
Di kantin sekolah Maysa tengah makan semangkuk bakso dengan es teh favorit nya, dari kejauhan ia melihat Nando tengah berdebat dengan Sinta.
"Drama apa lagi siang-siang begini" Gumam Maysa sambil menikmati makan siang nya.
Nando terlihat menepis tangan Sinta yang hendak meraih lengan baju nya dengan kasar Nando berkata.
"CUKUP SIN! GUE LELAH DENGAN SEMUA SANDIWARA LO!" Hardik nya, membuat seisi kantin itu menoleh kearah Nando.
"Ndo, Nando, Nando kasih gue satu kesempatan lagi" Sinta dengan menangis tersedu-sedu mengejar Nando dan pada akhir nya gadis itu jatuh tersungkur di lantai depan kantin sekolah.
Melihat itu pun Maysa langsung bangkit dan berlari mendekati Sinta yang masih menangis, ketika gadis itu hendak duduk dihadapan Sinta tiba-tiba tangan nya ditarik Nando, pemuda itu balik mendekat lagi karena melihat Maysa yang tiba-tiba mendekati Sinta.
"STOP MAY! lo jangan kemakan sama itu air mata buaya!" Ucap Nando sambil menahan tangan Maysa agar gadis itu tidak menaruh iba pada Sinta.
"Masalah nya apa sih Ndo!? lo cerita dong!" Ucap Maysa dengan nada setengah ngegas.
"Ini... tunggu" Ucap Nando dengan merogoh saku nya untuk mengeluarkan ponsel nya, kemudian Nando membuka ponsel nya dan di sana terpampang foto mesra Sinta bersama laki-laki lain. Bola mata Maysa membulat sempurna melihat gambar barusan Maysa terkejut.
"Sin apa ini? tunggu! ini di dekat sirkuit beberapa minggu yg lalu kan?" Ucap Maysa.
"Iya, pas kita lagi sibuk nonton ternyata dia ketemuan sama kekasih nya!" Cibir Nando dengan hati yang sangat dongkol.
Nando menundukkan wajah nya mendekat di samping telinga Sinta.
"Jangan-jangan janin yang lo kandung bukan anak gue?" Nando berbisik karena masih menjaga reputasi Sinta dan diri nya sendiri.
"Nggak Ndo nggak, nggak gitu" Semakin pecah tangis Sinta.
"Gue capek Sin udah, kalau memang itu darah daging gue! buktikan!" Ucap Nando yang langsung meninggalkan Sinta yang masih duduk dengan menangis tersedu.
Maysa bingung ia harus menolong Sinta atau Nando, dilema gadis itu membuat nya terbengong di sana cukup lama, pada akhir nya Maysa duduk di hadapan Sinta ia meraih pundak Sinta kanan dan kiri.
"Berdiri dulu Sin, kita duduk di kantin ya!" Dengan sabar Maysa menuntun Sinta untuk duduk di tempat duduk nya sebelum ia berlari mendekati Sinta tadi.
"Kamu minum dulu ya, ini minum ku tapi belum ku minum kok" Ucap Maysa seraya menyodorkan segelas es teh nya.
"Mbak! es teh satu lagi ya!" Teriak Maysa kepada mbak-mbak kantin.
Setelah memesan es teh, Maysa kembali fokus kearah Sinta yang mulai menyedot es teh nya.
__ADS_1
"Cerita dong Sin sebenar nya ada apa sih? nggak biasa nya loh Nando se marah itu" Tanya Maysa dengan hati-hati.
"Nggak papa kok May, emang gue yang salah" Lirih Sinta dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi.
"Lo salah? maaf ni ya, boleh cerita nggak sama gue? ya... siapa tau gue ada solusi buat lo" Ucap Maysa dengan hati-hati.
"Hem... Ada orang yang ngirim ke Nando foto gue lagi sama cowok lain, dan itu nggak cuma satu" Sinta mulai menceritakan titik permasalahan nya.
"Cowok lain? jadi foto yang tadi itu beneran reel?" Tanya Maysa, dengan mengelus pundak Sinta, ada rasa jengkel namun juga kasihan melihat Sinta yang seperti putus asa itu.
"Iya May itu reel, bahkan bayi yang gue kandung ini bukan anak Nando" Lirih Sinta sambil menunduk kan kepala nya.
"Apa?!" Terlonjak kaget Maysa mendengar pernyataan Sinta kali ini.
"Terus? jangan bilang ini anak dari laki-laki yang ada di foto itu? jangan bilang dia juga nggak mau tanggung jawab?! jangan bilang di ada wanita lain?! jangan bilang dia mengancam mu?!" Pertanyaan beruntun itu terlontar dari mulut Maysa.
