Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Emosi yang meluap


__ADS_3

Apa an sih? kok kalian aneh banget, apa an coba itu mata nya melirik-melirik ke..." Maysa tidak jadi melanjutkan kata-kata nya karena saat ia melihat kearah gerbang pondok di sana berdiri seorang laki-laki dan seorang gadis yang sudah bersiap untuk menyebrangi jalan untuk menghampiri nya.


"Mampus gue" Gumam Maysa yang melihat Rayyan tengah berjalan mendekat kearah nya bersama Fasha.


"Sedang apa? segitu pentingkah motor ini? sampai-sampai saya panggil tidak dengar" Dengan nada yang dingin Rayyan berkata tepat di samping Maysa.


"Emm itu saya... " Maysa bingung akan menjawab apa, tapi dengan cepat Nando membantunya.


"Maaf pak ustadz tadi kan saya sedang mengantar teman saya beli martabak disini lah pas mau pulang motor kok rasa nya tidak enak ya, dan kebetulan saya melihat Maysa duduk di depan masjid makanya saya minta tolong sama May untuk ngecek motor saya kenapa, begitu pak ustadz" Nando menjelaskan dengan memberi sedikit bumbu supaya Maysa tidak terkena masalah.


Rayyan mendengarkan penjelasan dari Nando, ustadz tampan itu mencoba untuk mencerna kata-kata lawan bicara nya.


"Iya pak ustadz begitu, dan teman kita si Maysa itu paling jago ngutak-atik motor, tapi kurang nya dia itu, kalau sedang benerin motor nggak mau di ganggu sedikit pun, makanya dia selalu abai jika dipanggil pas lagi benerin motor" Anita berusaha mengenalkan sedikit sisi Maysa yang belum diketahui oleh Rayyan, Anita berusaha membuat Rayyan tidak berpikiran negatif tentang Maysa.


Setelah mendengar penjelasan dari Nando dan juga Anita Rayyan mulai mengerti kenapa Maysa tidak sedikit pun menghiraukan panggilan nya barusan.


"Terus kenapa motor nya?" Masih dengan nada yang dingin Rayyan bertanya kepada Maysa.


"Itu kenalpot nya nggak cocok, sama kopling nya kurang kenceng dikit, sama karbo nya kotor" Giliran ditanya tentang penyakit motor Maysa lancar dalam menjawab nya.


Rayyan sedikit heran dengan Maysa, ustadz tampan itu kini memijit kening nya dan sedikit menghela nafas.


"Baiklah sekarang yang penting kamu baik-baik aja kan" Ucap Rayyan yang memastikan Maysa baik-baik saja.


"Iya pak ustadz saya baik-baik saja" Jawab Maysa dengan sangat mantap.


"Emmm maaf kaki kamu benar sudah sembuh?" Rayyan yang tidak pandai menyembunyikan rasa khawatir nya pun akhir nya bertanya tentang luka Maysa yang sore tadi terkena kuah panas.


"Sudah kok, aman" Dengan mengacungkan kedua jempol nya juga senyum pepsodent andalan nya Maysa menjawab Pertanyaan dari Rayyan dan membuat ustadz tampan itu tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Maysa.


"Ekhem... ngebucin nya udah dong, kasihanilah kita yang jomblo disini" Celetuk Fasha yang sedari tadi tidak angkat bicara, gadis itu mengingatkan kakak nya yang memulai lagi adegan modus nya.


Rayyan pun segera menjauhkan tangan nya dari kepala Maysa, sedangkan gadis itu malah tersenyum dengan memiringkan kepala nya demi melihat wajah Rayyan yang menunduk.

__ADS_1


"Ya sudah ini sudah malam, kita masuk" Ucap Rayyan yang lebih dulu meninggalkan pangkalan martabak itu.


"Ok guys, nanti kita ketemu lagi disini!" Bisik Maysa kepada kedua teman nya. Kedua nya hanya mengerling kan mata tanda menyetujui nya.


"Ayo May keburu kak Rayyan marah lagi" Ajak Fasha yang masih menunggu Maysa yang tak kunjung berjalan.


"Ok ok aku masuk" Maysa pun langsung berjalan memasuki area pondok pesantren Darussalam.


Sesampai nya di dalam pondok Maysa meminta bantuan Fasha untuk memasangkan mengoleskan lagi bioplasenton di luka nya.


"Maaf ya May, masih sakit nggak?" Fasha bertanya saat mulai membuka perban Maysa.


"Pelan-pelan kak, rasa perih-perih nya masih sih, cuma aku takut kalau melepuh aja, sore tadi kan warna nya merah kan" Jawab Maysa.


