Rahmat berkata.


"Ya sudah nanti kakak jelaskan sama Ayah dan bunda, mereka seperti nya salah paham padamu" Ucap Maysa sambil memijit kening nya.


"Iya, akan ku jelaskan nanti" Rahmat pun segera berjalan menuju ruangan Sasya sementara itu Rayyan dan Maysa mengikuti nya, mereka takut jika Moza sampai lepas kendali.


"Assalamu'allaikum?" Ucap Rahmat ketika ia baru saja memasuki ruangan pasien dimana Sasya di rawat.


"Waalaikumussalam" Sahut ketiga nya karena saat ini Sasya pun telah terbangun dari tidur nya, wanita itu tersenyum melihat suaminya telah kembali.


"Mas Rahmat" Panggil Sasya dengan senyuman yang menghiasi wajah nya yang sedikit pucat.


"Loh May? kalian nggak jadi cari makan?" Tanya Sasya melihat Rayyan dan Maysa yang kembali ke dalam ruangan.


"Em iya kak hehe... " Dengan tawa nya yang garing Maysa menyahuti pertanyaan Sasya.


"Kalian kenapa sih kok pada kaku begini?" Tanya Sasya yang menyadari perubahan raut wajah kedua orang tua nya ketika Rahmat mulai memasuki ruangan itu.


"Biarkan suami mu yang menjelaskan nya nak!" Ketus Moza dengan menatap tajam kearah Rahmat.


Rahmat pun menghela nafas sejenak ia menyiapkan mentalnya walau pun di sana ia sama sekali tidak melakukan kesalahan.


"Rita melahirkan..."


"Oh jadi gadis itu bernama Rita? ibu dari bayi yang semalam kau adzani!" Belum selesai Rahmat berkata Moza terlebih dulu memotong nya, mungkin ia sudah kelewat emosi.


"Iya yah, dan itu saya lakukan karena suamu nya meninggal" Ucap Rahmat.


"Inalillahi wainnailaihi roji'un, jadi maksud mas, Arjun meninggal?" Sasya terkejut mendengar berita yang baru saja di sampaikan oleh suami nya itu.


"Iya, mereka berdua mengalami kecelakaan semalam, dan saat itu saya dalam perjalanan pulang" Jelas Rahmat. Mendengar itu Sasya berusaha bangun dari tidur nya.


"Sayang! mau ngapain?" Tanya Rahmat yang langsung tanggap dan menolong Sasya yang mau merubah posisi nya dari tidur menjadi duduk.

__ADS_1


"Antar kan aku ke ruangan Rita mas...


__ADS_2