
"CEKLEK!" betapa kaget nya Rayyan ketika melihat Maysa lah yang keluar dari dalam toilet itu.
"May!"
"PAK USTADZ!" teriak kedua nya bersamaan, sejenak kedua nya terdiam, dan akhir nya Rayyan memilih untuk bertanya terlebih dahulu,
"kamu sedang apa di sini?" tanya Rayyan dengan nada yang dibuat selembut mungkin supaya gadis dihadapan nya tidak ngegas,
"ya... saya... itu..." jawab Maysa malu-malu dengan menunjuk kearah toilet di belakang nya, dan Rayyan segera memperjelas pertanyaan nya karena ia merasa salah dengan pertanyaan nya,
"em maaf May, itu, eh ini maksud saya, ini kan toilet pria" ucap Rayyan dengan memalingkan pandangan nya, mendengar itu Maysa pun merasa bingung,
"hah? iya kah? tapi ini tidak ada plakat gender nya" ucap Maysa dengan menunjuk ke arah pintu toilet,
"iya disini memang tidak ada plakat gender nya yang ada plakat gender nya di pintu depan sana" Rayyan menunjuk ke arah pintu yang tertutup, mereka berdua memandang kearah pintu dan detik berikut nya mereka saling pandang
"pintu nya tertutup?" ucap kedua nya dan mereka langsung berlari kearah pintu yang tertutup itu "BRUGH!" Maysa dan Rayyan bersamaan meraih gagang pintu dan hasil nya mereka berdua malah bertabrakan.
"Aduuuuuhhh" keluh kedua nya yang kemudian saling pandang,
"biar saya saja yang membuka nya, toh nanti kalau sampai ada yang melihat kamu keluar dari dalam toilet pria pasti mereka berpikir yang tidak-tidak pada mu" ucap Rayyan yang langsung meraih gagang pintu dan berusaha untuk membuka nya, Maysa hanya terdiam dan melihat Rayyan yang berusaha membuka pintu yang ada di hadapan mereka berdua.
"duh kok jadi deg-degan gini sih, padahal dia kan cuma takut kalau sampai di fitnah berdua an bersama ku, jantung oh jantung, tenang dong jangan kencang-kencang ber degub nya" batin Maysa dengan wajah yang memerah.
"haahh... pintu nya terkunci dari luar" ucap Rayyan setelah menghela nafas, dia sudah mencoba sekuat tenaganya tapi pintu itu tetap tidak bisa di buka.
Diluar dengan jarak yang lumayan jauh Nur dan teman-teman nya cekikikan karena melihat gagang pintu toilet bagian luar yang bergerak-gerak,
"ssssttt jaga suara kalian" bisik Nur yang masih menikmati pemandangan itu,
__ADS_1
"kapan adegan inti nya dimulai?" tanya Rahma
"sabar cuyung, sebentar lagi saat menjelang waktu isya" dengan senyum licik nya Ika menjelaskan.
Maysa duduk bersandar pada tembok, ia sengaja tidak mau berbicara dengan Rayyan yang kini duduk di depan nya yang juga menyandarkan punggung nya pada tembok, suasana begitu hening namun tiba-tiba lewat lah seekor kecoa di samping Maysa dan tanpa Maysa sadari kecoa itu merayap di kaki nya, gadis itu merasakan ada yang aneh di kaki nya dan betapa terkejut nya Maysa ketika ia melihat kecoa di kaki nya, gadis itu pun teriak "Aaaaakkk" dan langsung melompat kearah Rayyan.
Rayyan yang kaget karena Maysa berteriak dan melompat kearah nya pun refleks langsung menangkap tubuh gadis itu, dan dengan erat Maysa memeluk Rayyan "itu, itu, itu! jauhkan itu dari ku" ucap Maysa dengan semakin mengeratkan pelukan nya pada Rayyan dan menyembunyikan wajah nya di ceruk leher ustadz tampan itu,
"tenang lah itu hanya kecoa" ucap Rayyan yang mencoba menenangkan Maysa, mendengar itu pun Maysa memberanikan diri melihat kearah kecoa yang di tunjuk oleh Rayyan, setelah tenang gadis itu kembali melihat kearah Rayyan dengan kedua tangan yang masih dikalungkan di leher Rayyan, mata kedua nya pun bertemu, mereka sama-sama terpaku dan saling menatap.
