
"Perut mu tidak sakit nak?" Tanya Zulfa ketika mengelus-elus perut Maysa yang sudah mulai terlihat.
"Tadi sedikit keram Ummi, tapi sekarang setelah ada nya tangan Ummi, semua baik- baik saja" Ucap Maysa dengan senyuman yang mengembang.
Fasha yang mendengar kalau Maysa berkunjung ke pondok pun segera bergegas untuk menemui nya, ditengah perjalanan Fasha bertemu dengan Tania dan juga Rahma yang sedang berbincang sambil berjalan.
"Loh Fa? mau kemana? kok terburu-buru?" Tanya Rahma.
"Maysa berkunjung, aku mau bertemu dengan nya, jarang-jarang dia main kesini" Ucap Fasha dengan wajah sumringah nya.
"Apa May berkunjung?" Teriak Rahma tak kalah heboh nya sampai Zainal, Zainudin, dan juga Wahyu yang baru saja pulang dari kerja mendengar nya.
Ketiga santriwan itu berjalan setengah berlari untuk mendekati Fasha, Tania dan juga Rahma.
"Kamu tadi bilang May main ke sini?" Tanya Wahyu dengan wajah antusias nya.
"Hah? i.. i.. iya, ih kalian apa an sih? kok ikutan heboh, kaya yang datang artis saja" Cetus Rahma dengan candaan nya.
Fasha hanya tersenyum sedangkan yang lain tertawa lepas, "Ya iya lah kita heboh, kalian tau nggak kalau Maysa itu idola kita, dia adalah pembalap handal, si BLACK ANGEL yang nama nya melambung di kalangan balap motor" Jelas Zainudin bangga.
"WHAT? MAYSA PEMBALAP?" Teriak Tania dan Rahma bersamaan setelah mendengar penuturan dari Zainudin.
"Wah nggak bener nih, perlu kita interogasi tu anak" Sedikit geram Rahma pada Maysa karena ia merasa sudah menjadi teman dekat nya dan selalu ada di pihak nya, namu apa ini? kenapa Maysa masih menyembunyikan identitas nya, dia punya rahasia dan teman dekat nya tidak tahu, sungguh tidak adil menurut Rahma.
Fasha tersenyum melihat kehebohan mereka berlima, "Sebenar nya dia itu nggak mau siapa pun tau identitas asli nya, sungguh dia seperti berkepribadian ganda" Fasha menjelaskan dengan cekikikan.
Sedangkan kelima santri yang lain melongo, mereka heran melihat Fasha yang ternyata biasa saja mendengar identitas asli Maysa yang seorang pembalap.
Bagaimana tidak heran, Fasha sangat dekat dengan Maysa sewaktu Maysa masih nyantri di pondok pesantren Darussalam itu dan juga Fasha terkenal sangat kalem, anggun, juga sopan, dan tidak pandai berbohong, tapi ternyata dia malah berhasil menyembunyikan fakta asli yang sungguh menghebohkan itu
Mereka berenam kini sudah sampai di depan ruangan Abah, "Assalamu'allaikum" Ucap mereka serempak, sampai Rayyan yang tengah berbincang bersama Abah dan juga Haidar pun menoleh di buat nya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" Sahut mereka yang duduk di dalam ruangan itu.
"Ada apa ini? kenapa kalian beramai-ramai datang kemari?" Tanya Haidar.
"Kita merindukan Maysa, Ustadz" Cetus Rahma dengan senyum pepsodent nya.
"Masuk lah" Ucap Abah, Rayyan mengerutkan kening nya ketika ketiga santriwan itu juga ikut melangkahkan kaki nya memasuki ruangan Abah.
"Lho? kalian juga merindukan Maysa?" Tanya Rayyan dengan raut wajah tidak enak dipandang.
"Hehe... bukan begitu ustadz, kami hanya mau melihat idola kami dari dekat" Jelas Wahyu.
"Idola? lancang sekali kau mengidolakan istri orang?" Ucap Haidar tak terima.
"Sudahlah biarkan saja mereka menemui nya" Ucap Rayyan yang mengingat kalau ketiga santriwan itu pecinta balapan.
"Kau mengijinkan nya?!" Ucap Haidar masih dengan nada tak terima.
