Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Bertemu Camer


__ADS_3

Rayyan berjalan meninggalkan Nur sesegera mungkin karena ia harus segera menjemput Maysa ke sekolah.


"Pak ustadz mau kemana?" Sapa Rahmat yang kebetulan berpapasan dengan Rayyan di depan masjid.


"Eh ustadz Rahmat, ini saya mau keluar sebentar, ada apa?" Jawab Rayyan yang kemudian balik bertanya.


"Tidak apa-apa" Jawab Rahmat dengan senyum yang mengembang, Rayyan pun langsung menuju ketempat dimana ia memarkirkan mobil nya.


Sedangkan Rahmat masih memperhatikan Rayyan dari kejauhan "Ternyata diam-diam gunung es itu bisa mencair juga, semoga gadis itu mempunyai kesabaran yang melimpah dan hati yang luas" Batin Rahmat dengan masih memperhatikan Rayyan yang mulai meninggalkan pondok menggunakan mobil nya.


"Lalu kapan aku dengan nya akan bersatu? dia saja terlihat seperti selalu menghindari ku" Batin Rahmat dengan berjalan menuju ruangan nya.


Di depan gerbang sekolahan nya Maysa terlihat tengah berdiri, gadis itu sedang menunggu jemputan nya.


"May! bareng gue yok!" Ajak Nando yang berhenti di depan Maysa


"Nggak Ndo! gue dijemput" Sahut Maysa yang masih kekeh menunggu kedatangan Rayyan.


"Gue temenin deh ya?" Nando berniat untuk menemani Maysa, namun gadis itu menolak nya.


"Nggak Ndo! ntar malah salah paham lagi, kayak biasa nya, tau sendiri kan kalau pak ustadz nggak begitu suka sama kamu" Ucap Maysa memberi penjelasan, Nando pun memahami kata-kata Maysa, kemudian ia kembali menstarter motor nya.


"Ya udah deh kalau gitu, gue duluan ya?" Pamit Nando, dan Maysa hanya mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.


Maysa masih berdiri menunggu Rayyan yang tak kunjung datang,


"May? nunggu angkot? bareng kita aja gimana?" Ajak Sinta yang juga akan pulang.


"Eh Sin, lo naik angkot? tumben" Ucap Maysa.


"Iya nih gue naik angkot, habis nya mau bareng sama Nando kata nya dia mau mampir di club motor nya gitu" Jelas Sinta


"Oh ya wajar sih ya punya cowok yang ikut club motor mah gitu, yang sabar ya Sin" Kata Maysa berbasa basi menghibur Sinta.


"Iya May, yuk nunggu angkot di sana aja yuk?!" Ajak Sinta dan itu ditolak juga oleh Maysa.


"Makasih Sin, tapi gue dijemput, maaf ya?" Dengan berhati-hati Maysa menolak ajakan dari Sinta.


"Lo takut gue ngapa-ngapain lo?" Tuding Sinta yang merasa di tolak oleh Maysa.


"Maaf Sin bukan begitu, aku benar-benar dijemput" Baru saja Maysa berhenti menjelaskan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berparkir cantik di hadapan Maysa.


"Nah jemputan gue sudah datang, bay Sin hati-hati ya, gue duluan" Ucap Maysa dengan tangan nya membuka pintu mobil dan masuk kemudian duduk di samping Rayyan.

__ADS_1


"Lama ya? capek?" Itulah kalimat pertama yang Rayyan ucapkan ketika Maysa selesai memasang seat belt nya.


"Emm... " Maysa mendongak kan kepala nya dan menatap Rayyan.


"Eh ditanya kok malah diam, ada yang salah dengan kata-kata saya?" Rayyan bertanya lagi karena Maysa tak kunjung menjawab nya.


"Hemm... lumayan" Jawab Maysa sambil membenarkan posisi duduk nya, kemudian Rayyan pun memberi Maysa sebotol air mineral yang masih dingin.


"Terimakasih" Dengan senyuman malu-malu Maysa menerima sebotol air mineral itu dan meminum nya.


"Alhamdulillah... duh rasa nya" Ucap Maysa terhenti dan itu membuat Rayyan penasaran.


"Kenapa? ini kan hanya air biasa, apa ada rasa nya?" Rayyan bertanya dengan panik nya, takut jika ada apa-apa nya di dalam botol air itu.


"Iya rasa nya ada manis-manis nya, apalagi minum nya sambil lihatin ustadz, hemmm... takut kena diabet saya, hehhe... " Canda Maysa yang langsung mendapat cubitan gemas dari Rayyan.


"Coba gombal lagi coba! Ayo lagi ayo!" Dengan jari yang masih mencubit pipi Maysa Rayyan menantang nya.


"Ampun-ampun-ampun! udah udah saya minta maaf hehehe... " Maysa meminta ampun dan akhir nya Rayyan membelai pipi yang sedikit cabi itu dan mulai menyala kan mobil nya.


