Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Bonchap 10


__ADS_3

Setelah menjemput Maira, mereka berdua mampir di salah satu kedai untuk sarapan.


"Kakak, bukan nya jam kuliah nya masih jam sembilan an ya?" Tanya Maira ketika Aziz memarkirkan mobil nya di pinggir jalan.


"Iya, emmm... peduli banget sih sayang nya kakak ini sama kakak, jadi makin sayang deh" Ucap Aziz dengan mencubit gemas pipi Maira.


Kemudian kedua nya pun turun dari mobil dan berjalan menuju kedai, Maira berjalan mencari tempat untuk duduk sedangkan Aziz memesan makanan yang akan mereka makan pagi itu.


Setelah memesan Aziz berjalan menuju tempat dimana Maira duduk, ia pun duduk di samping gadis kesayangan nya itu.


Dengan senyum yang ia tampilkan Aziz mengelus pucuk kepala Maira.


"Oh iya kak, kakak kok kaya beda banget sih hari ini?" Tanya Maira dengan menatap wajah Aziz.


"Nggak, kakak nggak papa kok" Dengan menampilkan senyum nya Aziz berusaha membuat Maira agar tidak curiga.


"Owh ya udah kalau emang nggak papa" Ucap Maira dengan berusaha menahan rasa kepo yang begitu mendalam.


"Oh ya dek, kalau kakak bukan anak Umi dan Abi gimana?" Tanya Aziz dengan serius, namun Maira menanggapi nya dengan bercanda ia mengira Aziz tengah mengkhayal.


"Ya sudah nanti kalau Ira wisuda kita langsung nikah hahahaha... " Canda Ira dengan gelak tawa yang menggelegar.


Namun Aziz hanya menanggapi nya dengan senyum tipis, Maira pun menyadari perubahan sikap Aziz, namun gadis itu tak mau memaksa Aziz untuk menceritakan keadaan nya sekarang, Maira pikir mungkin belum saat nya.


Kedua nya pun makan dengan banyak diam, tidak seperti biasa nya yang penuh candaan.


Di Klinik...


Maysa tengah berjalan menuju ruangan pribadi nya, namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan Zulfa.


"May?" Panggil Zulfa dengan berjalan mendekati Maysa.


"Eh bunda, ada apa bun?" Tanya Maysa dengan menghentikan langkah kaki nya.


"Bunda mau ngomong sama kamu" Ucap Zulfa setelah ia berdiri tepat di hadapan putri bungsu nya.


"Oh ya sudah sekalian ke ruangan May aja, ini May juga sudah selesai kok" Ucap Maysa mengajak Zulfa untuk berbicara di dalam ruangan nya.


Mereka berdua pun berjalan menyusuri koridor klinik, dan menuju ruangan pribadi Maysa.


Sesampai nya di ruangan Maysa.


"Masuk bun, silahkan duduk" Ucap Maysa dengan berjalan mendekati kursi kebesaran nya, di sana ia melepaskan jas kebesaran yang berwarna putih itu dan meletakkan nya di sandaran kursi, setelah nya Maysa berjalan mendekati dispenser dan menyeduhkan kopi untuk bunda nya.


"Kopi bun!" Ucap Maysa sembari menyodorkan kopi hangat itu untuk bunda nya.


"Makasih sayang" Ucap Zulfa, yang di balas dengan senyuman oleh Maysa.


"Oh iya bunda mau ngomong apa?" Tanya Maysa yang teringat alasan bunda nya kenapa sampai mereka berdua ngopi di ruangan nya.


"Oh iya gegara kopi ini, bunda sampai lupa tujuan utama bunda hahaha... " Ucap Zulfa yang di sambung dengan gelak tawa kedua nya.

__ADS_1


"Ih bunda hehehe... " Maysa terkekeh mendengar ucapan Zulfa barusan.


"Jadi tadi pagi, bunda sama kakak mu sudah memberitahukan kebenaran jatidiri Aziz..."


"MasyaAllah terus? Aziz gimana bun? dia pasti kecewa, pasti dia sakit hati merasa dibohongi bertahun-tahun" Sela Maysa dengan berkata tanpa rem.


"Tidak" Singkat Zulfa.


"Maksud bunda?" Tanya Maysa dengan mengerutkan kedua alis nya.