"Iya May dia ayah dari anak ini" Liris Sinta membuat Maysa mengerutkan kening nya.
"Tapi dia nggak sebejad itu May, sebenar nya dia mau tanggung jawab, tapi gue yang selalu menghindar, gue takut masa depan gue hancur, gue... "
"Lo ngincar harta Nando!" Tukas Maysa yang langsung mbungkam mulut Sinta secara tidak langsung, gadis itu pun takut jika Maysa marah pada nya.
"Tapi gue takut May, apakah sepenting itu posisi gue di hati nya? Bagaimana jika dia tidak mau?" Ucap Sinta mengungkapkan ketakutan nya.
"Sore nanti sepulang sekolah kita temui dia, gue yang ngomong" Dengan percaya diri Maysa mulai membuat Sinta tenang, mereka pun menyelesaikan makan siang masing-masing dan kembali ke kelas.
Di pondok pesantren...
Rayyan yang sedang mengurus berkas-berkas di dalam ruangan nya tiba-tiba saja mengingat kejadian semalam bersama Maysa.
"Astagfirullah kenapa baru setengah hari saja sudah merindukan nya?" Dengan mengacak rambut nya Rayyan menutup berkas-berkas yang belum selesai ia kerjakan.
"Tapi ngomong-ngomong semalam aku ketiduran sampai pagi, apakah dia marah?" Sudahlah nanti saja di tanya kan" Rayyan kembali membuka berkas-berkas yang ada di hadapan nya itu.
"Duh jam nya kok lambat sekali sih jalan nya! pokok nya nanti harus jemput dia pulang sekolah" Gumam Rayyan sambil melirik jam dinding yang ada di dalam ruangan nya.
Sore hari sepulang sekolah Sinta langsung menghubungi Raka, ia meminta untuk bertemu di depan sekolah.
Sinta di teman i oleh Maysa dan juga Nando, ya walau pun Nando selalu memasang tampang nya yang kucel tak bersemangat mode "SENGGOL BACOK" nya Nando sedang mode on.
__ADS_1
Setelah menunggu lumayan lama akhir nya Raka pun datang.
"Hai sayang" Raka turun dari motor dia langsung memeluk dan juga mencium Sinta tanpa melihat situasi dan kondisi.
Dari situasi itu Maysa dapat langsung menilai bahwa Raka sangatlah menyayangi Sinta, akhir nya Maysa pun mendekati sepasang kekasih yang terlihat mesra itu.
"Kamu kenapa? kok kusut gini? ada yang nyakitin kamu?" Terdengar nada kepanikan di dalam pertanyaan yang dilontarkan Raka.
"Dia baik-baik saja" Ucap Maysa yang menengahi pembicaraan mereka.
Nando dengan jengah menatap Sinta dan juga Raka demi melindungi Maysa jika kedua nya macam-macam.
" Siapa kamu?" Tanya Raka melihat Maysa dengan berani ikut campur, apa lagi menyahuti pertanyaan Raka yang ia tujukan kepada Sinta.
"Aku Maysa, teman nya Sinta, kamu tau kalau Sinta sangat mengkhawatirkan masa depan kalian?" Tanya Maysa kepada Raka.
"Khawatir?" Tanya Raka yang pria itu langsung berpikir mengenai kandungan Sinta.
"Sin, sayang, aku kan sudah mengatakan pada mu aku akan tanggung jawab" Raka memegang kedua pundak Sinta, gadis itu hanya menunduk lesu.
"Bukan tanggung jawab mu yang di khawatirkan oleh nya, namun kehidupan kedepannya, masa depan kalian, pekerjaan mu, ekonomi keluarga selanjut nya!" Jelas Maysa panjang lebar.
"Sin? aku baru saja mau mengatakan kalau belum lama ini aku sudah diterima kerja di sebuah pabrik textile, jangan khawatir sayang, setelah kamu lulus sekolah aku akan melamar mu, kita akan menikah" Ucap Raka.
Mendengar itu Maysa sedikit merasa risi karena diri nya secara sembunyi-sembunyi sudah menikah padahal diri nya belum lulus dari sekolah.
"Ya sudah kalian baik-baik lah melanjutkan hubungan kalian, Sinta percayalah Raka sangat menyayangi mu" Ucap Maysa panjang lebar, setelah itu sepasang kekasih itu pun pamit untuk pulang lebih dulu.
"May? lo dijemput atau pulang sendiri? atau nggak bareng gue aja gimana?" Nando menawarkan tumpangan kepada Maysa.
"Makasih Ndo... " Belum selesai Maysa berkata tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka berdua.
"May! Masuk...
bersambung...
Happy reading... jangan lupa jempol jempol...
see you again...
__ADS_1