Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Acara Pernikahan


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Sasya Nadzifa binti Ahmad Moza dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai" Dengan tenang dan satu kali tarik nafas Rahmat berhasil mengucapkan nya dengan lancar.


"Sah?" Tanya pak penghulu.


"SAAAAAAAHHHH!!!!" Teriak semua tamu undangan dari kedua belah pihak.


"Alhamdulillah" Ucap pak penghulu yang kemudian langsung membaca kan do'a yang di amin kan oleh semua orang yang hadir dalam acara siang itu.


Setelah do'a selesai, Sasya pun berdiri dan pindah duduk di samping Rahmat, dengan senyum yang mengembang Rahman menyambut gadis yang kini telah bergelar Nyonya Rahmat dan membantu nya duduk di samping nya.


Setelah Sasya duduk dengan sedikit menghadap kearah Rahmat, Rahmat mengulurkan tangan kanan nya dan Sasya meraih nya dengan lembut kemudian gadis itu membungkuk untuk mencium tangan lelaki yang telah menjadi imam nya itu.


Setelah Sasya mendongak kan wajah nya, dengan lembut Rahmat mencium kening Sasya.


Saat adegan cium kening, Rayyan menatap kearah Maysa dan saat gadis itu balik menatap nya, Rayyan mengedip kan satu mata nya, entah mengapa jika diperlakukan seperti itu Maysa malah merasa malu-malu, gadis itu kini bersembunyi di balik hijab Zulfa.


Zulfa yang merasa ada yang aneh dengan putri bungsu nya pun, melihat kearah depan dan mendapati Rayyan yang tengah melihat kearah Maysa dengan senyuman yang penuh arti.


Zulfa pun melihat Rayyan sambil menggelengkan kepala nya.


Rayyan yang ketahuan tengah menggoda Maysa pun nyengir kikuk dengan menggaruk tengukuk nya yang tidak gatal.


Nur yang duduk di antara para santriwati melihat Maysa dan juga Rayyan yang saling melempar pandang pun merasa geram.


"Sabar Nur, ini masih di rumah Maysa dan lagi ini adalah acara nya Abah" Bisik Ika yang mengetahui kalau teman nya tengah geram.


"Hem" Nur dengan mengeraskan rahang nya menjawab dengan singkat.


.../......°°°...... /...


Setelah selesai prosesi ijab qobul semua tamu yang hadir dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


Maysa duduk sendiri sambil memakan puding yang ada di tangan nya, tiba-tiba Rayyan membungkuk didepan Maysa dan tepat di depan wajah gadis itu.


"Mau dong aaakk!!" Ucap Rayyan yang membuka mulut nya.


"Iiiiiiihhh... nggak malu di lihatin orang" Ucap Maysa sedikit ngedumel tapi gadis itu tetap menyuapkan satu sendok puding dan Rayyan langsung melahap nya.


"hemmmm... " Rayyan dengan memejamkan mata nya merasakan rasa manis dari puding itu.


"Manis kan?" Tanya Maysa.


Mendengar Maysa bertanya Rayyan pun membuka mata nya dan menaik kan satu alis nya.


"Manis sih, tapi lebih manis yang nyuapin" Ucap Rayyan, Maysa yang mendengar gombalan dari Rayyan pun memutar bola mata nya.


"Haish... kau ini" Ucap Maysa sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Rayyan, ketika Rayyan hendak mengejar Maysa, dari arah belakang Haidar memanggilnya.


"Ray!" Suara Haidar menghentikan langkah Rayyan yang hendak mengejar Maysa.


"Iya? apa?" Ucap Rayyan dengan melihat Haidar yang tengah berjalan mendekati nya.

__ADS_1


"Ikut saya sebentar!" Ucap Haidar, mereka berdua pun keluar dari ruang acara pernikahan.


Rahmat yang sedang duduk di atas pelaminan bersama dengan mempelai wanita nya yang tak lain adalah Sasya sang pujaan hati yang telah lama ia damba.


"Sya?" Panggil Rahmat dengan memandang kearah Sasya dengan tatapan penuh rindu.


"Iya mas?" Sahut Sasya yang kini juga menatap Rahmat.


Rahmat membelai pipi Sasya dengan sangat lembut sambil berkata.


"Tidak sia-sia penantian ku selama ini" Ucap Rahmat dengan tangan yang masih membelai pipi istri nya itu.


"Memang nya... mas Rahmat menanti apa?" Tanya Sasya yang kini memegang tangan Rahmat yang masih stay di pipi Sasya.


Dengan senyuman hangat nya Rahmat menggenggam tangan Sasya.


"Menanti mu, hanya dengan berbekal kan keyakinan disini" Rahmat menunjuk dada nya dengan satu tangan sedang tangan yang satu masih menggenggam tangan Sasya.


"Aku yakin kita akan bertemu lagi" Sambung nya.


Sasya tersenyum, sungguh diri nya sangat bahagia dihari itu.


"Ekhem... ditahan dulu pak ustadz, masih sore ini" Suara yang tak asing itu pun membuat kedua nya menoleh kearah sumber suara.


"Rita? kau datang?" Sasya langsung berdiri dan menghamburkan pelukan nya kepada teman yang dulu sering membully diri nya.


"Iya ini aku, kok kalian nikah nggak kabar-kabar sih?" Tanya Rita dengan perut nya yang sudah membesar.


