
Rayyan tengah duduk di ruang tengah. Semenjak Maysa hamil ia sungguh menjaga istri nya itu selama 24 jam, karena selain Maysa berubah menjadi sangat manja, kondisi fisik nya pun juga berubah menjadi lemah, dan dengan sifat Maysa yang keras kepala dan sedikit ngeyel Rayyan tidak berani mempercayakan Maysa kepada siapa pun, al hasil kemana pun Rayyan pergi Maysa selalu di bawa nya.
Ia khawatir jika meninggalkan istri itu di rumah sendirian barang sekejap saja, seperti yang terjadi pada pagi ini, Rayyan keluar dari rumah nya untuk membelikan sarapan karena Maysa sangat ingin makan lontong sayur.
"Kau yakin tidak ikut?" Tanya Rayyan yang sudah berdiri di depan rumah, Maysa tersenyum dengan menggelengkan kepala nya.
"Nggak mas, May di rumah aja, lagian juga mas beli nya cuma di warung depan kan?" Ucap Maysa.
"Jaga diri mu baik-baik duduk dengan tenang dan jangan aneh-aneh! ok" Dengan mengelus kepala Maysa Rayyan mengucapkan pesan nya.
"Iya mas, Udah sana! nanti keburu aku lapar" Ucap Maysa mendorong pelan lengan Rayyan.
"Ya sudah mas berangkat dulu" Ucap Rayyan dengan sekilas mencium kening Maysa.
"Jangan lupa nggak pakai bawang goreng!" Teriak Maysa dengan senyum yang mengembang, setelah Rayyan pergi, Maysa pun kembali masuk kedalam rumah, tak lupa ia menutup pintu rumah nya.
Maysa duduk di sofa sambil menyalakan tv, ia menunggu suami nya dengan menonton acara kartun.
Ditengah-tengah ke asik an nya tak sengaja Maysa melihat ada kecoa yang melintas di depan tv, "Aaaaaaaaaaaa!!" Maysa yang sangat takut dengan binatang satu itu pun langsung melompat dan berdiri di atas sandaran sofa.
Rayyan baru saja pulang ia berdiri di depan pintu, tangan nya terulur hendak membuka, dan di dengar nya teriakan histeris Maysa dari dalam membuat Rayyan secepat mungkin segera masuk ke dalam rumah nya itu.
"Ada apa sayang?" Dilihat nya Maysa sudah berdiri di atas sandaran sofa.
"Itu itu itu... itu i.. i.. itu ada itu... " Dengan panik Maysa menunjuk ke arah binatang itu berada. Pandangan Rayyan pun mengikuti kemana arah jari telunjuk Maysa.
"Astagfirullah May, itu hanya kecoa yang lewat" Rayyan pun segera memukul binatang kecil itu dan membuang nya.
Rayyan kembali mendekati Maysa dan membantu nya turun dari sofa.
"Ini yang mas khawatirkan, masih untung kau tidak jatuh! kenapa harus berdiri di atas sandaran sofa coba?!" Maysa yang dimarahi Rayyan bukan nya diam dan menunduk kan kepala ia malah balas menjawab.
"Ya nama nya refleks! mas lupa kenapa kita bisa nikah? itu karena kecoa juga! orang takut malah di marahin! au ah mas nyebelin!" Maysa ngomel-ngomel kemudian berjalan menuju lantai atas dan terlihat ia memasuki kamar nya dan membanting pintu.
"BRAK!"
"Astagfirullah, sabar-sabar" Rayyan mengelus dada nya sendiri, kemudian ia menyiapkan lontong sayur yang tadi di beli nya, dan dibawa nya makanan itu ke lantai atas.
"Sluruuuuuuppp, ah ya ampun lontong sayur nya enak banget sih malah masih panas-panas anget lagi, hemmm kalau dingin pasti kurang mantap ni rasa nya" Sengaja Rayyan mengatakan nya dengan suara yang lantang agar Maysa mendengar nya, pas tepat sekali dengan apa yang di rencanakan oleh Rayyan, tak lama kemudian Maysa pun membuka pintu kamar nya, dilihat nya Rayyan tengah menikmati lontong sayur yang masih sedikit ngebul itu.
"Em mas" Ucap Maysa dengan berjalan mendekati Rayyan.
__ADS_1
"Hem" Sahut Rayyan dengan menyeruput kuah lontong sayur itu, tanpa melihat ke arah Maysa.
"Mau" Lirih Maysa yang sudah duduk di samping Rayyan, "Apa?" Tanya Rayyan pura-pura tidak dengar.
"Iiiihh maaas, mau" Ucap Maysa lalu mencebikkan bibir nya.
Rayyan yang memang sudah berhasil memancing Maysa untuk keluar dari kamar nya pun menyudahi acting nya.
"Tunggu sebentar ya, mas ambilkan" Ucap Rayyan yang beranjak dari duduk nya namun Maysa segera menahan tangan Rayyan.
"Ada apa sayang?" Tanya Rayyan dengan berbalik menghadap kearah Maysa.
"Mau yang itu" Tangan Maysa menunjuk mangkuk lontong sayur milik Rayyan, "Tapi ini bekas nya mas lo" Ucap Rayyan memberi tahu Maysa.
