Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Bonchap 8


__ADS_3

HAPPY READING MY READERS🥰🥰🥰


Terkejut karena mendapati sang gadis pujaan berjarak sangatlah dekat Aziz yang masih di kuasai rasa kecewa karena di tinggal sore tadi pun segera mengalungkan tangan nya ke tengkuk Maira dan menarik nya kedalam pelukan nya.


Maira yang terkejut hanya menganga dengan mata yang membelalak dan berkedip beberapa kali.


Kini tubuh nya menindih Aziz tanpa berjarak, detak jantung kedua nya pun saling beradu.


"Kakak?" Lirih Maira.


"Hem" Sahut Aziz dengan suara sedikit serak.


"Ira berat loh" Bisik Maira di samping telinga Aziz, mendengar itu Aziz pun segera membalikkan posisi menjadi Maira yang di bawah. Saking cepatnya gerakkan Aziz dan juga tanpa aba-aba, Maira yang terkejut hanya mampu memejamkan mata dengan tangan yang berpegangan pada pundak Aziz.


"Sekarang bagaimana?" Tanya Aziz yang kini berada di atas Maira namun masih bertopang pada tangan nya sendiri agar Maira tidak dihimpit nya.


"Hah?" Maira membuka mata dan nampak lah wajah Aziz yang sangat tampan nan menggoda di atas nya dengan pandangan sayu yang mengarah pada nya.


Aziz menyentuh dagu Maira kemudian sedikit memiringkan kepala nya, perlahan Aziz mulai memangkas jarak wajah kedua nya, dengan nafas yang mulai susah untuk dihirup Maira memejamkan mata nya seolah naluri nya meminta sesuatu yang lebih.


"Kalian sedang apa?" Tiba-tiba terdengar suara Maysa yang memergoki kedua remaja itu.


Karena terkejut Maira pun segera bangun dari posisi tidur nya, namun bukan nya duduk dengan lancar malah bibir kedua nya menyatu didepan mata Maysa.


Sejenak kedua nya terdiam sampai suara Rayyan yang berteriak dari pintu depan mengejutkan kedua nya.


"Sayaaaaaang!!! kok lama?" Teriak Rayyan dengan derap langkah kaki nya yang mulai mendekat.


Seketika Aziz dan Mira pun langsung duduk dengan menundukkan kepala nya, Maysa masih menatap kedua nya.


"Ada apa sayang?" Tanya Rayyan masih dengan nada yang santai.


"Mereka, barusan berciuman" Ucap Maysa yang membuat Rayyan membelalakkan mata nya.


"Bukan begitu Ummah! barusan kita... kita... nggak sengaja" Jelas Maira dengan tergagap.


"Itu juga karena kita kaget, tadi nya kita bercanda, hanya main-main" Ucap Maira, Aziz hanya memandang gadis yang kini mungkin telah mengeluarkan keringat dingin itu.


"Baiklah, Ummah percaya sama kalian, Aziz? jangan kecewakan mama ya!" Ucap Maysa yang segera beranjak dari tempat nya dan berjalan menuju tangga.


Rayyan yang tidak mengetahui dengan jelas duduk permasalahan nya pun hanya diam dan mengikuti Maysa berjalan menuju ruang kerja nya.


"Haaaaaah... gila, kak Aziz mau ngapain coba barusan! kalau mereka nggak percaya sama Ira gimana coba?" Ucap Maira setelah kedua orang tua nya beranjak dari hadapan mereka.


"Tadi harus nya ku lakukan lebih biar kita di nikahkan sekalian" Ucap Aziz dengan enteng nya, dan itu membuat Maira lagi-lagi membelalakkan mata nya.


"Pernikahan saudara? hahaha... emang boleh?" Tanya Maira.

__ADS_1


"Emang nya kalau boleh, Ira mau nikah sama kakak?" Tanya Aziz dengan memandang wajah Ira yang kini juga tengah memandang Aziz.


"Hah? apa sih? nggak jelas!" Ucap Maira dengan beranjak dari duduk nya namun tangan Aziz menahan lengan Maira hingga gadis itu kembali menghempaskan bokong nya di atas pangkuan Aziz.


"Kakak!" Teriak Maira terkejut.


"Hem, mau kemana? jawab dulu pertanyaan kakak!" Ucap Aziz dengan memeluk Maira dari belakang.


"Kamu beneran nggak lihat Yank?" Terdengar suara Maysa dari lantai atas, Maira pun berusaha turun dari pangkuan Aziz namun pemuda itu malah semakin mengeratkan pelukan nya.


"Jawab dulu pertanyaan kakak" Bisik Aziz tepat di samping telinga Maira. Sampai gadis itu kesusahan menelan saliva nya.


"Ira sayang?! Lihat stetoskop Ummah nggak?" Lagi-lagi suara Maysa terdengar dari lantai atas.


"Kak, lepasin, itu Ummah manggil loh" Ucap Maira dengan nada memohon.


"Jawab dulu, mau apa nggak?" Tanya Aziz lagi dengan memegang dagu Maira agar gadis itu melihat ke arah nya.


"Emm... tapi kita ini saudara kak, nggak pantas jika kita memiliki hubungan leb... "


CUP!!! belum selesai Maira berucap bibir Aziz sudah terlebih dahulu mengecup bibir ranum milik Maira. Sejenak Aziz menyesap bibir yang berwarna merah muda itu, kemudian ia melepas nya dengan pelan.


"Kau membuat ku gila Mai, maaf kakak mencintai mu" Lirih Aziz dengan menyatukan kening mereka.


