
"Tadi ada Nur sama Rahma yang daftar" Jawab Haidar, Maysa yang tidak sengaja mendengar nya pun langsung menatap sinis kearah Rayyan.
"Kata nya nggak ada cewek? kok itu ada?" Bisik Maysa dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
"Aki juga nggak tau yang" Ucap Rayyan dengan mengelus kepala istri nya.
"Kamu cemburu?" Tanya Rayyan dengan mencubit hidung Maysa, sedangkan Maysa hanya mencebikkan bibir nya.
"Kamu percayakan sama aku?" Sambung Rayyan, dan Maysa hanya menganggukkan kepala nya. Setelah itu Rayyan mencium kening Maysa dan masuk kedalam mobil.
Setelah melepas kepergian Rayyan dengan team nya Maysa pun segera bersiap-siap berangkat ke sekolah. Ia berangkat sendiri dengan hati yang grundel, dan setiba nya di sekolah ia lumayan dibuat lupa oleh beberapa kuis dadakan.
Waktu istirahat...
Maysa dengan wajah kusut nya tengah menikmati bakso yang ada di kantin, Nando dari kejauhan bersama Iko si ketua OSIS berjalan mendekati Maysa yang saat itu lumayan bad mood.
"Hai May?" Sapa Iko yang memang ramah kepada semua orang.
Mendengar ada yang menyapa nya Maysa pun langsung mendongak kan kepala nya melihat siapakah pemilik suara barusan.
"Eh elo Ko, ada apa?" Sahut Maysa dengan seulas senyum.
"Sendirian aja? boleh duduk nggak nih?" Sengaja Iko berbasa-basi sebelum duduk, sedangkan Nando sudah lebih dulu meletakkan bokong nya di salah satu kursi di samping Maysa.
"Ya elah duduk ya duduk aja, nggak usah caper deh, dia udah ada pawang nya" Cetus Nando sambil menyeruput es teh yang ada di hadapan Maysa.
"Duduk Ko duduk, Nando mah jangan di dengerin, dia salah oli kali hehehe... " Sengaja Maysa melontarkan candaan namun malah terkesan garing.
"Lo kenapa May?" Tanya Nando yang sudah paham betul kondisi dan situasi hati sahabat nya itu.
"Hemmm LDR!" Ucap Maysa cuek.
"Ekhem... jadi gini May, lo tau kan kalau desa tetangga sedang ada bencana" Ucap Iko
"Hem ya, terus? sumbangan?" Ketus Maysa yang memang saat itu mood nya sedang tidak baik-baik saja.
"Lo kan sering tu ikut jadi relawan di tahun-tahun sebelum nya, gimana kalau tahun ini kamu juga ikut?" Iko menawarkan dengan sangat hati-hati ia kenal betul Maysa kalau sedang dalam mood yang buruk bisa aja mode senggol bacok langsung on, secara mereka sudah satu sekolah sedari SMP.
"Gue? kok gue? males ah!" Tolak Maysa.
"Yaaaaahhhh kok gitu May? lo gak kasihan sama para korban bencana nya? itu anak-anak baru pada lemot gak sat set das des gitu!" Ujar Iko memberikan alasan.
"Em emang nya... penting banget gue ikut? kalian gabung aja sama anak PMR kan mereka udah biasa tu nanganin orang sakit" Maysa masih berusaha menolak.
"Anak PMR ada sebagian ikut sebagian lagi pada nggak bisa" Ucap Iko.
"Lah mereka nggak bisa aja lo bisa maklum, kok buat gue nggak?" Tanya Maysa.
"Ayo lah May, gue juga ikut kok" Nando berusaha membujuk Maysa yang keras kepala itu.
__ADS_1
"Lah lo mau ikut ya ikut aja, gue mah males" Ucap Maysa memutar bola mata nya.
"Ish May mah gitu" Iko sudah pasrah entah senior yang sudah berpengalaman mana lagi yang akan di mintai tolong oleh nya.
"Tunggu! kalau gue ikut mereka kan gue jadi nggak kepikiran sama mas Rayyan terus" Batin Maysa sambil memakan sisa bakso yang ada di hadapan nya.
"Ok gue ikut" Ucap Maysa yang langsung membuat Iko yang duduk di samping nya menghambur ke pelukan Maysa.
"Makasih May makasih, makasih" Dengan memeluk Maysa sangat erat Iko mengungkapkan rasa terima kasih nya.
"WOI!!! Apa an coba peluk-peluk!" Nando langsung menarik tubuh Iko sampai Iko melepaskan pelukan nya.
Maysa menghela nafas karena sedikit terkejut gegara Iko yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Hehehe... Maaf gue kebawa suasana doang sih" Ucap Iko sedikit kikuk, karena ia melihat ekspresi Maysa yang datar.
"Ekhem... jadi nanti ba'da isya kita ngumpul di sekolah dan berangkat bareng-bareng ya soal nya kita naik bis dari sekolah" Ucap Iko, Maysa hanya mengangguk kan kepala nya tanda ia paham.
Iko dengan sabar memberitahukan kepada Maysa tentang barang apa saja yang perlu ia bawa.
Selepas sholat isya Maysa menemui Abah ke dalam ruangan nya untuk meminta ijin juga berpamitan jika ia akan keluar kota untuk memberikan bantuan bersama teman-teman sekolah nya.
"Abah May mau berangkat ke kota... kota mana ya Bah May lupa, tapi yang jelas May sama teman-teman kok, Insya'Allah aman" Ucap Maysa santai namun masih menjunjung tinggi norma-norma kesopanan.