"Ya Aziz benar-benar sudah dewasa, dan bunda awal nya juga melihat kesedihan juga kekecewaan di dalam mata anak itu, tapi dia malah menenangkan kakak mu dan dapat bersikap dewasa, juga dibalik itu mungkin dia merasa bahagia tidak mempunyai hubungab darah dengan keluarga kita" Jelas Zulfa.


"Bahagia? kok? mana mungkin? bunda ini ada-ada aja deh, nanti May mau ketemu sama Aziz, pasti dia merasa sedih hari ini, kalian kasih tau nya dadakan begini" Ucap Maysa yang mengkhawatirkan Aziz kesayangan nya itu.


"Kau masih mengira Aziz mu itu bersedih? bunda kira dia bahagia karena bisa dengan leluasa mendekati putri mu" Ucap Zulfa dengan senyum nya.


"Maksud bunda? mereka benar-benar ada hubungan?" Tanya Maysa.


"Memang nya dulu siapa yang memberi tahu bunda? kamu kan yang bilang kalau mereka kayak ada yang mencurigakan gitu?" Ucap Zulfa mengingatkan Maysa.


"Astagfirullah iya bun, May lupa hehehe... terus - terus gimana nanti? kita restuin mereka atau biar mereka yang minta restu dulu? atau biar ngalir kaya air aja? terus tunggu hasil akhir?" Bercecer pertanyaan yang keluar dari mulut Maysa membuat Zulfa geleng-geleng kepala.


"Kamu ini, Maira itu masih kuliah, biarkan dia berkarir dulu, biar kan lah dia memperkaya diri nya sendiri dulu, Aziz juga kayak nya mulau bulan depan bakal di kirim ke Singapura..."


"Hah? Singapura? ngapain?" Dengan gas pol dan rem blong Maysa bertanya sambil berdiri saking terkejut nya.


"Haish kau ini, suka kalau bunda jantungan ya?" Tanya Zulfa dengan mengelus dada nya.


"Ya... kan... itu... em... May... kaget" Sahut Maysa terbata-bata.


"Duh pengusaha memang harus jalan-jalan kamana-mana ya, oh iya memang nya Ayah sama kak Rahmat aja belum cukup ya? buat ngurus perusahaan, Aziz kan masih belum lulus kuliah nya!" Ucap Maysa yang masih tidak terima mendengar Aziz yang masih kuliah sudah harus belajar menghandle perusahaan.


"Ayah mu itu sudah tidak pantas ngantor, mungkin kalau ada masalah nah baru itu mereka berunding di rumah" Jelas Zulfa.


"Haish itu mah akal-akalan bunda aja biar ayah nggak pergi jauh-jauh" Ucap Maysa.


"Haish dasar anak muda pikiran nya pasti kesana" Ucap Zulfa dengan menggeleng-gelengkan kepala nya.


Di taman...


Sore itu setelah kelas memanah Aziz mengajak Maira untuk menikmati sunset di taman dekat lapangan.


"Ira?" Panggil Aziz dengan mengelus pucuk kepala Maira dan memandangi wajah gadis itu secara intens.


"Apa kakak ku sayang?" Sahut Maira dengan suara manja nya juga tangan yang memeluk pinggang Aziz.


"Kakak sayang sama kamu" Ucap Aziz dengan mengecup pucuk kepala Maira.


"Kak?" Maira mendongakkan kepala nya memandang wajah tampan yang ada di depan wajah nya saat ini.


"Apa ini pantas?" Tanya Maira dengan serius, gadis itu pun sampai mengerutkan kedua alis nya.

__ADS_1


"Entahlah, kakak juga bingung harus bagaimana? hari ini kakak mendapat berita yang menciptakan rasa suka dan juga duka yang mendalam, jujur saja kakak bingung untuk menyikapi nya" Ucap Aziz dengan mengusap wajah nya kemudian menengadahkan kepala nya untuk memandang langit, Maira di buat bingung oleh Aziz sore itu.


"Kak!! sebenar nya apa yang terjadi sampai kakak seperti ini? jika itu suatu kesedihan, jangan lah kakak berlarut terlalu lama di dalam nya, dan jika itu kebahagiaan biarkan lah itu mengalir semestinya jangan kakak bendung itu tidak baik" Ucap Maira dengan terus menatap Aziz yang kini mulai menundukkan kepala nya.