"Ok ok ok aku pelan-pelan kok" Dengan telaten Fasha merawat luka yang ada di paha Maysa, dan mengoleskan bioplasenton juga tidak lupa ia memasangkan perban sedikit lebih tebal dari yang tadi setelah mengetahui bahwa luka nya tidak melepuh juga Maysa sudah mengatakan kalau diri nya malam nanti mau ikut balapan.


"Kamu yakin May mau ikut? kondisi kamu lo sedang tidak baik-baik saja" Fasha berusaha menasehati teman satu kamar nya itu.


"Yakin lah, sudah sembuh itu luka gak papa kok" Ucap Maysa dengan membantu Fasha yang tengah membereskan kotak P3K.


Malam itu sekitar pukul 23.15 Rayyan yang sudah selesai dengan berkas-berkas nya dan hendak menutup pintu ruangan nya dikejutkan oleh kehadiran Nur yang tiba-tiba ada di hadapan nya.


"Ustadz Rayyan" Dengan tatapan sendu Nur berusaha mencuri simpati Rayyan.


"Ada apa?" Dengan nada yang dingin Rayyan menjawab panggilan dari Nur.


"Tolong pertimbangkan lagi, Maysa itu tidak pantas untuk ustadz, apa karena dia cantik ustadz menerima perjodohan ini?" Nur berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Maysa itu gadis yang urakan, dia sangat kasar bahkan tempo hari Laily pernah dicekik oleh nya hanya karena Laily mau membantu ku" Nur mengatakan kejadian pagi hari di depan masjid.


"Benarkah begitu?" Ucap Rayyan.


"Iya ustadz, dia juga dengan ceroboh nya sore tadi menabrak seorang santriwati yang sedang membawa kuah panas, namun seperti nya malah dia yang terkena kuah panas, saya hendak menolong nya tapi Maysa malah berlari meninggalkan dapur" Jelas Nur.

__ADS_1


"Sungguh hebat sandiwara yang tengah kau mainkan Nur" Batin Rayyan dengan memandang jengah Nur yang ada di ambang pintu.


"Sudah?" Tanya Rayyan.


"Maksud ustadz?" Tanya Nur tak mengerti.


"Maksud saya, sudah selesai kau berbicara? kalau sudah pergilah dari sini, sudah malam saya mau tidur!" Dengan ketus Rayyan berkata dengan tangan yang hendak menutup pintu, namun Nur malah melangkah masuk dan kaki nya tersandung, gadis itu ambruk di pelukan ustadz tampan yang ada di hadapan nya itu.


"Astagfirullah ustadz!" Maysa yang hendak berangkat balapan dan melewati depan kamar calon suami nya terkejut karena melihat Rayyan yang tengah berpelukan dengan Nur.


Gadis itu segera menepis pikiran negatif nya.


"Nggak nggak nggak, nggak boleh suudzon, harus berpikir dengan logika, tarik nafas ok tenang" Maysa berjalan mendekati mereka berdua, ia melihat Rayyan yang berusaha melepaskan pelukan Nur namun seperti nya gadis itu enggan untuk lepas dari pelukan Rayyan.


Tanpa di sadari oleh kedua nya Maysa tiba-tiba berada di belakang Nur, dengan degub jantung yang begitu cepat gadis itu terbakar emosi yang sedari tadi di tahan nya.


Tangan Maysa meraih hijab bagian belakang milik Nur dan menjambak nya agar gadis itu melepaskan pelukan nya dari Rayyan.


"LEPASKAN TANGAN KOTOR MU YANG SOK SUCI ITU!!" Dengan tatapan mata tajam yang menatap Nur, Maysa menarik dengan sangat kasar sampai Nur hampir terjatuh kebelakang namun tetap di tahan oleh Maysa.


Rayyan terkejut ia menemukan sifat baru lagi yang belum ia ketahui dari Maysa calon istri nya itu.


"Lancang sekali kau menyentuh nya!" Ucap Nur dengan posisi masih menjambak hijab Nur.


"Ustadz lihat ustadz! dia sangat kasar" Ucap Nur berusaha mengadu domba, namun Maysa segera melepaskan nya hingga tersungkur di lantai.


Maysa menatap kearah Rayyan dengan masih penuh emosi.


"Tidak bisakah kau bersikap tegas!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Maysa sebelum gadis itu berlari meninggalkan area pondok.


"MAY!!" Teriak Rayyan mengejar Maysa yang sudah menjauh.


"Gawat, mampus gue kalau sampai kekejar, duuuuhhh bego bego bego, kenapa harus emosi sih, kan bisa diurus besok atau kapan, duuuuhhh semoga gue belum terlambat lima juta coy kalau melayang sayang banget tuh" Batin Maysa yang merutuki kebodohan nya, sesekali gadis itu menoleh kearah belakang dan di sana ia melihat Rayyan yang tengah mengejar dan terus memanggil-manggil nya...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2