Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Bonchap 6


__ADS_3

HAPPY READING!!! 🥰🥰🥰


Jangan lupa like dan komentar nya...


Masih dengan berdiri di depan cermin nya Maira bergumam seorang diri sampai pada akhir nya pintu kamar nya di ketuk oleh seseorang dari luar.


TOK TOK TOK...


"Ira? kamu baik-baik saja sayang?" Terdengar suara Maysa dari balik pintu kamar gadis itu.


"Hah? Ummah sudah pulang" Gumam Maira dengan memandang ke arah pintu kamar nya yang masih tertutup.


"Maira? Sayang?" Teriak Maysa lagi karena ia tak kunjung mendengar jawaban dari putri nya.


"Iya Ummah, Ira sedang ganti baju" Sahut Maira yang dengan segera masuk ke dalam ruang ganti nya.


Setelah mendengar sahutan dari dalam kamar anak gadis nya Maysa pun merasa lega, ia segera turun ke lantai bawah.


"Makasih ya Ziz sudah menemani Maira" Ucap Maysa ketika sudah sampai di ruang keluarga, ya Aziz sedari tadi masih rebahan di ruang keluarga sambil menonton acara tv.


"Iya Mah nggak papa kok lagian Aziz males di rumah sepi, oh iya papa kok belum pulang?" Tanya Aziz yang memang sangat dekat dengan Rayyan.


"Palingan sebentar lagi papa mu pulang"


"Assalamu'allaikum?" Baru saja mereka membicarakan nya, tiba-tiba suara Rayyan sudah terdengar dari luar pintu.


"Waalaikumussalam" Sahut Maysa dan Aziz bersamaan kedua nya pun sama-sama menatap ke arah pintu.


"Nah itu papa deh kayak nya" Ucap Maysa dengan berjalan membukakan pintu.


Maira turun dari lantai atas dan berjalan mendekati kakak nya yang tengah duduk di depan tv.


"Kak Aziz buat yang tadi... "


"Loh ada Aziz? sudah lama?" Belum selesai Maira berucap Rayyan sudah lebih dulu sampai di belakang Maira dan bertanya.


"Sudah Pah tadi sekalian nganter Ira, terus sampai disini sepi rumah nya" Ucap Aziz seraya meraih tangan Rayyan dan mencium nya.


"Oo begitu, ya sudah papa tinggal ke atas dulu ya?" Ucap Rayyan sembari membalikkan tubuh nya hendak berjalan menuju tangga namun belum sampai Rayyan melangkahkan kaki nya Aziz berucap dengan suara lantang nya.


"Oh iya Ira tadi mau ngomong apa?" Tanya Aziz dengan senyum jahil nya yang membuat Maira membelalakkan mata nya.


"Gila! pakai di tanya in balik lagi duuuuhhh nih kakak gue bukan sih Astagfirullah, sabar Ira sabar, dia masih kakak mu, hemm... " Batin Maira dengan menghela nafas nya.


"Ada apa nak?" Tanya Rayyan yang ikut menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Maira.


"Ah ng... nggak kok Bi, nggak ada apa-apa, kak Aziz salah denger kali" Ucap Maira dengan gelagapan.


Rayyan pun dapat melihat gelagat anak gadis nya yang tidak biasa itu dan beralih melihat ke arah Aziz berharap mendapat kan penjelasan.


Namun Aziz hanya mengendikkan bahu nya dengan kedua alis yang di angkat nya.


Rayyan hanya menggeleng kan kepala nya kemudian melanjutkan langkah kaki nya untuk menuju lantai atas yang disusul oleh Maysa.

__ADS_1


Setelah Rayyan dan Maira menghilang dari pandangan Maira dan Aziz, perlahan Maira menatap ke arah Aziz dan mendekati pemuda itu secara perlahan yang membuat Aziz sedikit berjalan mundur.


"I... Ira kau baik-baik saja?" Tanya Aziz tergagap, karena ia merasa Maira tidak seperti biasa nya.


