
Karena melihat Nando yang tidak tau apa-apa dan menjadi korban perdebatan antara Maysa dengan Rayyan, Fasha pun mempercepat langkah nya mendekati mereka bertiga,
"kalian ini apa an sih? udah gede juga, masih debat kaya anak kecil" Fasha menegur dua insan yang tengah berdiam-diaman setelah perdebatan yang memanas barusan,
"ini juga! sudah bergelar pak ustadz, ngapain debat sama santriwati? ditempat umum lagi!" oceh Fasha dengan menunjuk kearah Rayyan dan itu membuat Rayyan melotot,
"teman kamu itu coba kalau dibilangin, dikasih tau, jangan nyolot terus, nurut sedikit kenapa sih? apa susah nya nurut?" jelas Rayyan yang tidak mau disalah kan, mendengar alasan Rayyan pun Maysa tidak terima,
"pak ustadz juga hati-hati dong kalau ngomong, negur! atau apa lah, bahasa nya itu yang enak di dengar!" balas Maysa tak kalah tinggi nada nya dari Rayyan,
"oh jadi menurut kamu perkataan saya tidak enak didengar?" ucapan Rayyan mulai pelan dan itu pun dengan nada yang berbeda, bukan nada amarah lagi yang Rayyan guna kan, namun itulah yang membuat Maysa jadi tidak enak hati,
"bu... bu... bukan begitu pak ustadz, maksud saya... " belum selesai Maysa menjelaskan, Rayyan sudah lebih dulu mendahului nya,
"cukup! saya lelah, dan jangan lupa besok yang juz 30 laporan ke saya tepat sehabis sholat subuh" ucap Rayyan yang langsung pergi meninggalkan Maysa, Fasha, dan juga Nando,
"sabar ya May, kakak emang gitu orang nya" ucap Fasha dengan mengelus punggung Maysa yang nafas nya masih naik turun.
"ooo jadi gadis ini selain teman nya Maysa juga adik dari ustadz tadi" batin Nando dengan sedikit mencuri-curi pandang kearah Fasha.
"Hayo! ada yang lagi curi-curi pandang nih" goda Maysa sambil menyenggol lengan Nando dengan Siku nya, dan itu berhasil membuat wajah Nando memerah karena malu, dan bukan hanya itu, Maysa yang tadi mood nya jelek pun berubah jadi ketawa ketiwi, tetapi berbeda dengan Fasha, kali ini adik pak ustadz itu tidak memahami kemana arah pembicaraan Maysa,
"apaan sih May! dah lah gua mau pulang!" ucap Nando yang langsung pamit dan di sambut senyuman manis dari Fasha yang membuat Nando berjalan sambil terus melihat kearah Fasha "awas mas itu gerbang!" ucap Fasha mengingatkan Nando, tapi karena terlambat "DUBRAK!" kepala Nando membentur gerbang, ia meringis kesakitan dengan tangan nya mengelus kepala nya yang memerah, sedangkan Maysa dan Fasha malah cekikikan.
Rayyan yang sudah kembali ke pondok pesantren langsung masuk kedalam ruangan nya, ustadz tampan itu duduk di sofa dengan kepala yang menengadah ke langit-langit ruangan itu sembari memejamkan mata nya,
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim" gumam nya seraya menghela nafas.
"duh kok malah kepikiran Maysa terus sih, benar kata Fasha, kenapa aku lebih menanggapi nya dari pada santriwati yang lain, perasaan apa ini?" ucap nya yang tanpa ia sadari didengar oleh Haidar yang sedari tadi berdiri di ambang pintu ruangan Rayyan.
"itu cinta pak ustadz, cinta itu datang secara tiba-tiba tanpa kita pinta" ucap Haidar dengan melangkahkan kaki nya mendekati soib nya yang sedang duduk di sofa,
"cinta? masa iya cinta rasa nya seperti ini? ustadz pernah merasakan nya?" Rayyan tak lagi menutup-nutupi perasaan yang saat ini mengganggu kondisi hati dan pikiran nya.
"Pernah tapi sudah lama sekali, sejak saat itu saya lebih memilih mendekatkan diri kepada Allah" ucap Haidar dengan pikiran seperti menerawang jauh ke masa lalu nya yang kelam.
"sesakit ini cinta?" tanya Rayyan yang mulai membuka mata nya yang sedari tadi terpejam.
