
"Fa kau cepat panggil Haidar atau Wahyu untuk menyiapkan mobil, Rayyan kau segera siapkan baju-baju Maysa yang berkancing juga baju-baju calon anak mu, siapkan di dalam tas!" Ucap Ummi memberi perintah.
"Apakah Maysa sudah akan segera melahirkan Ummi?" Tanya Rayyan.
"Iya, cepat air ketuban nya sudah pecah ini" Ucap Ummi dengan memegangi lengan Maysa.
"Aduh Ummi sakit Ummi, huuuuuffftt... huuuuuuuhhh... huuuuuuhhh... " Maysa menaruk nafas panjang guna menetralisir rasa sakit nya.
"Sabar ya May ya, tarik nafas... keluarkan... " Ummi mengelus perut Maysa dengan membimbing agar nafas Maysa tetap teratur.
Tak lama kemudian Fasha dan Rahma masuk kedalam kamar Rayyan dan Maysa.
"Mobil nya sudah siap Ummi" Ucap kedua nya bersamaan.
"Ya sudah kalian bantu Ummi bawa barang-barang ini, dan Rayyan bisa gendong Maysa ke mobil nak?" Ummi berucap dengan tangan yang meraih tas-tas yang sudah siap untuk di angkut.
"Iya Ummi" Ucap Rayyan yang segera menggendong Maysa.
Sesampai nya di samping mobil Maysa diturunkan dan berdiri menunggu yang lain.
"Kamu masuk dan duduk di dalam dulu Yang" Perintah itu keluar dari mulut Rayyan dengan nada yang halus.
"Nggak mas ntar aja, takut nya kelamaan kalau duduk perut nya kontraksi lagi, nanti malah capek keluar masuk mobil" Ucap Maysa, Rayyan pun menganggukkan kepala nya kemudian mengecup pelan kening Maysa.
"Mas tinggal sebentar ya, bantu angkut barang-barang yang lain" Ucap Rayyan yang langsung di angguk i oleh Maysa.
Rayyan pub berjalan meninggalkan Maysa dan membantu Ummi dan yang lain nya mengangkut tas-tas yang berisi perlengkapan ibu dan bayi.
"Loh Ray? kamu kok kesini?" Tanya Ummi.
"Lah iya kakak ini gimana sih? kondisi Maysa sedang tidak baik-baik saja kok malah di tinggal, nanti kalau terjadi apa-apa gimana lo!?!" Cerocos Fasha menghujani Rayyan dengan banyak sekali kata-kata.
"Aman kata dia nggak papa kok" Ucap Rayyan, namun tak lama kemudian Wahyu terlihat setengah berlari dari arah mobil.
"Ustadz Ustadz! Maysa Ustadz, dia bilang perut nya sakit dan ada darah yang mengalir di kaki nya Ustadz!" Dengan panik serta nafas naik turun Wahyu berkata.
Rayyan pun segera berlari dan segera di ikuti oleh yang lain nya.
Derap langkah kaki yang tengah berlari kearah Maysa sudah terdengar oleh wanita hamil yang tengah menahan sakit itu.
Setelah Rayyan tiba ia segera mengelus perut Maysa sedangkan yang lain mencari kain untuk mengelap bekas darah yang mengalir.
"Maaf sayang, seharus nya mas nggak pergi tadi" Ucap Rayyan sambil mengecup pelan perut Maysa.
"Iya mas, ini juga sudah mendingan kok" Sahut Maysa yang memang sudah merasa lebih baik. Rayyan lega mendengar nya.
"Ayo-ayo kita naikkan barang-barang nya ayo!" Teriak Ummi yang segera mengajak semua orang memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
"Sudah siap semua nya?" Tanya Wahyu yang duduk di kursi kemudi.
"Sudah!" Sahut semua orang bersamaan dan mereka segera masuk kedalam mobil dan menempatkan diri di posisi yang nyaman.
Wahyu segera menginjak pedal gas dan meluncur keluar dari area pondok, namun baru saja mobil yang mereka tumpangi keluar dari pondok Rayyan tiba-tiba menoleh ke kursi yang ada di belakang.
__ADS_1
"Loh Maysa mana?" Tanya Rayyan dengan terkejut karena tidak mendapati istri nya di kursi belakang.
"Lah Ummi kira tadi yang duduk di depan Maysa ternyata kamu?" Ummi lebih terkejut lagi sampai membuat Wahyu yang tengah mengemudi pun mendadak menginjak rem nya.
"Jadi Maysa ketinggalan?" Tanya Wahyu setelah berhasil menghentikan mobil nya.
Mobil mereka pun kembali masuk kedalam area pondok.
Di depan Masjid Maysa duduk dengan mengelus perut besar nya di sana ada Abah yang baru saja keluar dari dalam masjid.
"Loh May? kamu kenapa?" Tanya Abah yang memang tidak tau jika menantu nya itu sudah mau melahirkan.
"Perut May kontraksi Abah" Ucap nya lirih sambil mengatur nafas nya.
"Tunggu disitu Abah panggilkan Ummi mu ya" Ucap Abah yang langsung dihentikan oleh Maysa.
"Maaf Abah, mereka sudah perjalanan menuju klinik" Ucap Maysa.
"Lho? Jadi kamu ketinggalan?" Tanya Abah yang mulai mengerti keadaan, sedangkan Maysa hanya menganggukkan kepala nya.
