
Maysa keluar membawa minuman dan Sasya membawa beberapa cemilan untuk teman minum teh.
"May! duduk sini sayang, bunda kangen" Ucap Zulfa sambil menepuk sofa di samping nya, Maysa pun tersenyum dan duduk di samping Zulfa dengan menyenderkan kepala nya di pundak Zulfa.
Moza segera bertanya tentang apa keperluan Abah yang akan datang berkunjung kerumah nya.
"Jadi ada perlu apa Abah dan ummi mu kok sampai mau berkunjung ke rumah kami?" Moza menanyakan apa yang membuat nya penasaran.
"ekhem jadi begini pak, Saya dan Maysa putri bapak... "
"Abah dan keluarga kesini mau melamar Maysa yah, bun" Belum selesai Rayyan menjelaskan titik permasalahan, Maysa sudah lebih dulu mendahului nya.
"Melamar?" Ucap Zulfa, Moza dan juga Sasya bersamaan.
"Iya" Ucap Maysa yang sedikit takut dengan perubahan ekspresi Moza.
"Tapi, kamu kan masih sekolah nak, pak ustadz, bagaimana bisa pak ustadz akan menikahi anak saya yang masih sekolah?" Ucap Zulfa yang masih bisa meredam emosi nya, sedangkan Rayyan dan Maysa saling pandang mereka seperti memberi isyarat untuk menjelaskan titik permasalahan. Namun tiba-tiba saja Moza berdiri dan mengajak Moza untuk pergi dari ruang tamu,
"Ayo bun kita bicara kan didalam dulu" Ajak Moza yang sudah lebih dulu berjalan menuju kamar,
"Sebentar ya nak" Ucap Zulfa kepada ketiga muda mudi yang duduk di ruang tamu, kemudian ia langsung menyusul suami nya yang telah menghilang dibalik pintu.
Setelah Zulfa dan juga Moza meninggalkan ruang tamu Sasya pun memulai pembicaraan nya.
"May! sebenar nya apa yang terjadi dek?" Tanya Sasya dengan berpindah tempat duduk di samping Maysa.
Rayyan hanya terdiam, ia memberikan kesempatan kepada Maysa untuk menjelaskan nya.
"Jadi begini kak, aku ngerasa sih kalau ada yang nggak suka sama aku di pondok, terus pas aku masuk toilet nah di situ aku nggak baca plakat gender nya, terus ternyata aku tu masuk ke toilet cowok, udah gitu ada yang ngunci in pintu dari luar nah didalam lorong toilet itu kan ada beberapa pintu semua kosong kecuali dua pintu toilet yang satu yang aku tempati yang satu nya ada ustadz Rayyan" Maysa memandang sejenak ke arah Rayyan, dan Rayyan mengangguk kan kepala nya menandakan tidak apa-apa Maysa menjelaskan kepada Sasya toh sejauh ini Sasya masih mendengarkan dengan baik.
"Terus? kalian nggak ngapa-ngapain kan?" Sasya bertanya dengan memandang curiga kearah Rayyan.
__ADS_1
"Kok kakak nanya nya gitu sih? emang kakak pikir aku orang mesum? toh aku ke kunci nya juga sama seorang ustadz ini, bukan preman mesum" Sangkal Maysa yang tidak suka Sasya memandang kearah Rayyan dengan tatapan tidak mengenak kan.
"Ya nama nya ustadz kan juga laki-laki, pak ustadz normal kan?" Cetus Sasya yang langsung membuat Rayyan memijit kening nya.
Maysa pun melakukan hal yang sama, gadis itu juga memijit kening nya sambil berkata.
"Normal lah kak, kalau nggak normal mana mau dia dinikahkan sama Maysa, yang cewek tulen bukan jadi-jadian" Ucap Maysa dengan kesal.
"Ok ok kakak ngalah kakak mau dengerin kelanjutan cerita kamu tadi, yuk lanjut!" Pinta Sasya agar Maysa menyelesaikan penjelasan nya yang sepanjang novel tak berujung.
"Terus kan ustadz Rayyan berusaha tu buat buka pintu tapi tetep aja nggak bisa, kan di kunci dari luar" Maysa sejenak menghela nafas, ia merasa berdebar ketika mengingat saat ia melompat dan memeluk Rayyan dengan erat nya.
"Iya udah tadi udah bilang kalau dikunci dari luar, terus lanjutan nya gimana?" Sasya mulai tidak sabaran.