Bukan nya menjawab pertanyaan Aziz, Maira malah dengan gesit meraih bantal sofa dan melemparkan nya ke Aziz namun dengan refleks yang bagus Aziz segera menangkap nya.


"Ada apa Ra? kau baik-baik saja?" Dengan senyum mengejek dan wajah yang setengah bersembunyi di balik bantal sofa Aziz sudah paham sekarang, adik nya itu tengah marah dan ingin memukul nya.


Karena bantal sofa itu berhasil ditangkap Aziz Maira pun meraih satu bantal lagi dan memukul kan nya ke tubuh Aziz namun dengan gesit juga Aziz menangkis nya dengan bantal yang ia pegang.


"Hey... hey... hey cukup cukup cukup" Ucap Aziz dengan cekikikan yang membuat Maira semakin gemas ingin menghajar nya.


"Hah apa? apa kak? aku tidak dengar?!" Geram Maira dengan bertubi-tubi ia memukul kan bantal ke arah Aziz.


"Baiklah baiklah kakak minta maaf ok!" Ucap Aziz dengan terus menangkis setiap pukulan dari Maira.


"Apa? minta maaf? kau hampir saja membuat ku di curigai oleh Abi!" Ucap Maira dengan berkacak pinggang.


Aziz pun perlahan menurunkan bantal yang menutupi wajah nya, setelah ia merasa bahwa Maira tidak lagi memukuli nya.


"Memang nya kenapa kalau papa Rayyan curiga pada mu?" Tanya Aziz dengan wajah tak berdosa nya.


"Iiiiihhh masih di tanya lagi nyebelin banget sih!!!" Geram Maira yang hendak menghujani Aziz dengan pukulan bantal nya namun kali ini Aziz menghindar dan berlari, Maira pun tak mau menyerah ia segera mengejar Aziz dengan berlari sekuat tenaga nya.


Mereka pun berlari mengelilingi sofa yang ada di ruang keluarga itu.


"Hah... hah...Stop! Stop! hah...hah...Stop Ra! kakak capek hah...hah..." Ucap Aziz dengan nafas yang tersengal-sengal.


Hal yang sama pun terjadi pada Maira, ia pun juga terengah-engah, tapi bukan Maira nama nya kalau dengan mudah nya ia menyerah.


Sampai pada akhir nya Aziz berhenti dan menghadap ke arah Maira, namun Maira malah tersandung dan tubuh nya ambruk ke arah Aziz yang tepat di hadapan nya.


Karena tidak siap dengan beban yang ia dapat Aziz pun jatuh kebelakang dengan Maira yang menimpa tubuh nya.


BRUGH!!!


Mereka terjatuh ke lantai dengan posisi Maira yang menindih Aziz, kepala gadis itu melekat pada dada bidang milik Aziz sehingga dapat dengan jelas Maira mendengar detak jantung Aziz yang seperti benderang yang ditabuh saat karnaval.


"Ira?" Lirih Aziz dengan memegang kedua lengan Maira.


"Iya?" Sahut Maira yang memandang wajah Aziz namun hanya terlihat dagu dan jakun yang seakan naik dan turun.


"Bangun lah tubuh mu berat" Ucap Aziz yang membuat Maira tersadar dan segera bangun.


"Ekhem... maaf" Ucap Maira dengan posisi duduk.


"Pakai segala acara kesandung, bilang aja mau peluk kakak, iya kan?" Ucap Aziz dengan duduk di samping Maira.


"Kak? udah deh jangan mulai lagi Maira capek!" Ucap Maira dengan menarik kaki Aziz agar di luruskan kemudian ia gunakan kaki itu sebagai bantal.


Aziz pun perlahan membelai kepala Maira yang tidur di pangkuan nya itu.


"Kak?" Panggil Maira dengan melihat wajah Aziz.

__ADS_1


"Hem??" Tanya Aziz dengan membalas tatapan sang adik.


"Maira sayang sama kakak" Ucap Maira dengan mengalihkan pandangan nya, dan itu berhasil membuat pipi Aziz memerah.