"Maaf ustadz, kami mengidolakan Maysa sebagai BLACK ANGEL bukan yang aneh-aneh" Ucap Zainudin menjelaskan.
"Benar begitu Zai?" Haidar menanyakan kebenaran ini kepada Zainal yang di anggap nya sedikit normal tidak sableng seperti kedua teman nya itu.
__ADS_1
"Benar Ustadz, jadi sejal Maysa membongkar identitas nya kami sebagai fans fanatik belum pernah menanyakan nya langsung" Jelas Zainal.
"Kenapa dulu pas main ke rumah tidak kau tanya kan sekalian?" Tanya Rayyan dengan menaikkan satu alis nya.
"Karena waktu itu kita belum yakin betul ustadz" Sahut Wahyu dan di angguki oleh kedua teman lain nya.
"Baiklah silahkan masuk, May sedang di teras belakang bersama Ummi" Ucap Rayyan mempersilahkan mereka berenam untuk masuk.
Sungguh senang hati mereka bisa bertemu Maysa, Rayyan pun sampai menggeleng-gelengkan kepala nya melihat ke antusiasan mereka berenam.
Sesampai nya mereka berenam di teras belakang, "Assalamu'allaikum" Ucap nya serempak, Maysa dan Ummi yang tengah bersantai pun sontak menoleh kan kepala nya kearah belakang sambil menjawab salam, "Waalaikumussalam"
"Loh kalian?" Maysa segera berdiri dan dipeluk nya ketiga santriwati yang tiba-tiba muncul di belakang nya itu.
"Ya ampun aku kangen banget sama kalian" Ucap Maysa setelah melepaskan pelukan nya.
"Sama kita juga" Ucap ketiga santriwati itu, mereka pun segera mencari tempat duduk yang nyaman.
Maysa berjalan tanpa meninggalkan mangkuk yang sedari tadi di pegang nya, mungkin mangkuk itu sudah nyaman berada di pelukan Maysa.
"May? kau membawa apa?" Tanya Fasha yang melihat mangkuk di tangan Maysa.
"Oh ini rujak serut, tadi mas Rayyan yang beli kan" Ucap Maysa membanggakan suami nya.
"Waaaahh emang ya kalau lagi hamil itu apa pun dituruti" Fasha berkata sambil menoel pipi Maysa yang sedikit kurus itu.
"May? kau sehat kan?" Tanya Fasha yang masih menaruh curiga Maysa.
"Aku baik alhamdulillah" Dengan senyum yang di pancarkan dari wajah nya Maysa meyakinkan Fasha kalau diri nya memang sehat benar-benar sehat.
"Hem? apa?" Tanya Maysa dengan tangan yang sesekali menyuapkan rujak ke dalam mulut nya.
"Apa benar kamu ini Black Angel si pembalap yang melegenda?" Tanya Rahma.
"Iya kenapa?* Jawab Maysa enteng.
" Kenapa kau sembunyikan identitas mu dari kita?" Tanya Tania.
"Hehe jangan kan dari kalian yang hanya teman, dari orang tua ku yang sudah membesarkan ku membiayai ku saja ku sembunyi kan" Jelas Maysa yang langsung di sambung dengan gelak tawa mereka semua.
"May kamu yakin nggak papa? wajah kamu pucat banget itu loh" Ucap Fasha mulai khawatir.
Sejenak Maysa menghela nafas dan tiba-tiba perut nya merasa keram dan panas, "Aduh aduh, perut ku keram deh kaya nya" Ucap Maysa dengan meringis kesakitan.
"Eh panggil ustadz Rayyan!" Rahma menyuruh Wahyu dan kedua teman nya, dan tanpa bertanya apa-apa lagi Wahyu langsung berlari masuk kedalam ruangan dimana Rayyan berada.
"Maaf mengganggu" Ucap Wahyu dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa Yu?" Tanya Haidar.
"Maysa, Maysa itu perut nya itu" Wahyu tergagap, tanpa menunggu Wahyu menyelesaikan kata-kata nya Rayyan pun langsung beranjak dari duduk nya dan bergegas menuju teras belakang.
