Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Masih seputar Rujak


__ADS_3

"Jika kau masih belum bisa menjaga berlian yang rapuh itu, lepaskan biarkan aku yang menjaga nya, aku tidak akan membiarkan nya tergores barang sedikit pun" Bisik Andre dengan mencengkeram kerah baju Rayyan.


"BUGH!!" Akhir nya Rayyan melepaskan satu pukulan mengenai wajah dokter tampan yang ada di depan nya itu.


"STOP USTADZ!" Teriak Wahyu yang menengahi kedua laki-laki dewasa yang tengah berseteru itu.


"Istighfar nak! ingat Ray ingat! jangan sampai pikiran mu di kuasai oleh amarahmu!" Cecar Ummi yang langsung memegang pundak Rayyan.


"Anda hanya dokter yang berkewajiban untuk mengobati pasien, dan kebetulan pasien anda andalah istri saya, jadi jangan asal bicara jika anda belum mengetahui duduk permasalahan nya" Ucap Rayyan pelan namun penuh dengan penekanan.


"Ada apa ini?" Ucap Abah yang baru saja datang bersama Haidar, semua mata pun melihat ke arah Abah berdiri dan kemudian beralih melihat Rayyan yang masih kekeh menatap tajam kearah Andre.


"Permisi dokter Andre, dokter Zulfa memanggil anda untuk datang ke ruangan nya" Ucap seorang perawat.


"Baiklah saya akan segera ke sana" Ucap Andre kepada perawat itu.


"Saya permisi" Ucap Andre dengan membenarkan jas putih nya, dengan senyum semirik ia melirik ke arah Rayyan yang masih mengeraskan Rahang nya.


"Ada apa ini kenapa semua nya tegang?" Abah berjalan mendekati putra sulung nya itu.


Rayyan hanya menghela nafas dan memalingkan wajah nya kemudian ia berjalan memasuki ruang pemeriksaan untuk menemui Maysa.


"Ada apa dengan nya? berani sekali dia tidak menjawab pertanyaan Abah?" Ucap Haidar yang tidak terima melihat sikap Rayyan yang acuh.


"Biar kan saja, mungkin dia sedang dikuasai oleh amarah namun berusaha untuk meredam nya" Ucap Abah dengan menepuk pundak Haidar.


Abah pun melihat ke arah Ummi yang mematung di depan pintu, dan berjalan perlahan mendekati nya.


"Bisa ceritakan ada masalah apa?" Tanya Abah dengan menepuk pundak Ummi.


Sejenak Ummi menoleh kearah Abah yang sudah berdiri di belakang nya.


"Kita duduk dulu di sana" Ummi menuntun Abah dan di ajak nya duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan itu.


"Ummi tak menyangka Rayyan bisa semarah itu" Ummi membuka pembicaraan ketika mereka berdua duduk, Fasha, Wahyu dan juga Haidar pun segera menghampiri Ummi dan Abah, mereka juga ikut duduk.


"Marah? berati benar Rayyan marah? tapi kenapa? apa yang membuat nya marah?" Tanya Abah yang mulai penasaran kenapa putra sulung nya bisa semarah itu sampai bersikap acuh kepada Abah nya.


"Dokter tadi bertanya, sebelum nya Maysa makan apa, begitu dan tiba-tiba tanpa aba-aba dokter tadi menonjok wajah kak Rayyan" Ucap Fasha yang saat itu berdiri tepat di samping Rayyan.


Abah mencoba memahami, "Namun apa Rayyan marah hanya karena dokter itu tiba-tiba menyerang nya?" Tanya Abah, kemudian Abah sendiri menggeleng-gelengkan kepla nya.


"Tidak mungkin, Rayyan tidak akan marah hanya karena terkena satu kali pukulan itu" Jelas Abah yang tau betul sifat Rayyan walau pun dingin, dia tidak lah mudah tersulut amarah nya.


"Ekhem... jadi sebenar nya begini Abah" Wahyu menyela pembicaraan keluarga itu, Abah, Ummi dan juga Fasha pun menoleh ke arah Wahyu, dan Wahyu menatap semua nya sekilas dan menarik nafas, berusaha untuk menjelaskan titik permasalahan nya.

__ADS_1


"Awal nya ustadz tidak lah marah karena memang dia mungkin lalai tidak menjaga pola makan Maysa sampai Maysa jatuh sakit ini, mungkin ustdaz masih menerima tudingan atas kesalahan nya itu, namun yang membuat ustadz marah mungkin kata-kata kedua yang di ucapkan dokter tadi" Jelas Wahyu.


"Memang nya dokter tadi bicara apa lagi selain menyalahkan Kakak?" Tanya Fasha yang tidak begitu mendengar kata-kata Andre yang kedua.


"Tadi kan sempat dokter mencengkeram kerah baju ustadz, dan dia membisikkan kata Jika kau masih belum bisa menjaga berlian yang rapuh itu, lepaskan biarkan aku yang menjaga nya, aku tidak akan membiarkan nya tergores barang sedikit pun, kalau tidak salah seperti itu, mungkin kata itu yang membuat ustadz marah, dan menurut saya yang dimaksud berlian di dalam ucapan dokter itu adalah Maysa" Jelas Wahyu panjang lebar.


"Oh iya tadi ada kata berlian-berlian begitu, saya kira itu berlian sungguhan bukan kata kiasan" Ucap Fasha mengingat-ingat.