"He'em mau yang itu" Rengek Maysa, Rayyan pun sedikit menggelengkan kepala nya, untung tadi di membelinya dua dan tanpa bawang goreng semua jadi aman lah mau makan yang mana saja.
Dengan sabar Rayyan menyuapi Maysa, sedangkan yang di suapi terlihat tengah menikmati nya seperti anak kecil.
"Oh iya Yang nanti ikut ke pondok ya Abah mau bahas masalah empat bulanan, nanti mau di adakan di pondok atau di rumah, Abah mau tanya langsung ke kamu" Ucap Rayyan.
"Iya sayang" Sahut Maysa dengan menyenderkan kepala nya di pundak Rayyan.
Sore hari ba'da sholat ashar Rayyan dan Maysa berangkat ke pondok untuk menemui Abah.
"Ada apa sayang?" Tanya Rayyan yang perlahan menepikan mobil nya tepat di belakang gerobak penjual rujak serut itu.
"Mau rujak" Dengan mencebikkan bibir nya Maysa memasang tampang melas nya.
"Gemesin banget sih, jadi pengen cium" Ucap Rayyan sambil mencubit gemas hidung Maysa.
"Tunggu disini ya, mas belikan sebentar" Rayyan membuka pintu mobil dan segera keluar kemudian mengantri untuk membelikan Maysa rujak serut.
"Pak rujak serut nya satu tanpa nanas ya" Ucap Rayyan memesan.
"Iya mas sebentar ya, ngantri" Ucap tukang rujak itu karena memang yang beli rujak sore itu sangat banyak, mau tak mau Rayyan mengantri demi sang istri dan calon buah hati.
Maysa yang duduk di dalam mobil asik melihat keramaian jalanan di sore hari itu, ia tersenyum senang karena sebentar lagi suami nya akan membawakan nya rujak serut yang di inginkan nya.
"Aaaaaaaaa!! TOLONG COPET!!" Maysa mendengar seorang ibu-ibu yang tengah berteriak-teriak setelah seorang laki-laki menyambar tas nya.
Maysa memperhatikan copet itu berlari kearah nya, ia yang masih anteng duduk di dalam mobil nya bersiap dengan tangan yang memegang handel pintu mobil itu dan
__ADS_1
"BRAK!" Copet itu menabrak pintu mobil yang sengaja di buka oleh Maysa ketika copet itu lewat di samping mobil nya.
"MAMPUS LO!" Maysa segera turun dari mobil dan menginjak lengan si copet itu yang masih terkapar di jalanan.
"Alhamdulillah, terimakasih mbak" Ucap ibu-ibu yang baru saja datang dan segera merebut tas nya dari tangan copet.
"Iya bu, sama-sama, lain kali hati-hati" Ucap Maysa.
Si copet itu pun mencengkeram kaki Maysa dengan tangan satu nya yang masih bebas, dan dengan sangat kuat menarik kaki Maysa sampai wanita itu jatuh terjungkal.
"BRUK!"
"Aduh!" Maysa mengeluh, copet itu segera berlari sebelum banyak orang yang berkerumun.
Rayyan yang mengetahui jika Maysa terjatuh segera mendekati nya.
"Astagfirullah May? ada apa ini?" Tanya Rayyan yang berlari menghampiri istri nya yang meringis kesakitan itu.
"Tadi ada copet dan mbak nya ini berhasil menghadang nya tapi copet nya kabur" Jelas ibu-ibu yang menjadi korban pencopetan ini, Rayyan hanya mengangguk kan kepala nya tanda ia memahami nya.
Maysa yang meringis kesakitan pun segera diangkat dan di masuk kan kedalam mobil. Namun baru saja Rayyan akan menutup pintu mobil Maysa menahan tangan Rayyan.
"Mas, aduh... em... " Maysa sedikit menarik nafas.
"Apa sayang? sakit banget ya?" Rayyan khawatir melihat Maysa yang meringis seperti menahan sakit.
"Em nggak, itu rujak nya jangan lupa" Ucap Maysa, Rayyan menepuk kening nya ketika mendengar penuturan dari Maysa yang masih saja mengingat rujak nya.
Rayyan mengangguk kan kepala nya dan segera berlari menuju penjual rujak.
Asal comot rujak yang sudah jadi Rayyan langsung membayar sebungkus rujak serut itu.
"Ini pak uang nya, kembalian nya ambil saja" Ucap Rayyan yang langsung kembali menuju mobil nya.
"Terima kasih mas, semoga berkah barokah, kalau istri nya lagi ngidam semoga sehat selalu dan lancar saat proses persalinan nanti" Ucap penjual rujak itu walau pun Rayyan sudah tidak ada di hadapan nya.
Dengan sedikit menambah kecepatan Rayyan mengendarai mobil nya untuk menuju pondok, sesampai nya di sana Rayyan menceritakan kejadian di pinggir jalan tadi.
Ummi yang sungguh mengkhawatirkan keadaan Maysa langsung mengajak nya kedalam untuk di pijit sebentar.
"Perut mu tidak sakit nak?" Tanya Zulfa ketika mengelus-elus perut Maysa yang sudah mulai terlihat.
__ADS_1
"Tadi sedikit keram Ummi, tapi sekarang setelah ada nya tangan Ummi, semua baik- baik saja.
bersambung...