"CEKLEK!" tiba-tiba pintu terbuka dari luar di sana ada Haidar bersama beberapa santri yang hendak mengambil air wudhu karena waktu sholat isya sudah tiba.
"Astagfirullah hal'azim" Haidar terkejut melihat Maysa bersama dengan Rayyan berada di dalam toilet dengan posisi saling berpelukan, Maysa dan Rayyan yang juga terkejut, karena tiba-tiba pintu terbuka dan banyak santri juga ustad ada di sana mereka langsung melepaskan pelukan itu.
"Ada apa ini?" seru Abah yang tidak sengaja melewati toilet itu.
"awas-awas minggir Abah mau lewat" seru si Udin yang mencarikan jalan untuk Abah menuju pusat perhatian para santri malam itu, dan betapa terkejut nya Abah ketika mendapati Rayyan putra sulung nya tengah berdebat dengan keponakan nya yaitu Haidar, sekilas Abah melihat kearah Maysa yang hanya menunduk kan kepala nya tanpa berkata sepatah kata pun.
"HENTIKAN!" dengan suara lantang nya Abah menghentikan perdebatan antara Haidar dan juga Rayyan, seketika semua menjadi diam, Rayyan dan Haidar pun melihat ke arah Abah yang sudah berdiri di samping mereka.
"Abah" lirih kedua nya, Abah dengan tatapan tajam nya mulai bertanya "Ustad Haidar apa yang terjadi? kenapa kau memarahi saudara mu?" tanya Abah kepada Haidar, yang pada dasar nya tidak bisa berbohong di depan Abah,
"mohon maaf Abah, putra Abah ekhem... Ustad Rayyan kepergok tengah berdua an dengan anak perawan, apakah saya tidak berhak marah, karena... " ucapan Haidar terputus karena Abah mendahului nya.
"Benarkah yang di kata kan Ustad Haidar ini Rayyan?" tanya Abah dengan suara yang tertahan, Rayyan terdiam sesaat, ia melihat kearah Maysa yang sedari tadi menunduk kan wajah nya.
"bukan seperti itu Abah, kita terkunci didalam" jelas Rayyan
"terkunci?" Abah mengulangi perkataan Rayyan.
__ADS_1
"Iya, kita terkunci, tolong siapa saja kata kan siapa yang tadi membuka kan pintu ini? " ucap Rayyan dengan sedikit berteriak.
"tidak usah kau berteriak, aku yang membuka nya" ucap Haidar dengan nada yang mulai normal karena ia mulai berpikir, mungkin benar ada yang sengaja mengunci pintu itu.
"nah itu dia, ustadz Haidar juga tau saya tidak sengaja terkunci di dalam sana" ucap Rayyan dengan menunjuk kearah toilet,
"sudah-sudah! nanti sehabis isya kalian berdua keruangan saya" ucap Abah yang langsung berbalik menuju masjid. Maysa dan Rayyan saling memandang dan semua santri juga ustadz yang ada di sana mulai membubarkan diri.
"terimakasih ustadz" ucap Maysa yang langsung berjalan meninggalkan Rayyan ditempat.
Nur dengan begitu jengkel nya berjalan kearah tempat wudhu "iiiiihhh kok bisa sih dia malah sama ustadz Rayyan" dengan wajah yang cemberut Nur ngomel-ngomel tidak jelas,
"sudah lah Nur, kita berdo'a saja semoga gadis itu mendapat kan hukuman dari Abah" Rahma berusaha menghibur sahabat nya itu.
Di ruangan Abah terlihat Maysa duduk bersama Fasha dan Rayyan duduk bersama Haidar, mereka berempat menunggu kedatangan Abah.
"kok bisa kamu masuk toilet pria May?" tanya Fasha dengan nada yang sangat lembut.
"aku nggak tau kak, kalau itu toilet khusus laki-laki, aku nggak lihat plakat yang ada di depan, dan didalam toilet tidak ada plakat nya" jelas Maysa dan Fasha mendengarkan nya dengan mengelus punggung Maysa.
"lalu kenapa kalian berpelukan ketika saya membuka pintu?" pertanyaan Haidar mengagetkan Abah yang baru saja datang,
"kalian berpelukan?...
bersambung...
terimakasih untuk dukungan dan like nya jangan lupa yang belum like wajib like dan klik favorit supaya tidak ketinggalan cerita nya Maysa dan Rayyan...
semoga kalian sehat selalu dan dapat mengikuti kisah cinta ini 😘😘😘
__ADS_1