"Tapi ustadz suka kan? iya kan? itu nyatanya muka nya aja merah" Goda Maysa yang langsung ditarik hidung nya oleh Rayyan.


"Dasar kau, pandai sekali menarik perhatian saya" Ucap Rayyan sambil kembali mengemudikan mobil nya.


Maysa hanya tersenyum begitu juga Rayyan yang sesekali melihat kearah Maysa.


"Loh kok nggak masuk?" Tanya gadis itu spontan.


"Lah kan kita mau ke rumah mu" Ucap Rayyan santai, berbeda dengan ekspresi Maysa yang berubah tegang.


"Maaf ustadz, ini serius mau ke rumah saya?" Tanya Maysa yang seperti percaya tak percaya.


"Iya May, kamu lupa pesan Abah semalam" Ucap Rayyan yang masih fokus menatap jalanan didepan nya.


"Pesan Abah?... " Batin Maysa sambil menatap keluar.


" Masya'Allah, kok aku bisa lupa pesan Abah semalam yang menyuruh mas Rayyan ke rumah untuk membahas pernikahan dadakan ini" Batin Maysa yang melirik kearah Rayyan.


"May?" Panggil Rayyan dengan melihat kearah Maysa.


"Ah iya mas gimana?" Tanya Maysa spontan memanggil Rayyan dengan sebutan MAS. Rayyan tersenyum mendengar panggilan baru dari calon istri nya itu untuk diri nya.


"Pak ustadz? kok malah senyum-senyum sendiri sih?" Ucap Maysa mengerucutkan bibir nya.

__ADS_1


"Kok nggak mas lagi sih panggil nya?" Tanya Rayyan dengan nada yang menggoda.


"Hah apa sih? nggak, nggak, nggak!" Maysa kembali menatap keluar.


"Dia sudah tidak menanyakan lagi kenapa kita menuju rumah nya, mungkin pesan Abah semalam sudah di ingat nya" Batin Rayyan yang kembali fokus ke jalanan.


Sesampai nya dikediaman Maysa Rayyan memarkirkan mobil nya di halaman rumah Maysa.


Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju teras depan,


"Kok kelihatan nya sepi sekali May?" Tanya Rayyan, Maysa hanya tersenyum dan memegang gagang pintu dihadapan nya kemudian mendorong nya dan terbuka lah pintu rumah itu.


"Mari masuk pak ustadz!" Ajak Maysa, gadis itu mempersilahkan Rayyan untuk duduk diruang tamu, sedangkan ia berlari ke arah dapur.


"Kok nggak ada orang sih? tapi pintu depan nggak dikunci" Gumam Maysa yang melihat di dapur tidak ada siapa-siapa, Maysa mengelilingi rumah untuk mencari keberadaan keluarga nya.


Sedangkan Rayyan diruang tamu mendengar sebuah mobil yang berhenti di depan rumah, tak lama kemudian masuk lah Moza, Zulfa, dan juga Sasya.


Mereka bertiga terkejut ketika mendapati Rayyan tengah duduk di sofa ruang tamu nya.


" Loh pak Ustadz? ada apa pak apakah Maysa putri saya membuat masalah?" Tanya Moza yang tak pandai menutup-nutupi rasa panik nya.


"Wah kok rada deg-degan ya saya bertemu dengan camer (calon mertua)" Batin Rayyan.


"Assalamu'allaikum pak, bu, kak" Ucap Rayyan yang langsung berdiri dengan menyalami ketiga nya.


"Waalaikumussalam" Sahut ketiga nya hampir bersamaan.


"Saya tadi kesini bersama dengan Maysa" Tutur Rayyan dengan nada yang sangat sopan.


"Oo jadi begitu, silahkan duduk ustadz sambil menunggu Maysa, mungkin anak itu sedang memutari rumah" Ucap Zulfa yang langsung dipeluk Maysa dari belakang.


"Bunda May kangen" Dengan bergantian Maysa memeluk keluarga nya.


Moza, Zulfa, dan Rayyan sedang asik mengobrol di ruang tamu sedangkan Maysa dan Sasya sedang menyiapkan minuman dan juga cemilan.


"Jadi ada apa Nak? kenapa sampai repot-repot? Mengantarkan Maysa pulang?" Tanya Moza yang sudah tidak sabar dengan rasa penasaran nya.


"Sebelum nya saya minta maaf pak, bu, nanti malam Abah dan ummi akan berkunjung kesini, saya hanya disuruh untuk menyampaikan saja" Ucap Rayyan dengan sikap nya yang terbilang cukup tenang.


"Abah? pemilik pesantren?" Tanya Zulfa


"Iya bu, benar sekali" Jawab Rayyan

__ADS_1


Zulfa dan Moza pun saling menatap mereka sama-sama berpikir, apa yang membuat Abah pemilik pesantren sampai datang ke rumahnya?...


bersambung...


__ADS_2