
Sejak sore sepulang dari sekolah dan tentu nya setelah perdebatan panas nya bersama Rayyan, Maysa mulai serius menghafal surah-surah yang ada di juz 30, dan tentu nya dengan bantuan Fasha yang selalu setia membimbing nya,
"istirahat dulu May, kita mandi dulu yuk bentar lagi maghrib loh" kata Fasha yang sedari tadi bolak-balik memandangi jam dinding yang ada di kamar itu.
"kak Fa duluan aja, aku mau melanjutkan ini tinggal beberapa lagi" ucap Maysa yang masih setia memangku kitab suci nya, Fasha pun mengiyakan dan meninggalkan Maysa duduk sendiri didalam kamar untuk melanjutkan hafalan nya.
Setelah selesai mandi Fasha langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan, ia yakin jika Maysa pasti tidak mau diajak meninggalkan kamar nya,
"loh banyak sekali makan mu Fa?" tanya Udin yang kebetulan juga berada di dapur pondok
"eh kamu din, iya ini sekalian sama Maysa" jawab Fasha dengan suara lembut dan ramah tentu nya dengan senyum yang manis tersungging di bibir nya
"Astagfirullah Fa! jangan senyum seperti itu kepada ku" ucap Udin dengan menutup kedua mata nya
"eh maaf memang nya kenapa ya din? bukan kah senyum itu ibadah din?" ujar Fasha yang merasa sedikit kebingungan dengan kelakuan Udin,
"iya ibadah, tapi senyum mu itu menyebabkan penyakit Fa" ucap Udin yang berhasil membuat Fasha mengerutkan kedua alis nya tanda gadis itu tak mengerti,
"penyakit?" tanya Fasha semakin bingung,
"iya penyakit diabetes, karena senyuman mu itu terlalu manis" ucap Udin dengan senyum khas nya,
"Ampun deh" celetuk Fasha dengan menutup wajah nya yang memerah karena malu, gadis itu pun langsung meraih beberapa makanan yang telah dibungkus dan segera membawa nya pergi dari dapur.
Sedangkan Udin yang masih di dapur masih menatap Fasha yang kian berjalan menjauh tanpa sedikit pun menoleh kearah nya,
"cantik sih, tapi sulit di takluk kan, apalagi kakak nya galak" gumam Udin dengan menghela nafas,
"May, makan dulu yuk sebelum ke masjid" ajak Fasha yang langsung membuka bungkusan yang tadi ia bawa dari dapur, Maysa yang masih mengeringkan rambut nya belum mengena kan hijab, gadis itu langsung ikut duduk di depan Fasha dan makan dengan lahap nya.
__ADS_1
Setelah selesai makan Fasha bersama dengan Maysa berjalan menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib.
Nur yang melihat kedekatan mereka berdua mulai menyusun rencana,
"gimana? mereka selalu saja bersama, jika sampai kita salah sasaran bisa-bisa ustadz tampan ku malah membenci ku" ucap Nur yang tengah duduk di emperan masjid,
"nanti saja setelah sholat isya kita lancarkan aksi kita, pertama kita harus jauhkan Fasha dulu" Ika mulai mengutarakan ide nya.
Sambil menunggu Adzan dikumandangkan Maysa masih setia memangku kitab suci yang sedari sore tadi di hafalkan nya, Rayyan yang hendak memasuki masjid melihat Maysa yang tengah memejamkan mata tapi bibit mungil nya terlihat komat-kamit seperti mbah dukun baca mantra, ustadz tampan itu mengulas sedikit senyuman karena ia tau kalau saat itu Maysa tengah berusaha menghafal kan surah-surah yang ada di dalam jus 30,
"kenapa dada ku rasa nya berdebar-debar, padahal hanya melihat nya dari kejauhan" batin Rayyan dengan tangan yang menyentuh dada nya.
Ibadah sholat maghrib ber jama'ah di masjid pondok pesantren Darussalam pun berjalan dengan lancar, Fasha terlihat tengah melipat mukenah nya,
"May aku tinggal ke kamar sebentar ya, mau ambil kaca mata ku" ucap Fasha yang masih duduk di samping Maysa,
"iya kak, nggak papa" sahut Maysa dengan melihat kearah Fasha dan kembali lagi fokus ke kitab suci yang ada di pangkuan nya.
"gimana?" tanya Rahma yang melihat Fasha sudah mulai menjauh bahkan hanya terlihat bayangan nya saja.
"Sekarang saja" ujar Nur yang sudah tidak sabar,
"sabar dulu bestie jangan di dalam masjid, nanti kalau sampai ketahuan kita yang kena hukuman" kata Ika yang masih takut dengan hukuman, mereka pun masih kompak menunggu Maysa keluar dari area masjid,
"bingkisan tadi siapa yang bawa?" tanya Nur kepada teman-teman nya
"aku yang bawa tenang saja sudah siap disini" kata Laily yang menunjuk kan sebuah kotak yang ada di samping nya.
Maysa masih dengan khusuk menghafal, Rayyan berjalan keluar dari masjid dan ketika melewati samping jendela dimana Maysa terlihat dari sana, Rayyan berhenti sejenak untuk memandang nya,
__ADS_1
"sudah jangan di pandang terus nanti luntur" goda Haidar yang saat itu berjalan di belakang Rayyan.
"luntur, kau pikir pewarna!" ucap Rayyan yang langsung berjalan ke arah toilet.
Maysa membolak-balik kan lembar demi lembar juz 30 yang sedang ia hafalkan, gadis itu terlihat tengah menghitung surah-surah yang belum ia hafalkan,
"haaaahhh... masih kurang 17 surah lagi" Maysa menghela nafas nya dan kemudian ia meletak kan Al Qur'an yang sedari tadi dipangku nya di atas lemari kecil di samping nya, gadis itu terlihat tengah berjalan menuju toilet, Nur dan teman-teman nya yang sedari tadi mengawasi nya pun segera menyusul gadis itu dengan berhati-hati.
"Gimana sudah masuk kedalam toilet belum?" tanya Laily yang siap melepaskan tikus-tikus yang ada di dalam box nya.
Semua teman Nur memberikan isyarat kepada Laily namun gadis itu terkejut ketika ia membuka box nya, box itu kosong.
"Kok kosong?" ucap nya dan membuat semua teman nya melongo,
"kita kunci saja dari luar biar dia tau rasa" ucap Nur yang langsung di setujui oleh teman-teman nya.
Saat Ika berjalan mendekati pintu toilet ia mendengar suara laki-laki ber dehem di dalam toilet cowok di sebelah toilet yang Maysa masuki, Ika pun berjalan keluar melewati lorong toilet itu dan mengunci pintu masuk ke lorong toilet dari luar,
"hey sableng! kenapa kau kunci dari sini?" tanya Rahma yang tidak tau rencana yang ada di dalam otak Ika,
"didalam sana ada seorang laki-laki dan di sebelah nya ada si anak baru itu jadi kita tetap bisa dong memberi nya pelajaran" ucap Ika dengan senyum semirik nya,
"emang kamu itu teman ku yang paling encer otak nya" Nur memuji Ika.
Rayyan keluar dari dalam toilet, ia melihat toilet yang tidak ada plakat gendernya ketika ia mendengar suara pintu toilet itu dibuka,
"CEKLEK!" betapa kaget nya Rayyan ketika melihat Maysa lah yang keluar dari dalam toilet itu.
"May!"
__ADS_1
"PAK USTADZ!" teriak kedua nya bersamaan...
bersambung...