
Rayyan segera kembali menuju pondok karena ada jadwal kajian yang harus ia isi, sedangkan Maysa ia berjalan melewati lorong-lorong kelas dengan hati yang terasa aneh bagi nya,
"di panggil sayang gitu aja kaget, udah gitu pakai alasan istri nya hamil lagi, kalau sampai bapak-bapak tadi lihat aku masih pakai seragam sekolah kan jadi hancur reputasi ku sebagai gadis cantik, imut, baik, soleha, dan tentu nya gemesin" gumam Maysa dengan wajah yang cemberut dan bibir mengerucut.
"May!" Nando berteriak memanggil Maysa dengan sedikit berlari menuruni anak tangga "ngapain turun? gua kan mau naik" ketus Maysa dengan tatapan sinis nya.
"May, lo ada hubungan apa sama pak ustad tampan tadi?" tanya Nando yang tiba-tiba langsung mendapatkan tonjokan di lengan sebelah kanan nya.
"ADUH May! sakit tau, lo kaya gini di pondok jadi preman nya lo?" ucap Nando dengan meringis kesakitan dan mengelus lengan nya yang bekas di tonjok Maysa.
"rasain, siapa suruh punya mulut nggak bisa jaga!" sungut Maysa yang langsung melanjutkan langkah kaki nya untuk menaiki anak tangga dan di ikuti Nando yang tengah kepo dari belakang.
"ya habis pak ustad tadi itu perhatian banget sama kamu" Nando masih saja membahas tentang Rayyan,
"ngomong lagi coba! gua sembelih lo!" ucap Maysa
"idih May, iya gua tau gua udah salah, tapi kan gua udah minta maaf" ucap Nando dengan menahan tangan Maysa sehingga gadis itu berhenti dan berbalik menatap Nando yang tepat berada di belakang nya.
"apaan sih Ndo! gua udah kecewa sama lo! gua kecewa sama imajinasi lo tentang gua!" ucap Maysa dengan menuding wajah Nando kemudian ia tepis tangan Nando yang menggenggam tangan nya. Maysa berlari menaiki tangga dan Nando masih berusaha mengejar nya.
"May! gua minta maaf, bukan maksud gua begitu, gua bisa jelasin! May ayo lah beri gua satu kesempatan lagi" teriak Nando dengan terus mengejar Maysa.
Dan saat Maysa sampai di depan kelas nya pintu kelas itu tertutup alhasil gadis itu harus berhenti sejenak untuk membuka pintu kelas nya, tapi sebelum tangan nya sampai pada gagang pintu kelas, Nando lebih dulu memeluk Maysa dari belakang "GREB!"
"May dengerin gua dulu ya?" Nando memohon dengan memeluk Maysa dengan erat.
"lepas!" ketus Maysa dengan berusaha memberontak, tapi apalah daya tenaga seorang gadis tetap kalah dengan tenaga pria.
"Nando!" bentak Maysa, tapi Nando malah semakin mengeratkan pelukan nya "gua nggak akan lepas kalau lo belum bener-bener maaf in gua" bisik Nando di samping telinga Maysa, walau pun terhalang oleh hijab akan tetapi Maysa tetap merasakan hembusan nafas Nando yang membuat bulu-bulu nya meremang.
Gadis itu segera menoyor kepala Nando "iiiiiihh sana, sana, sana! awas ah gua mau masuk" ucap Maysa dengan tangan yang masih stay di wajah Nando.
"CEKLEK!" pintu kelas itu pun dibuka oleh seorang guru laki-laki Andre nama nya, ia adalah guru yang termasuk humoris dan dekat dengan para siswa nya.
__ADS_1
"Maysa? Nando? apa-apa an ini?" tanya Andre yang melihat Nando masih memeluk Maysa.
"pak ini tidak seperti yang bapak lihat" ucap Maysa dengan melepaskan pelukan tangan Nando, mau tak mau Nando pun melepaskan pelukan nya.
"tidak seperti yang saya lihat? oh Maysa sungguh ini pemandangan yang sangat membuat ku patah hati, kau telah mematahkan hati ini May, sudah lama..." belum selesai Andre membual, Maysa pun langsung memotong nya,
"Astagfirullah pak Andre! jangan mulai deh ini masih pagi, terus kenapa coba pintu kelas segala pakai ditutup? kan belum bel masuk" ucap Maysa sedikit jengkel dengan kelakuan guru nya itu,
"hehehe... ayo Nando inces kita sedang tidak baik-baik saja, kita tinggalkan dia biar dia berpikir dengan tenang" sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal Andre kemudian merangkul pundak Nando untuk di ajak nya pergi dari depan kelas Maysa.