"Ada perlu apa nak?" Tanya Abah.
"Memberikan bantuan kepada pada korban bencana" Sahut Maysa, Abah pun terlihat tersenyum dan mengiyakan nya.
"Abah Maysa pamit dulu ya? Assalamu'allaikun" Ucap Maysa setelag memberikan penjelaskan kepada Abah.
"Waalaikumusslaam, hati-hati ya nak ingat kamu harus bisa jaga diri" Ucap Abah mengijinkan.
Rayyan dan team dari pondok sampai di lokasi sekitar sore hari, mereka beristirahat sejenak dan membersihkan diri masing-masing juga mereka membangun tenda untuk tempat istirahat.
Setelah semua nya selesai mereka pun membawa makanan untuk dibagikan kepada para korban bencana.
Rayyan terlihat tengah membagikan makanan kepada para korban bencana, Nur yang melihat Rayyan langsung berjalan mendekati nya.
"Saya bantu ustadz?" Ucap Nur menawarkan diri.
"Ya silahkan" Dengan nada yang dingin dan tanpa melihat kearah Nur, Rayyan mempersilahkan gadis itu untuk membantu nya.
"Terima kasih ya nak semoga berkah" Ucap seorang ibu yang menerima bantuan dari Rayyan sambil menggendong anak nya yang masih balita.
"Mbak nya cantik, mas nya ganteng kalian ini pasangan ya?" Tanya ibu itu, yang membuat Nur tersenyum dan tersipu malu.
"Maaf bu, bukan, saya sudah punya istri dan istri saya di rumah" Jawab Rayyan tanpa mengurangi kesopanan nya.
"Ekhem... tapikan laki-laki itu jatah nya empat" Dengan sengaja Nur berkata.
__ADS_1
"Maaf Nur maksud kamu apa?" Tukas Rayyan.
"Maaf bu, mas nya ini memang suka malu-malu" Ucap Nur dengan tersenyum ke ibu-ibu yang ada di hadapan mereka.
Rayyan terlihat tengah menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara kasar.
"Nggak habis pikir Nur saya dengan apa yang kamu katakan barusan" Setelah berkata seperti itu Rayyan langsung berjalan meninggalkan Nur.
Karena antrian warga yang menerima bantuan makanan sudah habis, Nur pun mengejar Rayyan.
"Ustadz tunggu!" Masih dengan berlari Nur mengejar Rayyan yang kian menjauh dari nya.
Rahma yang melihat itu pun segera menghadang nya. "Mau apa kau mengejar ustadz Rayyan?" Tanya Rahma yang menghadang Nur.
Nur dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya sendiri "Aduh! Rahma kamu kok kasar banget sih?" Teriak Nur sengaja, Rahma masih belum paham dengan apa yang dilihat nya, Fasha dan Zainal yang kebetulan berdiri tak jauh dari mereka berdua langsung mendekati nya dan membantu Nur untuk berdiri.
"Kamu nggak apa Nur?" Tanya Zainal, Fasha yang membantu Nur berdiri pun menanyakan hal yang sama "Kamu nggak papa Nur? kok bisa jatuh? Loh Rahma kamu disini kok diem aja nggak bantuin Nur?" Fasha bertanya kepada kedua gadis itu.
"Rahma mendorong ku sehingga aku terjatuh, entah salah apa aku sama dia" Ucap Nur memelas.
"Rahma kamu kok jadi kasar gini sih?" Dengan nada yang ketus Zainal menegur Rahma.
"Tadi aku hanya bertanya pada nya kenapa dia mengejar ustadz Rayyan? nggak lebih, menyentuh nya saja tidak!" Rahma menjelaskan kejadian barusan.
"Aku hanya mau membantu ustadz Rayyan, tapi kenapa kamu mendorong ku?" Nur masih berusaha memojokkan Rahma.
"Tidak aku tidak sedikit pun menyentuh mu Nur!" Hardik Rahma dengan emosi yang mulai meluap.
"Bohong dia bohong!" Gertak Nur, Rahma hanya menggeleng-gelengkan kepala nya dan langsung berjalan meninggalkan Nur.
"Fa? kamu percayakan sama aku?" Ucap Nur.
"Entahlah... " Fasha juga segera menyusul Rahma yang berjalan menuju tenda.
Setelah maslah itu terjadi Rahma dan Nur selalu di awasi oleh sesama team nya.
Pagi hari team dari pondok melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid terdekat. Setelah selesai sholat mereka berkumpul di teras masjid.
"Rencana selanjut nya apa?" Tanya Rayyan yang sebenar nya sangat ingin segera pulang ia sangat merindukan istri tercinta nya itu.
"Kita membantu mereka menemukan keluarga mereka yang terpisah, namun kita tidak sendiri, akan ada team gabungan yang datang dari anak SMA" Ujar Haidar.
"Heh bocil mana paham!" Ucap Zainudin
"Jangan salah Din, mereka sering turun tangan setiap ada bencana, mereka siswa siswi pilihan" Ujar Haidar.
"Yaaaaahhh ketambahan personil cewek lagi, hadeh yang semalem aja pada berantem, bukan nya fokus kerjaan malah berantem dan ini mau ditambah cewek bocil lagi hadeh... " Timpal Zainal yang mengingat pertengkaran antara Rahma dan Nur kemarin sore.
TIN TIN TIN
__ADS_1
bersambung...