
Bagai di sambar petir di siang bolong Maysa mendengar peryataan dari Rayyan, mata gadis itu sontak langsung berkaca-kaca, perlahan ia melepaskan tangan Rayyan yang melingkar di pinggang nya.
Namun ketika Maysa hendak meninggalkan Rayyan, pria itu segera meraih tangan nya dengan tatapan sendu ia menatap gadis pujaan yang sebentar lagi akan bergelar menjadi istri nya itu.
"May! jangan menghindar, saya hanya bertanya" Ucap Rayyan.
"Tau kah ustadz!! pertanyaan mu barusan sudah berhasil menggores hati saya, memang nya wanita mana yang berani merasuki pikiran ustadz?" Dengan tatapan tajam namun menahan bulir yang selalu mengintip di ujung mata, Maysa menatap Rayyan.
"Saya kan sudah bilang, saya hanya bertanya" Ucap Rayyan dengan tangan satu nya yang mengelus pucuk kepala Maysa.
"Ternyata kalian disini?" Rahma yang tiba-tiba datang ditengah-tengah Maysa dan Rayyan, membuat sepasang kekasih itu buru-buru merubah ekspresi wajah mereka masing-masing.
"Eh iya, kita tadi nyariin kamu" Ucap Maysa dengan senyuman yang ia paksa kan mengembang.
"Ya sudah sekarang aja kita fitting ke butik ibu aku, mumpung beliau nggak ada jadwal" Ajak Rahma yang langsung di setujui oleh Rayyan dan juga Maysa.
"Oke kita berangkat" Sahut Maysa, mereka bertiga pun menuju garasi mobil, dan meluncur membelah jalan raya menuju butik milik ibu nya Rahma.
Rahmat yang tengah makan siang bersama Sasya sang istri tercinta, di sebuah cafe, terlihat sangat serius dalam pembicaraan mereka.
"Kamu nggak papa kan mas kalau bulan madu kita, ditunda dulu setelah acara pernikahan Maysa? " Sasya bertanya dengan penuh harap, suami nya dapat mengerti situasi dan kondisi saat ini.
"Iya nggak papa kok" Dengan mengaduk-aduk minuman di dalam gelas dengan sedotan Rahmat menjawab.
"Ooo nanti sepulang dari kantor aku mampir deh ke pondok, ntar kita pulang bareng ya?!" Ucap Sasya
"Iya sayang, eh memang nya kamu nanti pulang cepat?" Tanya Rahmat yang mengerti kalau istri nya itu wanita yang super sibuk.
"Hehe kalau nggak ada meeting dadakan sih aman mas" Sasya menjawab dengan cengengesan. Mereka pun melanjutkan makan siang dengan pembicaraan-pembicaraan yang terbilang ringan sesekali terdengar gelak tawa mereka berdua.
Di depan butik Bunga Indah Rayyan menepikan mobil nya dengan rapi, mereka bertiga pun turun dari mobil dam berjalan masuk kedalam butik milik ibu nya Rahma.
"Assalamu'allaikum" Ucap ketiga nya yang langsung dijawab oleh ibu nya Rahma atau yang biasa di panggil bu Irma dan beberapa karyawan butik yang ada di dalam nya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam"
"Eh sudah datang, ayo ayo sini jangan sungkan" Irma menyambut ketiga nya dengan hangat.
"Ibu ini ibu nya Rahma?" Tanya Maysa yang memang pandai mencari topik pembicaraan.
"Iya nak, kamu pasti Maysa yang mau fitting baju ya?" Tanya Irma tanpa mengurangi senyuman di wajah nya.
"Iya bu, jadi yang mana pilihan nya?" Tanya Maysa dengan terus berjalan di belakang Irma mengikuti langkah wanita paruh baya itu.
"Kamu lihat-lihat dulu disini, kalau nanti ada yang cocok boleh dicoba dulu" Ucap Irma memperlihatkan deretan gaun-gaun yang sangat indah.
"Sayang aku berangkat ke kantor dulu" Teriak Seorang laki-laki dari pintu depan butik, ya itu adalah ayah Irma.
"Iya sayang hati-hati ya" Sahut Irma yang berjalan mendekati suami nya hendak bersalaman, namun malah pipi Irma yang diraup dan di kecup bibir nya sekilas oleh suami nya itu. CUP!!
