
TIN-TIN-TIN...
Terdengar suara klakson mobil di depan rumah Maysa, Maysa pun langsung berlari kearah pintu utama.
Gadis itu membuka pintu dan mempersilahkan Rayyan beserta keluarga nya masuk.
Setelah semua nya duduk di ruang tamu Maysa memanggil Zulfa dan Moza untuk menemui keluarga Rayyan yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Bun keluarga Abah sudah datang" Maysa dengan senyum yang menghiasi wajah nya memberitahukan kepada Zulfa yang tengah menyiapkan piring-piring untuk wadah snack.
"Oh iya iya, Bunda keluar dulu ya sayang, kalian urus ini juga minum nya, nanti keluarnya jangan lama-lama, Ayah kalian sudah diluar kah?" Zulfa melihat ke arah ruang tamu dari balik tirai dapur.
"Sudah bun, tadi May masuk dapur Ayah jalan ke depan" Jawab Maysa.
Zulfa pun tak menunggu waktu lama ia langsung keluar menemui calon besan nya.
Sedangkan Maysa bersama Sasya menyiapkan minuman yang akan segera di bawa keluar.
Di ruang tamu suasana begitu tegang walau pun Abah sudah menyampaikan maksud dan tujuan nya dengan kata yang halus juga alasan yang tepat.
"Tapi Abah, mohon maaf sebelum nya bukan nya kami selaku orang tua dari Maysa menolak lamaran ini, akan tetapi putri sulung kita belum menikah, jadi Maysa tidak bisa menikah jika Sasya belum menikah" Ucap Moza dengan kata yang sangat hati-hati.
Maysa baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi gelas lengkap dengan teh manis, namun tanpa sengaja Maysa mendengar pembahasan yang ada di ruang tamu, gadis itu langsung putar balik, gadis itu kembali masuk ke dalam dapur dan meletakkan nampan nya di atas meja, hati nya begitu sesak, Sasya yang melihat tingkah adik nya berbeda dari biasa nya pun langsung mendekati nya.
"May? kamu kenapa?" Sasya bertanya dengan mengelus pundak adik nya, Maysa dengan mata yang sudah berkaca-kaca menoleh dan menatap kakak nya.
"Kakak kenapa belum nikah sih?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut sang adik bersamaan dengan air mata yang berselancar di pipi gadis SMA itu membuat Sasya kaget "DEGH!" Bagai tertusuk sebilah pedang, hati Sasya begitu sakit mendengar pertanyaan dari sang adik kesayangan nya itu.
"Kok kamu tanya soal itu dek?" Tanya Sasya yang berusaha menutupi rasa sakit hati nya.
__ADS_1
"Baru saja aku mendengar, aku tidak akan bisa menikah kalau kakak ku belum menikah!" Maysa dengan sekuat tenaga nya menahan tangis kekecewaan nya malam itu namun tetap saja bulir bening itu kini malah semakin membanjiri pipi nya, walau pun berulang kali gadis itu menyeka nya.
"Maysa" Panggil Zulfa yang menyusul kedua anak gadis nya yang tak kunjung keluar, kedua kakak beradik itu langsung menatap kearah Zulfa.
"Kok minuman dan cemilan nya belum dikeluarkan?" Tanya Zulfa yang melihat kearah meja, Maysa segera membasuh muka nya di wastafel, walau pun hati nya sangat kecewa namun ia tidak mau jika bunda nya sampai melihat diri nya menangis, Zulfa yang melihat Maysa tiba-tiba membasuh muka nya tidak sedikit pun curiga.
"Ayo-ayo keburu malam" Ajak Zulfa, akhirnya mereka bertiga mengeluarkan minuman dan juga cemilan nya untuk disuguhkan kepada tamu.
Maysa sengaja menunduk kan kepala nya sedari tadi, pikiran gadis itu kacau balau karena mendengar ayah nya menolak untuk menikahkan nya.
"Jadi bagaimana pak Moza? apakah lamaran kami diterima?" Abah masih menunggu keputusan dari Moza, Maysa yang mendengar pertanyaan barusan langsung merasa sedikit lega "oh ternyata tadi itu ayah belum menolak nya, ya ampun kok aku jadi baperan gini sih" Batin Maysa merutuki diri nya sendiri.
