Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Yang tak dinginkan berakhir dengan kejutan


__ADS_3

Setelah hari itu semua kegiatan berjalan dengan lancar namun hari sabtu ini semua terlihat begitu sibuk dari hari-hari kemarin.


Ya semua santri di mintai tolong untuk mempersiapkan beberapa keperluan untuk Rahmat yang akan lamaran malam nanti.


Para santriwati tengah membentuk buket ada sebagian yang menata Mahar dan seserahan, mereka terlihat saling bekerja sama dalam melakukan segala hal.


"May tolong kau bawa seperangkat alat sholat yang sudah rapi ini ke ruangan Abah ya!" Fasha menyuruh Maysa, gadis itu pun menganggukkan kepala nya dan langsung membawa seperangkat alat sholat yang sudah dibentuk sedemikian cantik keruangan Abah.


"Hey... Mau kemana?" Suara Rayyan tiba-tiba menghentikan langkah Maysa, gadis itu menoleh kearah belakang kemudian tersenyum saat mendapati sang pujaan hati tengah bersandar di tembok.


"Mau ke ruangan Abah" Jawab Maysa dengan pipi yang bersemu merah.


"Sekitar tiga atau empat hari kita tidak bertemu,kamu sudah melupakan saya?" Rayyan berjalan mendekati Maysa.


"Hah? tidak, siapa bilang?" Ucap Maysa memalingkan wajah nya.


Mereka berjalan bersama menuju ruangan Abah.


"Tentang yang malam itu... " Ucap Rayyan yang ingin meminta maaf belum selesai karena Maysa segera mendahului nya


"Oh itu, lupa kan saja, saya yakin itu hanya akal-akalan kak Nur, supaya kita saling salah paham" Jelas Maysa.


Rayyan tersenyum mendengar penjelasan Maysa, lagi-lagi gadis yang tengah berjalan di samping nya itu membuat nya kagum.


"Tapi seperti nya kamu sedang menghindari saya kemarin?" Tanya Rayyan yang mengingat setiap kali bertemu dengan nya Maysa selalu saja menghindar.


"Tidak kok, dan akhir-akhir ini memang ada jadwal tambahan terus dan juga setiap pagi ada kuis yang mengharuskan saya berangkat sekolah lebih pagi dan pulang petang" Ujar Maysa membuat Rayyan lega.


"Syukur lah, saya kira kamu marah dan tidak mau bertemu dengan saya" Rayyan mengungkapkan kegelisahan nya beberapa hari terakhir.


"Memang nya kalau saya marah kenapa?" Maysa bertanya sambil melihat kearah wajah Rayyan.


"Kalau kamu marah ya saya bakal jelasin, bagaimana pun cara nya biar kamu tidak salah paham" Ucap Rayyan dengan nada yang serius, mendengar penuturan Rayyan yang terlalu serius pun Maysa tertawa


"hehehehe..." Tawa gadis itu dengan tangan yang masih memegang seperangkat alat sholat.


"Kok ketawa sih? saya serius loh" Ucap Rayyan yang melihat Maysa masih berusaha menahan tawa nya.


"Ya habis lucu sih kalau ustadz lagi serius" Ucap Maysa sambil mengangkat satu alis nya.


"Apa? Lucu kamu bilang?" Tanya Rayyan, sedangkan Maysa hanya tersenyum sambil menaik turunkan alis nya.


"Ok, ni ini ni yang lucu nih" Ucap Rayyan sambil mencubit pipi Maysa.


"Aduh duh aduh, Jangan dicubit dong!" Maysa mengerucutkan bibir nya.


"Ya habis nya gemesin sih" Rayyan melepaskan cubitan itu dari pipi Maysa.


Gadis itu berhenti didepan ruangan Abah, Rayyan yang sedari tadi mengikuti nya pun juga ikut berhenti.


"Kok berhenti?" Rayyan bertanya tanpa menyadari kalau Maysa sudah sampai di tempat tujuan nya.

__ADS_1


"Lah saya mau masuk, ustadz awas dong minggir, jangan didepan pintu" Ucap Maysa, sedangkan Rayyan langsung melihat ke kanan dan kiri.


"Astagfirullah, sudah sampai ya?" Ucap Rayyan dengan menggeser langkah nya guna memberi jalan masuk untuk Maysa.


"Iya sudah sampai, segitu nyaman nya jalan bareng, sampai-sampai tidak tau ini dimana" Maysa berkata sambil meletakkan barang yang ia bawa.


Gadis itu langsung keluar begitu barang yang ia bawa aman ditempat nya.


"Mau langsung balik?" Tanya Rayyan yang masih setia menemani Maysa di depan ruangan Abah.


"Iya ustadz, lagian semua pada sibuk ini, nggak enak kan kalau nggak bantu-bantu in" Kata Maysa sambil berjalan kembali ke tempat teman-teman nya.


"Ok, tapi tetap berhati-hati ya" Ucap Rayyan sambil mengusap kepala Maysa.


Setelah itu mereka pun berpisah, Maysa kembali membantu teman-teman nya sedangkan Rayyan kembali membantu mengurus surat-surat yang akan di gunakan Rahmat untuk lanjut ke acara pernikahan.


Siang ini di kantor Sasya...


"Saya kan sudah bilang untuk laporan yang ini harus ada salinan nya, kalian ini bagaimana sih?" Dengan emosi yang memuncak tidak seperti biasa nya Sasya menjelaskan kepada bawahan nya.


