
Siang hari di kantin sekolah Maysa bersin berkali-kali, Nando yang duduk di sebelah nya pun bertanya "lo sakit May?" tanya Nando dengan tangan yang sibuk mengaduk bakso yang sudah dibumbui nya dengan sambal dan saus,
"em? enggak kok, gua sehat" ucap Maysa yang kemudian langsung menyedot es teh di hadapan nya.
"Tapi itu lo barusan bersin-bersin" selidik Nando yang khawatir jika sahabat nya iti sampai sakit, Maysa hanya menggeleng kan kepala nya kemudian gadis itu langsung melahap semangkuk bakso yang ada di hadapan nya.
Sedangkan di dapur pondok, Fasha tengah asyik menceritakan bagaimana sifat Maysa selama ia masuk pondok, kepada Rayyan.
"Dia itu asli nya mah gadis baik kak, dia itu polos, cuma teman-teman nya aja yang berandalan, kalau ditanya dia suka apa? dia bakal jawab cuan hahaha... gokil tau kak dia, tapi gitu-gitu dia juga bisa cari duit dengan cara yang halal, seperti hal nya mengikuti perlombaan gitu" ujar Fasha panjang kali lebar.
"oh jadi baru beberapa minggu ini dia juga sudah berhasil merubah adik kakak ini jadi orang yang cerewet ya" ucap Rayyan yang sebenar nya lebih suka adik nya yang mau bercerita ini,
"oh maaf kak, Fasha sudah terlalu banyak ngomong ya?" dengan menunduk kan wajah nya Fasha menahan rasa malu karena tanpa sengaja ia bercerita banyak sekali tentang teman satu kamar nya itu.
"Tidak, kakak suka kamu yang lebih berekspresi seperti ini dari pada yang pendiam, tapi harus tetap jaga sikap ya" Rayyan menasehati adik perempuan nya itu kemudian lanjut menyeruput teh hangat yang ada di hadapan nya,
"oh iya kak, kakak yakin nggak ada rasa sama Maysa?" pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulut Fasha sungguh berhasil membuat ustad tampan itu tersedak sampai terbatuk-batuk "uhuk, uhuk, uhuk... "
"kakak kenapa? hati-hati kak, minum lagi minum lagi" ucap Fasha dengan menepuk-nepuk punggung Rayyan.
Rayyan meminum kembali teh nya yang barusan membuat nya tersedak, "Fa, kalau ngomong di saring dulu dan lihat situasi, bisa jadi gosip dan fitnah kalau sampai ada yang salah paham, kasihan teman mu itu kalau sampai jadi bahan gibah" ujar Rayyan mengingatkan Fasha agar berhati-hati saat berbicara,
"ooo... jadi kalau di ruangan kakak boleh dong bahas itu lagi?" dengan suara yang pelan dan mengerlingkan mata Fasha menggoda kakak nya.
"Haish... anak ini" ucap Rayyan dengan menggeleng-gelengkan kepala nya. Mereka pun melanjutkan makan siang nya.
Haidar yang sendirian di dalam ruangan Rayyan tiba-tiba saja kedatangan Abah "Assalamu'allaikum" Abah mengucap kan salam tepat di depan pintu ruangan Rayyan yang terbuka lebar, saat mendengar suara Abah, Haidar pun menghentikan pekerjaan nya, "waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" sahut Haidar yang langsung berdiri dan berjalan mendekati Abah kemudian meraih tangan Abah dan mencium nya.
"Loh ustad Haidar? ustad Rayyan dimana?" tanya Abah ketika beliau hanya melihat Haidar sendirian di dalam ruangan itu,
"mari Abah masuk dulu, ustad Rayyan nya sedang makan siang sama dek Fasha" ujar Haidar seraya menuntun Abah supaya masuk kedalam ruangan dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Selang beberapa menit pun Rayyan masuk kedalam ruangan itu bersama Fasha, kedua kakak beradik itu pun mengucap salam sebelum masuk kedalam ruangan.
Dan betapa terkejut nya Rayyan dan Maysa ketika mendengar jawaban salam yang bukan hanya suara Haidar sendiri "Abah?" tanya Rayyan dengan sangat terkejut.
"Iya ini Abah? kenapa melihat Abah seperti melihat hantu? apakah wajah Abah semenakutkan itu?" ucap Abah yang melihat putra dan putri nya terkejut melihat diri nya berada di dalam ruangan itu.
"maaf Abah, bukan begitu maksud Rayyan" ucap Rayyan seraya meraih tangan Abah dan mencium nya, begitu pun dengan Fasha, gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh kakak nya.
"Bagaimana? beberapa hari ini aku sudah tidak membahas tentang umur mu yang sudah memasuki waktu menikah, dan hari ini abah mau tanya, apakah sudah mendapatkan calon?" tanya Abah yang terdengar lebih ke memaksa.
