
"Kalian?!" Ucap Rayyan dengan sedikit rasa cemburu yang membakar hati namun berbeda dengan Wahyu dan juga Maysa mereka melihat ke arah Rayyan dengan senyuman yang cerah.
"Ustadz Rayyan?" Ucap Wahyu dan Maysa bersamaan tanpa mengurangi senyum yang mengembang, dalam hati Wahyu, ia merasa lega karena telah datang seorang pria yang akan menghilangkan rasa canggung ketika ia hanya berdua didalam ruangan bersama seorang gadis, itu pun calon istri orang.
Sedangkan Maysa seperti biasa gadis itu selalu berbunga-bunga setiap kali bertemu Rayyan.
"Masuk pak Ustadz" Wahyu mempersilahkan Rayyan masuk, namun saat Rayyan baru melangkahkan kaki nya memasuki ruangan Wahyu, Nur tiba di belakang Rayyan gadis itu sengaja menyulut api kecemburuan yang mulai terlihat.
"Astagfirullah... kalian cuma berdua?" Teriak Nur yang sengaja menekan kan kata-kata BERDUA.
Sontak Maysa segera berdiri dan menyuapkan satu pil obat yang tersisa kepada Wahyu, tak lupa ia juga membantu Wahyu minum dari sebuah gelas.
Setelah selesai Mayaa langsung berbalik menatap tajam kearah Nur
"Apa maksud mu?!" Dengan tatapan tajam Maysa bertanya.
"Saya kan cuma bertanya, kalian hanya ber dua di dalam kamar ini? dimana salah nya?" Nur sengaja mengulangi kata-kata nya supaya Rayyan semakin memanas.
Maysa menggeleng pelan kepala nya, gadis itu menyeringai "Tidak salah pertanyaan nya, tapi salah tujuan nya bertanya!" Tanpa melepas tatapan mata nya dari Nur, Maysa berjalan semakin mendekat.
"Apa tujuan mu bertanya seperti itu? padahal sudah jelas aku dan Wahyu hanya berdua, kami sedang apa juga jelas terlihat oleh mata manusia biasa" Sambung Maysa dengan ketus. Nur tak dapat berkata-kata.
"Kenapa kamu yang mengurus Wahyu May? Kemana Zainudin?" Tanya Rayyan yang kini duduk di samping Maysa.
"Saya di sini pak Ustadz" Ucap Zainudin yang baru saja datang.
"Loh kok rame? ada apa?" Tanya Zainal yang muncul di samping Zainudin.
"Kalian dari mana saja? kenapa Maysa yang mengurus Wahyu?" Tanya Rayyan kepada kedua santriwan yang baru saja datang itu.
"Maaf ustadz kami tadi ke apotek membeli perban" Ucap Zainudin.
"Tadi kita terburu-buru, dan hanya ada May yang berjalan-jalan di taman, maka nya kita minta bantuan sama May, iya kan May?" Ucap Zainudin. Rayyan menganggukkan kepala nya berusaha mengerti.
"Ini sudah makan dan minum obat, kalian tinggal mengganti perban nya" Ucap Maysa seraya berdiri dari duduk nya.
"Loh sudah obat nya? nggak sekalian digantikan perban nya juga?" Ucap Zainudin yang langsung di toyor kepala nya oleh Zainal.
"Wong edan!" Tukas Zainal dengan menoyor kepala Zainudin.
__ADS_1
"Aduh! Kamu kok gitu Nal!" Ketus Zainudin dengan mengelus kepala nya.
"Ya habis kamu aneh-aneh aja, masa iya ada kita di sini yang sama gender nya malah nyuruh Maysa buat ganti perban nya Wahyu, ada ustadz Rayyan itu, kamu nggak takut kena hukuman?" Ucap Zainal dengan setengah berbisik, Rayyan yang mendengar bisik-bisik mereka berdua pun menundukkan kepala sambil memijit kening nya.
"Kita temui Rahma yuk, tanya tentang gaun pengantin yang akan ku pakai lusa" Maysa mengajak Rayyan untuk meninggalkan.
"Emm Oke yuk" Rayyan segera berdiri dan meninggalkan ruang rawat Wahyu.
Nur yang jengkel karena gagal membuat Rayyan marah, ketika gadis itu hendak meninggalkan ruangan Wahyu Zainal langsung memanggil nya.
"Loh?? Nur? kau disini?" Dengan senyum nya Zainal baru menyapa Nur karena memang pemuda itu baru menyadari keberadaan Nur.
"Eh iya Zai, aku pamit dulu ya" Ucap Nur yang langsung melangkahkan kaki nya meninggalkan mereka.
"Nur!! Nggak mau disini dulu?" Teriak Zainal namun tidak mendapat respon sedikit pun dari Nur.
"Zai, kayak nya Nur lagi nggak baik-baik saja deh" Ucap Wahyu yang masih duduk di kursi roda nya.
"Emang nya ada apa Yu tadi?" Tanya Zainal yang langsung masuk dan duduk di ranjang milik Wahyu.
"Tadi dia kaya sengaja mau fitnah aku sama Maysa, dengan cara memanggil ustadz Rayyan, tapi untung kalian segera datang jadi sepasang kekasih itu hubungan nya masih baik-baik saja" Jelas Wahyu.