"Maaf bu sekarang juga akan saya buatkan salinan nya" Ucap Lina dengan wajah yang ketakutan, Sasya hanya melempar berkas-berkas yang tadi di lihat nya kearah Lina, Lina pun dengan cepat langsung meraih nya dan keluar dari ruangan Sasya.


Sesampai nya Lina di luar, ia langsung di tanya i oleh beberapa staf yang lain.


"Heh ada apaan?" Tanya satu staf kepada Lina yang baru saja keluar dari ruangan Sasya.


"Buset dah gue kena marah sama bu Sasya, pokok nya hati-hati buat kalian yang mau masuk, siap in mental kalian, bu Sasya yang biasa nya sabar hari ini berubah drastis" Ucap Lina yang langsung kembali duduk di meja nya.


"Halo, Assalamu'allaikum bun, ada apa?" Sasya mengucap salam setelah panggilan itu tersambung.


"Halo Waalaikumussalam, Sya kamu bisa pulang cepat kan nak?" Tanya Zulfa di seberang panggilan sana. Mendengar itu Sasya langsung paham maksud dari bunda nya.


"Iya bun sebentar lagi" Ucap Sasya yang langsung mengakhiri panggilan itu.


Gadis itu pun langsung membereskan meja kerja nya, dan bergegas untuk pulang.


.../....°°°.... /...


Setelah sholat isya Rahmat dan seluruh warga pondok pesantren Darussalam melalukan persiapan untuk keberangkatan acara lamaran nya Rahmat.


"Abah dimana ya?" Tanya Rayyan yang celingukan mencari keberadaan Abah nya.


"Abah disini" Ucap Abah yang baru saja muncul dari balik kerumunan para santri.


"Kita berangkat sekarang? ustadz Rahmat sudah siap?" Haidar memastikan semua nya.


"Insya'allah siap!" Ucap Rahmat mantap namun raut wajah nya sedikit muram.


"Pak ustadz jangan muram dong, kan mau bertemu bidadari syurga" Ucap Maysa dengan candaan nya,


"Iya, makasih ya dek" Ucap Rahmat dengan sedikit senyuman.

__ADS_1


Setelah semua nya siap, barang bawaan sudah lengkap mereka pun berangkat dari pondok pesantren Darussalam menuju kediaman Moza.


Di rumah Sasya dengan wajah muram nya berusaha menghias diri nya se anggun mungkin walau tak ada sedikit pun kebahagiaan yang muncul di hati nya.


"Seharus nya hari ini adalah hari bahagia ku, tapi bagaimana bisa aku tersenyum, sedangkan orang yang akan dijodohkan dengan ku saja aku sama sekali tidak mengenal nya" Gumam Sasya yang duduk di depan cermin.


Zulfa yang saat itu memasuki kamar putri sulung nya pun mendengar gumaman Sasya barusan.


"Sya, kata orang jawa yang penting itu LEGOWO ya cah ayu, Gusti Allah nggak akan tinggal diam, ingatlah gadis baik hanya untuk laki-laki yang baik, bunda yakin Abah pemilik pesantren itu tidak akan menjodohkan kamu dengan orang yang salah" Jelas Zulfa yang berusaha menenangkan putri sulung nya itu.


"Iya bun, Sasya berusaha ikhlas kok, Sasya juga akan berusaha menumbuhkan rasa cinta yang benih nya saja belum ada" Dengan menundukkan kepala nya Sasya bergumam.


"Anak bunda" Zulfa memeluk putri sulung nya itu dengan lembut.


"TOK-TOK-TOK" pintu kamar Sasya diketuk beberapa kali dan muncul lah mbok Ijem dari balik pintu.


"Maaf Nyah, itu rombongan dari pesantren Darussalam sudah datang" Ucap mbok Ijem.


"Iya mbok suruh masuk dulu sebentar lagi saya turun" Dengan nada lembut nya Zulfa berkata. Mbok Ijem pun langsung keluar setelah membungkuk kan punggung nya.


"Calon mu sudah datang, bunda keluar dulu ya, kamu disini dulu" Ucap Zulfa sambil mengelus kepala Sasya.


Setelah beberapa saat Zulfa keluar dari kamar Sasya, gadis itu mendengar keramaian dari lantai satu.


"Itu pasti suara mereka" Gumam Sasya yang langsung dapat menebak.


Lumayan lama Sasya menunggu di dalam kamar akhir nya gadis itu dihampiri oleh sang adik.


"Assalamu'allaikum, kak turun yuk, semua menunggu mu" Ajak Maysa yang menjemput kakak kesayangan nya itu.


"Waalaikumussalam, rame banget ya dek?" Tanya Sasya yang sedikit merasa gugup.


"Kakak grogi?" Tanya Maysa


"Hah? nggak kok, yuk turun yuk!" Sasya berdiri dengan digandeng Maysa.


Dengan menggenggam erat tangan Maysa, Sasya berjalan dengan jantung yang berdetak sangat kencang.


Di ruang tamu, Rahmat selalu menunduk kan kepala nya, pemuda itu pun kini mendongak kan kepala nya dan menatap kearah gadis yang baru saja memasuki ruang tamu itu, betapa terkejut nya mereka berdua yang tengah bertatap muka.


"Sasya?"


"Mas Rahmat?...


bersambung...


Yuk yuk yuk diramaikan kolom komentar nya, biar author semakin semangat up date nya...


Dan jangan lupa like, favorit dan kometar nya...


Semoga kalian sehat selalu para reader ku...

__ADS_1


see you


__ADS_2