Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Botol Parfum


__ADS_3

"Maaf" Ucap Rahmat sambil mengusap bibir Sasya dengan ibu jari nya.


"Kenapa meminta maaf?" Sasya bertanya dengan senyuman yang menghiasi wajah nya.


"Mas pikir kamu tidak menyukai nya" Jawab Rahmat.


"Bukan begitu mas, hanya saja aku tidak bisa bernafas jika terlalu lama" Sahut Sasya dengan memandang kearah mata Rahmat.


"Jadi? boleh kah?" Rahmat bertanya dengan tangan nya yang menarik lembut tengkuk Sasya agar mendekat pada nya.


Sasya hanya mengangguk sedangkan Rahmat langsung mencium bibir Sasya masih dengan kelembutan nya, Rahmat masih berusaha menahan agar diri nya tidak menyakiti istri tercinta nya itu.


Di Pondok tepat nya ruangan Rayyan...


Rayyan sedang duduk bersama Haidar, mereka berdua sedang membahas tentang acara pernikahan yang siang tadi dihadiri nya.


"Kira-kira mereka sedang apa ya?" Haidar tiba-tiba saja bertanya seperti itu kepada Rayyan yang tengah meneguk teh hangat yang ada di hadapan nya.


Sontak Rayyan pun langsung tersedak dan terbatuk-batuk mendengar pertanyaan dari Haidar.


"Uhuk-uhuk-uhuk..."


"Eh eh eh hati-hati dong Ray!" Haidar menepuk-nepuk punggung Rayyan yang masih terbatuk-batuk.


"Kau mau tau mereka sedang apa?" Tanya Rayyan dengan menatap kearah Haidar.


"Iya, secara ustad Rahmat kan pendiam, halus, tidak pernah keluyuran" Haidar memuji-muji Rahmat yang notabenya memang orang yang tidak suka aneh-aneh.


"Iya nggak kaya kamu yang suka lirik sana lirik sini kan!" SKAK MAT dari Rayyan yang membuat Haidar menghela nafas nya.


"Ya bukan gitu juga Ray" Haidar berusaha mengelak.


"Heleh.... " Rayyan menoyor kepala Haidar.


"Coba kamu pikir Ray, orang yang biasa nya diam saja bagaimana dia mengawali malam pertama nya?" Haidar memulai pertanyaan yang membuat Rayyan menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Ya siapa tau mereka sedang belajar melalui ponsel" Celetuk Rayyan asal.


"Ponsel? apa kamu juga pernah menonton film seperti itu Ray?" Tanya Haidar.


"Haish... buat apa menonton film seperti itu? buang-buang waktu saja" Ucap Rayyan, sedangkan Haidar berjalan menuju salah satu rak buku yang ada di ruangan Rayyan.


Dikamar Rahmat...


Ciuman lembut itu kini semakin memanas karena Sasya yang awal nya hanya diam mulai merespon tangan nya mulai merangkul leher kokoh suami nya.


Karena terbawa oleh suasana tangan Rahmat mulai bergerilya di setiap tubuh istri nya.


"Emmhhh..." Satu lenguhan dari Sasya berhasil lolos ketika tangan Rahmat meremas benda yang menonjol di area dada.


Rahmat melepaskan ciuman nya ia menatap sayu mata Sasya, ia mengecup sekilas bibir ranum itu dan beralih ke ceruk leher Sasya.


"Masss... " Ucap Sasya ketika Rahmat memberikan tanda kepemilikan nya di sana, Rahmat melihat hasil karya nya yang berwarna merah di leher Sasya.

__ADS_1


"Apakah sakit?" Tanya Rahmat sambil mengelus tanda merah itu.


Sasya membelai pipi suami nya dan menggelengkan kepala nya pelan.


"Tidak, jika sakit aku pasti menangis" Jawab Sasya dengan tatapan yang sayu yang mampu membuat si Mr. J di bawah sana menegang.


Rahmat sejenak memejamkan mata nya dan menunduk. Melihat suami nya yang seperti tersiksa batin nya pun Sasya bertanya.


"Ada apa mas? kamu kenapa?" Tanya Sasya, sedangkan Rahmat hanya menggelengkan kepala nya.


"Mas?" Sasya memiringkan kepala nya agar ia dapat melihat wajah suami nya.


"Sudah malam, tidur yuk?" Ajak Rahmat yang berusaha menahan nafsu nya ia sungguh takut jika sampai menyakiti istri tercinta nya.


"Tidur?" Tanya Sasya bingung, padahal dalam hati kecil nya ia pun menginginkan lebih.


"Iya tidur, Sini!" Rahmat langsung merebahkan tubuh nya dan menarik Sasya kemudian dipeluk nya Sasya dari belakang, Rahmat tidak sanggup melihat wajah Sasya sambil menahan nafsu yang tengah bergejolak.


Di ruangan Rayyan...


Haidar menelusuri satu persatu novel yang tertata rapi di rak buku itu.


"Ray? pernahkah kau membaca novel-novel ini?" Tanya Haidar yang membuat Rayyan mengusap wajah nya.


"Hem" Hanya itu sahutan yang di dengar oleh Haidar, ia pun menyimpulkan bahwa Rayyan sudah membaca semua novel yang ia sita dari para santri nya.


"Jadi kau juga membaca adegan ini Ray?" Haidar membawa salah satu novel yang ada adegan dewasa nya.


"Iya hanya ku baca sekilas, maka nya itu novel tidak ku kembali kan takut nya digunakan untuk berimajinasi oleh para santri" Jelas Rayyan.