Sejenak Aziz menghela nafas dengan mencerna kata-kata yang di ucapkan adik nya itu.


"Apa? sayang? jadi nggak bertepuk sebelah tangan dong? eh tunggu-tunggu, jangan-jangan sayang sebagai saudara" Batin Aziz.


"Ekhem... iya, kakak juga" Sahut Aziz dengan mengusap pucuk kepala Maira.


"Jadi?" Tanya Maira yang langsung duduk di depan Aziz dan menghadap ke arah Aziz.


"Iya sebagai saudara kita kan harus saling menyayangi" Ucap Aziz yang seketika membuat raut wajah Maira berubah.


Perlahan Maira berdiri dari duduk nya dan mulai melangkahkan kaki nya meninggalkan Aziz.


Mula nya Aziz hanya memandang gadis itu yang kian menjauhi diri nya.


"Kenapa sih? kok murung lagi? apa salah lagi gue? duh susah emang ngomong sama cewek" Gumam Aziz yang masih setia memandang punggung Maira yang terus menjauh.


Dengan hati yang bimbang Aziz duduk di depan tv, sampai iklan sprite yang nyegerin pun tidak lagi seger di pandang nya, ya kali ini otak Aziz telah terkontaminasi oleh Maira yang berhasil mengusik hati nya.


Di dalam kamar nya Maira membanting tubuh nya di atas ranjang yang empuk, ia membenamkan wajah nya di bantal kesayangan nya.


Isak tangis pun mulai terdengar, Maira menangis sesenggukkan, sampai ponsel nya berdering, ia pun duduk dengan air mata yang masih berderai, ia sempatkan untuk membuka ponsel yang bergetar tanda ada panggilan masuk itu.


Di depan tv Aziz bingung mau bagaimana, karena saat ia berjalan hendak mengikuti Maira, gadis itu masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu kamar nya.


Aziz pun segera membuka ponsel nya dan menelfon Maysa yang sedari tadi tak kunjung keluar dari kamar nya.


Suara sambungan telfon pun berkali-kali terdengar di telinga Aziz namun tak kunjung di angkat oleh sang empu nya.


Di dalam kamar Maysa...


"Ayo lah Yank, bentar aja" Rayyan merengek dengan menelusupkan wajah nya di ceruk leher Maysa.


"Ih apa an sih?! ada anak-anak di luar! nggak malu apa kalau suara nya sampai terdengar" Ucap Maysa dengan berusaha menahan rasa gelanyar yang di salurkan oleh Rayyan melalui saraf leher nya.


"Nggak lah, aman orang mereka di bawah, ayo lah Yank, si dedek sudah siap menerobos ini" Kembali Rayyan merengek seperti anak kecil minta permen. Tidak mau menjadi istri yang durhaka Maysa pun melayani suami tercintanya itu.


"Iya Yu, aku lagi di rumah ini" Maira berbicara dengan Ayu yang ada di sambungan telfon nya.


📞"Bisa keluar bentar nggak? ada acara anak Vespa lo di alun-alun kota" Terdengar suara Ayu yang begitu bersemangat.


"Ok ok aku keluar, tak tunggu depan rumah ku ya, kalian jemput aku" Ucap Maira sebelum ia mengakhiri sambungan tlefon nya.


Gadis itu membuka pintu kamar nya dan betapa terkejut nya ia ketika mendapati Aziz berdiri di depan pintu kamar nya.


"Kak Aziz?" Lirih Maira dengan perlahan menutup pintu kamar nya.


"Kakak ngapain di sini?" Tanya Maira dengan pelan, Aziz masih terlihat sejenak melihat ke layar ponsel nya, ya ia mematikan sambungan telfon nya yang sedari tadi ia menghubungi Maysa namun tak ada jawaban dari mama nya itu.


"Ah anu itu... " Ucapan terhenti ketika mereka berdua mendengar sesuatu yang begitu mengusik telinga mereka.

__ADS_1


Lanjut nggak say?


yuk di rame in kolom komentar nya, dan jangan lupa di like ya...


__ADS_2