Maira merasa sesak di dalam hati nya, antara bahagia atau sedih karena pada dasar nya mereka kan saudara.


"Ssssstttt" Aziz menutup bibir Maira dengan telunjuk nya.


"Yes or No?" Tanya Aziz dengan suara sedikit tertahan, yang malah terdengar sexy di telinga Maira, sampai tanpa sengaja gadis itu menganggukkan kepala nya.


"Apa itu? mana jawaban mu? hanya sebuah anggukkan kah?" Tanya Aziz lagi, Maira terlihat menarik nafas dalam-dalam namun baru saja ia membuka mulut nya hendak menjawab,


"Iraaaa lihat stetoskop Ummah nggak nak? kok nggak ketemu-ketemu sih?!" Terdengar suara Maysa yang mulai emosi karena mencari barang yang tak kunjung ketemu.


"Sabar sayang, nanti juga ketemu kok" Terdengar sahutan dari Rayyan yang berusaha menenangkan istri nya.


Maira sedikit mendorong dada Aziz, kemudian ia mengedipkan salah satu mata nya.


"Hanya kita yang tau" Ucap Maira yang membuat Aziz bertanya-tanya, namun gadis itu dengan cepat segera meninggalkan Aziz yang masih terpaku duduk di lantai.


Dengan tersenyum Aziz menyugar rambut nya.


Kini Maira sudah berdiri di depan pintu kamar Ummah nya dan ia mengetuk pintu kamar itu TOK... TOK... TOK...


"Ummah?" Panggil Maira dari luar kamar.


"Iya sayang" Sahut Maysa dari dalam kamar, Maira pun segera memegang handel pintu untuk membuka pintu dihadapan nya itu.

__ADS_1


"Belum ketemu Ummah?" Tanya Maira dengan celingukan ikut mencari barang yang di cari.


Hal yang sama pun di lakukan oleh Rayyan, ia juga mencari ke sana kemari, setelah hampir satu jam mereka mencari benda yang sangat di butuhkan Maysa, tak sengaja Maira melihat sesuatu yang menggantung di balik kerah jas dokter yang di kenakan Ummah nya,


"Ummah, itu apa? di balik kerah jas nya Ummah?" Tanya Maira yang membuat Maysa parno dan berhenti bergerak.


"Kamu jangan nakut-nakut in Ummah sayang, ada apa? ulat bulu kah?" Tanyq Maysa yang benar-benar berhenti dari aktifitas nya.


"No no no, tidak itu lebih panjang" Ucap Maira dengan berjalan semakin mendekati Maysa.


"Haaaaaahhh?? panjang? Abiiii... kok diem aja sih!!! ini apa?" Ucap Maysa dengan menunjuk ke arah kerah jas yang ia kenakan, sampai keributan itu terdengar sampai ke lantai bawah dan membuat Aziz yang duduk di ruang keluarga pun berlari ke kamar dimana mereka semua berada.


"Ada apa?" Tanya Aziz setelah membuka pintu kamar.


"Itu kak ada sesuatu di balik kerah jas nya Ummah" Jelas Maira dengan menunjuk ke arah Maysa.


"Mana?" Tanya Aziz dengan berjalan mendekati Maysa.


"Itu lo yang hitam-hitam itu" Sahut Maira. Perlahan Aziz mendekati Maysa dan meraih sesuatu yang berwarna hitam itu dan menarik nya hingga terlepas, betapa semua orang terkejut melihat benda yang di tarik Aziz ternyata adalah stetoskop yang sedari tadi di cari nya.


"Ummah sehat?" Tanya Maira dengan wajah datar nya.


"Enak aja! kau pikir Ummah mu sakit?" Sahut Maysa.


"Lah itu, stetoskop udah di kalungin di cari kesana kesini, sampe tahun gajah balik lagi juga gak bakal ketemu orang barang nya udah di bawa" Maira mengomel-ngomel tak henti-henti nya membuat Semua orang tertawa.


"Iya iya Ummah minta maaf ya sudah merepotkan kalian semua" Ucap Maysa yang di sambut gelak tawa oleh semua nya.


Maysa dan Rayyan pun kembali ke klini dan setiba nya mereka di sana, Maysa langsung membantu Zulfa menangani pasien.


Setelah selesai...


"Bun kalau sampai Aziz dan Maira ada apa-apa gimana?" Tanya Maysa kepada Zulfa.


"Hah? gimana maksud kamu?" Tanya Zulfa tak mengerti.


"Tadi May sempat memergoki mereka tiduran bareng dengan posisi Aziz menindih Maira dan seperti nya mereka berciuman" Jelas Maysa yang membuat Zulfa membelalakkan mata nya dengan menutup mulut nya menggunakan kedua telapak tangan nya.


"Maaf bun, May seperti nya sudah gagal mendidik putri May" Lirih Maysa.


"Tidak bukan salah mu, ini mungkin sudah waktu nya bagi kita untuk mengungkapkan jati diri Aziz yang sebenar nya, harus nya dari awal kita sudah mengatakan nya" Ucap Zulfa dengan mengusap wajah nya.


"Jadi, menurut bunda kita harus membuka semua nya?" Tanya Maysa.


"Lalu bagaimana dengan kakak? apa dia akan setuju?" Tanya Maysa.


"Ya nanti kita bicarakan kalau Sasya sudah pulang dari luar kota" Ucap Zulfa dengan menepuk bahu Maysa.

__ADS_1


Lanjut nggak guys? Mana nih like and komentar nya, di rame in yuk, biar author makin semangat kasih bonus nya 🥰🥰🥰


__ADS_2