Tak lama kemudian mobil yang di sopir i oleh Wahyu pun tiba di depan masjid mereka segera keluar dari mobil dan membantu Maysa untuk masuk ke dalam mobil.
"Sudah semua?" Tanya Wahyu memastikan tidak ada yang ketinggalan lagi.
"Insya'Allah sudah" Ucap semua nya serempak.
Wahyu pun kembali melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang ia paham dengan apa yang ia bawa saat ini.
Di tengah perjalanan...
"Ekhem... Saya disini" Ucap Rayyan yang ternyata pindah duduk di belakang bersama Maysa.
"Lah jadi siapa ini yang ketinggalan lagi?" Tanya Wahyu yang sudah bersiap-siap menginjak rem.
"Ummi, tapi biar Ummi bareng sama Abah saja, kasihan Maysa jika harus menunggu lebih lama lagi" Ucap Rayyan yang melihat raut wajah Maysa yang mulai memucat.
"Ok siap!" Ucap Wahyu yang melanjutkan perjalanan nya menuju klinik.
Sesampai nya di klinik, Rayyan segera membantu Maysa turun dari dalam mobil dan di sana sudah ada Andre yang stay dengan kursi roda yang di dorong nya.
"Ayo duduk kan di sini" Ucap Andre, melihat itu Rayyan berhenti sejenak namun Maysa segera menepuk pundak nya.
"Mas akan kecapekan kalau menggendong ku sampai ke ruang bersalin" Ucap Maysa.
"Mas kuat kok" Ucap Rayyan yang masih kekeh dengan rasa cemburu nya.
"Mas ayo lah jangan dipersulit dia kan hanya menjalankan tugas nya sebagi dokter dan May pasien nya" Ucap Maysa, namun Rayyan masih saja diam tak bergerak.
"Aaaaaahhh aduh duh aduh emmmm... " Maysa merasa perut nya sakit mules dan keras.
Rayyan pun langsung mengelus nya dan Andre dengan sigap menuntun Maysa untuk duduk di kursi roda yang di bawa nya.
"Kau!" Geram Rayyan dengan mengeraskan rahang nya.
__ADS_1
"Dia sedang membutuhkan tenaga medis! bukan rasa cemburu!" Ucap Andre yang langsung berjalan dengan mendorong kursi roda yang di duduk i oleh Maysa.
"Atur nafas mu May, seperti saat kau memberi aba-aba kepada ibu-ibu lain yang akan melahirkan" Ucap Andre mengingatkan Maysa.
Wanita hamil itu hanya menganggukkan kepala nya dan mengatur nafas panjang.
Sesampai nya di ruang bersalin, Andre mengecek tekanan darah Maysa dan betapa terkejut nya saat tensi darah Maysa sangat lah tinggi.
"May apa kau takut?" Tanya Andre kepada Maysa.
"Hem" Maysa menggelengkan kepala nya, sedangkan Rayyan mengelus kepala Maysa.
"Tapi tekanan darah mu sangat tinggi May, ini sangat ber resiko untuk mu melahirkan normal" Ucap Andre memberi tahukan.
"Lalu bagaimana dok?" Tanya Rayyan yang mau tak mau harus berkompromi dengan dokter yang selalu menjadi rival cinta nya itu.
"Kita tunggu kedatangan dokter Zulfa dulu, sabar ya May, jangan mengejan ingat jangan mengejan!" Ucap Andre memperingatkan Maysa.
Andre berjalan menjauh dari Maysa ia terlihat tengah menelfon Zulfa.
Tuuuuuutttt... Tuuuuuuutttt... Tuuuuuuuutttt...
Suara sambungan telfon yang tak kunjung tersambung itu sedikit membuat Andre frustasi.
Dokter muda itu terlihat mengacak rambut nya, "Dok dokter!" Teriak Rayyan yang masih berdiri di samping Maysa.
"Ada apa?" Teriak Andre sambil berlari mendekat.
"Kenapa darah nya tidak berhenti dok?" Tanya Rayyan yang melihat bagian bawah tubuh Maysa.
"May sudah ku bilang, tahan May tahan!" Ucap Andre geram.
"Nggak bisa dok, baby nya sudah dijalan ini!" Ucap Maysa sambil menahan agar tidak mengejan.
"Baiklah coba saya cek dulu sudah sampai pembukaan berapa" Ucap Andre yang segera bersiap memeriksa jalan keluar sang baby.
"Tunggu! apa yang kau lakukan?" Tanya Rayyan tak terima jika Andre memegang barang berharga milik nya itu.
"Saya hanya melakukan tugas saya tidak lebih!" Ucap Andre kemudian melanjutkan aksi nya mengecek keadaan jalan lahir sang baby.
"Lho air ketuban nya sudah tidak ada?" Tanya Andre.
"Emm... pecah dirumah" Ucap Rayyan.
"Singkirkan tangan mu dari jalan nya dok!" Teriak Maysa, Andre pun segera mengeluarkan jari nya dari dalam sana, dan setelah jari Andre keluar tak lama kemudian.
"Heeeeenggg!!!"
"Oeeekkk... oeeekkk... oeeekkk" Bayi merah masih berlumur darah itu keluar dari jalan nya tanpa operasi Caesar.
Andre segera menggendong bayi itu dan segera di berikan kepada Rayyan untuk di adzani nya.
"Alhamdulillah" Ucap Maysa melemah.
__ADS_1
"May-may! sadar May kau jangan menutup mata mu! May! Maysa...
bersambung...