"Tapi kalian tau dari mana? kok bisa muncul di sini?" Tanya Sasya yang mengalihkan pembicaraan.


"Tadi itu kita berniat buat ajak in ustadz Rahmat main kesini, tapi pas nyampe di pondok, sepi, eh kata pak satpam ada acara nikahan, gitu" Jelas Rita dengan posisi yang masih berdiri.


"Oo begitu..." Sasya mengangguk-angguk kan kepala nya tanda mengerti.


"Ya sudah duduk-duduk, kasihan calon debay nya itu kalau kelamaan berdiri" Ucap Sasya yang mempersilahkan Rita dan Arjun untuk duduk di kursi yang tersedia untuk tamu.


.../......°°°...... /...


Hari sudah mulai menjelang petang semua tamu dari tetangga sekitar sampai rombongan dari pondok satu persatu mereka pamit untuk pulang.


Abah bersama keluarga pun juga pamit, namun Maysa masih akan menginap satu malam di rumah nya.


"Abah, May balik ke pondok nya besok ya, setelah pulang dari sekolah" Ucap gadis itu dengan sopan.


"Iya nak, Abah sekeluarga pamit dulu ya, Assalamu'allaikum?" Pamit Abah beserta keluarga.


"Waalaikumussalam, hati-hati" Sahut Moza sekeluarga.


Sedangkan Rayyan mendekati Rahmat dan berbisik di samping telinga nya.


"Jangan lupa baca do'a dulu" Bisik nya dengan menepuk bahu Rahmat.

__ADS_1


"Pasti" Jawab Rahmat dengan mantap, Sasya yang tidak tau apa-apa hanya tersenyum melihat Rayyan yang tersenyum menatap kedua nya.


Setelah Rayyan masuk kedalam mobil, Haidar dari dalam mobil berteriak.


"Segera cetak keponakan kita yang gemoy" Teriakan Haidar langsung membuat Sasya menunduk kan kepala nya, jujur saja ia sangat malu dengan permintaan Haidar barusan, sedangkan semua yang ada di halaman melepas kepergian Abah sekeluarga pun hanya tertawa mendengar ocehan dari Haidar.


Malam semakin larut semua penghuni rumah pun mulai masuk kedalam kamar masing-masing.


Rahmat yang tengah duduk bersama Moza di ruang keluarga juga mulai berdiri dan meninggalkan ruang keluarga.


Rahmat memasuki kamar Sasya yang sekarang menjadi kamar mereka berdua, pintu kamar dibuka Rahmat dengan perlahan ia melihat Sasya tengah menyisir rambut nya yang begitu panjang di depan meja rias nya.


Rahmat menutup pintu kamar tak lupa ia juga mengunci nya "CEKLEK-CEKLEK"


Suara pintu terkunci membuat Sasya semakin tegang, gadis yang telah bergelar istri itu pun menghentikan kegiatan nya yang menyisir rambut nya, namun ia tak sedikit pun menoleh kearah sumber suara, dada nya terlihat naik turun, karena saking tegang nya ia malam itu.


Rahmat melihat Sasya yang begitu tegang pun langsung berjalan mendekati nya.


Dipeluk nya istri tercinta nya itu dari belakang, Sasya masih tidak merespon, ia bingung hraus bagaimana.


"Em mas?" Panggil Sasya.


"Sebentar saja, sampai rasa tegang ini menghilang" Ucap Rahmat dengan kepala yang berada di ceruk leher Sasya.


"Tapi... ini... geli" Ucap Sasya dengan menahan malu.


Rahmat pun melepaskan pelukan nya dan menuntun istri nya untuk duduk di atas ranjang.


"Kau lelah?" Dengan tangan yang menyingkirkan anak rambut kebelakang telinga Rahmat bertanya.


"Memang nya mas mamat tidak lelah?" Tanya Sasya yang langsung merubah ekspresi Rahmat mendengar nama nya dipanggil dengan sebutan mamat.


"Coba tadi panggil nya apa? coba diulang" Rahmat menarik pinggang Sasya,


"Eh apa? nggak!" Sasya yang ditarik kedalam pelukan Rahmat pun spontan menyentuh dada Rahmat dan mata mereka pun beradu pandang.


Perlahan Rahmat mendekatkan wajah nya, saking tegang nya Sasya pun memejamkan mata nya, namun ternyata Rahmat membisikan sebuah do'a di di samping telinga Sasya.


Mendengar do'a itu, jantung Sasya semakin berdetak kencang.


Rahmat pun mencium kening Sasya dengan sangat lembut, saking lembut nya Sasya memejamkan mata nya kembali, Rahmat pun menatap lekat wajah Sasya, perlahan Rahmat mendekatkan bibir nya ke bibir Sasya.


Kedua bibir itu pun kini menyatu dengan sangat lembut, saking lembut nya membuat Rahmat sedikit menyesap bibir Sasya dengan perlahan sampai gadis itu meremas kemeja Rahmat.


Ketika Sasya ingin menyudahi ciuman yang mulai menginginkan lebih itu pun Rahmat langsung menekan tengkuk Sasya dan malah memperdalam ciuman nya.


Karena hampir kehabisan nafas Sasya pun memukul pelan dada Rahmat, dengan terpaksa Rahmat pun menyudahi nya.


"Maaf" Ucap Rahmat sambil mengusap bibir Sasya dengan ibu jari nya...


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2