"Iiiihh kakak kok jadi nggak sabaran sih, udah kaya netizen yang gila gosip aja! sebentar May rangkai dulu kata-kata nya biar enak di dengar" Sasya kembali diam karena Maysa kalau mulai ngomel memang lebih galak dari kakak nya.
"Lanjut nih jadi kita berdua nyerah dan nunggu sampai ada yang buka in dari luar, tapi tiba-tiba ada kecoa kak, May kan jijik sama itu binatang! jadi ya rasa jijik dan juga kaget bercampur takut itu membuat Maysa..."
"Dasar bocah! kebiasaan pecicilan sih! maka nya jadi cewek tu yang anggun dikit kenapa! yok lanjut!" Setelah sedikit memarahi adik nya Sasya meminta Maysa untuk melanjutkan cerita nya.
"Jadi pas pintu kebuka posisi aku dan pak ustadz lagi pelukan dan saling pandang karena kaget dengan apa yang ku lakukan" Ucap Maysa dan itu di dengar oleh Zulfa dan juga Moza.
"Astagfirullah, kamu belajar kaya gitu dari mana May? bunda tidak ada mengajarkan yang seperti itu ya!" Kali ini Zulfa terpukul batin nya karena mendengar anak nya main peluk dengan laki-laki yang bukan mahram nya.
Sedangkan Sasya segera berdiri ia berusaha menenangkan Zulfa yang serasa ingin luruh ke lantai.
"Bunda tenang dulu nanti Sasya jelaskan, May nggak aneh-aneh kok itu gara-gara kecoa" Jelas Sasya dan mereka menjelaskan semua nya setelah Moza dan Zulfa duduk di sofa, supaya tidak terjadi ke salah pahaman lagi.
Sore hari Rayyan pamit pulang untuk menjemput Abah dan juga ummi,
"May saya pamit dulu ya sudah sore ini dan nanti ba'da isya Insya'allah saya bersama Abah dan Ummi kesini" Ucap Rayyan kepada Maysa karena saat itu mereka hanya berdua di ruang tamu, Sasya menerima laporan dari kantor nya dan harus membahas nya bersama Moza di ruang kerja nya sedangkan Zulfa mendadak dapat panggilan karena ada pasien nya yang akan melahirkan.
__ADS_1
"Oo iya sudah" Sahut Maysa dengan pelan seolah tidak rela kebersamaan nya berakhir.
"Jangan gitu dong ekspresi nya, kan saya jadi tidak rela buat jauh-jauh dari mu" Dengan memegang dagu Maysa Rayyan berusaha menghibur nya, dan tentu nya berhasil gadis itu kini tersenyum dengan malu-malu.
"Ya sudah saya pamit dulu ya, nanti salam sama Ayah dan Bunda, Assalamu'allaikun" Pamit Rayyan tentu nya dengan senyuman yang membuat Maysa selalu luluh lantah.
"Iya, waalaikumussalam" Jawab Maysa kemudian ia mengantarkan Rayyan ke teras depan.
"Hati-hati!" Teriak Maysa sambil melambaikan tangan nya ketika mobil Rayyan mulai meninggalkan halaman rumah nya.
.../....°°°.... /...
Malam hari tepat nya pukul 19.30 WIB, Maysa bersama dengan keluarga nya tengah menyiapkan makanan juga minuman untuk menyambut keluarga Rayyan yang akan berkunjung.
"Kamu sudah sholat dek?" Tanya Sasya yang baru saja bergabung setelah sholat isya,
"Sudah kak, ayo tolong bantu aku menata puding telur ini!" Maysa meminta tolong Sasya yang baru saja memasuki area dapur.
"Jam berapa kak?" Tanya Maysa dengan mata yang masih tertuju pada puding yang tengah di tata nya.
"Tadi sih jam setengah delapan, kalau sekarang mungkin sudah jam delapan kurang" Jawab Sasya yang saat itu juga tidak melihat kearah jam.
"Kok sampai hampir lebih dari satu jam belum datang juga ya kak?" Dengan raut wajah yang khawatir Maysa bertanya.
"Sabar dong May, masa baru ditinggal beberapa jam saja sudah tidak sabar sih" Goda Zulfa yang saat itu tengah menata piring.
"Iiiihhh bukan gitu bunda" Maysa dengan cemberut menimpali godaan dari bunda nya.
TIN-TIN-TIN...
bersambung...
__ADS_1
Selamat hari raya idul adha para readers ku tersayang jangan lupa like dan juka komentar nya ya?! see you...