"Hey apa ini? malu lah dilihat anak-anak!" Irma mendorong dada bidang suami nya.
" Dah aku berangkat, Assalamu'allaikum" Suami Irma langsung pergi sebelum istri nya itu ngomel-ngomel.
"Dasar orang tua, bisa tidak jangan melakukan nya di depan kita" Ketus Rahma yang terkadang malu melihat keromantisan kedua orang tua nya. Namun Irham hanya tersenyum sambil menepuk pundak putri nya.
"Duh untung saja aku tinggal di pondok jika di rumah sudah rusak aku terkontaminasi oleh kelakuan kalian" Gerutu Rahma.
"Sudah-sudah ibu minta maaf, nanti ibu bicara sama ayah mu, sekarang bantu teman mu, rekomendasikan gaun yang cocok untuk nya" Ucap Irma yang langsung mendekati pelanggan yang lain.
Maysa ditemani oleh Rahma sedangkan Rayyan memilih duduk di depan ruang ganti, laki-laki itu masih berusaha melupakan bayangan Black Angel yang selalu menghampiri.
Rayyan segera tersadar ketika Maysa berdiri dihadapan nya, yang sudah mengganti pakaian nya dengan gaun berwarna Abu muda, gadis itu terlihat elegan, anggun dan jauh dari kata pecicilan, sungguh indah pemandangan di hadapan Rayyan.
"Cantik" Gumam Rayyan tanpa ia sadar, pipi Maysa pun mendadak merah bagai buah tomat yang matang siap untuk di panen.
"Cantik dong, kan Rahma yang pilihkan" Ucap Rahma sedikit menyombongkan diri nya.
__ADS_1
Telinga Maysa serasa memanas karena dipuji dua orang secara langsung dihadapan nya, gadis itu pun berbalik dan masuk kembali ke ruang ganti.
Rayyan sekejap dapat melupakan bayang-bayang Black Angel dengan melihat rona wajah Maysa yang menunjuk kan kalau gadis itu malu,
Rahma membawa gaun yang baru saja di coba Maysa ke meja kasir sedangkan Maysa masih di dalam ruang ganti, mengenakan pakaian nya.
Setelah Maysa keluar sudah mengenakan baju nya sendiri, gadis itu duduk di samping Rayyan, dan menatap wajah calon suami nya yang tersenyum tak henti-henti nya itu.
"Ustadz Rayyan?" Panggil Maysa.
"Hemm? apa?" Rayyan menyahuti panggilan Maysa tanpa mengurangi sedikit pun senyuman di wajah nya.
"Siapa gadis yang kau sebut kan di pondok tadi?" Pertanyaan Maysa langsung merubah ekspresi Rayyan.
"Sudah lah, itu tidak penting" Ucap Rayyan dengan mengalihkan pandangan nya dari wajah ayu Maysa.
"Tapi... "
"May!" Belum selesai Maysa berkata Rahma lebih dulu memanggil nya.
"Itu di panggil Rahma, mungkin sudah selesai, kita ke sana yuk!" Rayyan langsung berdiri dan mengulurkan tangan kepada Maysa, dengan hati yang masih dongkol karena Rayyan belum mau berterus terang kepada nya, gadis itu terpaksa meraih tangan yang terulur kepada nya itu.
Mereka berdua pun berjalan mendekati Rahma yang ada di meja kasir dan melakukan pembayaran setelah itu mereka pun kembali ke pondok pesantren Darussalam.
Sesampai nya di garasi pondok, Maysa, Rahma dan juga Rayyan keluar dari dalam mobil, tak lama kemudian datang lah sebuah mobil yang berhenti di tempat parkir khusus tamu.
"Siapa May? kau kenal?" Tanya Rayyan karena ia menyadari bahwa mata Maysa langsung tertuju kepada mobil yang baru saja memasuki area pondok itu.
"Oo itu kakak ku deh kayak nya" Ucap Maysa sambil berjalan mendekati Sasya.
"Kakak mau jemput kak Rahmat?" Tanya Maysa.
"Iya May" Ucap Sasya, mereka berdua pun berjalan di lorong- lorong pondok menuju ruangan Rahmat...
__ADS_1
bersambung...