Rayyan yang berjalan menyusuri setiap lorong bersama dengan calon istri nya mencari keberadaan Rahma.
"Ustadz marah?" Tanya Maysa memecah keheningan diantara mereka.
"Nggak" Sahut Rayyan singkat, sejati nya ustadz tampan itu kini tengah terganggu dengan bayangan mata indah Black Angel yang tiba-tiba muncul di dalam benak nya.
"Astagfurullah" Ucap Rayyan dengan mengusap wajah nya kasar.
"Mas?" Panggil Maysa dengan tatapan khawatir, gadis itu takut jika saja Rayyan sedang tidak sehat.
"Iya?" Sahut nya dengan sedikit terkejut karena Maysa memanggil nya dengan sebutan lain, Rayyan sedikit melirik kearah Maysa yang berdiri menghadap kearah nya.
"Hais... jangan melihat ku dengan tatapan seperti itu May" Rayyan mengusap wajah nya dengan menghindari tatapan mata Maysa yang saat itu tengah mengkhawatirkan kondisi Rayyan.
"Kamu sehat kan mas?" Dengan menyentuh kening Rayyan, Maysa menanyakan kondisi calon suami nya itu.
Deg Deg Deg Deg...
__ADS_1
Degub jantung mereka berdua beradu bak genderang yang mau perang, ketika tangan Maysa menyentuh kening Rayyan dan mata kedua nya saling menatap satu sama lain.
Tangan Rayyan perlahan menutup wajah Maysa dengan hijab nya yang menjuntai kebawah, dan menyisakan mata indah yang tak berkedip di hadapan nya itu.
Perlahan tapi pasti Rayyan mendekatkan wajah nya untuk mengamati dengan intens mata gadis pujaan nya itu.
Maysa yang tersadar jika Rayyan hanya mengamati mata nya, langsung memindahkan tangan yang tadi nya bertengger di kening Rayyan, beralih menutup bibir ustadz tampan yang ada dihadapan nya itu.
"Mas" Ucap gadis itu pelan dengan menggeleng kan kepala nya. Sontak Rayyan langsung memalingkan wajah nya dengan menghela nafas dengan kasar.
"Mas? kau baik-baik saja kan?" Tanya Maysa yang masih penuh dengan kekhawatiran. Rayyan menggelengkan kepala nya.
"Tidak, saya baik-baik saja" Ucap nya yang langsung berjalan mendahului Maysa yang perlahan mulai mengikuti langkah calon suami nya itu.
"Astagfirullah, apa ini? kenapa aku malah teringat mata gadis itu, cobaan apa ini? bagaimana jika Maysa mengetahui nya? bagaimana ini? apa kah ini termasuk penghianatan? ya Allah harus bagaimana aku menghadapi nya? sudah ku berusaha untuk melupakan nya namun kenapa malah terlihat jelas dalam bayangan ku mata hadis itu" Batin Rayyan yang berjalan didepan Maysa. Maysa memikirkan ustadz tampan yang berjalan di depan nya itu, ia takut jika terjadi sesuatu kepada Rayyan sedangkan acara pernikahan merek tinggal menghitung hari.
"Ada apa dengan mas Rayyan? tidak seperti biasa nya dia bersikap dingin dan gelisah seperti ini di hadapan ku" Batin Maysa yang diam-diam melihat Rayyan walau pun hanya terlihat punggung nya.
Sepasang kekasih itu kini saling berdiam diri bergulat dengan pemikiran masing-masing. Maysa tiba-tiba saja mengingat kejadian barusan.
"Astagfirullah, barusan mas Rayyan seakan mengenakan cadar pada ku, apakah dia mulai curiga? oh ya ampun kenapa tiba-tiba aku jadi tremor" Gumam Maysa namun tiba-tiba saja lutut Maysa lemas karena ia gemetar memikirkan apakah Rayyan sudah mulai mencurigai nya. Rayyan mendengar gumaman lirih gadis dibelakang nya itu, ia pun langsung berhenti dan membalik kan tubuh nya menghadap kearah Maysa.
BRUGH!!!
"Aduh!" Keluh Maysa ketika kening gadis itu menabrak dada bidang Rayyan, dan ketika Maysa kehilangan keseimbangan nya Rayyan dengan sigap menangkap tubuh gadis itu dan ditarik nya sampai posisi mereka layak nya sepasang kekasih yang tengah berpelukan.
Lagi-lagi mata mereka bertemu kali ini Rayyan tak hanya tinggal diam ia berkatakepada Maysa.
"May?" Panggil Rayyan dengan lembut, namun sorot mata nya mengatakan bahwa ia menyembunyikan sesuatu dari kekasih nya itu.
"Iya?" Sahut Maysa tanpa mengalihkan pandangan nya dari mata Rayyan, gadis itu mulai bertanya-tanya apa yang sedang di sembunyikan kekasih nya dari diri nya.
"Ada yang ingin ku kata kan pada mu" Ucap Rayyan
"Katakan saja" Ucap Maysa dengan debaran jantung yang sama cepat nya dengan jantung Rayyan.
"Bagaimana jika di dalam pikiran ku hadir gadis lain?...
Bersambung...
__ADS_1