"Kalau masalah menerima nya mungkin kita tanya kan langsung saja pada anak-anak, karena kan mereka yang akan menjalani nya" Ucap Moza menjawab pertanyaan dari Abah.
"Ray sekarang giliran kamu bertanya pada nak Maysa, dia mau tidak menerima lamaran mu?" Ucap Abah menyarankan, dan Rayyan langsung paham, ustadz tampan itu kini menatap kearah Maysa yang masih menundukkan kepala nya.
"Maysa Muzayana" Panggil Rayyan yang membuat Maysa mengalihkan pandangan nya kearah Rayyan, saat gadis itu sudah menatap nya Rayyan pun mengutarakan maksud nya.
Maysa hanya tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepala nya.
"Bagaimana?" Tidak puas hanya dengan jawaban isyarat dari Maysa Rayyan pun bertanya lagi.
"Iya... Saya menerima nya" Ucap Maysa dengan hati yang berbunga-bunga.
"Alhamdulillah" Ucap semua yang ada di dalam rumah itu.
"Tapi ingat kalian masih belum sah ya! Menikah nya nunggu kakak kamu dapat jodoh dulu!" Ucap Moza mengingatkan, dan semua nya menganggukkan tanda sudah paham maksud Moza.
"Kalau Boleh saya jodohkan putri sulung pak Moza, di pondok ada ustadz yang mungkin hampir seumuran dengan nak Sasya" Abah menawarkan perjodohan itu, semua tersenyum kecuali Sasya.
__ADS_1
"Bagaimana Sya?" Tanya Zulfa.
"Memang nya Maysa sangat terburu-buru untuk menikah ya? kamu kan masih sekolah dek" Ucap Sasya yang membuat seisi ruangan itu tercengang.
"Sya, kamu kan juga sudah umur nak untuk menikah, jadi apa salah nya jika kita menerima niat baik dari Abah?" Zulfa berusaha menasehati putri sulung nya itu.
"Kalau itu keputusan bunda, Sasya nurut saja" Walau pun dengan hati yang sedikit kesal Sasya berusaha ikhlas toh, selama ini dia hanya menyimpan perasaan terhadap Rahmat dan laki-laki itu tidak sedikit pun memberi nya kejelasan.
"Baiklah minggu depan Saya akan kembali kesini mempertemukan nak Sasya dengan ustadz yang saya pilihkan" Ucap Abah dengan sejuta rencana di dalam otak nya.
Kini Rayyan dan Maysa tengah berjalan-jalan di halaman belakang.
"Motor ini... " Ucap Rayyan ketika melihat motor Ninja Kawasaki yang teronggok di teras belakang.
"Iya, itu motor yang membawa saya bertemu dengan ustadz dingin, sedingin gunung es" Canda Maysa.
"Mulai deh" Ucap Rayyan dengan mencubit hidung Maysa
"Tapi sekarang sudah kau cairkan bukan?" Dengan senyuman nya Rayyan melepaskan cubitan di hidung Maysa.
"Duuuuhhh jangan di cubit lagi nanti kalau jadi mancung kan saya tambah cantik" Dengan percaya diri gadis itu memuji diri nya sendiri.
"PD sekali kamu, tapi memang, candaan mu itu lama - lama menjadi candu ku" Pipi Maysa pun memerah mendengar rayuan yang terlontar dari bibir Rayyan.
Malam semakin larut Abah dan keluarga pun berpamitan untuk pulang, namun Maysa akan ke pondok besok setelah pulang dari sekolah, gadis itu ingin menginap di rumahnya semalam.
Sudah tengah malam lewat namun mata Sasya enggan untuk di katup kan, rasa kantuk tak kunjung menghampiri nya.
"Bagaimana jika aku tidak bisa melupakan mas Rahmat setelah aku menikah nanti, tapi jika aku menolak nya sangat beresiko untuk Maysa dan juga Rayyan, Maysa pasti akan terancam dikeluarkan dari pondok, sedangkan Rayyan, pasti akan di katai ustadz mesum, haduh Gusti kok jadi gini sih, dah lah terima saja dulu" Gumam Sasya yang masih duduk di atas ranjang nya...
__ADS_1
bersambung...