
Zulfa terlihat tengah menonton tv bersama Moza di ruang keluarga.
"Aaaaaakkkk!!" Terdengar teriakan begitu keras dari lantai dua, sepasang suami istri yang tengah bersantai itu pun langsung berlari menuju kamar Sasya.
"Ceklek!" Suara pintu kamar dibuka oleh Zulfa.
"Masya'Allah Sasya!" Teriak Zulfa ketika ia mendapati putri sulung nya kini tengah terduduk di ambang pintu kamar mandi dengan darah yang mengalir di kaku nya.
"Bun sakit bun" Ucap Sasya lemah.
"Rahmat mana kok nggak ada?" Tanya Moza yang tak kalah panik mendapati putri nya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja itu.
"Mas Rahmat tadi ada jadwal di pondok dan belum pulang yah" Ucap Sasya.
"Tapi ini sudah hampir jam sembilan malam, masa iya belum selesai?" Gerutu Moza.
"Sudah-sudah jangan menyalahkan siapa-siapa! yang terpenting sekarang kita bawa dulu Sasya ke rumah sakit!" Kata Zulfa sambil membantu Sasya berdiri, Moza pun langsung keluar dari rumah dan berjalan menuju garasi untuk menyiapkan mobil.
"Masih bisa jalan sayang?" Ucap Zulfa ketika ia membantu Sasya untuk berdiri.
"Insya'Allah bisa bun" Sahut Sasya sambil berusaha berdiri dengan berpegangan pada dinding dan juga bunda nya.
Namun ketika ia baru saja bisa berdiri darah yang mengalir dari balik celana nya semakin deras.
"Astagfirullah, Ayah! Ayah! Ayah!" Teriak Zulfa memanggil Moza dari dalam kamar Sasya.
Moza yang ada di halaman mendengar sayup-sayup suara Zulfa yang memanggil nya pun langsung berlari menuju kamar putri sulung nya.
"Ada apa bun?" Tanya Moza setiba nya ia di ambang pintu.
"Masya'Allah, Sini biar ayah saja yang gendong" Moza terkejut begitu melihat darah yang keluar semakin banyak.
Mereka pun berjalan menuju mobil dengan Moza yang menggendong Sasya.
"Bun kamu telfon Rahmat, tapi bicara nya pelan-pelan saja, kasih nanti kalau dia kaget" Ucap Moza setelah masuk kedalam mobil.
Moza mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi sedangkan Zulfa menjaga Sasya yang duduk di kursi belakang sambil menelfon Rahmat yang lumayan susah dihubungi.
"Tidak di angkat yah telfon nya!" Ujar Zulfa dengan sedikit kesal.
"Coba di hubungi terus!" Sahut Moza masih fokus dengan jalanan di depan nya.
"Ok!" Sahut Zulfa dengan menekan kembali layar ponsel nya.
"Kita mampir di pondok saja Yah! siapa tau mas Rahmat masih di sana!" Ucap Sasya dengan nada yang melemah.
"Tidak sayang, kondisi kamu saat ini sangat mengkhawatirkan! Kita telfon Abah saja siapa tau di angkat" Zulfa berusaha menenangkan putri sulung nya itu.
Tuuuuuuttt....
__ADS_1
Tuuuuuuuuttt...
Tuuuuuuuuttttt...
"Hallo Assalamu'allaikum?" Terdengar suara Ummi dari sambungan telfon yang sudah tersambung.
"Waalaikumussalam, Ummi? mohon maaf itu nak Rahmat nya apakah masih ada di pondok?" Ucap Zulfa dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan khas suara orang yang panik.
"Eh dokter Zulfa ya? Rahmat nya sudah keluar dari pondok sejak ba'da Isya bun, ada apa ya?" Ummi balik bertanya dengan nada yang lembut.
"Oh ini Ummi, Rahmat nya tidak bisa dihubungi, dan Sasya pendarahan ini kami perjalanan ke rumah sakit" Ujar Zulfa yang tidak bisa lagi menutup-nutupi kepanikan nya.
"Inalillahi, rumah sakit mana bun?" Tanya Ummi yang mendadak panik.
"Nanti saya share lock ya Ummi, ini saya mau lanjut menghubungi Rahmat lagi" Ucap Zulfa.
"Oh iya baiklah" Sahut Ummi
"Assalamu'allaikum" Zulfa mengucap salam
"Waalaikumussalam" Ummi pun menjawab nya sebelum sambungan telfon terputus. Zulfa kembali menelfon Rahmat dengan harapan menantu nya itu akan mengangkat telfon dari nya.
Di pondok Ummi tengah berlari keluar dari ruangan nya dan mencari keberadaan Abah di masjid, benar saja laki-laki paruh baya sang pemilik pondok pesantren Darussalam itu terlihat berdiri di ambang pintu masjid, ia baru saja akan melangkahkan kaki nya untuk keluar dari masjid.
"ABAH!!" Teriak Ummi yang lari dari kejauhan.
"Ada apa Ummi?" Sahut Abah dengan melanjutkan langkah nya keluar dari masjid dan menemui istri nya.