"Jadi maksud kamu Rayyan marah karena merasa tersaingi, dan takut jika dokter itu merebut Maysa dari diri nya?" Haidar pun menyimpulkan, dan semua mata tertuju pada nya.


"Nah bisa jadi" Ucap Wahyu setuju dengan apa yang di maksud kan Haidar.


Abah dan Ummi pun memijit pelan kening nya mendengar penuturan kedua pemuda itu.


Di dalam ruang pemeriksaan, Rayyan duduk di samping Maysa, digenggam nya telapak tangan istri nya itu, di belai nya pucuk kepala Maysa yang masih memejamkan mata nya.


"Sayang cepat lah bangun, mas minta maaf, mas gagal menjaga mu, mas minta maaf" Ucap Rayyan terisak dengan mengecup tangan Maysa.


Maysa yang merasa terganggu segera membuka mata nya dan di lihat nya suami tampan nya itu tengah menunduk kan wajah nya sambil menggenggam telapak tangan nya.


Maysa mengusap pelan kepala Rayyan menggunakan tangan yang satu nya.


"Mas" Panggil nya pelan yang membuat Rayyan mengangkat kepala nya dan melihat kearah Maysa.


"He'em" Ucap Maysa dengan senyuman yang mengembang.


"Kamu kenapa sayang? kau membuat ku panik, apa kau terjatuh lagi?" Tanya Rayyan dengan menunjukkan raut kekhawatiran.


"Nggak kok mas, nggak jatuh, cuma tiba-tiba perut May terasa kaya panas-panas terus tiba-tiba keram" Jelas Maysa.


"Apa rujak nya sudah kamu makan?" Tanya Rayyan.


"He'em enak banget mas rujak nya, makasih ya?" Ucap Maysa dengan senyuman.


"Apa jangan-jangan karena makan rujak, perut mu jadi sakit" Rayyan menduga-duga.


"Jangan su'udzon mas, nggak boleh lo" Ucap Maysa tanpa mengurangi senyuman nya.


"May? kau sudah bangun?" Suara Zulfa yang baru saja memasuki ruang pemeriksaan itu membuat sepasang kekasih itu menoleh kepada nya.


"Iya bunda" Ucap Maysa masih dengan suara lemah nya.


Zulfa tersenyum dan memeriksa keadaan Maysa.


"Bunda dengar dari dokter Andre kau makan rujak yang ada nanas nya ya?" Tanya Zulfa yang membuat Rayyan dan Maysa terkejut.

__ADS_1


"Tapi tadi Rayyan pesan nya yang tidak pakai nanas lo bun" Ucap Rayyan mengatakan yang sebenar nya.


"Mungkin tukang rujak nya lupa orang barusan bunda lihat di mangkuk yang di bawa Fasha ada Nanas nya kok" Ucap Zulfa.


"Hah masa sih?" Rayyan sedikit tak percaya, ia pun berdiri dan berjalan keluar untuk menemui Fasha.


"Fa? kau membawa mangkuk rujak nya?" Tanya Rayyan yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Iya kak, kenapa ya?" Tanya Fasha dengan menunjuk kan mangkuk rujak yang di bawa nya.


"Coba lihat" Ucap Rayyan meraih mangkuk itu, dan benar saja di sana banyak buah nanas yang warna nya masih sedikit memutih dan itu tanda nya nanas itu belum begitu matang.


"Astagfirullah pantas saja dokter tadi marah pada ku" Gumam Rayyan yang kembali masuk kedalam ruangan.


"Sayang maaf ini kesalahan mas karena kurang teliti saat membeli rujak tadi" Ucap Rayyan saat sudah berdiri di samping Maysa.


"Iya mas, Maysa juga minta maaf karena asal makan aja tanpa melihat itu buah apa" Ucap Maysa mengembangkan senyuman nya.


Pagi hati ditempat lain, di sebuah rumah mewah terlihat Iko sedang berenang dan Nur dari balik jendela melihat nya, diam-diam ia mencuri pandang ke arah suami nya itu.


"Sebenar nya kalau dilihat-lihat Iko sexy juga" Gumam Nur yang menikmati pemandangan yang sudah tidak haram lagi bagi nya itu.


"Non, ini sarapan untuk tuan muda mau di bawa ke kolam?" Tiba-tiba suara seorang pelayan mengagetkan Nur.


"Hah? letak kan di sana!" Ucap Nur dengan ketus.


"Tapi Nona kan istri nya tuan muda, dan tadi sebelum berenang tuan berpesan agar nona Nur yang membawakan sarapan nya" Jelas pelayan itu.


Mau tak mau Nur pun meraih nampan yang berisi sarapan lengkap itu dan membawa nya keluar.


"Dasar bocil! apa lagi coba yang di rencanakan nya! mau menjerat ku? coba saja kalau bisa!" Sepanjang jalan ke kolam Nur tak henti-henti nya nggedumel.


Ketika sampai di pinggir kolam Nur tak menemukan keberadaan Iko, ia pun memutuskan untuk meletakkan nampan yang berisi sarapan itu di meja.


Nur segera berbalik dan


"BRUGH!!"


Tubuh Nur menabrak sesuatu dan ia memejamkan mata nya namun saat tangan nya meraba benda yang berdiri tegap di depan nya itu, ia merasa memegang dada bidang yang terasa basah.


Perlahan ia membuka mata nya dan sedikit mendongakkan kepala nya


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2