"Tapi pak..." ucapan Nando yang tidak selesai karena Andre tiba-tiba menutup mulut nya dengan jari telunjuk.
"ssssttt!!! jangan khawatir aku akan bersaing secara sehat, biar kan Maysa yang memilih antara diriku atau diri mu" ucap Andre dengan jari telunjuk yang masih stay di bibir Nando.
"hadeh... raja drama mulai lagi deh" ucap Maysa dengan menepuk dahi nya sembari melangkahkan kaki nya memasuki ruang kelas.
Siang hari di pondok pesantren Nur terlihat tengah berkumpul dengan teman-teman nya,
"Masa iya? yang bener aja Nur? jadi anak baru itu masih anak sekolahan?" Rahma yang kepo bertanya kepada Nur setelah Nur menceritakan diri nya yang melihat Maysa pagi tadi.
"gimana kalau nanti kita kerjain dia" dengan senyum semirik Ika mulai memberikan ide untuk menjahili Maysa, "ok setuju" Nur bersama dengan Laily dan juga Rahma pun kompak menyetujui ide Ika, mereka pun mulai menyusun rencana.
Rayyan bersama Haidar baru saja keluar dari masjid, mereka berdua berjalan menuju ruangan Rayyan.
"Pak ustad tampan ini kenapa sih dari tadi pagi wajah nya muram sekali?" goda Haidar yang menyadari sedari pagi wajah Rayyan tidak lah seperti biasa nya,
"biasa saja" ucap Rayyan mengelak.
"Ayo lah, cerita lah, ada apa? kaya orang lagi jatuh cinta tapi tidak berani mengungkapkan saja" cerocos Haidar,
"ih sok tau" ketus Rayyan, dan saat itu Fasha tengah berjalan dari arah berlawanan "Fa?" panggil Rayyan kepada adik perempuan nya yang mulai berjalan mendekat,
"iya kak ada apa?" jawab Fasha dengan suara khas nya yang lembut,
__ADS_1
"duh dek Fasha ini suara nya bikin adem di hati lo" ucap Haidar dan itu membuat pipi Fasha merona,
"Hais mulut mu itu licin nya kayak oli, ayo Fa aku mau ngomong" ucap Rayyan seraya menggandeng tangan adik nya.
Haidar hanya memandangi kedua kakak beradik yang berlalu di depan nya itu, "Ray? tega ni aku nggak di ajak?" teriak Haidar yang dilema antara ingin mengikuti Rayyan atau menyelesaikan berkas-berkas pondok di ruangan Rayyan.
"selesaikan saja dulu tugas mu, laptop ku ada didalam laci, nanti di print sekalian" teriak Rayyan sambil menoleh kearah Haidar itu pun dihiasi dengan senyum an yang membuat Haidar menekuk wajah nya.
"Dasar ustad aneh" gumam nya sambil melanjutkan langkah nya menuju ruangan Rayyan.
Rayyan yang berjalan bersama Fasha menuju dapur pun mulai membuka pembicaraan, ya walau pun kakak beradik Fasha termasuk orang yang tidak banyak bicara.
"mau makan Fa?" tanya Rayyan yang memulai memecah keheningan di sepanjang jalan,
"iya kak," sahut Fasha dengan hati gelisah, gadis itu masih memikirkan kejadian subuh tadi saat ia melewati ruangan kakak nya,
"duuuuhh tanya nggak ya? kalau tanya terus ntar dia balik tanya, aku ngapain di sana di jam segitu gimana dong?" batin Fasha,
"oh iya Fa, teman mu satu kamar... "
"Maysa kak, dia punya nama" Fasha memotong pembicaraan Rayyan,
"Oh iya, Maysa gimana sudah menghafal hukuman nya?" tanya Rayyan,
"setahu ku dia belum ada waktu menghafal sih kak" ujar Fasha apa ada nya seperti yang ia lihat.
"selama satu kamar sama kamu dia gadis yang gimana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja yang membuat Rayyan sekejap memejam kan mata nya "duh kok pertanyaan itu sih yang muncul? kalau Fasha sampai curiga gimana? kalau sampai cerita ke Abah, aduh dia kan masih sekolah" batin Rayyan,
"tumben kakak peduli sama santriwati?" tanya Fasha, gadis itu mengembangkan senyum nya yang tidak biasa,
"atau jangan-jangan... " Fasha sengaja tidak melanjutkan kata-kata nya guna menunggu reaksi sang kakak.
"Hah? jangan-jangan apa? peduli apa? dia kan punya tanggungan hafalan, maka nya aku bertanya" sahut Rayyan dengan berjalan lebih cepat tapi disana Fasha dapat melihat telinga kakak nya yang memerah...
__ADS_1
bersambung...