"Maaf Abah, Rayyan sedang tidak ingin membahas itu" ucap Rayyan dengan pelan dan sopan,
"tapi nak, Abah sudah semakin tua, jika terus menerus kau tunda... " Abah berdiam diri sejenak, beliau menghela nafas panjang,
"Abah sudah tua nak, Abah takut jika tidak bisa menggendong cucu" ucap Abah dengan nada yang semakin pelan,
"Abah, Abah tidak boleh seperti itu, bagaimana dengan Fasha? Apakah Abah tidak mau lebih bersemangat untuk menimang cucu dari Fasha juga?" ucap Fasha yang duduk di samping Abah, gadis itu sungguh menitik kan air mata.
"Maaf Abah, Rayyan sedang ada urusan, Rayyan pamit undur diri dulu" ucap Rayyan dengan meraih tangan Abah dan menciun nya kemudian ustad tampan itu mengucap salam setelah itu ia berjalan meninggalkan ruangan nya,
"kalian lihat? putra ku selalu saja seperti itu, apa kah harus ku cari kan jodoh?" tanya Abah yang langsung mendapatkan penolakan dari Fasha,
"Tidak Abah! Jangan!" dengan sedikit berteriak Fasha berkata kepada Abah, dan itu menimbulkan rasa curiga di dalam hati Abah,
"kenapa nak? Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Abah berusaha membujuk putri nya,
"em... itu kakak, masih sedang berusaha, beri dia kesempatan" Fasha yang asli nya tidak dapat berbohong pun akhir nya sedikit membuat hati Abah lega,
"jadi calon mantu ku sudah ada tanda-tanda kemunculan nya?" tanya Abah dengan nada yang sumringah,
"kau tahu siapa dia nak?" sambung Abah memancing agar Fasha mau mengatakan segala yang ia tau,
__ADS_1
"tidak, Fasha tidak tau, hanya akhir-akhir ini kak Rayyan sifat nya rada berubah, seperti ada yang menyita perhatian nya" jelas Fasha, gadis itu pun tidak berani mengatakan siapa nama gadis yang tengah mengusik pikiran kakak nya karena gadis yang Fasha maksud masih belum jelas kepastian nya di hati Rayyan, Fasha masih teringat percakapan nya dengan kakak nya di dapur barusan sebelum ia kembali ke ruangan kakak nya dan bertemu Abah, "iya kak Rayyan masih belum memberi kepastian, apakah benar-benar Maysa yang telah berhasil melelehkan si abang es batu ku ini atau bukan, aku tidak boleh salah ngomong di depan Abah" batin Fasha yang tengah memilah-milah percakapan nya bersama Abah,
"apakah seorang ustadzah pondok sini nak? atau santriwati?" tanya Abah yang masih berusaha memancing kebenaran yang membuat nya penasaran,
"tidak Abah, Fasha masih belum tau pasti, maaf" gadis itu menunduk, Haidar yang melihat Fasha pun membantu nya dengan memberi alasan supaya Abah menyudahi pembahasan jodoh ini, karena yang di bahas sudah pergi meninggalkan ruangan itu,
"oh iya dek Fa hari ini ada jadwal bersih-bersih masjid ya? sama teman-teman?" ucap Haidar yang membuat Fasha mengingat kalau hari itu jadwal nya bersama Maysa membersihkan masjid,
"Astagfirullah, iya aku hampir lupa, Abah Fasha pamit undur diri dulu ya" ucap Fasha berpamitan, tak lupa ia mengucap salam serta meraih tangan Abah dan mencium nya.
Abah menghela nafas sejenak, setelah itu kembali ke kamar dengan di antarkan oleh Haidar.
Fasha yang terburu-buru berjalan menuju masjid tiba-tiba menghentikan langkah kaki nya karena ia melihat dua orang yang terlibat perdebatan, sayup-sayup ia dengar suara nya dari kejauhan,
"bukan seperti itu pak ustad!" suara Maysa menegaskan, gadis itu masih terlihat mengenakan seragam sekolah nya,
"kamu itu disini termasuk tanggung jawab saya! jadi jangan seenak nya keluar masuk bersama laki-laki!" ucap Rayyan dengan sedikit emosi, dan tangan nya menunjuk kearah Nando yang masih berdiri di samping Maysa, Nando berusaha menjelaskan tapi tidak sedikit pun ia mempunyai kesempatan,
"dia ini cuma teman saya pak! dan sudah lama kita bersahabat, bahkan sebelum saya bertemu pak ustad" geram Maysa karena Rayyan tidak mau mengerti penjelasan nya,
"sahabat-sahabat! mana ada laki-laki dan perempuan bersahabat tanpa ada rasa sedikit pun? saya hanya tidak mau jika santriwati yang ada di bawah naungan pondok ini terkena fitnah!" ucap Rayyan menegaskan
"fitnah? pak! saya tidak serendah itu ya!" ucap Maysa mulai naik pitam dan itu disadari oleh Nando,
"tunggu-tunggu, saya bisa jelaskan... " ucap Nando yang langsung mendapat bentakan dari kedua nya.
"DIAM!" teriak Maysa bersamaan dengan Rayyan, Nando pun langsung terdiam seribu bahasa...
bersambung...
Ayo-ayo reader ku jangan lupa like, komentar, dan dukungan nya bunga mawar minimal ya🤣🤣🤣 biar author semangat nulis nya, mampir tanpa like itu bagaikan sayur asam tanpa garam ygy...
__ADS_1