"May!" Lirih Rayyan ketika mendapati istri nya meringkuk dengan memegangi perut nya, Rayyan segeran menopang tubuh Maysa dan menggendong nya.
__ADS_1
"May, sadar sayang! istighfar sayang, jangan membuat mas takut!" Rayyan tak henti-henti nya berbicara, namun Maysa mulai kehilangan kesadaran nya.
"Sakit mas" Lirih Maysa, setelah nya ia terkulai lemas di gendongan Rayyan.
"Ada apa ini kenapa Maysa?" Ummi mendadak panik melihat Maysa tak sadarkan diri.
"Tadi dia bilang perut nya sakit, keram kayak nya" Ucap Fasha menjelaskan.
Baru saja Rayyan akan membaringkan Maysa di sofa tiba-tiba Ummi melarang nya.
"Jangan! jangan disini! kita bawa ke klinik saja, Ummi takut terjadi sesuatu apa lagi tadi dia jatuh kan" Ucap Ummi, Rayyan pun mengangguk dan segera mengangkat Maysa dan di bawa nya tubuh Maysa ke dalam mobil.
"Ustadz Haidar tolong bawa mobil nya!" Ucap Ummi.
"Maaf Ummi, ini ada jadwal kajian saya, bagaimana?" Ucap Haidar bingung, Ummi pun menepuk kening nya dengan menghela nafas.
"Saya bisa bawa mobil Ummi" Wahyu menawarkan diri nya untuk membantu.
"Ya sudah ayo!" Ummi segera masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama Maysa dan Rayyan, sedangkan Wahyu di kursi depan dan di sampingnya ada Fasha.
Wahyu segera men starter mobil nya dan perlahan melaju melewati jalan Rayyan untuk menuju klinik.
Sesampai nya di klinik, Rayyan menggendong Maysa dan berjalan masuk kedalam klinik, Andre yang melihat nya pun segera mendekat.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Maysa?" Cecar Andre yang mendapati Maysa tak sadarkan diri.
"Tadi perut nya keram" Ucap Rayyan lirih. Andre pun mengajak mereka ke ruang pemeriksaan.
Karena Zulfa sedang menangani pasien melahirkan di ruang bersalin, jadi Andre lah yang menangani Maysa.
Semua keluarga termasuk Rayyan menunggu dengan cemas di luar ruang pemeriksaan.
"Sebenar nya apa yang terjadi tadi?" Tanya Ummi kepada Fasha karena terakhir sebelum Ummi masuk kedalam ruangan Maysa berama Fasha dan yang lain.
"Tidak, kami hanya mengobrol dan bercanda namun tiba-tiba wajah Maysa berubah pucat dan memegangi perut nya" Jelas Fasha yang masih memegangi mangkuk rujak yang di bawa nya setelah Maysa di gendong Rayyan dari teras belakang tadi.
Tak lama kemudian Andre pun keluar dari dalam ruangan dan mendekati Rayyan.
"Kau beri makan apa dia sampai seperti itu?" Bisik Andre dengan mengeraskan rahang nya.
"Maaf dok tadi Maysa hanya makan rujak di mangkuk ini" Ucap Fasha yang kebetulan berdiri di samping Rayyan, sekilas Andre melirik kearah mangkuk.
"BUGH!" Satu pukulan melayang kearah wajah Rayyan.
"Aaaaaaaa!!!" Teriak para perempuan yang menyaksikan nya. Wahyu pun segera melerai nya dan memegangi bahu Andre yang seperti nya akan menghajar Rayyan.
"Apa masalah dokter!" Teriak Wahyu yang tidak terima ustadz nya di pukul.
Rayyan masih terdiam dengan memegangi pipi kiri nya.
"Kau sudah menghamili gadis kecil itu dan sekarang kau buat dia tak berdaya di sana! Suami macam apa kau ini!" Masih dengan emosi yang meledak-ledak Andre berkata dengan tangan yang menunjuk-nunjuk ke wajah Rayyan.
"Jika kau masih belum bisa menjaga berlian yang rapuh itu, lepaskan biarkan aku yang menjaga nya, aku tidak akan membiarkan nya tergores barang sedikit pun" Bisik Andre dengan mencengkeram kerah baju Rayyan.
__ADS_1
"BUGH!!...
Bersambung...