"Sakit? orang jatuh cinta itu bahagia ustadz, hati nya bagai berbunga-bunga, yang sakit itu putus cinta" tutur Haidar menjelaskan dengan seksama.
"itu nama nya cemburu ustadz" celetuk Haidar yang berhasil membelalakkan mata Rayyan.
"Cemburu?" tanya Rayyan heran, dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Haidar,
"lalu supaya aku tidak merasakan perasaan aneh ini, aku harus bagaimana?" tanya Rayyan yang mulai tersiksa dengan perasaan yang kian hari kian menyiksa,
"mudah saja, jangan dipikirkan, dan lupakan" ujar Haidar dengan enteng nya, Rayyan bukan nya menuruti kata Haidar ia malah menghela nafas panjang,
"kau pikir aku sengaja mengingat nya? sehingga kau menyuruh ku untuk melupakan nya" Rayyan dengan kembali ke posisi semula dengan menengadahkan kepala nya dan menatap langit-langit ruangan itu.
"setiap kali aku melupakan nya, ingin ku hapus ingatan ku tentang nya, malah semakin jelas bayang-bayang diri nya" sambung Rayyan sambil mengusap wajah nya kasar,
__ADS_1
"jika memang sudah seperti itu, nyatakan saja perasaan mu pada nya" saran Haidar membuat Rayyan kembali menegak kan duduk nya dan menatap kearah Haidar,
"kau yakin? jika aku ditolak bagaimana? apakah akan sesakit tersayat pisau?" tanya Rayyan antusias, mendengar itu Haidar bukan nya langsung menjawab malah tertawa terbahak-bahak,
"ahahahha... aduh, aduh Ray! kamu itu tampan, apa yang kau takut kan, jika saja kau mau membuka mata mu melihat itu para santriwati banyak yang mencari perhatian dari mu" Haidar sedikit membuka pandangan Rayyan,
"tidak, tidak, tidak! dia bukan tipe yang suka mengejar-ngejar, aku tau selama ini dia hanya suka menggoda dalam artian menjahili ku, seperti hanya mempermainkan perasaan ku" jelas Rayyan menduga-duga,
"tapi jika sudah sadar dipermainkan, kenapa susah untuk kau melupakan?" tanya Haidar yang mulai menghela nafas,
"nah itu dia, aku malah merasa nyaman, nyaman ketika dia berada di dekat ku, entah mengapa setiap kali bersama nya aku seperti terlarut dalam permainan nya, seperti alam bawah sadar ku yang bekerja, jadi berbahaya jika kita hanya berdua" Rayyan mengingat-ingat kejadian di waktu sebelum subuh, dan juga waktu-waktu lain saat ia mendekati Maysa tanpa berjarak.
"Sungguh aku seperti orang yang kerasukan syetan bucin jika sudah menatap mata nya, tunggu-tunggu..." Rayyan berhenti sejenak dan melihat Haidar masih dengan setia mendengarkan cerita curahan hati nya,
"bukan hanya menatap mata nya, bahkan mendengar suara nya, melihat sosok nya dari kejauhan! hanya seperti itu alam bawah sadar ku mulai menguasai ku untuk mencari tau apa yang tengah ia laku kan dan dengan siapa" jelas Rayyan,
"coba kau bicara kan baik-baik dengan nya Ray, kau ungkapkan isi hati mu, langsung di depan nya, dihadapan nya" Haidar menyarankan,
"tapi jika dia salah paham atau malah menolak ku bagaimana?" Rayyan mulai takut mengingat selalu saja ada ke salah pahaman yang hadir ketika ia tengah menjelaskan sesuatu kepada Maysa,
"mungkin saja itu karena dia diam-diam mencari status nya dimata mu Ray" jawaban Haidar kali ini memantapkan hati Rayyan untuk berani menyatakan perasaan nya,
"dicoba dulu sob, kalau di tolak dekati sang pencipta nya, makan Ia akan menggerakkan hati nya" ucap Haidar yang langsung berdiri dari duduk nya dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, Rayyan tak sedikit pun menahan soib nya itu untuk meninggalkan diri nya di ruangan nya, pikiran nya dipenuhi rencana dan kata-kata yang harus ia ucapkan di depan Maysa supaya gadis itu tidak salah paham...
bersambung...
__ADS_1