"Dan apa? Rahmat sudah sampai di rumah kan?" Abah pun memikirkan apakah Rahmat ada di saat-saat genting seperti ini.
"Nah itu dia Abah, Rahmat tidak bisa dihubungi sejak tadi" Ucap Ummi lesu.
"Ya sudah kita susul saja pak Moza dan dokter Zulfa!" Ucap Abah, mereka berdua pun langsung berangkat ke rumah sakit dengan alamat yang sudah di share lock oleh Zulfa.
Di rumah sakit terlihat Rahmat tengah mendorong brankar bersama dengan beberapa perawat, mereka setengah berlari menuju ruang operasi.
"Maaf pak anda tunggu di luar ya!" Ucap seorang suster setelah sampai di depan pintu ruang operasi.
"Iya Sus" Sahut Rahmat singkat. Setelah itu ia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponsel, baru saja ia akan menghubungi Sasya, di sana di layar ponsel nya tertera beberapa panggilan tak terjawab dengan nama "Bunda Zulfa".
" Masya'Allah ada apa ini?" Dengan kepanikan yang bertambah Rahmat pun balik menelfon Zulfa.
Disaat ia tengah disibukan dengan suara Tuuuuuuttt.... Tuuuuuuttttt...Tuuuuutttt... Ia tak sengaja melihat bayangan Moza yang setengah berlari dengan menggendong seseorang dan menuju UGD, dan di belakang nya ternyata ada Zulfa yang mengikuti nya.
"Loh? ayah sama bunda kok ke ruang UGD? dan yang di gendong ayah itu siapa?" Gumam Rahmat penasaran, ia pun berjalan mengikuti langkah mereka, dan saat ia sampai di UGD ia mendekati Zulfa dan juga Moza yang terduduk lemas di samping pintu UGD.
"Assalamu'allaikum ayah, bunda?" Rahmat meraih tangan kedua mertua nya itu dan mencium nya bergantian.
"Waalaikumussalam" Sahut Zulfa dan Moza hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kamu kemana saja? di telfon tidak di angkat!" Zulfa sedikit jengkel namun masih bisa mengontrol nya.
"Maaf bun tadi ada kecelakaan di jalan dan kebetulan itu teman saya yang tengah mengandung, dan sekarang dia sedang di ruang operasi" Jelas Rahmat.
"Oh ya sudah, berdo'a saja semoga Sasya tidak apa-apa" Sahut Zulfa.
"Sasya? jadi? yang tadi?"
"Iya yang di gendong ayah tadi Sasya yang tengah pendarahan hebat" Jelas Zulfa, Rahmat pun langsung mengalihkan pandangan nya kearah Moza dan benar saja lengan baju Moza terdapat banyak sekali noda darah.
Tak lama kemudian dokter yang menangani Sasya pun keluar dan mencari keluarga Sasya.
"Keluarga Ny. Sasya?" Ucap Dokter barusan.
"Saya suami nya dok" Ucap Rahmat antusias.
"Bisa ikut saya keruangan saya sebentar pak!" Tanpa mengurangi rasa hormat Rahmat oun langsung mengikuti nya dari belakang.
Zulfa dan Moza masuk kedalam ruang UGD untuk melihat kondisi putri sulung nya.
"Bunda? ayah? mas Rahmat nya mana?" Dengan suara yang lemah Sasya masih mencari keberadaan suami nya yang belum terlihat di sana.
"Ada nak, Rahmat masih di ruangan dokter" Ucap Zulfa dengan lembut.
Di ruangan dokter...
"Sebenar nya apa yang terjadi dengan istri saya dok?" Tanya Rahmat dengan antusias.
"Yang sabar ya pak, janin yang di kandung Ny. Sasya tidak bisa diselamatkan, mungkin Ny. Sasya terjatuh?" Ucap Dokter yang baru saja menangani Sasya.
"Janin? maksud dokter? istri saya hamil?" Tanya Rahmat yang memang tidak mengetahui kebenaran itu.
"Iya pak istri bapak hamil, namun sekali lagi yang sabar ya pak" Ucap dokter.
"Lalu? apakah harus di lakukan kuret dok?" Tanya Rahmat.
"Iya pak karena jika tidak akan terjadi kerusakan di dalam lambung Ny. Sasya" Jelas dokter.
"Baiklah dok, saya serahkan semua nya kepada dokter, lakukan yang terbaik untuk istri saya" Ucap Rahmat, dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum.
Saat Rahmat keluar dari ruangan dokter dan hendak berjalan menuju UGD dimana istri nya dirawat, tiba-tiba seorang perawat memanggil nya.
"Pak Rahmat? " Sontak Rahmat langsung menghentikan langkah nya dan menolehkan kepala nya.
"Iya saya?" Sahut Rahmat.
"Operasi caesar istri bapak sudah selesai dan semua berjalan normal, dan sekarang saat nya bapak mengadzani bayo bapak" Jelas perawat itu.
"Bayi??...
__ADS_1
bersambung...