"Ustadz Haidar bisa diam tidak?! Jika mau baca, baca saja tapi jangan disalah guna kan! kau itu sudah dewasa!" Rayyan dengan sedikit bentak kan mengingatkan Haidar yang menurut nya mulai kelewatan.


"Iya ustadz maaf" Lirih Haidar dengan menunduk kan Kepala nya, ia pun mulai membaca novel yang di pegang nya.


Dikamar Sasya...


"Mas?" Sasya merasa ada sesuatu yang mengganjal di belakang bawah sana ketika Rahmat melingkarkan tangan nya di perut Sasya.


"Hem apa?" Sahut Rahmat dengan nafas yang seperti menahan sesuatu yang sangat berat.


"Ku kira dengan posisi begini aman dari wajah dan juga d*da nya yang menggoda ternyata ini lebih sulit" Batin Rahmat yang merasa si Mr. J nya terhimpit benda empuk yang lebih besar dari yang ia remas barusan.


"Mas ini apa sih? kok ngeganjel?" Tanya Sasya dengan sedikit melihat kearah Rahmat yang ada dibelakang nya.


"Sudah biarkan saja, dan jangan banyak bergerak" Ucap Rahmat yang langsung mengecup pipi Sasya.


"Tapi ini... " Sasya yang penasaran dengan apa yang keras mengganjal dibawah sana pun menggeser pinggul nya.


Rahmat terlihat sedikit menghela nafas nya.


"Tidur sayang, ini sudah malam" Ucap Rahmat sambil tangan nya memegang pinggul Sasya agar berhenti menggeser pinggul nya.


Rasa penasaran Sasya pun semakin besar, gadis itu menelusupkan tangan kebelakang pinggang nya dan turun kebawah, ia cengkeram benda yang menurut nya seperti botol parfum itu...

__ADS_1


Di Kamar Maysa...


Gadis itu merasa haus dan keluar dari dalam kamar kemudian berjalan menuju dapur.


Di dapur saat Maysa sedang menuang minuman kedalam gelas, gadis itu mendengar suara.


"Kok kaya ada yang ngobrol ya?" Gumam Maysa yang sayup-sayup mendengar obrolan dari dalam kamar Sasya.


"Suara nya dari kamar kak Sasya deh kayak nya" Sambil membawa segelas air putih Maysa berjalan menuju kamar kakak nya.


Sesampai nya di depan kamar Sasya, gadis itu terkejut ketika melihat Zulfa yang seperti mendengarkan sesuatu.


"Bunda ngapain disini?" Bisik Maysa yang sudah ada di belakang Zulfa.


"Astagfirullah May! bikin bunda kaget aja!" Bisik Zulfa dengan suara yang sangat lirih.


Mereka berdua pun menempelkan telinga mereka di pintu kamar Sasya.


Didalam Kamar Sasya


"Nah ketemu, Tapi kok, susah..." Ucap Sasya yang berusaha memindahkan nya dari sana.


"Sayang jangan ditarik, ini aset berharga" Bisik Rahmat dengan menahan rasa sakit dan nikmat yang bercampur menjadi satu.


"Aset berharga? sepenting itukah botol parfum ini?" Tanya Sasya dengan polos nya.


"Botol?" Ulang Rahmat bingung.


"Iya, ini botol parfum kan?" Sasya bertanya sambil membalikan tubuh nya menghadap kearah Rahmat, dan ia sangat terkejut ternyata yang ia cengkeram sedari tadi adalah benda pusaka yang ada dibalik celana suami nya.


Di balik pintu kamar Sasya tepat nya diluar kamar Sasya Zulfa dan juga Maysa menahan tawa karena mendengar kata botol parfum yang terdengar dari dalam kamar.


"Kamu dengar? botol parfum? aset berharga?" Ucap Zulfa yang langsung menarik tangan Maysa menjauh dari depan kamar Sasya, mereka berdua berjalan menuju dapur, di sana mereka berdua tertawa.


"Bun? emang nya yang lucu apa nya sih?" Tanya Maysa yang sama sekali tidak mengerti walau pun ia sudah tertawa.


"Jadi? kau tidak paham apa yang sedang bunda tertawa kan?" Maysa hanya mengangguk dengan ekspresi wajah yang kikuk.


"Jadi kamu tadi tertawa karena apa?" Tanya Zulfa.


"Ya karena mereka seperti berebut botol parfum, terus kak Rahmat bilang itu botol parfum nya aset berharga, jadi May pikir kak Rahmat menganggap botol parfum itu sebuah aset yang berharga kan lucu bun, botol parfum loh, sedangkan kak Rahmat itu cowok, jebolan pesantren, bisa suka sama botol parfum, lucu kan?" Maysa menjelaskan menurut ke pemahaman nya, sedangkan Zulfa yang mendengarkan penjelasan dari putri bungsu nya pun menepuk kening nya dan berjalan ke arah kamar nya.


"Loh bunda mau kemana?" Teriak Maysa.


"Mau nengokin botol parfum bunda di kamar!" Jawab Zulfa yang langsung menghilang di balik pintu kamar nya.


"Loh? bunda juga menganggap botol parfum itu aset berharga?" Maysa bergumam, kemudian ia meneguk minuman yang sedari tadi di pegang nya, gadis itu kemudian kembali kedalam kamar nya.


Di dalam kamar Sasya...


Dengan mulut yang menganga Sasya melihat kearah tangan nya tanpa mengalihkan tangan nya dari sana.


"Gimana? sudah lihat botol parfum nya?...

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2