Pemuda itu beralih menatap gadis yang selalu dapat mendamaikan perasaan nya itu dan kemudian ia memeluk tubuh mungil yang ada di hadapan nya itu.


"Terimakasih sayang, kakak tidak dapat lagi membendung perasaan ini, maaf kakak selama ini telah mencintai juga menyayangi mu lebih dari kakak sayang pada adik nya, kakak juga tidak dapat lagi menyembunyikan hubungan kita, sangat sulit dan sakit ketika melihat mu berdekatan dengan laki-laki lain" Ucap Aziz dengan masih memeluk tubuh Maira.


"Tapi kak bagaimana dengan orang tua kita?" Tanya Maira, kemudian perlahan Aziz melepaskan pelukan nya itu.


"Tadi pagi umi mengatakan siapa kakak sebenar nya, jadi kakak ini bukan anak kandung umi dam abi" Ucap Aziz dan itu membuat Maira memeluk Aziz, gadis itu meneteskan air mata.


"Maaf kan maaf, pasti rasa kecewa itu sangat sakit, tapi percayalah mereka sangat menyayangi mu, bahkan ummah dan abi Rayyan juga sangat menyayangi kak Aziz" Ucap Maira dengan air mata yang membanjiri pundak Aziz.


Aziz pun melerai pelukan itu, dan mengusap kedua pipi Maira dengan ibu jari nya.


"Jangan menangis" Ucap Aziz dengan senyuman nya.


"Bagaimana tidak? Ira dapat merasakan sakit nya di bohongi selama bertahun-tahun kak, bagaimana kakak masih bisa tersenyum setelah kebenaran ini?" Tanya Maira dengan sesenggukkan.


"Ssssttt cup cup, dengarkan kakak, lihat kakak!" Pinta Aziz yang kemudian Maira pun menatap wajah pemuda yang tengah tersenyum tipis di hadapan nya itu.


"Kata nya tadi jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, udahan dong nangis nya kakak mau ngomong nih, itu kan kalau nangis tambah gemoy" Ucap Aziz dengan mencubit pipi Maira.


"Emmm... sakit tau, iya iya Ira diem" Ucap Maira dengan mengusap kedua pipi nya juga mata nya.


"Jadi dengan rasa kecewa yang kakak dapat tadi pagi itu obat nya adalah hubungan kita nggak akan ada halangan" Ucap Aziz dengan senyum manis nya, yang membuat Maira menutup mulut nya menggunakan kedua telapak tangan nya.


Merasa percaya tak percaya setiap kesedian pasti akan ada kebahagian di balik nya gadis itu kembali menghambur ke pelukan sang kakak.


Di kediaman Moza...


Sasya terlihat sibuk dengan berkas-berkas nya, ia sangat serius dalam urusan pekerjaan.


"Sayang ini sudah malam kamu juga butuh istirahat" Ucap Rahmat dengan membawa segelas susu dan di letakkan di atas meja.


"Iya mas, sebentar ini ada e-mail masuk" Sahut Sasya dengan membuka sebuah pesan yang masuk itu.


"Assalamu'allaikum" Terdengar suara Aziz mengucap salam.


"Waalaikumusaalam" Sahut kedua orang tua itu.


"Baru pulang nak?" Tanya Sasya yang segera berdiri dan menyambut putra kesayangannya itu.


"Iya umi, ini sudah waktu nya istirahat loh umi, umi kok masih sibuk aja?" Tanya Aziz yang berusaha biasa saja seperti biasa nya.


"Enggak sayang, itu tadi barusan ada e-mail masuk, klien kita minta besok meeting di Singapura, jadi mau nggak mau kan umi urus berkas nya sekarang dari pada besok buru-buru" Ucap Sasya.


"Apa? Singapura? umi mau kesana? nggak umi nggak boleh pergi jauh!" Ucap Aziz dengan ngotot.


"Klien ini sangat penting bagi perusahaan kita nak, kalau umi nggak terbang ke sana bagaimana nasib perusahaan?" Tanya Sasya.

__ADS_1


"Gini aja deh, besok Aziz sama abi aja yang ke Singapura!...


Jangan lupa dukungan nya iya reader ku tersayang, lanjut nggak nih??


__ADS_2